Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)

Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)
174.Bukan Salah Arini


__ADS_3

Happy Reading..


~``~


Langkah kedua kaki lemah tak berdaya membawa Arini hingga sampai ke sebuah terminal kota. Tak tau akan pergi ke mana tanpa arah tujuan tetapi Arini terus berusaha untuk kuat dan pergi sejauh-jauhnya dari semua orang yang sayang padanya juga dari orang yang memberikan sebuah luka yang tak akan pernah mudah untuk dia melupakannya.


Sudah mencoba jauh berlari dari kenyataan pahit yang dia dapat, lari dari sebuah taman cinta yang begitu manis dan indah tetapi dia tetap gak bisa membuat luka itu hilang dengan seketika, entah berapa lama dia membutuhkan waktu.


Semua cinta, perhatian, senyum juga perlindungan semua hanya sebuah dusta yang tak bisa Arini mengerti. Sucinya cinta yang mulai dia pupuk indah telah hilang dan perlahan hancur.


Termenung seorang diri hanya duduk di sebuah tempat tunggu dengan memeluk tas ransel yang menjadi bekal untuknya.


Sesekali Arini menoleh, menatap pelataran malam yang terdapat beribu-ribu bintang yang terus tersenyum ramah menyapanya.


Tempat sudah sangat sepi, Arini tak bisa pergi kemanapun karena malam sudah sangat larut juga tak ada lagi bis atau angkutan lain yang hilir mudik datang dan pergi.


Ada rasa takut di benak Arini, dia tidak pernah keluar malam hingga selarut ini seorang diri biasanya akan ada orang lain yang mengajaknya, tetapi sekarang? bahkan tak ada yang datang menemani dan hanya bertemankan sepi dan dinginnya angin malam.


''Ibu, Arini takut,'' ucapnya. Tangannya semakin erat memeluk tas ransel yang sebenarnya juga tak ada barang yang berharga hanya pakaiannya saja.


Tetapi itu adalah barang berharga untuknya sekarang karena dia tak akan mungkin pergi tanpa apapun termasuk pakaian gantinya.


Punggungnya bersandar menyatu dengan tiang dari besi yang berwarna hijau, Arini menaikan kedua kaki dan memeluknya bersamaan dengan tas ransel nya.


Luka batinnya kembali hadir saat tiba-tiba dia mengingat kebersamaan dengan Arya. Tulus rasa yang telah dia berikan kini tak lagi ada gunanya dan dia kini juga harus di paksa untuk melepaskan juga melupakan.


''Ya Allah, jaga Pak Tuan. Jangan biarkan dia sedih dan jangan biarkan dia kembali ke masa lalunya. Arini mohon jadikan Pak Tuan orang yang sangat baik seperti saat bersama dengan Arini.''


Harapannya begitu tulus meskipun dia sudah tak lagi bersamanya bahkan mungkin tak akan memilikinya.


Arini kembali meneteskan luka melalui air matanya, dia benar-benar sedih karena sekarang dia benar-benar sendiri hidup di dunia ini, tak ada siapapun lagi yang bersamanya juga yang menyayanginya.


Matanya terpejam karena lelah dengan air matanya. Tetapi Arini juga tak bisa untuk tidur dia sangat takut dia hanya sendiri di sana dengan penerangan yang remang-remang dari lampu kuning yang sangat kecil.


"Jangan takut, Arini. Allah selalu bersamamu."


Niatnya Arini ingin singgah ke masjid supaya lebih aman tetapi kakinya sudah tak mampu lagi untuk berjalan dia sangat lelah kakinya juga sudah lecet karena sepatunya jebol dan Arini terpaksa harus jalan tanpa alas kaki.


Kaus kaki cokelat muda yang dia pakai kini sudah berubah warna dengan bercampur darah juga tanah, tetapi Arini tak berniat untuk melepaskannya dia masih membutuhkannya untuk menutupi auratnya. Mungkin besok setelah pagi dia akan membuangnya setelah dia membeli yang baru beserta sendal yang lebih murah juga.


"Widih.. ada cewek di sini sendiri nih."


Suara asing membuat Arini kembali membuka matanya dia langsung takut melihat tiga orang laki-laki yang datang dan berdiri di hadapannya.


"Paman-paman mau nungguin bis juga?" tanya Arini dengan sangat polos. Meskipun terlihat jelas dia sangat takut tetapi otaknya yang hanya setengah tak akan berpikir untuk sampai ke tempat yang terlalu jauh.


"Nunggu bis? Hahaha...!" tawa salah satu di antara mereka.


"Kenapa ketawa paman, Arini nggak kayak badut kan?" ucapnya lagi. Tetapi kali ini dia terlihat lebih tenang.


"Atau mungkin wajah Arini aneh ya? Bentar bentar..." Arini membuka tas kecilnya mengeluarkan kaca kecil dan melihat pantulan wajahnya dari sana.


"Tidak ada yang salah, semuanya baik-baik saja. Arini juga tidak ileran?"


"Hey..., memang tidak ada yang aneh padamu. Tapi mata kami merasa aneh saat melihat mu!"


"Mata paman minus, atau plus ya? Kok bisa aneh saat melihat Arini." ucap Arini santai.


"Banyak bicara juga kau bocah, siniin tasnya!" Tangannya sudah meraih tas ransel Arini sementara yang lain menyambar tas kecilnya.


