
Happy Reading...
...****************...
Begitu gelisah Arini menunggu Arya yang tak kunjung pulang. Waktu sudah kurang lima menit lagi dari waktu yang sudah di tentukan tapi belum juga terlihat.
"Awas kalau kamu ingkar, Mas," matanya sudah membulat. Arini tau ini pasti akan terjadi tapi mau bagaimana lagi, dia juga gak bisa terlalu mencegah Arya karena dia juga seorang pemimpin yang harus memperhatikan semuanya.
Kakinya terus melangkah mondar-mandir. Sebenarnya dia sudah siap untuk berangkat, sudah siap dengan baju yang sudah di rencanakan. Kaus pink bertuliskan 'Mama' di depannya.
Kaus pink polos, hijab pink dengan sedikit bunga-bunga juga rok lebar berwarna hitam.
Mata tajam Susi melihat gerak-gerik majikannya itu yang sudah seperti cacing kepanasan. Dari tadi tidak berhenti dan terus ngedumel karena suaminya yang tak kunjung datang.
"Oalah, Nya Nya. Udah tau suaminya sibuk banget tak tawarin aku aja yang nganter kok nggak mau." Bahkan Susi juga ikutan ngedumel karena Arini.
Tawarannya tak di gubris oleh Arini, mungkin karena Arini memang hanya mau Arya saja yang mengantarkannya. Ya, karena itu juga kewajiban dari Arya juga kan?
"Tiga, dua, sa..."
"Assalamu'alaikum!" akhirnya, Arya menepati janjinya dan pulang tepat waktu. Dia begitu terengah-engah saat ini karena berlari demi bisa sampai dalam dan tidak terlambat."Alhamdulillah, akhirnya tepat waktu juga. Nggak jadi di terlantarkan aku," batin Arya.
Begitu bahagia Arini bisa melihat Arya, dia langsung menghampiri dengan tangan membawa kaus pink yang harus Arya pakai. Senyumnya penuh penekanan membuat Arya bergidik melihatnya.
Tak dapat do percaya kalau wanita yang dulu selalu Arya tindas kini seolah membalas dendam padanya dan selalu menindas nya. Benar kata pepatah kalau roda itu terus berputar. Mungkin saat ini Arya tengah berasa di bawah dan Arini di atas.
Terima nasib pokoknya dah.
"Sayang, sekarang ganti pakai yang ini ya," suaranya mendayu-dayu penuh rayuan, tapi malah membuat Arya semakin tak bisa mengelak apalagi menyerukan komentar.
__ADS_1
"Sekarang?" hanya itu yang Arya katakan. Apakah tidak ada waktu untuk istirahat meski hanya sebentar saja?
"Besok," jawab Arini lembut.
"Alhamdulillah, sekarang bisa istirahat." Arya hendak berjalan, sungguh tidak peka nih suami.
"Ya sekarang lah, Mas. Kan senam nya sekarang bukan besok. Bagaimana sih!" protes Arini.
Sungguh dia merasa kesal kalau Arya tidak peka seperti sekarang ini. Mungkin dia begitu lelah karena begitu banyak pekerjaan jadi gagal fokus saat berhadapan dengan istrinya.
"Oh sekarang, ya sudah Mas ganti dulu." kata-katanya seperti suami yang penurut dan begitu penyabar padahal yang ada di dalam hatinya dia tengah bersorak-sorai karena keisengan Arini.
"Cepat ya, Mas." wajah sumringah keluar dari bibir Arini, dia sangat senang karena keinginannya kembali di penuhi oleh Arya.
Punggung Arya semakin jauh hingga akhirnya hilang dari pandangan Arini karena masuk ke kamar. Arini sudah gak sabar, dia ingin bisa jalan-jalan dengan Arya tentu dengan baju couple bertuliskan mama dan papa, sangat menggemaskan bukan?
Arini terus menunggu dengan tidak tenang, kedua tangan saling bertemu di depan dan sesekali memilin-milin ujung hijabnya.
"Waw, keren. Tampan dan maco," puji Arini. Jelas pujiannya seolah menampar diri Arya. Sejak kapan laki-laki tampan juga maco tapi pakai kaus pink?
Haruskah Arya menangis sekarang karena semua ini?
"Bagaimana, kamu senang?" Arya berhenti berdiri dengan tegap di hadapan Arini.
Senyumnya yang keluar adalah senyuman penuh palsu, tidak mungkin dia akan menampilkan wajahnya yang kusam bisa-bisa dia mendapatkan omelan lagi dari sang ratu.
"Senang lahir batin," Arini langsung menggandeng lengan Arya bersiap untuk berangkat.
"Sayang, bagaimana menurut mu, papa tampan kan?" Arini mengelus perutnya berbicara dengan anaknya yang masih dalam kandungan.
__ADS_1
"Iya, Mama cantik. Papa sangat tampan," Arya yang menjawab dengan suara anak kecil yang dia buat-buat.
Arini semakin bahagia dia langsung menarik Arya untuk cepat berangkat.
Susi lagi-lagi di buat geleng-geleng, sekeras apapun tuannya tapi tetap saja kalah dengan istrinya. Benar-benar luar biasa. Susi jadi penasaran bagaimana awal hubungan mereka apakah mulus dan manis seperti sekarang atau malah sebaliknya penuh dengan lika-liku dan penuh tantangan?
"Entah siapa sebenarnya yang beruntung, tapi apapun yang terjadi dalam hubungan tuan dan nyonya semoga kalian selalu bahagia. Semoga tak ada orang ketiga, ke empat dan seterusnya," gumam Susi.
...****************...
Benar. Semua memperhatikan Arya dan Arini. Memperhatikan apa yang mereka pakai saat ini.
Tak sedikit yang langsung memperlihatkan reaksi ketawa mereka tapi ada juga yang berjuang mati-matian untuk menahannya.
"Sayang, lihatlah! mereka sangat mengagumi kita."
Nih anak terlalu polos, atau memang bodoh sih! Sampai-sampai tidak bisa membedakan mana orang yang lagi mengagumi juga dengan orang yang lagi mengejek.
"Hem," Arya hanya tersenyum gagu. Dia tak mungkin menjelaskan semua pada Arini. Kalau sampai dia tau itu adalah senyum ejekan dia pasti akan merasa bersalah dan akan sedih. Arya tidak mau itu terjadi.
Baginya apapun yang terjadi tidak masalah, apapun kata orang juga bodoh amat. Yang terpenting dia juga istrinya nyaman juga bahagia juga tidak merugikan orang lain juga kan?
Begitu banyak ibu hamil juga banyak para suami yang mengantarkan mereka itulah yang membuat Arini merasa iri jika Arya tidak mengantarkannya.
Mereka para suami juga sibuk bukan hanya Arya saja yang sibuk tapi mereka bisa bagaikan mungkin Arya tidak bisa, benar kan?
"Sayang, yuk masuk." ajak Arya. Dia sudah bosan melihat semua senyum dari orang-orang itu. Lagian dia juga mengambil pembimbing pribadi jadi tidak perlu Arini capek-capek menunggu yang lain.
"Hem," Arini nurut beby saja. Dia langsung berjalan ketika Arya menarik tangannya.
__ADS_1
...****************...
Bersambung....