
Happy Reading...
Toni kembali meletakkan cangkir di atas meja. Kini dia sangat canggung juga gugup. Apakah mungkin ini saatnya dia mengatakan maksud kedatangannya?
"Pak, Bu, dan Nisa. Sebenarnya maksud kedatangan saya...?"
Toni berhenti berbicara, dia menunduk sejenak untuk mengambil nafas. Toni tidak ingin terlihat gugup di hadapan keluarga pak Karna saat ini. Dia ingin terlihat baik-baik saja tanpa adanya beban.
Tapi rasanya sangat susah, meski sudah berkali-kali mengambil nafas panjang Toni tetap tidak bisa menghilangkan rasa gugup yang begitu besar menguasai hatinya.
Sementara ketiga orang yang memandanginya masih diam menunggu Toni kembali bicara, mereka masih terus menerka-nerka apa yang ingin Toni katakan.
"Sebenarnya kedatangan saya kesini membawa maksud tertentu. Saya ingin melamar anak pak Karna, Annisa," akhirnya kata-kata itu lolos juga dari bibir Toni.
Hatinya sedikit plong meski masih gelisah akan jawaban yang akan dia dapatkan.
"Saya ingin serius dengan anak Bapak, saya ingin menjadikan Annisa sebagai pendamping untuk hidup saya selamanya."
Nisa terpaku diam menatap wajah serius dari Toni. Pria itu juga sesekali menoleh ke arahnya dan bergantian ke arah kedua orang tuanya.
Tidak bisa di percaya kalau itulah yang menjadi tujuan terbesar dari Toni. Dia ingin melamar Nisa kepada orang tuanya. Ternyata Toni begitu serius, bahkan dia tidak mengatakan apapun kalau dia tertarik kepada Nisa dan sekarang dia langsung datang kepada kedua orang tuanya untuk melamarnya.
Keseriusan seperti apa lagi yang harus di buktikan selain dari ini.
"Nak Toni yakin? Nisa bukan gadis yang cantik dan sempurna loh! Dia juga hanya anak orang desa yang tidak tau cara hidup di kota dengan benar," Pak Karna begitu takut sebenarnya. Dia takut kalau Nisa tidak akan bisa beradaptasi dengan cepat di kota.
"Saya sudah sangat yakin, Pak. Saya ingin menjadikan Nisa bagian dari hidup saya," Toni begitu kekeuh, hatinya sudah memilih Nisa sebagai pelabuhan hatinya yang terakhir.
"Bagaimana, Nduk? Apa kamu menerimanya?" Pak Karna tidak akan mengambil keputusan tanpa tau jawaban dari anaknya sendiri. Seandainya dia merestui belum tentu anaknya mau dan jika dia menolak belum tentu anaknya tidak suka.
"Ni\_Nisa...? Nisa butuh waktu, Pak." Jawab Nisa.
Biar bagaimanapun pernikahan tidak bisa di putuskan begitu saja, Nisa butuh memantapkan diri terlebih dahulu sebelum memberikan jawaban untuk Toni.
"Saya tau, Pak. Saya harap saya bisa mendapatkan jawaban sebelum pulang besok," ucap Toni pasrah. Dia tidak bisa memaksa untuk mendapatkan jawaban begitu saja dari Nisa.
"InsyaAllah, Nak. Besok Nisa akan memberikan jawabannya, iya kan, Nduk?"
"I\_InsyaAllah, Pak," Nisa menunduk dengan wajah yang sudah memerah, dia sangat malu juga sangat grogi sekarang. Setelah mendengar lamaran dari Toni dia menjadi tak berani untuk memandangi mata pria itu. Keberaniannya seakan terserap habis.
__ADS_1
Sementara di tempat lain di kontrakan milik Fara Risman masih berada di sana. Dia sama sekali tidak mau pergi meski Fara terus memintanya.
Risman hanya ingin tau jawaban dari Fara, kenapa dia terus menolaknya dan tak memberikan kesempatan untuk Risman bisa serius kepadanya.
Risman terus duduk di ruang tengah, mengabaikan kemarahan Fara yang terus memintanya pergi dari kontrakannya.
"Saya mohon, anda pergi dari sini. Saya tidak mau sampai ada orang yang salah paham dengan kita. Ini sudah malam, apa kata orang jika mereka tau," Fara begitu memohon tapi pria itu tetap diam anteng dan tak peduli. Dia akan tetap bertahan sampai dia mendapatkan kesempatan atau mendapatkan apa yang menjadi alasan Fara tidak mau menerimanya.
"Saya mohon, anda pergi dari sini," Sekali lagi Fara memohon.
"Tidak, saya tidak akan pergi sampai kamu mengatakan apa yang membuat kamu tidak mau menerimaku."
Begitu keras kepala Risman sekarang. Dia tetap kekeuh ingin mendapatkan Fara.
