
...______...
...◦•●◉✿Happy Reading✿◉●•◦...
Pusing juga mencari kontrakan yang sesuai dengan hati bagi Melisa. Bukan hanya tempat bagus, nyaman juga dekat dengan kantor saja yang dia inginkan tapi dia juga menginginkan kontrakan yang harganya murah namun tempat menjanjikan.
Meski dia pikir itu adalah keinginan yang biasa saja tapi itu adalah keinginan yang benar-benar sangat mustahil untuk dia dapatkan. Mana ada jaman sekarang semua mewah tapi harga murah? mimpinya terlalu ketinggian si Melisa.
Sudah dari pulang dari kantor Melisa langsung berkeliling mencari kontrakan, namun sampai hampir isya dia belum juga mendapatkannya, sebenarnya ada sih tapi dia yang tidak srek dengan tempatnya atau harganya.
"Astaga, kenapa susah sekali mencari kontrakan di sini? " gumamnya. Melisa masih berdiri tegak di samping mobilnya, satu tangannya memegang tas jinjingnya dan yang satu terus memainkan kunci mobil dengan mata yang terus menerawang jauh.
Sebenarnya gaji Melisa juga sangat tinggi, tapi baginya daripada bikin bayar kontrakan mending dia gunakan untuk mempercantik diri atau kalau tidak dia gunakan untuk membeli model-model fashion terbaru, itu akan lebih berguna bukan? itu yang hadir dalam pikirannya.
"Apa aku harus pulang tanpa mendapatkan hasil seperti ini?" gumamnya lagi.
Melisa juga agak bingung sebenarnya, dia bisa saja pulang tapi jarak rumahnya sangat jauh dan ini juga sudah malam bagaimana kalau ada apa-apa pada dirinya di tengah jalan? Yang pasti dia begitu memikirkan itu kan?
"Apa aku menginap di hotel saja ya malam ini? lagian aku juga bawa baju buat besok ke kantor, jadi tak masalah lah,"
Melisa masuk ke dalam mobil dia mulai melajukan nya pelan. Sekarang tujuannya bukankah mencari kontrakan, melainkan dia akan mencari hotel untuk dia menginap semalam.
//////////
Dimas masih bingung memikirkan di mana keberadaan Arini juga Arya. Dia terus mondar-mandir di ruangannya, Arini sudah berjanji akan selalu datang untuk membantu membuat Nilam cepat pulih dan Dimas berharap penuh akan hal itu, tapi kenapa sampai sekarang Arini belum juga datang, sebenarnya di mana?
Bukan karena itu saja, di setiap Arini ada dengan Arya, Dimas selalu saja khawatir. Dia mengenal bagaimana Arya dia juga mengetahui bagaimana bodohnya Arini bagaimana kalau Arya memanfaatkan kebodohannya itu untuk melakukan sesuatu pada Arini.
"Sebenarnya tuan Arya membawa Arini pergi ke mana? " gumamnya.
Dimas terus berfikir tapi tak mudah untuk bisa menemukan di mana Arya membawa Arini pergi.
Dimas kembali duduk dia berusaha untuk bisa tenang tapi kenapa rasanya sangat susah. Dimas begitu mengkhawatirkan Arini dia pun bingung dengan itu, kenapa? dan apa alasannya?
__ADS_1
"Sebenarnya ada apa denganku, Arini bukan siapa-siapa ku, bukan keluargaku, adikku juga bukan kekasihku, tapi kenapa aku begitu mengkhawatirkannya? " Dimas belum tau alasan sebenarnya.
"Apakah mungkin..? Ah..., sepertinya tidak mungkin, bagaimana mungkin aku menyukainya. Tapi kalau iya pun juga tak masalah kan? Aku jomblo Arini juga sepertinya begitu, dan kami juga bukan adik kakak jadi tak masalahkan jika aku menyukainya," imbuhnya lagi.
Apakah benar Dimas menyukai Arini? semua itu juga belum jelas. Perasaan Dimas masih sangat mengambang dia sendiri juga masih bingung itu perasaan apa. Yang jelas Dimas begitu perhatian dan selalu ingin membahagiakan Arini. Kalau itu bisa di katakan ciri-ciri cinta berarti Dimas memang mencintai Arini.
