Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)

Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)
323. Afzam Gautama


__ADS_3

...****************...


"Cepat! sampai terjadi apa-apa pada istriku kalian akan aku masukan ke lubang buaya!" seru Arya.


Amarahnya begitu menggebu-gebu karena perawat yang di rasa begitu lama dan lambat mendorong brangkarnya. Mata Arya begitu bulat-bulat terang juga begitu tajam.


"Iya, Tuan." brangkar melaju semakin cepat setelah mendapat amarah dari Arya. Sebenarnya tadi sudah cepat, Arya saja yang tak sabaran.


"Mas, sakit," ucap Arini. Terus dia meringis menahan sakit. Satu tangan memegangi perutnya sendiri sementara yang satu ada pada genggaman tangan Arya.


"Kamu yang sabar, Sayang. Mas ada di sini. Mas tidak akan meninggalkanmu." Arya begitu erat menggenggam tangan Arini.


"Cepat cepat, dasar lambat! kalian nggak lihat istriku sudah kesakitan seperti ini!" serunya lagi.


"Sayang jangan nakal ya, jangan bikin mama sakit ya." ucap Arya, mengelus perut Arini dengan pelan.


Begitu khawatir Arya melihat istrinya yang kesakitan seperti sekarang ini. Sia hanya bisa menemani tanpa bisa melakukan apapun. Seandainya bisa, mungkin lebih baik Arya yang menanggung rasa sakitnya.


~~~~``


Di dalam ruangan persalinan, di sanalah Arini dan juga Arya berada sekarang. Tentu ada beberapa para pihak medis yang membantunya.


Arini terus saja meringis kesakitan, terus berusaha bisa mengurangi rasa sakitnya dengan mengeluarkan dan menghirup udara dalam-dalam.


"Aww! sakit Sayang," Arya memekik ketika Arini yang kesakitan langsung menarik rambutnya. Begitu kuat Arini melakukan sampai membuat Arya ikutan meringis.


Seperti tak mendengar Arini terus saja menarik rambut Arya dengan kuat hingga ada rambut Arya yang rontok karena saking kerasnya.


"Aa!" teriak Arini sangat keras, bersamaan dengan mendorong kuat-kuat.

__ADS_1


"Ayo, Bu, sedikit lagi." ucap sang dokter sembari memberikan arahan pada Arini.


"Ayo, Sayang. Kamu pasti bisa," rasa sakit seakan hilang ketika melihat Arini yang lebih kesakitan. Bahkan mungkin, apa yang Arini lakukan tidak seberapa dibandingkan yang Arini rasakan saat ini untuk bisa melahirkan anaknya.


"Aa!" teriak Arini lagi.


Oe oe oe!


Rasa bahagia campur haru. Air mata mengalihkan di tengah-tengah kebahagiaan atas kelahiran anak pertama mereka.


"Mas, anak kita," seketika Arini melihat wajah Arya. Arya tersenyum begitu bahagia namun juga dengan mengeluarkan air mata.


"Iya, anak kita sudah lahir. Terima kasih, Sayang." terus Arya menghujani kecupan di wajah Arini, bukan hanya wajah saja, tapi punggung tangan juga tak luput kecupan penuh cinta dari Arya.


"Selamat ya Pak, anak Bapak laki-laki. Tampan seperti Bapak," ucap seorang dokter dengan tersenyum ikut bahagia dengan kelahiran anak dari Arya dan juga Arini.


"Alhamdulillah, anak kita laki-laki, Mas. Dia juga sangat tampan seperti Mas." Arini tersenyum bahagia.


...****************...


Kebahagiaan begitu besar dari semua keluarga kala melihat putra dari Arya dan Arini yang begitu tampan. Setelah mendapatkan kabar dari Arya semua langsung datang, semua begitu antusias.


Semua saling berebut ingin melihat wajah mungil dari putra Arya, begitu tampan dan juga begitu anteng. Mungkin secara wajah dia akan sama seperti Arya, tapi tidak dengan sikapnya yang lebih banyak diam, tentu seperti Arini.


"Ih, gemesnya," ucap Dimas. Terus dia menoel pipi keponakan kecilnya itu dengan satu tangan yang juga memeluk istrinya dari belakang.


"Kamu juga gemesin," imbuhnya yang beralih menoel pipi Istrinya.


"Kamu ada-ada saja," Nilam tersenyum melihat tingkah anak laki-lakinya itu yang begitu iseng pada istrinya.

__ADS_1


"Mama juga gemesin."


"Ish, apasih," keluh Nilam berusaha menghindar dari tangan Dimas.


Semua keluarga berkumpul menjadi satu, menyaksikan kebahagiaan Arya dan Arini yang begitu besar. Keduanya terus tersenyum dengan terus saling menggenggam.


"Mas sudah siapkan nama untuk putra kita?" tanya Arini.


"Hem..., namanya? Namanya, Afzam Gautama. Bagaimana?"


"Afzam, bagus. Memang artinya apa, Mas?"


"Afzam artinya berjiwa pemimpin, dan Gautama adalah nama dari keluarga ku. Jadi aku ingin anak kita memiliki jiwa seorang pemimpin, tentunya dengan sifat dan sikap yang baik seperti mamanya."


"Terima kasih sudah memberikan nama yang indah untuk anak kita, Mas." seketika Arini berhambur di pelukan Arya dan tentu mendapatkan pelukan yang hangat juga.


Keduanya sama-sama melihat putra mereka yang tetap anteng meski terus di ganggu oleh semua orang.


"Afzam," ucap keduanya bersamaan.


End......


...****************...


Cinta tak pernah memandang status ataupun perbedaan. Di kala Allah sudah berkehendak, perbedaan sebesar apapun akan dia hati akan tetap bersatu.


Semua orang juga memiliki masa lalu, entah itu sifat dan sikap yang baik ataupun buruk. Seseorang yang memiliki masa lalu yang buruk bukan berarti akan selalu buruk, Allah akan memberikan hidayah kepada orang yang di kehendaki tanpa pilih-pilih. Dan semua itu tak akan ada yang bisa menghentikannya.


...****************...

__ADS_1


Terima kasih semuanya...


😘😘😘😘😘😘😘


__ADS_2