"Saya sudah bilang kan, saya akan menerima apapun yang terjadi kepadamu, aku tidak akan mempermasalahkan masa lalu mu meski itu sangat pahit untukku sekaligus. Aku sangat menyukaimu aku juga sangat serius kepadamu," ucap Risman.
"Tidak, aku tidak akan menerimamu, karena aku tidak pantas untuk orang sebaik kamu!"
"Bukan kamu yang menentukan baik dan buruknya orang yang akan bersanding denganku tapi aku sendiri yang akan menentukan," Nada bicara Risman semakin tinggi, dia mulai terbawa suasana sekarang.
"Tidak, saya tetap tidak akan pernah pantas untukmu! Tidak akan pernah pantas!"
"Tapi kenapa, apa alasannya! Katakan padaku apa alasannya!" Risman sudah berdiri sekarang. Ubun-ubunnya sudah mulai menguap.
"Kamu mau tau kan apa alasannya, maka dengarkan baik-baik karena saya tidak akan pernah mengulangnya lagi."
"Katakan, aku tidak akan pernah menyesal!"
"Aku... Aku.. " Ucapan Fara tercekat, dia sangat ragu untuk bicara.
"Katakan semuanya biar aku mendengar semuanya," Desak Risman tak sabaran.
Risman begitu menunggu, dia sudah siap dengan semuanya. Jika masalahnya hanya karena masa lalu yang kelam Risman bisa menerimanya, tapi bagaimana kalau alasan yang sebenarnya karena Fara sudah mempunyai suami, apakah dia akan patah hati malam ini?
Risman menunggu dengan hati yang sangat takut, dia bahkan tidak berkedip sama sekali melihat wajah Fara yang sudah pucat. Sebenarnya masalah apa yang membuat Fara begitu takut seperti ini.
"Karena aku.. Karena aku ha..."
"Oh, jadi ini ayah biologis dari anak yang Fara kandung!"
Mata Fara juga Risman terbelalak saat ada beberapa ibu-ibu dan bapak-bapak datang dan salah satu dari mereka mengatakan itu.
Luruh sudah air mata Fara, semua orang sudah tau akan kehamilannya sekarang. Apa yang dia takutkan benar-benar telah terjadi dan kini Risman juga tau dari mulut orang lain.
Dia terlambat, seharusnya dia yang mengatakan semuanya. Tapi dia tak bisa menyalahkan takdir yang memang harus seperti ini jalannya, semua sudah terbongkar.
Mata Risman begitu tajam tapi berbeda dengan mata Fara yang tak sanggup untuk terbuka. Dia ingin menahan tangis tapi tetap saja dia tak sanggup.
Hancur sudah semuanya, ujiannya kembali datang kepadanya yang sejenak merasakan kenyamanan.
"Lebih baik nikahkan saja mereka, kalau tidak mereka hanya akan kumpul kebo seperti ini terus. Bahkan sampai Fara hamil seperti ini!"
Suara keras itu membuat Fara semakin terisak dia tentu tidak mau Risman bertanggung jawab dengan apa yang tidak dia lakukan.
"Tidak, bukan dia ayah dari anak yang saya kandung! Dia tidak perlu memiliki ayah siapapun karena dia hanya anakku saja!" Teriak Fara dengan tangis yang sangat luar biasa.
"Mana bisa seperti itu, kamu tidak mungkin hamil sendiri, pasti dia kan ayah dari anak itu!"
"Tidak! Sudah saya katakan bukan dia ayah dari anak saya. Dia tidak memiliki ayah! Hanya aku yang menjadi orang tuanya!"
"Lebih baik kalian semua pergi dari rumah saya, pergi!" Tangis tak tertahan dari Fara dia berusaha untuk mengusir semua orang yang ada termasuk Risman sendiri.
"Pergi!" Fara mendorong semua orang untuk keluar, Risman pun sama.
"Fara, dengarkan aku! Fara!" Risman masih ingin bertahan meski dia sangat terkejut dengan kenyataan ini. Tidak pernah dia tau kalau akhirnya akan seperti ini. Fara tidak pernah mengatakan apapun kepadanya tentang kehamilannya bahkan Fara juga tidak memiliki tanda-tanda orang hamil pada umumnya.
"Pergi, saya tidak mau bertemu denganmu lagi, pergi!"
Niat hati ingin menggerebek Fara juga Risman yang ada di dalam rumah dan kini mereka semua harus pergi dengan kecewa.
Brakk...
Tertutup pintu dengan sangat keras, perlahan Fara merosot dan terduduk lemas menyadarkan punggung pada pintu.
Air matanya tumpah ruah mengiringi kesedihannya. Duduk dalam tangis dengan memeluk kedua kakinya.
"Fara, buka! Fara!" Risman masih saja berada di luar. Dia terus mengetuk pintu dan memohon untuk Fara membukakan pintunya.
__ADS_1
"Ya Allah, kenapa harus seperti ini? Kalau benar Fara hamil lalu di mana suaminya, apakah dia korban dari perkosaan? Atau dia pernah melakukan pada orang yang di cintainya namun akhirnya dia pergi meninggalkannya?" Risman hanya bisa mengada-ada dengan pikirannya sendiri.
