Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)

Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)
200.Masuk Angin


__ADS_3

Happy Reading...


Arya yang tidak bisa tidur semalam gara-gara kepikiran Arini terus akhirnya berniat untuk ke rumah Hendra. Tak peduli masih sangat pagi yang penting dia bisa melihat pujaan hatinya yang terus melayang-layang di pikirannya.



Dengan mobil hitamnya Arya menempuh jarak jauh dari rumahnya sampai rumah Hendra. Sempat tadi dia di halangi eyang Wati tapi dia tetap kekeuh hingga akhirnya sekarang dia bisa sampai di rumah Hendra.



"Pagi, Pak," Sapanya kepada para penjaga.



"Pagi, Tuan," jawabnya. Sedikit mengernyit kedua penjaga. Untuk apa Arya datang pagi-pagi sekali ke sana apakah ada hal yang sangat penting?



"Apa semua masih di dalam?" Sekedar basa-basi Arya bertanya karena dia tau kalau semua pasti masih ada di rumah, tidak mungkin kan kalau jam segini para penghuni rumah sudah berangkat kerja.



"Masih kok, Tuan. Semua masih di rumah," jawab penjaga.



Keakraban Arya dengan keluarga Hendra membuat Arya masuk begitu saja setelah penjaga membukakan pintu.



"Assalamu'alaikum...!" teriak Arya, Arya menunggu hingga beberapa saat tapi tak ada jawaban sama sekali.



Semakin lama suara Arini terdengar sangat jelas di telinganya membuat Arya langsung berjalan menuju sumber suara. Kakinya terus melangkah, menuju dapur yang tak jauh.



Benar saja, Arya langsung melihat Arini juga Dimas yang tengah berdebat. Entah masalah apa sehingga mereka berdua seperti itu. Bukannya sedih tapi Arya malah tersenyum, dia senang melihat Arini. Walaupun mereka berdebat tapi terlihat jelas ada kasih sayang yang besar dari mereka berdua.



"Assalamu'alaikum..." sapa Arya.



Seketika semua orang yang ada di sana menoleh, begitu juga dengan Arini, Nilam juga Dimas. Tapi untuk Arini dia hanya melihat sebentar, lalu beralih menundukkan kepalanya seraya melengos.



"Cie cie cie..., pagi-pagi udah di apelin nih," gurau Dimas.



"Wa'alaikumsalam..." jawab Arini yang terus menunduk.



Bugh...



"Jawab salam, Kak," protes Arini setelah menyikut Dimas.



"Hehehe..., lupa. Wa'alaikumsalam calon adik ipar. Tumben nih datang pagi-pagi. Tuh mata kenapa item begitu, nggak bisa bubu ya?" Dimas semakin getol menggoda.



Dimas benar-benar melupakan statusnya, baginya sekarang Arya adalah calon adik iparnya. Mungkin kalau di luar dia akan selalu ingat statusnya tapi ini di dalam rumahnya sendiri. Tak masalah kan? Lagian sesekali menggoda Arya tak apa, kapan lagi bisa melakukan itu.



Arya tak peduli dengan ocehan Dimas, dia tetap acuh dengan wajah datarnya.



"Ma, temenin Dimas yuk!" Dimas langsung menarik Nilam, mengajaknya pergi karena tak mau jadi nyamuk di sana.



"Lanjutkan pekerjaan kalian," titah Dimas kepada semua asisten rumah yang sedari tadi berdiri di sana.



"Baik, Tuan," jawab mereka bersamaan dan langsung melenggang pergi.


__ADS_1


Bukan hanya mereka tapi Dimas juga Nilam pun sama, mereka pergi meninggalkan Arini dan Arya berdua saja di dapur.



Memastikan semua sudah pergi Arya mulai melangkah mendekat, dan berhenti tepat di sebelah Arini yang tengah memasak sesuatu.



"Apa ada yang bisa aku bantu?" tanya Arya menawarkan diri. Padahal dia sendiri tidak yakin kalau dia bisa soalnya seumur-umur dia juga tidak pernah masak sendiri. Masak air saja tidak pernah apalagi yang lain?



"Hem..., pak Tuan bisa masak?" Arini malah balik tanya.



Jelas Arya menggeleng karena dia memang tidak bisa. Arya hanya berusaha jujur saja kan? Jangan sampai dia bilang bisa tapi kenyataannya nol!



"Lalu?" Arini mengernyit.



"Kalau motong-motong aku bisa," ucapnya dengan sangat antusias.



Arya begitu semangat, mengambil pisau besar yang ada di tempatnya.



"Aku harus potong apa nih!" Arya benar-benar sok-sokan deh, padahal dia sendiri tidak yakin dia bisa melakukan meski hanya masalah potong memotong.



"Hemm..., apa ya? Ini aja deh! Di kupas lalu di iris tipis-tipis," Arini menyodorkan bawang merah kepada Arya. Arini yakin Arya bisa karena hanya bawang merah.



