Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)

Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)
186.Sabar-sabar


__ADS_3

Happy Reading...


~••|••~~


Lelah dengan membersihkan apartemen Arya yang begitu kotor membuat Arini kini loyo dan ambruk di sofa. Semua pekerjaannya juga sudah beres, begitu juga dengan makanan untuk makan siang. Sekarang hanya tinggal duduk diam istirahat juga memainkan ponselnya.


Ya, Arini kini sudah mulai bisa bermain dengan ponselnya, setelah Arya kemarin mengajarinya dan juga mengunduh permainan ular-ularan.


Ketawa, tersenyum, juga heboh sendiri itulah Arini sekarang. Dengan kedua kaki naik di sofa dan berselonjoran ria di sana. Punggungnya juga menyandar di sandaran sofa dengan tangan yang terus bergerak.


"Aneh sekali ya, sejak kapan ular makannya buah-buahan juga sayur-sayuran begini? apa mungkin ularnya lagi diet, atau ularnya vegetarian?" celetuk Arini namun mata terus memandangi kotak ajaib itu.


Wajah Arini kian berbinar karena ularnya semakin besar dan gemuk, ular berwarna merah dengan mulut yang super besar karena bisa memakan semua yang ada di hadapannya.


"Ularnya lagi kelaparan ini mah. Semua makanan dia embat sampai nggak ada sisa. Pantesan cepet gemuknya," ucapnya lagi.


"Assalamu'alaikum..." sampai juga Arya di rumah.


Keasikan dengan ponselnya membuat Arini tidak menyadari akan kedatangan Arya, padahal Arya jiga sudah berkali-kali mengucapkan salam juga memanggilnya, tetapi fokus Arini tetap pada ular yang kian gemuk dan menjadi besar juga panjang.


"Assalamualaikum, Arini.." Arini tetap bergeming, dia sama sekali tidak bergerak ataupun mengganti posisi duduknya. Bahkan matanya juga tetap fokus pada ponselnya.


Sepertinya Arya menyesal karena telah mengunduh kan permainan itu, dan akhirnya dia di campakkan sekarang.


"Astaga, aku di duain sama ular-ularan di HP Arini," celetuknya menyesal.


"Kamu tidak boleh mengabaikan ku, Arini. Kamu hanya boleh fokus padaku saja, tidak ada yang lain," ucapnya lagi. Keposesifan Arya mulai kumat lagi saat ini, dia cemburu dengan ular-ularan yang ada di benda pipih milik Arini.


Arya melangkah semakin dekat, berdiri di belakang Arini, membungkuk di sana dan menempatkan bibirnya tepat di samping telinga Arini.


"Arini..." Arya membisikkannya tepat di telinga Arini dan kali ini berhasil membuat Arini sadar. Arini juga langsung menoleh ke arah Arya yang kini terlihat sangat kesal.


"Pak Tuan kenapa sih! gangguin Arini aja yang lagi asyik," omel nya.


Arini kembali menoleh ke arah layar ponsel dia sangat kecewa dia sangat kesal karena kalah dalam permainannya. Sang ular menabrak tubuhnya sendiri dan kalah deh.


"Tuh kan Arini kalah lagi, padahal tadi ularnya sudah gede banget. Gara-gara pak Tuan sih," ucapnya lagi.

__ADS_1


Arini mengganti posisi duduknya, menurunkan kakinya juga duduk tegak.


Sementara Arya kini beralih duduk di sebelahnya dan terus cengengesan karena merasa geli melihat wajah Arini yang nampak sangat kesal.


"Jangan kesal begitu lah, kamu sih! aku datang tidak lihat-lihat. Kamu juga terus mengabaikan ku dan lebih memilih ponselmu. Kesel aku, berasa di duain, atit.." Arya memasang wajah yang merajuk, merengut dengan mata yang menyipit.


"Arini bosan, Pak Tuan. Semua pekerjaan sudah selesai, tak ada pekerjaan lagi. Arini juga tidak boleh keluar, terus Arini harus apalagi coba. Mau tidur juga tidak bisa." jawab Arini dengan sangat sangat malas.


Biasanya keluar, jalan-jalan, melakukan semua pekerjaan yang tiada henti mana mungkin akan betah jika hanya terus duduk saja tanpa melakukan apapun.


"Pak Tuan, kenapa sih Arini tidak boleh keluar?" tanyanya, matanya langsung menoleh ke arah Arya dan menanti jawaban dari laki-laki yang duduk di sebelahnya itu.


Arya tampak berpikir, sebenarnya dia tidak melarang sih Arini boleh saja keluar asalkan keluarnya harus tetapi bersama dengan Arya. Sama aja bohong kan.