"Eh.., tas Arini mau di apain! Jangan-jangan Paman-paman ini copet ya? Atau jambret? Atau tukang culik?" Arini harus berjuang keras untuk mempertahankan tasnya.

__ADS_1


"Jangan banyak bicara, sini tasnya!" orang itu tetap kekeh untuk meminta tas Arini.


"Paman, paman ini jangan nakal-nakal. Kalau nakal bukan hanya orang tua paman saja yang akan marah tetapi Allah juga akan marah. Ingat ya Paman, tangan paman besok kalau di akhirat bisa memberikan kesaksian kepada Allah kalau Paman tidak bisa mengurusnya dengan baik dan malah membiarkan dia berbuat nakal," ucap Arini menasehati.


"Halah, jangan bawa-bawa akhirat! Kami tidak takut!"


"Beneran nggak takut? Emangnya paman tidak takut di bakar di neraka yang panasnya luar biasa? Kena api dari korek saja paman kepanasan tangan juga bisa melepuh bagaimana kalau paman di lempar di neraka. Apa nggak takut langsung jadi abu!?"


"Jangan banyak cingcong! Siniin tasnya!" Orang itu tetap kekeh untuk merebut tas Arini.


"Tidak boleh, ini tas Arini! Apa paman nggak takut, di dalamnya ada ular berbisa yang akan membunuh Paman paman semuanya," ucap Arini.


"Hahaha..., kalau ada ularnya apa kamu juga akan berani membawanya. Dasar bocah tengil!"


"Polisi polisi...!" Arini berteriak, tangannya terangkat dan menunjuk ke arah belakang semua orang-orang itu dan membuatnya mengikuti arah tangannya juga.


Arini cepat menggunakan jurus langkah seribu untuk bisa melarikan diri dari mereka semua.


"Hey.. Kita hanya di kibulin sama tuh bocah. Kejar kejar..." satu orang menoleh dan saat itu Arini sudah jauh berlari.


Cepat dia mengajak teman-temannya untuk mengejar Arini yang sudah sangat jauh.



"Kita harus pergi kemana, Kek. Kita tidak punya tempat tinggal lagi," ucap Nenek Murni.



Kakinya yang lelah kini menghentikan langkah, tetapi keduanya kembali terus berjalan mencari tempat singgah sementara yang bisa di jadikan untuk tempat istirahat malam ini.




"Kita istirahat dulu, Nek."



Kakek Susanto menuntun istrinya untuk istirahat di sebuah halte yang juga sepi tak ada orang lagi. Untuk sementara mereka bisa istirahat di sana sampai besok.



"Kek, Arini tidak mungkin setega ini kan sama kita? Tidak mungkin kan yang melakukan ini semua adalah dia?" Nenek Murni menoleh.



"Entahlah, Nek. Tetapi saya harap bukan Arini yang melakukannya."



Mereka yang begitu kedinginan dalam duduk terlihat oleh seseorang yang tengah mencari mereka, dia adalah Hendra.



Cepat Hendra menghentikan mobilnya di depan halte, dia cepat keluar dan menghampiri kedua orang tua itu.



"Tuan!" Sapa Hendra.


__ADS_1


Keduanya mengangkat wajahnya bersamaan dan melihat Hendra yang ada di hadapannya.



"Tuan Hendra?" mata kakek Susanto membulat dia juga sangat terkejut dengan kedatangannya.



"Tuan, apakah benar Arini itu bukan cucu kalian yang sebenarnya?" Hendra sudah tidak sabar untuk bisa mendapatkan jawabannya.



Kakek Susanto masih diam bergeming.



"Tuan, tolong jelaskan semuanya padaku. Istriku bilang dia adalah anak kami, apakah itu benar? Katakan tuan, katakan!"



"Ya, Arini adalah anak kalian yang entah kenapa kalian tega membuangnya! Dia adalah anak yang terus menderita hingga sekarang karena orang tuanya tidak menginginkannya!" kakek Susanto terlihat sangat marah. kakek Susanto senang tetapi dia juga masih menyimpan amarah yang besar karena orang tua yang telah tega membuang darah dagingnya sendiri.



"Bukan seperti itu, Tuan. Saya... Saya..."



"Apa yang akan kamu jadikan alasan. Saya sudah mengetahui semuanya! Hanya karena kecurigaan yang tidak mendasar dan tidak ada bukti kamu mengorbankan anakmu sendiri!"



"Tuan, saya mengaku salah. Karena itulah saya ingin menebus semua kesalahan saya. Tolong katakan dimana Arini sekarang, katakan, Tuan."



"Sudah terlambat, Arini sudah pergi setelah menjual rumah kami,"



"Itu tidak benar, bukan Arini yang melakukannya. Tetapi cucu tuan yang lain juga menantu Tuan. Ibu-ibu tadi yang mengatakannya kalau Arini tidak bersalah, bahkan mereka menghinanya sebelum mengusir Arini."



Kakek Susanto terdiam, ternyata hati nuraninya tidak pernah salah.



"Sekarang kalian mau kemana? Bagaimana kalau kalian tinggal di rumah saya,"



"Tidak usah, kami akan sangat merepotkan tuan nantinya."



"Tidak, Tuan tidak akan merepotkan kami. Mari," Hendra tetap kekeh hingga akhirnya Kakek Susanto juga Nenek Murni ikut dengan Hendra.



Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2