"Oke, aku pasti bisa."



Entah apa yang akan di katakan oleh orang lain saat melihat Arya yang seperti sekarang. Berada di dapur, memegangi pisau, mengupas bawang merah dan mengirisnya tipis-tipis.




"Jangan anggap enteng, Pak Tuan. Meskipun hanya memotong bawang merah itu sangat sulit loh. Harus kuat dan butuh pengorbanan," ucap Arini.



Pastilah membuat Arya tak percaya, itu hanya memotong bawang merah saja bagaimana mungkin butuh kekuatan juga pengorbanan.



Hadeuh, calon istrinya ingin benar-benar luar biasa ngarangnya.



"Benarkah? Coba biar saya buktikan," Arya mulai bergerak. Mengupas lalu pelan-pelan mengiris tipis-tipis.



Pelan dan pelan Arya kerjakan. Semakin lama matanya semakin merasa aneh ada sesuatu yang membuatnya panas sehingga membuat Arya terus mengedipkan nya.



Tangan terus bergerak namun semakin lama wajahnya semakin menjauh. Mata Arya merah, berkaca-kaca lalu dengan derasnya langsung meluncur air matanya.



"Pak Tuan kenapa nangis? Hhhh..." Ingin rasanya Arini tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi wajah Arya yang sungguh aneh, tapi terlihat begitu menggemaskan.



"Si-siapa yang nangis, nggak ada. Aku hanya kelilipan," jawab Arya.



Wajahnya semakin lucu, apalagi melihat matanya yang berkedip tak henti-henti juga hidung yang kembang kempis.



"Beneran, nggak apa-apa?" Arini tetap tak percaya. Apa yang Arya katakan nyatanya tak sama dengan apa yang Arini lihat.


__ADS_1


Arya tetap menggeleng, jangankan terus mengeluarkan air mata mau apapun juga Arya akan lakukan untuk Arini.



"Baiklah, kalau begitu selesaikan," ucap Arini.



Arini seketika kembali sibuk dengan pekerjaannya, tapi dia sesekali melihat Arya yang terus meneteskan air mata karena terkena aroma bawang merah yang akan selalu membuat orang menangis.



Sebesar apapun kekuasaan Arya, sekuat apapun ototnya, secuek dan seangkuh-angkuhnya Arya nyatanya masih tetap kalah hanya dengan bawang merah saja. Nyatanya bawang merah bisa membuatnya menangis, wkwkwk....



"Nih, sudah selesai. Sekarang apalagi yang hari aku kerjakan?" tanya Arya lagi. Punggung tangan masih bergerak mengeringkan pipinya yang basah, juga matanya yang sembab.



Rupanya Arya masih belum kapok, bahkan dia menawarkan diri lagi.



"Apa ya?" Arini diam sejenak untuk berpikir, "ya, ini!"



Cabai rebus tomat rebus juga sepasang ulekan Arini sodorkan.



"I-ini di apain?" jari telunjuk Arya terangkat. Sepertinya dia akan menyerah melihat itu.



"Ini di halusin, Pak Tuan. Arini mau bikin sambel," jawab Arini.



Belum juga Arya meraihnya Arini sudah menambahkan lagi terasi bakar. Ya, Arini mau bikin sambel terasi.



"Te-terasi?" sontak Arya menutup hidung.



Arya tidak menyukai terasi, aromanya saja dia tidak suka apalagi membuatnya dan memakannya.



"Iya, sambel terasi! kenapa? apa pak Tuan tidak menyukainya?" tanya Arini dengan sangat jelas.



"Su-suka, aku sangat menyukainya," ucapan Arya tergagap. Dengan cepat tangannya juga langsung meraih ulekan juga semua bahan sambalnya.



Sepertinya Arya menyesal datang pagi-pagi ke rumah Hendra. Padahal niatnya hanya untuk bertemu dengan Arini tak taunya dia bertemu dengan Arini tapi mendapatkan bonus yang luar biasa.



Rasanya ingin muntah, perut Arya juga sudah seperti di kocok-kocok menjadi tidak karuan. Tersiksa rasanya, tapi dia tetap paksakan demi melihat Arini tersenyum.



"*Sabar Arya, sabar*," batin Arya.



Apa yang di katakan oleh hati nyatanya tak sama dengan apa yang terjadi. Perutnya benar-benar mual hingga akhirnya dia tak dapat menahannya dan lari terbirit-birit untuk pergi ke kamar mandi.



"Lah, pak Tuan, pak Tuan kenapa?!" Arini langsung menghentikan aktivitasnya, mematikan kompor dan berlari mengejar Arya.



Dengan jelas Arini melihat Arya yang terus memuntahkan isi perutnya. Arini ingin membantu tapi dia tak berani mendekat, mereka belum sah.



"Kak Dokter! Mama! Papa! pak Tuan masuk angin!" teriak Arini begitu keras.



Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2