Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)

Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)
207.Melelahkan


__ADS_3

Happy Reading..


••~~



Senyum terpancar jelas di bibir kedua mempelai yang kini berada di atas altar dan duduk saling berdampingan. Senyumnya masih terlihat malu-malu di hadapan pasangannya yang beberapa menit yang lalu telah resmi di mata hukum negara dan hukum agama.


pesona dari seorang Arini tidak bisa membuat mata Arya teralihkan sama sekali bahkan saat tamu menyapanya dan mengucapkan selamat Arya begitu enggan untuk memalingkan wajahnya dari sang istri. Jelas itu membuat Arini sangat malu juga merasa sangat grogi.


Berbagai runtutan acara juga terus digelar hingga tak ada satupun yang tertinggal sampai acara selesai.


Hampir dua jam mereka di atas altar membuat keduanya terlihat sangat lelah apalagi harus menyalami tamu undangan yang begitu banyak bahkan antriannya sama seperti kereta panjang.


Bukan itu saja tapi juga pihak kedua keluarga dan sanak saudara maupun kolega dan sahabat yang meminta foto untuk mengabadikan momen yang sangat spesial bagi Arya juga Arini.


Wajah Arini yang terlihat pucat membuat Arya sangat khawatir dia juga sangat panik saat tiba-tiba Arini menyandarkan kepalanya di lengan Arya.


"Arini, kamu kenapa?" Arya membungkuk melihat wajah Arini yang sudah tak semangat.


Bukan hanya karena lelah saja si Arini, tapi dia juga sangat lapar karena tadi dia belum sempat makan setelah seharian berpuasa.


Baru saja dia mau makan, saat itu pihak WO datang untuk meriasnya dan membuat Arini jadi urung untuk makan dan hanya membatalkan saja dengan minum.


"Pak Tuan, Arini capek," ucapnya dengan sangat pelan. Arini seperti kehilangan tenaganya saat ini.


"Kapan acaranya akan selesai," ucapnya lagi.


"Kita pergi sekarang," Arya langsung bergegas untuk beranjak, dia juga menarik tangan Arini. Tapi Arini seolah memberatkan diri hingga membuat Arya kembali tertahan, "ada apa?"


"Acaranya kan belum selesai," ucapnya.


"Sudah, ini sudah selesai," jawab Arya. Sebenarnya masih ada beberapa tamu lagi yang baru datang karena terlambat, tapi Arya sudah tak peduli lagi karena dia tidak tega melihat Arini yang semakin pucat.


"Ada apa, Nak?" tanya Nilam yang menghampiri karena melihat Arini yang terus menunduk lemas.


"Arini capek, Tan. Katanya mau istirahat," jawab Arya.


"Kok masih panggil Tante, panggil Ma dong," protes Nilam.


"I-iya, Ma."

__ADS_1


Nilam melihat wajah Arini memang sangat jelas kalau dia terlihat lelah. Mungkin yang Arya katakan benar, apalagi tadi Nilam di beritahu Dimas kalau Arini juga belum sempat makan.


"Istirahatlah, ini juga sudah selesai. Dan ya! Nak Arya, tolong suruh Arini makan ya, tadi dia puasa dan belum sempat makan. Takut dia pingsan nantinya," ucap Nilam memberitahu.


Mata Arya langsung tajam kearah Arini. Bagaimana mungkin istrinya itu masih saja berpuasa bahkan menjelang pernikahannya.


"Baik, Ma," Arya menjawab tapi matanya masih saja melihat ke arah Arini yang menunduk acuh. Mungkin Arini melakukan itu karena dia memang sudah tak kuat lagi hingga apa yang dilakukan Arya sama sekali tidak dia ketahui.


Arya langsung merangkul Arini, menuntunnya untuk berdiri. Arya juga tak melupakan untuk pamit kepada semua orang yang ada di sana dan tentunya langsung mendapatkan izin.


Langkah Arini yang sangat pelan membuat Arya dengan tiba-tiba langsung mengangkat tubuhnya, menggendong selayaknya seorang bridal yang begitu gagah.


"Akk..." teriak Arini yang mendapat perlakuan mendadak dari Arya.


Sontak Arini melingkarkan kedua tangan di leher Arya dia sangat takut jatuh dia juga langsung memandangi wajah suaminya yang tetap terlihat datar dan dingin namun terlihat semakin mempesona.


Sitsuitt....


Suara siulan terdengar sangat jelas di telinga Arya, membuatnya penasaran dan seketika menoleh. Ternyata kakak iparnya yang melakukan itu.


