
..._____...
...◦•●◉✿Happy Reading✿◉●•◦...
Pesta yang sangat meriah di salah satu clup malam di mana Nando juga Fara berada, semua asik menari-nari dengan iringan musik yang sudah di sediakan.
"Sayang, kita ke sana yuk," ajak Nando, menghentikan Fara yang masih asik berjoget.
Fara hanya menurut saja saat Nando menarik tangannya, Fara juga ikut begitu saja saat Nando membawanya pergi dari tempat itu.
"Sayang, kita mau kemana?" tanya Fara.
Fara terlihat bingung saat Nando mengajaknya masuk di sebuah kamar yang sebenarnya sudah Nando pesan dari tadi tanpa sepengetahuan Fara.
"Di sinilah pesta kita, Sayang," ucap Nando.
"Di sini? " Fara mengernyit namun dia tetap ikut masuk.
Nando menutup pintu, menguncinya dengan cepat, "lihatlah aku sudah mempersiapkan semua ini untuk pesta kita malam ini, Sayang."
Fara mengedarkan pandangannya, dia lihat kamar yang begitu mewah, dan juga dia lihat satu botol minuman dan dua cangkir cantik di sana.
"Kita mau ngapain, Sayang," tanya Fara.
Nando tak lagi menjawab, dia menuangkan minuman itu ke dua cangkir satu untuk Fara dan satu untuknya sendiri. "Minumlah," pintanya.
"Tapi aku tak biasa minum," jawab Fara.
"Oke, kamu tidak mau minum ya, tak masalah. Kita mulai pesta kita," ucap Nando kembali menaruh dua cangkir itu ke tempat semula.
Nando menarik pinggang Fara dengan gerakan cepat, sampai akhirnya keduanya saling bersentuhan tanpa ada lagi jarak. Tangan Nando terangkat membelai lembut wajah Fara.
"Sayang, kamu sangat cantik hari ini. Baju ini juga sangat cocok untuk mu aku sangat menyukainya," ucapnya dengan suara berat.
Tanpa malu Fara melingkarkan kedua tangannya di leher Nando, dia tersenyum dia bangga dengan kecantikannya yang selalu menjadi pujian dari semua kekasihnya.
"Tubuhmu juga sangat seksi, sepertinya rasanya juga manis apakah aku boleh mencicipinya," tanyanya.
"Tapi..? "
"Aku janji akan tanggung jawab, aku akan menikahi mu," jawab Nando.
Siapa yang tidak tergila-gila dengan pria yang sangat tampan juga sangat kaya itu, Fara pun juga tak akan menolak apalagi melihat semua kelebihan yang Nando punya.
__ADS_1
"Tapi beneran kan, kamu akan bertanggung jawab?" tanya Fara dan Nando mengangguk.
Fara tersenyum dan saat melihat itu Nando langsung menyatukan bibir mereka berdua. Semakin dalam dan semakin dalam ciuman mereka berdua, hingga keduanya terbuai dengan kenikmatan yang sudah memuncak.
Nando tak akan diam dan berhenti di situ saja, dia akan menjelajahi semua yang Fara punya.
"Waww.., kau sangat menggoda, Sayang," ucap Nando saat berhasil membuka baju Fara bagian atas dan melihat si kembar identik yang sangat menggairahkan.
"Semua milikmu, Sayang," jawab Fara yang sudah terbuai dengan sentuhan dari tangan ajaib milik Nando.
Nando senang, dia sangat bahagia bisa mendapatkan yang dia inginkan dengan mudah tanpa harus membuat Fara tak sadarkan diri, bahkan sekarang Nando mendapatkannya dengan Fara yang sadar sepenuhnya.
"Baiklah, semua akan menjadi milikku," Nando menggendong Fara dan membawanya ke atas ranjang. Semuanya akan mudah di nikmati di atas sana.
//////
Entah sudah yang keberapa kalinya Arini menangis di hari ini. Ujiannya terus datang dan bertubi-tubi seakan tak mau membiarkan Arini bahagia.
