
Happy Reading...
Meja makan yang sangat indah, sangat besar tentunya menjadi tempat menyatunya keluarga Arya. Semua ada di sana termasuk Wiguna yang tadi tidak ikut menyambutnya karena ada beberapa kerjaan yang harus dia lakukan di ruang kerjanya.
Wiguna sangat menyambut baik kedatangan Arini. Dia sangat senang. Tapi setiap kali melihat Arini rasa bersalah itu selalu saja muncul lagi dan membuat dirinya untuk bisa menembus semuanya meski dengan perlakuan-perlakuan kecil.
Satu hadiah juga sudah Wiguna siapkan untuk anak juga menantunya. Amplop putih yang ada di sebelah tangannya langsung dia berikan kepada Arya sebagai hadiah pernikahan untuk mereka berdua.
"Papa punya hadiah kecil untuk kalian berdua. Semoga kalian senang dengan hadiah ini," senyum begitu tulus keluar dari Wiguna, nampaknya dia sangat berharap kalau anak dan menantunya akan bahagia dengan apa yang dia berikan barusan.
"Ini apa, Pa?" tanya Arya setelah dia menerima amplop itu. Mungkin dia bisa mendapatkan jawaban sebelum dia sendiri membukanya kan?
"Lihat sendiri, Ar," Perintah Wiguna.
Terpaksa Arya membukanya sendiri. Dia juga mendekatkan tubuhnya kepada Arini karena dia juga ingin istrinya juga melihat apa yang mereka berdua dapatkan dari Wiguna.
"Dua tiket ke Bali?" ucap Arya. Matanya langsung menoleh ke arah Arini yang bingung. Untuk apa juga mereka berdua mendapat dua tiket ke Bali. Mereka kan tidak akan pergi?
"Ya, dua tiket ke Bali dan paket perjalanan untuk bulan madu kalian berdua. Papa ingin kalian bisa menikmati waktu berduaan kalian dan papa juga ingin kalian akan pulang membawa kabar gembira untuk kita semua," jawab Wiguna menjelaskan.
"Maksudnya kabar gembira apa, Mas?" Arini berbisik, dia tidak tau apa yang Wiguna maksud.
"Kabar gembira yang papa ingin adalah berita tentang cucu. Papa ingin kamu cepat hamil, Sayang," jawab Arya juga dengan berbisik.
"Kok malah bisik-bisik, jadi kapan kalian akan berangkat?" eyang Wati angkat bicara.
"Secepatnya, Eyang. Kita akan berangkat secepatnya. Besok juga oke. Iya kan, Sayang?"
"Arini ikut saja," jawab Arini yang pasrah.
"Ma, mama tidak mau mengatakan apa yang mama inginkan dari mereka?" Wiguna menoleh ke arah Luna yang masih diam dari tadi.
__ADS_1
Luna terlihat sedikit berpikir, entah apa yang dia inginkan kenapa dia harus lama untuk berbicara.
"Luna, katakanlah," suara eyang Wati begitu pelan, dia sangat lembut terhadap siapapun.
"Mau ku?" Semua mengangguk tapi berbeda dengan Arini yang langsung takut. Arini takut kalau apa yang di inginkan oleh Luna dia tidak bisa memenuhinya. Arini sangat takut mengecewakan mertuanya.
Arini diam menunggu, hatinya sangat ketar-ketir, dia sangat tak karuan menerka-nerka apa yang Luna ingin darinya.
"Tidak banyak, aku hanya ingin semoga anaknya Arya tidak sama seperti dia. Arya harus mempunyai anak-anak yang baik kan tentunya?"
Deg...
Sontak Arini terdiam membisu. Keinginan Luna yang tidak ada di kendalinya sendiri. Seperti apapun anak mereka nanti hanya Allah yang bisa menentukan. Bukan Arini, Arya, ataupun Luna sendiri.
Hati Arini sangat sakit, matanya terpejam dengan wajah yang menunduk dengan ketidakberdayaan.
"Aku hanya ingin cucu-cucuku bisa menyamai Arya. Dan tidak sama seperti ibunya," ucap Luna lagi yang semakin nyelekit.
"Luna, apa kamu sadar dengan apa yang kamu katakan?" Wiguna sampai tak habis pikir dengan jalan pikiran istrinya yang seperti itu. Bisa-bisanya dia mengatakan hal itu dan tepat di hadapan Arini.