"Jika benar, dengan berjalannya waktu semua pasti akan semakin jelas," ucapnya. Dimas menarik dua ujung bibirnya, dia tersenyum karena perasaannya sendiri yang belum jelas.
Tapi itu tak berlangsung lama, Dimas kembali di buat khawatir karena kembali ingat kalau Arini belum juga datang dan tak ada kabar sama sekali.
"Semoga tidak terjadi apa-apa," imbuhnya.
/////////
Sudah begitu lama Arini berada di kamar mandi, niatnya ingin mengambil wudhu saja tapi dia di buat bingung dengan semua alat-alat yang ada.
Semua yang ada di kamar mandi Arya itu adalah barang-barang yang sangat membingungkan untuk Arini, dia tak tau namanya juga tak tau kegunaannya.
"Kok nggak ada bak nya sih! " ucapnya.
Yang Arini lihat seperti bak dia yakin itu bukan bak. Dari segi bentuk itu bukanlah bak tempat penampungan air, karena benar-benar terlihat sangat berbeda, ya sebenarnya itu memang bukan bak penampungan air melainkan bathtub yang berukuran besar.
"Di mana airnya? " Arini juga masih bingung dengan keberadaan airnya di mana, dia sama sekali tak dapat melihatnya.
Arini yang ingin buang air juga di buat bingung karena tak melihat keberadaan kloset. Semuanya begitu membingungkan untuknya.
Kamar mandi itu terlalu kekinian, dan Arini belum pernah melihat kamar mandi yang semewah itu.
"Arini! kamu ngapain di dalam! kamu tidur lagi?!" teriakan dari Arya berhasil mengejutkannya.
Sudah hampir setengah jam Arini di dalam kamar, dia belum menemukan air sama sekali.
"Arini! kalau tidak jawab aku masuk ya! " teriak Arya lagi. Meski dia tak peduli padanya tapi Arini sudah begitu lama berada di kamar mandi, jika hanya mengambil wudhu saja seenggaknya lima menit saja sudah cukup tapi ini?
__ADS_1
"Arini! Aku masuk ya! " lama-kelamaan Arya khawatir juga. Jika Arini tidak menjawab kemungkinan besar dia tidur kalau tidak pasti tergelincir lalu pingsan dan itu yang membuat Arya takut.
"Satu..., dua..., ti....! "
"Kenapa, pak Tuan? " Arini keluar dengan wajah yang kusut.
"Kenapa kamu! Dan..., kamu belum jadi apa itu namanya? "
"Wudhu! "
"Ya, Wudhu. Kenapa? " Arya mengernyit.
"Di dalam nggak ada air. Setetes pun tak ada, bagaimana Arini mau wudhu? " ucapnya.
"Nggak ada air? hahaha..., lupa aku, kamu kan bodoh, bagaimana mungkin tau caranya mendapatkan air di dalam sana. Sini aku beri kamu air," Arya menyerobot masuk ke kamar mandi, sementara Arini masih berdiri tegak di pintu dan mengamati Arya.
"Nih! Air. Ini juga air, ini juga air. " semua keran Arya nyalakan dan benar sejak semua air keluar. Begitu juga dengan shower, dia juga nyalakan.
"Astaga, seperti hujan," Arini terperangah wajahnya mendongak melihat kucuran air yang keluar dari shower benar-benar seperti air hujan.
"Benar-benar barang ajaib," pujinya.
"Sebenarnya itu bukan barang ajaib, tapi kamu nya saja yang terlalu bodoh," mulut Arya benar-benar tidak di rem sekali keluar asal jeplak begitu saja.
Meski semua itu benar seharusnya dia lebih menjaga perasaan Arini kan? tapi dia? ckckck.., tapi tak masalah juga sih Arini tidak mempedulikan semua itu, mau Arya mengatakan apapun itu memang kenyataannya, Arini memang bodoh dan begitu terbelakang.
"Cepatlah, aku sudah sangat lapar, nih perutku sudah berdemo," ucapnya. Langkahnya semakin cepat dia keluar dari kamar mandi tanpa menoleh lagi.
Arini masih di buat terkejut dengan semua kemewahan itu, barang-barang orang kaya memang luar biasa, Arini di buat terperangah sekaligus dia buat bingung karena tak tau bagaimana menggunakannya.
"Aku benar-benar sangat bodoh," gumamnya.
////
__ADS_1
Bersambung...
________