Setelah dia menangis karena mendapatkan semua hinaan, sekarang dia harus menangis karena Neneknya yang sakit dan harus masuk rumah sakit. Arini sangat terpukul untuk sekarang, mungkin dia bisa menahan rasa sakit dari semua penghinaan tapi dia tak bisa menahan rasa sakit saat melihat orang yang dia sayang terkulai lemah tak sadarkan diri di ranjang rumah sakit.
Arini bertambah bingung saat Nenek diagnosa terkena serangan jantung oleh dokter yang berjaga malam. Penyakit yang membutuhkan begitu banyak biaya untuk perawatan, lalu bagaimana Arini bisa mendapatkan uang yang begitu banyak? darimana dia harus mencarinya.
Susanto juga sudah lama tidak bekerja begitu juga dengan Murni, mereka hanya mengandalkan uang tabungan mereka yang hanya tinggal seberapa, lalu bagaimana dengan biaya pengobatan Murni sekarang?
Menunggu Murni di tangani Dokter, Arini juga Susanto menunggu di depan ruangan keduanya terlihat sangat kebingungan, bagaimana jika hari ini juga mereka harus membayar biayanya, "Astaghfirullah hal 'azim, " sebut Susanto, hanya itulah yang bisa dia katakan, dia hanya bisa meminta maaf pada Allah karena tidak bisa melakukan hal yang berarti untuk istrinya.
Arini menoleh, dia menghapus air matanya dengan cepat. Arini mendekati Susanto menggenggam tangannya dengan erat. Arini tersenyum kecil saat Susanto menatapnya, "kakek jangan bingung ya, biarkan Arini yang mencari uang untuk pengobatan, Nenek. Kakek harus kuat harus sabar, jangan sampai Kakek juga sakit nantinya," ucap Arini yang sebenarnya pikirannya juga tengah berkelana jauh.
"Tapi, Nak. Darimana kamu akan mendapatkan uang yang begitu banyak, sepuluh juta bukan uang yang sedikit, Nak," jawab Susanto.
Bagi orang yang berada sepuluh juta bukanlah uang yang banyak, tapi untuk mereka, sepuluh juta adalah uang yang sangat banyak.
Arini melepaskan sebuah kalung berlian yang selalu dia pakai, berlian murni yang jika di jual itu akan sangat memenuhi kebutuhan mereka, Arini menyodorkannya pada Susanto, "Kek, Arini hanya punya barang ini saja. Bagaimana kalau ini Arini jual, kita tidak akan pusing-pusing untuk untuk pengobatan Nenek, kan?" ucap Arini.
Susanto kembali menutup tangan Arini, hingga kalung berlian itu berhasil di genggam erat olehnya, "tidak, Nak. Itu adalah barang satu-satunya yang kamu punya. Meskipun kamu menangis dan berlutut memohon Kakek tidak akan membiarkan kamu menggadaikan apalagi menjualnya,"
"Tapi kenapa, Kek! Arini tidak membutuhkan benda mati ini, Arini hanya membutuhkan kakek juga nenek untuk selalu ada di samping Arini," jawab Arini bersikeras.
"Kamu akan membutuhkannya, Nak. Tapi bukan sekarang, suatu saat nanti kamu akan tau kenapa Kakek tidak mau kamu menjualnya. Untuk pengobatan Nenek, Kakek bisa pinjem ke tetangga siapa tau mereka mau meminjamkannya untuk Kita," jawab Susanto yang tetap tak mengizinkan Arini, "sekarang pakailah kalung itu, dan jangan pernah kamu melepaskannya, atau kakek juga nenek tidak akan memaafkan mu. "
Dengan berat hati Arini menurut dengan Susanto, meskipun dia tak tau apa maksud dari kalung itu tapi Arini tetap kembali memakainya lagi.
"Arini akan bantu Kakek untuk mencari uangnya, Arini kan sudah bekerja aku yakin bos Arini akan meminjamkannya untuk Arini besok," ucapnya yang menaruh harapan penuh pada bos nya, yang sebenarnya Arini sendiri sangat ragu kalau dia akan mendapatkannya.
__ADS_1
"Terima kasih, Nak," Susanto juga tersenyum, dia sedikit tenang seenggaknya dia memiliki teman untuk di ajak bicara dan berbagi kesedihan.