"Fara, buka pintunya! Kamu harus jelaskan kepadaku, Fara!" Risman tidak mau menyerah.
********
Sepasang suami istri baru pulang setelah benar-benar malam. Dengan penuh kebahagiaan kedua masuk ke dalam rumah.
Arini tidak jalan kaki, melainkan Arya membopongnya dengan sangat mesra.
"Mas, Arini bisa jalan sendiri. Arini malu kalau sampai ada mbak Suka-suka yang melihat," ucap Arini, dia ingin turun tapi Arya gak mengizinkannya.
Rasanya belum puas bermesraan di tempat makan malam tadi dan kini Arya masih ingin melanjutkannya lagi di rumah.
"Tidak, Sayang. Aku tidak akan menurunkan kamu. Kamu juga tidak perlu malu pada pembantu itu."
"Dia punya nama, Mas."
"Iya, mbak Suka-suka kan seperti kata kamu?" Arya terkekeh geli mengikuti Arini memanggil pembantunya itu. Panggilan yang sangat melenceng dari nama aslinya.
Padahal Arini bebas memilih namanya karena namanya juga satu KK dia bawa semua tapi kenapa Arini masih saja memanggilnya dengan nama lain yang tidak ada di nama yang sebenarnya.
"Iya," Arini mengangguk.
Arya langsung membawanya ke kamar, menutup pintu dengan punggungnya sendiri. Tidak menurunkan di kasur tapi Arya malah membawa Arini ke kamar mandi.
"Loh, Mas! Kok ke kamar mandi?" Arini begitu bingung.
"Kita harus bersih-bersih dulu sayang. Setelah itu baru kita tidur." Jawab Arya.
Pasrah itulah Arini sekarang, dia tidak akan bisa menolak juga tidak bisa protes lagi. Kalau sudah seperti ini dia hanya bisa nurut saja dengan apa yang Arya inginkan.
"Jangan modus loh, Mas!" Kini Arini protes.
Arya terkekeh mendengarnya, belum juga Arya melakukan apapun sudah langsung di protes oleh Arini.
"Tidak sayang. Emang kapan aku pernah modus? Kalau menginginkan sesuatu kan aku langsung mengatakannya, bahkan langsung melakukannya."
Perlahan Arya mendudukkan Arini di sebelah wastafel membuka hijab Arini dan membersihkan semua make-up yang menempel di wajahnya.
"Syukurlah, emang malam ini Mas tidak menginginkan apapun?"
"Aku tidak pernah menginginkan apapun kecuali kebahagiaanmu, Sayang."
"Benarkah? Bukankah Mas yang melakukan itu kepada Arini adalah kebahagiaan Mas?"
"Bukan kebahagiaan, Mas. Tapi kebahagiaan kita." Arya terus telaten membersihkan wajah Arini.
"Dengan selalu seperti ini saja aku sudah sangat bahagia, Sayang. Apalagi bisa melakukan itu kepadamu. Kebahagiaan semakin berlipat ganda. Lagian kebahagiaan seorang laki-laki bukan hanya di saat bisa menyentuh istrinya saja, bisa melihat istrinya selalu tersenyum itu adalah kebahagiaan."
"Mengungkapkan cinta bukan hanya dengan penyatuan cinta, dengan melakukan hal-hal kecil juga bisa menjadi sebuah ungkapan cinta."
"Apa itu Artinya Mas tidak akan menyentuh Arini lagi?"
"Bukan seperti itu sayang. Ada kalanya seorang suami membahagiakan istri dengan sentuhannya tapi ada kalanya suami membahagiakan istri dengan memanjakannya. Mas ingin bisa seimbang melakukan keduanya jadi kamu tidak akan bosan dan tidak akan tertekan."
Meleleh lah hati Arini. Dia pikir Arya yang bekas orang yang hiperseks akan terus memaksanya untuk memuaskan birahinya, tapi ternyata tidak! Dia salah pernah berpikir seperti itu.
Brukk...
"Aku sangat mencintaimu, Mas." Arini langsung menubruk Arya.
"Mas juga sangat mencintaimu," Arya pun menerima pelukan itu dengan bahagia.
"Sekarang ganti baju lalu kita tidur."
"Mas beneran tidak meminta jatah untuk malam ini?"
"Kita sedang program sayang. Tidak boleh sering-sering. Biarkan benih yang Mas tabur kemarin malam tumbuh dengan leluasa. Kalau belum ada tanda-tanda biar Mas tabur lagi besok." Jawab Arya.
"Hem.." Arini mengangguk.
Keduanya mengganti baju setelah selesai bersih-bersih, bergegas istirahat dengan saling berpelukan dengan erat.
Arya juga menjadikan tangannya sebagai bantal untuk Arini dan satunya untuk memeluk pinggang ramping milik Arini. Sementara Arini juga memeluk Arya dengan erat.
******
__ADS_1
Bersambung.....