Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)

Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)
268.Bubur Ayam


__ADS_3

Happy Reading...


``````````


Persiapan yang hampir selesai untuk acara pernikahan Toni juga Nisa membuat Arya merasa lega. Kini dia bisa kembali bersama istrinya, bermanja-manja tanpa harus memikirkan apa yang harus dilakukan untuk semua persiapan pernikahan Toni.


Kini dia hanya tinggal mempersiapkan apa yang akan dia siapkan untuk dirinya juga Arini untuk bisa mewakili sebagai keluarga Toni.


Mereka berdua akan berangkat ke desa besok pagi karena lusa Toni akan melangsungkan pernikahan di desanya Nisa. Sementara Toni sudah berangkat lebih dulu untuk memastikan semuanya sudah berjalan dengan baik.


"Mas, kita akan berangkat jam berapa?" Arini terus membenahi barang-barang yang akan dia bawa termasuk barang milik Arya. Kata Arya mereka berdua tidak hanya akan pergi ke desa saja melainkan Arya juga mengajak Arini mendatangi suatu tempat.


"Hem.., kita akan berangkat jam tujuh pagi," Arya berjalan mendekati Arini memeluknya dari belakang dan menghentikan pergerakan tangan Arini yang terus saja sibuk


"Mas, Arini belum selesai," Protes Arini.


Tetapi Arya sama sekali tak peduli dia malah melepaskan hijab Arini dan melepaskan rambut dan menggerainya dengan indah.


"Sayang, aku merindukanmu," suara Arya terdengar sangat berat. Sepertinya dia benar-benar menginginkan Arini saat ini. Tangannya juga mulai bergerak membuka kancing baju Arini yang ada di depan, sementara bibirnya sudah mulai menikmati tengkuk Arini dari belakang.


Arini menggeliat saat merasakan kecupan Arya yang semakin panas juga liar, bahkan hembusan nafas terdengar tidak teratur. Arya benar-benar ingin berbuka saat ini.


Arya membalikkan Arini hingga berhasil menghadap ke arahnya. Gelora Cinta harus tersalurkan untuk malam ini. Arya tidak akan bisa menahan lagi karena hasratnya sungguh sangat besar.


Arini terus diam ketika mendapatkan semua sentuhan dari Arya bibir keduanya sudah berpagutan semakin liar dan kini Arini bisa membalasnya.


Arya mengangkat tubuh kecil Arini setelah dia benar-benar tak bisa menahannya lagi. Menurunkan perlahan di atas kasur dan mulai menanggalkan semua baju keduanya dan mulai membelai lembut tubuh istri penuh dengan hasrat.


Rasa dahaga akan hasrat besar akan terpuaskan malam ini. Tanda-tanda kehidupan yang belum muncul di perut Arini membuat dirinya harus kembali menaburkan benihnya lagi.


Peluh bercucuran di antara keduanya, bahkan keduanya sudah basah dengan sesekali alunan merdu keluar dari mulut keduanya.


Setengah jam keduanya bergulat dalam cinta, menyatukan cinta menjadi semakin besar. Berharap cintanya akan menumbuhkan makhluk baru yang akan menjadi pelengkap untuk mereka berdua.


"Terimakasih, Sayang." Arya ambruk setelah berhasil mencapai puncak kenikmatan, tentunya sudah memastikan bahwa istrinya juga sama sudah terpuaskan.


Muach...


Kecupan di kening menjadi akhir dari percintaan mereka berdua. Arya langsung menarik Arini kedalam pelukannya dan menghujani kecupan bertubi-tubi.


"Terimakasih, Sayang." Ucapnya lagi. Arya benar-benar bahagia. Sekali lagi tangannya bergerak mengelus perut istrinya yang sudah tertutup selimut.


"Cepatlah hadir di tengah-tengah mama dan papa, Sayang." Ucapnya.

__ADS_1


Arini mengangkat wajahnya melihat wajah Arya yang penuh harap. Tangannya juga bergerak di atas tangan Arya yang ada di atas perutnya.


"Amin, semoga Allah segera memberikan kita rezeki yang besar itu, Mas. Dan secepatnya mempercayakan kita dengan karunia seorang anak." jawab Arini.


"Apakah kamu bahagia?"


"Kenapa Mas selalu bertanya seperti itu?"


"Karena aku hanya ingin memastikan kamu selalu bahagia. Kalau caraku sekarang tidak bisa membuat mu bahagia aku harus mencari cara lain untuk membuatmu bahagia. Aku ingin kamu selalu bahagia saat bersamaku."