"Pelan-pelan saja, Tuan! tidak usah buru-buru, malam masih panjang!" seru Dimas dengan di hiasi senyum jaim.


Arini hanya diam menanggapi lagian dia juga tidak tau apa yang mereka bicarakan. Arini masih sangat polos dengan hal kayak begitu.


Arya tak menghiraukan lagi seperti apa wajah Dimas sekarang. Dia lebih memilih melangkah pergi untuk membawa Arini ke tempat istirahat mereka berdua.


Malu menjadi tontonan Arini menyembunyikan wajahnya di dada Arya, sebisa mungkin dia berusaha untuk tidak terlihat oleh siapapun bahkan dari Arya sendiri. Bukan itu saja, tapi Arini juga menutup wajahnya dengan selendangnya.


Arya terus berjalan, sesekali melihat Arini yang bersembunyi di dadanya. Arya hanya tersenyum melihat itu, istrinya sangat lucu meski tidak terlihat bagaimana wajahnya. Pasti sangat imut kan?


Kamar yang tadinya terlihat biasa saja saat ditinggal oleh Arya kini terlihat sangat jauh berbeda.


Kamar yang kini sangat penuh dengan bunga mawar merah di atas kasur dan di lantai, juga bunga mawar yang di rangkai di beberapa vas bening.


Suasana Romantis juga semakin terlihat karena penerangan hanya dengan lilin-lilin yang berjajar juga lampu-lampu kecil berwarna kuning.


"Kita sudah sampai di kamar, apa kamu tidak akan membuka wajahmu?" Arya menghentikan langkah saat dia sudah sampai di dalam kamar dan sudah berhasil menutup pintunya.


"Hem," perlahan-lahan Arini membuka selendang yang ada di atas wajahnya tapi masih enggan untuk membuka matanya.


Entah mengapa Arini begitu grogi, dia sangat malu untuk melihat wajah Arya yang kini terus menunduk melihatnya.

__ADS_1


Baru saja masuk ke kamar Arini sudah panas dingin karena sangat gugup apalagi Arya yang belum juga menurunkan dirinya dan masih setia menggendongnya.


"Arini ringan banget ya, Pak Tuan. Kok betah banget gendong Arini," celetuknya.


Arya semakin melebarkan senyumnya mendengar apa yang dikatakan oleh Arini. Menurut Arya Arini memang sangat ringan, bagaimana tidak? beratnya saja hanya 37 kilo saja sekarang.


"Pak Tuan, turunin Arini. Nanti tangan Pak Tuan sakit loh," imbuhnya lagi.


"Tidak masalah kalau sakit, kan sekarang sudah ada yang mijitin," jawab Arya.


Arya kembali melangkah, tapi masih sangat enggan untuk menurunkan Arini.


Kini Arya malah duduk di ujung kasur dengan perlahan, juga memangku Arini.


Terangkatlah tangan Arya, mengelus pipi Arini yang begitu lembut.


"Kamu sangat cantik, Arini," ucapnya.


Ternyata benar apa yang dulu Arini katakan. Kalau semua yang dia punya hanya akan menjadi milik suaminya saja. Dulu Arini begitu menjaganya dan menjauh saat Arya hendak menyentuhnya, mungkin itu karena Arya sama sekali belum menjadi siapa-siapa. Tapi sekarang? setelah Arya menjadi suaminya bahkan Arini sama sekali tak menolak apa yang ingin dia lakukan.


Tangan yang terus bergerak kini sampai di bibir Arini yang terpoles dengan lipstik, Arya lebih menyukai bibir Arini yang seperti biasa yang berwarna alami daripada yang sekarang.


Jantung Arini berdetak semakin kuat saat merasakan tangan Arya berada di bibirnya, bahkan Arini merasa kaku dan tak bisa bergerak. Tapi Arini masih sangat enggan untuk membuka mata.


Arya mendekatkan wajahnya ke wajah Arini, sebentar dia mengamati lebih dekat lalu meniup mata Arini sebelum dia menyatukan bibirnya dengan milik Arini.


Arini yang terkejut karena tiupan dari Arya langsung membuka matanya, dia seketika terbelalak saat Arya mencium dan tepat di bibirnya.


Krukkk...


Seketika Arya melepaskan bibirnya setelah mendengar suara perut Arini yang sepertinya kelaparan dan meminta di isi.


Arya hanya tersenyum melihat Arini yang langsung kembali merangsek dan bersembunyi di dada Arya karena malu.


"Apa perlu aku menyuapi mu, hemm?"




Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2