//////
Pagi menjelang, semua kembali beraktivitas seperti biasanya. Namun tidak dengan Arini, dia masih ragu untuk kembali bekerja setelah kejadian kemarin. Dia takut Arya akan berbuat lebih padanya jika dia datang, tapi ketakutan itu menjadi kebingungan untuknya, jika dia tidak datang bagaimana dia akan mendapatkan uang nantinya.
"Aku harus tetap pergi bekerja kan? aku harus meminjam uang untuk biaya pengobatan Nenek," gumamnya.
Arini bergegas untuk pergi namun saat dia akan keluar Murni menghentikannya, "Arini, " panggilnya. Arini kembali masuk dan mendekat, "jangan pergi, Nak. Tetaplah di sini dengan Nenek. Perasaan Nenek tidak enak, kamu harus tetap ada di samping nenek," ucapnya.
"Tapi Nek, Arini harus pergi. Arini harus bekerja. Arini janji akan pulang cepat, atau kalau tidak Arini hanya akan datang untuk izin saja pada Bos Arini," jawabnya.
"Tidak Arini, kamu harus tetap di sini menemani nenek," suara Murni terdengar sangat lemah, membuat Arini tidak tega dan memilih untuk menurut saja dengan Murni.
Arini terus menunggu Murni, dia sama sekali tak meninggalkan nya meskipun hanya sedetik saja. Sampai akhirnya pintu ruangnya itu terbuka dan masuklah dokter yang sangat Arini kenal.
"Pak dokter," suara Arini begitu pelan, bahkan Dimas sama sekali tak mendengarnya.
"Arini," Dimas bergegas mendekati Arini, tak bisa di percaya kalau Dimas akan bertemu lagi di rumah sakit Gautama dengan Arini, "apa dia Nenek mu? " tanyanya dan Arini mengangguk.
Dimas memeriksa keadaan Murni yang jelas dia juga sudah tau apa yang terjadi padanya. Setelah selesai memeriksa Murni, Dimas menoleh ke arah Arini, "sejak kapan Nenek sakit?" tanya Dimas.
"Tadi malam, Pak dokter. Saat pulang tadi malam Nenek sudah pingsan dan Arini cepat membawanya ke sini," jawab Arini dengan wajah menunduk sedih.
"Astaghfirullah hal 'azim," ucap Dimas. Meskipun baru semalam namun keadaan Murni memang sudah di bilang sangat parah, mungkin sebelumnya dia pernah merasakan sakit tapi dia tahan hingga akhirnya dia pingsan.
"Pak dokter, Neneknya Arini akan sembuh kan?" kali ini Arini berani mengangkat wajahnya, memandangi Dimas dengan penuh harap.
"Berdoalah, semoga Nenek cepat sembuh, saya akan berusaha yang terbaik untuk kesembuhan nenek," jawab Dimas dengan sangat ramah.
"Terima kasih, Pak dokter," jawab Arini.
Sebenarnya Dimas ingin protes karena Arini masih terus memanggilnya pak dokter, tapi dia urungkan karena ini bukan waktu yang tepat untuk protes.
"Kamu yang sabar ya," ucap Dimas menguatkan.
"Hem.. " Arini hanya bisa mengangguk, kuat ataupun tidak bukankah dia harus tetap kuat kan.
"𝘐𝘯𝘪𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘦𝘴𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵𝘢𝘯 𝘈𝘳𝘺𝘢 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘢𝘴 𝘣𝘶𝘥𝘪 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘈𝘳𝘪𝘯𝘪, 𝘥𝘪𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘯𝘰𝘭𝘰𝘯𝘨𝘯𝘺𝘢," 𝘉𝘢𝘵𝘪𝘯 𝘋𝘪𝘮𝘢𝘴.
"Pak Dokter, kalau nenek tidur nanti saya titip sebentar ya, Arini harus pergi sebentar karena ada urusan," bisik Arini yang langsung mendapatkan anggukan dari Dimas, "terima kasih Pak dokter," inbuhnya lagi.
///////
__ADS_1
Bersambung.. ..
_______