Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)

Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)
257.Belajar Merias Diri


__ADS_3

Happy Reading...


********


Mobil terparkir dengan rapi di halaman istana besar kediaman Arya juga Arini. Arya pulang setelah sore hari. Pekerjaan yang begitu banyak tapi dia bisa menyelesaikannya dengan cepat. Benar-benar bisa di andalkan, pantes saja perusahaannya semakin besar saja.


Arya melangkah masuk ke dalam rumah, matanya mengernyit karena keadaan rumah terlihat sangat sepi, entah dimana istrinya saat ini.


"Assalamu'alaikum. Arini dimana, kok sepi nih rumah," Ucapnya.


Arya terus berjalan, berhentilah di ruang tengah menaruh tasnya dan langsung melepaskan sepatu juga mengendorkan dasinya.


"Sayang! Arini sayang!" Panggilnya dan terus berteriak.


Panggilannya sama sekali tidak mendapatkan jawaban sama sekali dari orang yang dia cari membuat Arya merasa sangat heran.


Arya beranjak, berniat mencari Arini yang kini entah berantah ada di mana. Tak lupa dia juga membawa tasnya. Mungkin istrinya sedang ada di kamar.


Sebenarnya salah sendiri sih, dia bilang pulangnya masih lama tapi sekarang dia sudah pulang. Mungkin dia menghubungi Arini tadi dia sudah ada di jalan dan mengatakan masih ada di kantor, mungkin?


Sementara Arini di dalam kamar sedang duduk si depan kaca rias. Entah dapat ucapan dari mana tapi kini Arini tengah sibuk belajar merias diri dengan semua alat make-up yang di belikan oleh Arya.


Sesekali Arini melirik ke arah ponsel yang juga menampilkan video tentang cara merias diri dengan benar.


"Kenapa sangat susah ya? Kenapa hasilnya tidak bisa sama?" Pertanyaan itu muncul karena hasilnya berbeda jauh dari apa yang dia lihat.


Berkali-kali mata Arini menyipit saat dia mencoba mewarnai alisnya dengan pencil.


"Ini bagaimana sih?" Arini semakin jengkel sendiri karena tidak kunjung berhasil.


Sekali lagi dia mengambil kapas dan menghapus lagi dan seperti itu terus dia lakukan.


Tibalah Arya di kamar, dia termangu sejenak saat membuka pintu. Melihat apa yang sedang istrinya itu lakukan membuat Arya langsung tersenyum.

__ADS_1


Ternyata itulah yang Arini lakukan, dia pikir Arini tengah tidur atau mungkin sedang sibuk dengan hal lain tapi ternyata? Arini sedang belajar untuk merias diri supaya terlihat semakin cantik.


Arya menutup pintu dengan punggungnya, berjalan mendekati istrinya. Sebelum sampai Arya menaruh tasnya di sofa dan cepat mendekati Arini yang sama sekali tidak menyadari akan kedatangannya.


"Cantiknya istriku. Emangnya mau kemana sih?" Arya memeluk Arini dari belakang, mengecup puncak kepalanya sembari mata melihat pantulannya sendiri dengan Arini di kaca rias.


Arini tersentak dia begitu terkejut karena Arya yang sudah pulang.


"Kok Mas sudah pulang, katanya masih nanti?" Arini langsung meletakkan pencil mata di tempatnya. Dia tak mau lagi melakukan itu.


"Kenapa berhenti, aku suka melihat kamu yang tampil semakin cantik begini."


"Nggak ah, Arini tidak mau melakukannya lagi." Wajahnya berkedut membuat Arya gemas dan mencubit pipinya.


"Jangan seperti itu, Sayang. Kalau tidak! Kamu akan menjadi mangsaku di sore ini," ancam Arya.


Sekali lagi Arya mengamati wajah Arini yang sudah sedikit berhiaskan dengan polesan tangannya sendiri barusan, Arya tersenyum dan begitu bahagia.


Lelahnya terasa hilang setelah melihat Arini yang terlihat sangat menggemaskan.


"Kenapa, Arini pasti semakin jelek ya?" Tanya Arini.


"Bukan seperti itu sayang, kamu terlihat semakin cantik. Mas hanya penasaran saja. Siapa yang mengajarimu?"


"Mbak Suka-suka," Jawab Arini jelas.


"Mbak suka-suka? Siapa?" Arya mengernyit tidak mengerti.


"Namanya mbak Susi tapi Arini lebih suka memanggilnya mbak Suka-suka. Dia bilang, kalau seorang istri harus bisa selalu bersolek dan tampil cantik untuk suaminya. Apalagi kalau suaminya pulang kerja dalam keadaan lelah, melihat wajah istrinya yang cantik pasti lelahnya akan hilang, tapi itu katanya," jawab Arini panjang.


Arya semakin bahagia, jangankan Arini terlihat semakin cantik, seperti biasa lelah yang Arya rasakan bisa langsung hilang setelah bertemu dengannya, apalagi sampai Arini semakin cantik? Dia akan semakin betah juga di rumah dan jelas tidak akan betah jika lama-lama berada di luar.


"Kamu memang benar Sayang. Rasa lelah Mas langsung hilang sekarang. Kamu seolah menyerap habis semuanya."

__ADS_1


Arya langsung mencium pipi Arini dengan sangat pelan, tapi Arini langsung mendorongnya pelan.


"Mas bau acem, mandi dulu gih," Pinta Arini.


"Benarkah bau?" Arya mengendus-endus tubuhnya sendiri dan ternyata benar.


"Bagaimana kalau kita mandi bersama? Kamu mandiin Mas biar lebih bersih. Kalau Mas mandi sendiri pasti tidak akan bersih."


"Tidak mau, Mas harus mandi sendiri."


"Ya, nanti tetap tidak bersih dong. Tetep bau." Arya berpura-pura berwajah masam.


"Berendam pakai air sabun biar wangi."


"Nggak mau." Arya semakin berwajah masam.


Arya semakin menempel ke arah Arini namun dengan cepat didorong olehnya. Arini berdiri lalu mendorong Arya untuk segera masuk ke kamar mandi.


"Mandi dulu, Mas. Biar Arini yang siapkan bajunya."


"Mandi berdua ya, please."


"Tidak, Mas. Arini sudah mandi." Cepat Arini mendorong Arya masuk ke kamar mandi lalu menutup pintunya setelah Arya benar-benar masuk.


Arini hendak berjalan ke arah ruang ganti untuk mengambil baju Arya tapi tanpa sepengetahuannya Arya kembali membuka pintu kamar mandi dan langsung membopong Arini.


"Akk! Mas!" Pekik Arini dengan keras.


"Hahaha, kamu harus mandiin aku sayang. Kalau perlu aku juga mandiin kamu, jadi kita akan mandi bersama."


Arya sengaja membawa Arini masuk ke dalam kamar mandi sepertinya apapun yang dia mau tidak akan bisa di tentang oleh Arini sedikitpun.


__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2