Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)

Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)
203.Fara Bertaubat


__ADS_3

Happy Reading...


Luntang-lantung tak jelas, dengan tangan menarik koper hitam juga membawa tas selempang hitam kini Fara tengah berputar-putar untuk mencari kontrakan.



Tak tau lagi harus pergi kemana, karena Fara juga tidak punya teman dekat apalagi saudara. Apalagi tingkahnya yang kemarin begitu menyebalkan membuat tak ada satupun orang yang mendekati untuk menjadikan dirinya teman.



Fara juga sangat bingung sekaligus takut. Kemana pun dia pergi pasti dia akan mendapatkan nyinyiran pedas dari tetangga barunya jika mereka mengetahui tentang keadaannya yang sedang hamil di luar nikah.



Tapi mau bagaimana lagi, apapun yang dia dapatkan dia juga harus tetap mencari rumah untuk di jadikan tempatnya singgah. Dia lebih tak mungkin lagi terus hidup di jalan dengan perut yang pasti akan semakin besar.



"Ya Allah, aku tau dosaku sangat besar. Apakah tak ada sedikit saja kata maaf untuk ku? Aku ngaku bersalah, aku bertaubat, ya Allah, aku bertaubat."



Wajahnya mendongak, memandangi langit yang kian menjadi gelap. Matanya juga sudah berkaca-kaca karena merasakan rasa lelah yang luar biasa, dia terus berjalan mencari-cari kontrakan tapi sampai sekarang belum juga menemukannya.



Rasanya begitu susah sekedar untuk mendapatkan tempat singgah saja, sejenak dia berpikir kalau Allah tengah marah padanya kalau tidak pasti semua akan di mudahkan.



Kruk.. Kruk....



Seketika Fara memegangi perutnya yang beberapa saat mengeluarkan bunyi. Ya, Fara sangat lapar karena dari siang dia belum makan apapun, bahkan dalam sehari ini dia hanya makan roti saja.



Fara sangat menyesalkan akan kehamilannya sekarang yang tanpa status sebagai istri dari seseorang, tapi dia juga tak bisa menyalahkan calon anaknya yang tidak berdosa.



Meski dia sangat buruk tapi dia masih tetap punya hati nurani untuk tetap mempertahankan anaknya. Dan akan selalu menjaganya hingga lahir dan akan membesarkannya dengan limpahan kasih sayang.



Lelah Fara memutuskan untuk singgah sebentar, kebetulan suara adzan berkumandang dengan sangat jelas di telinganya membuat Fara semakin merasa berdosa.



Masjid yang berdiri kokoh di depan adalah tujuannya sekarang. Meski dia ragu apakah taubatnya akan di terima atau tidak tapi dia akan tetap melakukannya, memohon maaf dan menghadap Sang Tuhan.



Tersedu dalam diam, menangis tanpa suara dan berdoa tanpa kata. Dengan mengenakan mukena putih yang ada di masjid itu Fara bersimpuh, berniat untuk kembali ke jalan yang benar. Jalan yang belum pernah dia lalui sebelumnya.



Mungkin memang belum bisa sempurna, tapi tekatnya kini sudah bulat dan akan terus berusaha. Fara hanya tidak mau jika suatu saat anaknya yang akan lahir akan memiliki kelakuan yang sama seperti dirinya dulu. Fara benar-benar sudah sadar.


