Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)

Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)
215.Niat Kakek Susanto


__ADS_3

Happy Reading...


Manis manis madu itulah yang sedang di rasakan Arya juga Arini. Menikmati kebersamaan sebagai pengantin baru di salah satu kamar di kediaman Hendra Anggara. Setelah tadi lelah mengobrol juga bergurau dengan keluarga Arini kini keduanya hanya duduk berdua saja menikmati kebersamaan yang juga di temani dengan buah apel yang tengah di kupas oleh Arini.



Pisau yang terlihat begitu tajam membuat Arya merasa ngeri, dia hanya takut kalau pisau itu akan melukai Arini kesayangannya.



"Sayang, sini biar aku saja yang kupas. Ngeri aku lihatnya," Arya beralih duduk di sebelah Arini, bergegas mengambil alih pisau juga apa yang sedang dia kerjakan. Tapi Arini tak membiarkan itu, dia malah menjauhkan pisaunya dari Arya.



Arini hanya ingin melakukan hal kecil saja sekarang. Sedari tadi dia juga belum melakukan apapun. Entah Nilam yang tidak mengizinkannya ataupun Arya yang juga selalu menghalanginya.



"Tidak, aku hanya ingin melakukan hal kecil untuk Mas. Kalau hanya kerjaan kecil seperti ini aku tidak bisa lakukan bagaimana aku bisa jadi istri yang baik? aku ingin bisa menjadi istri yang terbaik meski tidak bisa menjadi yang paling sempurna."



"Kamu adalah yang terbaik, Sayang. Kamu juga yang paling sempurna. Sekarang siniin dan biar aku saja yang mengupasnya," Arya masih tetapi kekeuh.



Lagi-lagi Arini menggeleng, dia tidak mau memberikan pisaunya kepada Arya.



"Akk," Arini malah menyodorkan apel yang sudah di kupas untuk Arya, dia hanya tersenyum setelah berhasil menyuapi Arya. Sedikit yang dia lakukan tapi dia merasa sangat puas.



"Gimana, manis tidak?" tanya Arini dan terus mengamati wajah Arya, melihat ekspresi wajahnya yang sedang menikmati apel dari tangannya.



"Manis, apalagi kamu yang suapin. Manisnya menjadi berlipat-lipat."



"Gombal," Arini kembali sibuk.



"Beneran loh, apalagi yang memberikan apelnya, manis sekali sampai-sampai aku tidak mau jauh darinya dan selalu ingin menikmatinya."



Arya benar-benar sudah kecanduan Arini kayaknya, dia hanya ingin terus mencicipi lagi dan lagi semua yang Arini punya. Tak ada habisnya dan tak ada bosannya hingga dia tak bisa memikirkan apapun lagi ketika berhadapan dengan Arini.



"Sayang, kamu mau kita honeymoon kemana?" tanya Arya.

__ADS_1



Arini terkesiap, '*honeymoon*?' bahkan Arini tidak pernah berpikir kalau dia akan honeymoon ke tempat-tempat yang tidak dia ketahui sebelumnya. Bagi Arini di manapun dia berada rasanya dia juga sedang honeymoon bersama Arya, nyatanya mereka terus berdua dan tak ada yang mengganggunya.



Arini menggeleng kala itu, karena dia memang tidak mau pergi kemanapun.



"Tidak, Arini tidak mau kemana-mana. Arini hanya ingin bersama keluarga dan yang terpenting selalu bersama Mas. Aku rasa honeymoon juga hanya buang-buang uang juga waktu saja, tidak terlalu penting menurutku. Nyatanya kita juga bisa kan melakukan apapun di tempat kita sendiri," jawab Arini.



"Apa kamu tidak mau pergi kemana gitu?" perlahan Arya mengambil pisau juga apel dari tangan Arini dan Arini melepaskannya karena dia juga sedang fokus dengan yang Arya tanyakan.



"Tidak, dari dulu aku juga tidak pernah merasa penasaran dengan negara mana pun dan tempat mana pun. Hanya satu yang paling ingin aku datangi selain negara kita sendiri."



"Mana?"



"Mekah, aku ingin bisa naik Haji atau Umroh ke sana. Tapi entahlah, mungkin suatu saat nanti Allah akan mengizinkan ku mendatangi tempat suci itu." terlihat begitu ingin sekali Arini datang ke sana, semua itu terlihat jelas dari raut wajahnya.




"Amin..." seru Arini.



Arya giliran yang mengupas apel itu, kemudian dia yang menyuapi Arini. Rasanya sangat senang meski hanya melakukan hal-hal kecil untuk istri tercintanya.