Arini tersenyum penuh syukur. Alhamdulillah dia benar-benar mendapatkan kebahagiaan bersama Arya.


"Aku sangat bahagia, Mas. Aku bahagia bersamamu," Jawaban Arini membuat Arya sangat senang. Setiap kali dan tak akan pernah ada bosan-bosannya Arya akan selalu menanyakan tentang kebahagiaan Arini dia sangat takut kalau Arini tidak bahagia dan akan mencari kebahagiaan lain di luar sana.


"Tidurlah, dan mimpilah yang indah."


"Hem," Keduanya saling berpelukan dengan erat, menjemput mimpi setelah keduanya selesai bergelut dengan penuh cinta.


___________


Perjalanan panjang sudah Arya dan Arini lalui. Sudah satu setengah jam tapi mereka berdua juga belum sampai di tempat tujuan.


Sebenarnya bukan hanya mereka saja yang akan datang, tapi ada yang lain juga. Tapi karena mereka mewakili sebagai keluarga mempelai pria jadi mereka datang lebih dulu.


"Mas, aku lapar," Tangan Arini sudah memegangi perut yang sadari tadi sudah terus ribut. Wajah Arini juga sudah berkedut masam.


"Kita cari bubur ayam saja, Mas," Ucapnya dengan sumringah.


"Bu_bubur? Bukannya kamu tidak bisa makan bubur?" Sekilas Arya menoleh, matanya membulat menatap Arini yang hanya meringis.


"Tapi aku pengen makan bubur, Mas," Arini terlihat sangat menginginkannya, sementara Arya merasa tak yakin. Arya takut kalau Arini akan muntah setelah makan bubur.


"Ayo, Mas! Kita cari bubur ayam!" Desak Arini tak mau di ganggu gugat. Apa yang akan dia makan harus bisa di dapatkan saat ini juga.


"I_iya," Arya menjawab ragu, "kita akan mencari bubur sekarang."


Arini begitu senang saat ini, dia sudah tidak sabar dengan apa yang seperti ada di depan wajahnya sekarang ini. Bubur ayam dengan kuah kuning yang begitu banyak. Di kasih kerupuk di atasnya terlihat sangat menggugah selera.


Arini terus tersenyum membuat mata Arya menyipit.


"Mas, berhenti!" Teriak Arini.


Cepat Arya menghentikan mobil, dia terlihat bingung karena Arini menghentikan mobil dengan tiba-tiba.

__ADS_1


"Ada apa sih, Sa..."


"Itu Mas! Ada penjual bubur!" Belum juga Arya selesai berbicara Arini sudah menyaut dan tangan sudah terangkat menunjuk penjual bubur dengan gerobak di pinggir jalan.


"Ka_kamu yakin mau makan di sana?" Terlihat nggak banget bagi Arya. Tempatnya juga tidak begitu bersih, apalagi di pinggir jalan, takut tidak higenis, pikir Arya.


"Iya, itu terlihat enak, Mas. Ayo!" Cepat Arini turun, dia berlari lebih dulu menghampiri penjual bubur, "pak, pesan buburnya dua ya. Yang satu banyakin kuahnya."


"Iya, Neng." Jawab penjual dengan mengulas senyum.


Arya menepikan mobilnya. Tidak mungkin dia akan berhenti disitu saja bisa-bisa dia akan mendapatkan omelan dari pengguna jalan yang lain.


"Benarkah Arini akan makan bubur, bagaimana kalau dia muntah?" Gumamnya.


Arya turun dan menghampiri Arini. Arya ikut duduk di samping Arini yang sudah duduk tak sabaran menunggu.


"Kamu sudah pesan?" Tanya Arya dan Arini mengangguk.


"Kamu beneran mau makan bubur?" Arya merasa ngeri, dia ingat waktu itu saat Arini makan bubur. Dia seketika langsung muntah, bagaimana kalau sekarang dia juga sama.


"Kenapa sih, Mas. Emangnya Arini nggak boleh ya makan bubur?" Arini terlihat kesal.


"Bu_bukan seperti itu, Sayang. Tapi dulu kamu kan tidak bisa makan bubur, bagaimana kalau sekarang.. "


"Ini, Neng."


"Terimakasih, Pak." Belum juga kata-kata Arya selesai penjual datang dengan membawa dua mangkuk yang sudah di penuhi bubur.


"Silakan di nikmati, Neng."


"Iya, Pak." Arini mulai menggeser mangkuk yang ada di hadapannya. Sementara yang satu untuk Arya.


"Ayo, Mas. Di makan cepat." Pintanya.


"I_iya."


Was-was Arya mengamati Arini yang sudah mulai makan. Satu suap dua suap tiga suap, dan tidak terjadi apa-apa dengan Arini.


"Apakah waktu itu Arini bohong, tidak mungkin kan?" Batin Arya.


"Ayo, Mas. Ini enak banget loh."


"Iya," Perlahan Arya juga mulai menyuapkan bubur ke dalam mulutnya sendiri.

__ADS_1


 


Bersambung....


__ADS_2