__ADS_1


~~~|||~~~~



Kaki Arini melangkah masuk ke rumah orang tuanya, berkali-kali dia masih terus bersyukur setiap kali masuk. Selalu berpikir antara percaya dan tidak percaya tapi itulah kenyataannya yang harus selalu Arini yakin kalau semua itu memang benar dan bukan mimpi belaka.



Kali ini Arini tak pulang bersama Arya, dia hanya bersama dengan Dimas saja karena mereka berdua sudah tak lagi di perbolehkan untuk bertemu sebelum hari-H. Kata orang Jawa mereka berdua sedang menjalani masa Pingitan.



"Assalamu'alaikum," ucap Arini uluk salam. Memberikan kehormatan serta doa kepada para semua penghuni rumah.



"Wa'alaikumsalam," jawab semua orang yang kini tengah berkumpul di ruang tengah.



Nilam, Hendra, kakek Susanto juga nek Murni. Mereka tengah berkumpul.



Bukan hanya di suguhi teh hangat juga berbagai camilan saja melainkan juga percakapan akan acara pernikahan Arya juga Arini yang memang sudah mulai di persiapkan.



"Kalian sudah pulang?" tanya Nilam seraya menyambut kedatangan kedua anaknya, menyambut tangan keduanya yang bergantian menyalaminya.



"Iya, Ma," Dimas yang menjawab sementara Arini hanya diam dan hanya tersenyum saja sebagai jawabannya.




"Alhamdulillah, Pa. Semuanya lancar," jawab Arini yang kini sudah duduk di sebelah Nilam.



Begitu senangnya Nilam setelah anak perempuannya telah kembali. Saat berada di rumah dia tak pernah ingin melepaskan anaknya, dia selalu ada di samping Arini.



"Alhamdulillah," Nilam pun merasa bersyukur.



Sebenarnya ada rasa sedih di hati Nilam. Dia merasa belum puas menjalani kebersamaannya dengan Arini yang hanya akan beberapa hari saja dan setelah Arini menikah dia harus ikut kemanapun suaminya pergi. Bagaimana Nilam akan puas?



Oleh karena itu, sebelum rumah Arya benar-benar jadi dan siap di tinggali meraka berdua akan tinggal di kediaman Hendra untuk sesaat.



"Pa, apa benar tidak apa-apa kalau Arini menikah lebih dulu daripada Kak dokter?" tanya Arini.


__ADS_1


"Hadeuh, Kak dokter lagi," keluh Dimas.



Arini tak peduli dia juga pura-pura tidak mendengar apa yang Dimas katakan. Keluhan kakaknya bagaikan angin lalu untuknya karena Arini masih sangat nyaman dengan panggilan itu.



"Seharusnya kakak dulu yang menikah, Dek. Tapi karena jodohnya lebih duluan kamu ya sudah nggak apa-apa. Kakak kan kakak yang baik, jadi tak akan apa-apa lah, juga tidak akan minta apapun," ucap Dimas.



"Maka dari itu, Kak. Seharusnya kakak lebih dulu nikahnya. Oh iya! Bagaimana kalau Kakak lamar aja tuh Mbak Raisa? Dia cantik, baik dan tentunya masih jomblo," saran Arini.



"Raisa! Perempuan bar-bar itu?!" pekik Dimas.



Tak pernah terpikirkan bagi Dimas untuk melamar Raisa, bukan dia membenci Raisa tapi dia hanya merasa belum pas saja. Dia masih ingin mencari yang sesuai dengan seleranya.



Mendengar pekikan Dimas tidak membuat Arini takut, tapi dia malah tersenyum juga mengangguk. Menurutnya sarannya juga sudah bagus dan baik kalau Dimas tidak menerimanya itu bukan lagi urusannya kan?



Dimas tak lagi mengatakan apapun lagi dia hanya menggeleng saja setelah itu.



"Sudah sudah, lebih baik kalian berdua bersih-bersih setelah itu istirahat," ucap Nilam.



"Baik, Ma," Arini langsung beranjak, dia bergegas untuk pergi ke kamarnya dan segera melakukan apa yang Nilam perintahkan.



"Dimas juga pergi dulu, Ma, Pa, Kek, Nek," susul Dimas dan pamit kepada semuanya.



"Ada-ada saja mereka," ucap Hendra.



"Sepertinya apa yang di katakan Arini benar deh, Pa. Bukan Raisa kita bisa mempertimbangkan siapa perempuannya. Umur Dimas sudah sangat pantas untuk menikah," ucap Nilam.



"Kita bicarakan pada Dimas dulu, Ma."



Sementara kakek Susanto juga nek Murni hanya terus diam mendengarkan. Mereka juga merasa tak harus ikut campur dengan semua urusan keluarga Arini.



Meskipun Hendra juga Nilam sering meminta pendapatnya tapi tak selalu dia harus ikut-ikutan saat tidak di ajak berbicara. Takutnya nanti apa yang dia katakan malah di salah artikan.

__ADS_1



Bersambung...


__ADS_2