"Terakhir, akk!" pinta Arya dan Arini langsung mengikuti mulut Arya yang juga menganga.



"Aku akan pergi sebentar, kamu di sini dulu nggak apa-apa kan?" tanya Arya, entah akan pergi kemana dia sekarang. Bahkan dia pergi hanya sendiri dan tidak mengajak Arini bersamanya. Tapi tak masalah, buktinya Arini langsung mengangguk.



"Pergi kemana?" tanyanya setelah dia mengangguk.



"Ke kantor sebentar. Ada sesuatu yang harus Mas kerjakan dan ada barang yang harus aku ambil," jawabnya dengan sang yakin.


__ADS_1


Arini kembali mengangguk, mungkin yang di katakan adalah benar dan Arini akan tetapi tinggal di rumah untuk menunggu ya pulang.



Arya benar-benar pergi sesudah ijin kepada Arini. Dia juga terlihat buru-buru karena dia usahakan untuk pulang secepatnya sebelum sore.



"Nak, kamu kenapa?" tanya kakek Susanto.


Kakek Susanto melangkah mendekati Arini yang duduk di belakang rumah. Menyendiri dengan merajut sesuatu.


"Kek, ini hanya sekedar iseng-iseng saja. Ya, daripada hanya ngantuk," jawab Arini sembari menurunkan kakinya yang semula ada di atas kursi.


Kakek Susanto menyusulnya duduk di sebelahnya, menarik apa yang telah Arini kerjakan.


"Kamu selalu pintar dalam membuat seperti ini. AA, pasti ini singkatan dari Arya dan Arini, apa kakek benar?" tanyanya setelah melihat hasil tangan Arini.


"Hem," Arini mengangguk, "Arini masih menyukai kegiatan yang dulu kakek ajarkan ini. Ini adalah ilmu yang tak pernah bisa Arini lupakan dari Kakek. Meskipun hanya sederhana tapi ini sangat berguna," ucapnya.


Susanto yang berganti tersenyum, sebenarnya bukan apa-apa tapi kakek Susanto mengajarkan itu juga karena dulu Arini suka jahit-jahit sembarangan.


"Oh iya, suamimu belum kembali?"


"Belum, mungkin sebentar lagi."


Kakek Susanto terdiam sesaat, terlihat memikirkan sesuatu entah apa yang siap pikirkan dan itu memancing tanya dari Arini.


Tak seperti biasanya kakek Susanto yang seperti itu, terlihat gelisah membuat Arini semakin penasaran. Sebenarnya apa yang menghantuinya.


"Kek, apa ada masalah?" Arini begitu menyelidiki.


"Hem.., tidak ada. Tidak ada masalah apapun," Jawab kakek Susanto.


Sebenarnya kakek Susanto tengah memikirkan nasib anak juga menantunya yang ada di kampung begitu juga dengan kedua cucunya yang mempunyai nasib yang tidak baik.


"Arini, besok kakek ingin menjenguk Melisa. Apakah kamu mau ikut?" tanya kakek Susanto. Seperti apapun Melisa dia tetap cucunya, sebesar apapun kesalahannya darah Melisa juga terdapat darahnya juga bagaimana mungkin dia akan diam dan tidak mengkhawatirkannya.


"Kakek mau menjenguk kak Melisa?" tanya Arini dan langsung mendapatkan anggukan dari kakek Susanto, "aku akan ijin dulu sama Mas Arya. Semoga saja dia memberikan ku ijin," imbuhnya.


"Semoga ya," kakek Susanto hanya tersenyum getir setiap mengingat nasib mereka. Nasib yang sangat berbanding terbalik dengan Arini sekarang.


Biarpun dia juga menderita karena ulah mereka, tapi kakek Susanto tidak bisa membencinya, mungkin itulah hati nurani orang tua yang tak pernah bisa membenci sebesar apapun kesalahan anaknya.


"Kakek masuk dulu. Takut nenek mencari," kakek Susanto pamit. Mengelus puncak kepala Arini sebentar sebelum dia benar-benar melangkah untuk pergi.


"Hem.." Arini hanya mengangguk membalas.


"Maafkan Arini, Kek. Tapi Arini tidak bisa melakukan apapun untuk bisa membebaskan kak Melisa. Tapi Arini akan coba bicara dengan Mas Arya, seenggaknya Mas Arya bisa mengurangi hukuman kak Melisa," batin Arini yang ikut sedih melihat kakek Susanto yang seperti sekarang.


"Sudah jam segini, kenapa Mas Arya belum pulang juga? katanya dia akan pulang sebelum sore," gumamnya.



Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2