"Mama sangat sadar, Pa. Mama sangat sadar! Mama hanya menginginkan anaknya Arya bisa sama dengan Arya, apa itu salah! Lihatlah dia, bagaimana kata orang kalau anak dari seorang Arya sama seperti dirinya. Jelek, kucel, terlihat sangat bodoh juga tidak enak di lihat. Apa itu akan pantas menjadi bagian dari keluarga Gautama?"
Semakin sakit hati Arini. Dalam diamnya dia hanya bisa menahan rasa sakit juga air mata yang ingin sekali keluar sekarang juga. Tapi Arini menahannya, dia tidak mau di anggap sebagai wanita cengeng juga apalagi sampai di anggap wanita lemah.
"Ma! Apa mama ingin kami datang hanya untuk mama bisa puas menghina istri Arya, iya! Kalau begitu jangan pernah harapkan kami datang lagi di rumah ini!"
"Dan ya! Bagaimanapun keadaan anak kami nanti tidak akan mempengaruhi apapun. Dia akan tetap menjadi keluarga Gautama, dia akan menjadi pewaris dari keluarga Gautama. Karena apa! Karena Arya juga terlahir dengan marga Gautama, bukan marga mama!"
Begitu besar amarah Arya karena penghinaan kepada istrinya. Bahkan Arya sudah berdiri tegak di hadapan semuanya.
__ADS_1
"Mas, sudah. Jangan seperti ini lagi! Arini tidak apa-apa," Arini juga berdiri menahan Arya supaya tidak semakin marah lagi. Bisa bahaya kalau sampai Arya benar-benar dalam amarah besar. Bisa-bisa semua yang ada di hadapan mereka semua akan hancur karena ulah tangannya.
"Tidak Arini, dia bisa mengatakan apapun sesuai keinginannya. Tapi dia tidak bisa menghinamu. Kamu adalah istri ku, dan tidak boleh ada yang berani menghinamu meski itu orang tuaku sendiri!"
Acara yang seharusnya penuh dengan kebahagiaan berakhir dengan kekacauan karena awal perkataan dari Luna yang begitu menyakitkan.
Arini bisa saja menerima semua penghinaan itu karena dia sudah terbiasa menghadapi semuanya, tapi Arya? Dia belum pernah mengalami hal itu, dan dia tidak akan biarkan itu terjadi kepada istrinya juga.
"Sudah, Mas. Jangan marah-marah dengan mama Luna. Dia tidak salah, apa yang dia inginkan itu benar," biarpun hatinya sakit tapi nyatanya Arini masih saja membela Luna.
"Tidak, Arini! Kamu tidak boleh membelanya. Dia tidak pantas mendapatkan pembelaan mu. Lebih baik sekarang kita pergi dari sini. Kedatangan kita tidak di harapkan di rumah ini."
Arya langsung menarik pergelangan tangan Arini, mengajak pergi dari hadapan orang yang menghina Arini.
Arini tak dapat melakukan apapun, dia hanya bisa mengikuti kemana Arya menariknya.
Eyang Wati begitu lemas melihat keadaan ini, dia ingin bahagia melihat semuanya berkumpul di meja makan, menikmati makanan dengan suka cita tapi nyatanya? Harapannya yang kecil itu telah hilang karena perkataan Luna yang tidak bisa dia jaga.
"Mama sangat keterlaluan, apa mama tidak berpikir dulu sebelum mengatakan itu!" Wiguna sangat marah, dia juga sangat kecewa.
"Kenapa, apakah mama tidak boleh mengutarakan keinginan Mama! Apa keinginan mama itu salah, iya!" Luna sama sekali tak bisa menerima baik apa yang Wiguna katakan. Baginya apa yang dia katakan adalah benar.
"Arghhh!!" Wiguna berteriak frustasi, dia tidak bisa mengendalikan istrinya itu dan kini menantunya pasti sakit hati.
"Mama capek ngomong sama kalian!" Luna bergegas pergi meninggalkan tempat itu, selera makannya juga sudah hilang sekarang jadi untuk apa dia tetap tinggal.
"Ma! Ma! Papa belum selesai bicara, Ma!" Luna sama sekali tak menyahuti panggilan Wiguna.
"Istrimu benar-benar keterlaluan, Wi. Arini pasti sedih sekarang, dan Arya? Dia pasti sangat marah. Kita sudah bisa membuat dia pulang dan sekarang? Mommy tidak yakin dia akan bisa pulang lagi."
"Maafkan Wi yang tidak bisa mengajari istri Wi, Mom. Wiguna yang bersalah," Wiguna terlihat sangat menyesal tapi dia juga harus bagaimana sekarang, semua sudah terjadi.
__ADS_1
Bersambung....