"Bukan tidak boleh, Arini. Hanya saja kamu kalau mau keluar harus bersama ku. Kamu tidak boleh sendiri. Bagaimana kalau nanti ada orang jahat lagi seperti yang kemarin, dan aku pasti tidak ada, terus yang nolong siapa?" jawab Arya.


Memang sangat masuk akal sih alasannya, Arini pun juga masih sangat takut jika mengingat kejadian itu tetapi Arini sangat bosan di rumah terus dia butuh keluar mencari udara segar dan melihat keindahan dunia.


"Iya sih, tapi kapan kita akan keluar, Pak Tuan? Arini sangat ingin keluar. Ayolah, kita jalan-jalan lagi, kemana gitu yang penting keluar," rengek Arini sama persis seperti bocah.


Arya bingung, pekerjaannya sangat banyak di kantor tapi dia juga tidak ingin melihat Arini sedih Arya ingin Arini selalu bahagia saat bersamanya.


"Masak apa kamu hari ini?" Arya beranjak lebih dulu, mengabaikan Arini yang masih duduk.


Sepertinya Arya memang menghindar dari apa yang menjadi topik utama mereka tadi. Sepertinya Arya memang belum mengizinkan Arini untuk keluar rumah.


Arya terus berjalan menuju meja makan, membuka tudung saji dan terlihatlah semua makanan hasil karya Arini. Makanan yang sangat komplit, dengan menu yang begitu menggugah selera makannya.


Sementara Arini juga sudah beranjak, membuntuti Arya yang lebih dahulu berjalan.


"Pak Tuan mau makan sekarang?" celetuk Arini.


"Iya dong, aku sudah ada di sini sekarang masak iya makannya nanti," jawab Arya seraya mengambil posisi duduk di salah satu kursi kayu yang begitu mengkilap.


"O," hanya ber'O saja yang menjadi jawaban dari Arini. Tangannya juga sudah langsung bergerak mengambilkan nasi beserta lauk pauknya kepada Arya.


"Sudah, Arini. Jangan banyak-banyak, itu tidak akan habis!" Arya terperangah melihat begitu banyak yang Arini ambil, bahkan piringnya hampir tak terlihat karena penuh dengan nasi juga lauknya.

__ADS_1


Arini tetapi bergeming, dia mengabaikan kata-kata Arya dan terus memenuhi piring Arya.


"Arini, sudah ya. Jangan tambah lagi. Perutku tidak akan muat," ucap Arya lagi yang semakin gak mengerti. Kenapa Arini seperti itu apakah dia sedang marah?


"Arini," panggil Arya dengan begitu lembut.


"Nih, Pak Tuan. Pokoknya harus habis. Pak Tuan harus tambah lima kilo dalam dari minggu. Tidak boleh nolak tidak boleh protes. Harus iya, dan langsung makan tanpa bicara lagi," ucap Arini.


"Lah, itukan kata-kataku kenapa dia menirunya?" batin Arya.


"Ayo di makan, Pak Tuan. Kalau habis bisa nambah lagi, kebetulan Arini masak banyak haru ini," Arini juga masih sibuk, dia mengambil untuk makannya sendiri yang begitu sedikit bahkan tidak sampai seperempatnya milik Arya.


Arya menelan saliva nya sendiri, bagaimana mungkin dia akan menghabiskan semua makanan itu, meski dia belum makan tapi perutnya juga tidak akan muat.


Arya melihat piring Arini, ini tidak adil. Punya Arya begitu banyak sementara punya Arini begitu sedikit, padahal Arya yang ingin kalau berat badan Arini yang bertambah kalau seperti ini terus bisa di pastikan kalau Arya yang akan semakin besar.


"Ayo di makan, Pak Tuan. Jangan lupa berdoa ya," Arini meringis, di susul dengan menengadahkan kedua tangan untuk berdoa sebelum makan.


Sementara Arya masih saja diam, melihat isi piringnya saja sudah membuatnya kenyang apalagi sampai menghabiskannya?


"Arini, ini benar-benar harus habis?" Arya begitu sedih, wajahnya sangat malas saat mengatakan itu.


"he'em, harus habis," tandas Arini, di sambung dengan senyum jaimnya.


"Sabar-sabar, orang sabar cintanya lancar. Siapa tau setelah ini bisa mendapatkan hadiah spesial. Ya, paling nggak dapat satu cipika-cipiki lah," batin Arya.


Tangan sudah siap memakan apa yang ada, tetapi di hentikan oleh Arini, "Pak Tuan sudah berdoa?"


"Astaga, ribet amat sih jadi orang baik. Semua harus pakai doa, apa nggak bisa langsung hab begitu saja? ishh... menyebalkan!" gerutunya dalam hati.


"Jangan protes, Pak Tuan. Nanti keselek loh karena Allah marah," celetuk Arini lagi.


Astaga, benar-benar ingin menangis di Arya, dia sudah seperti anak TK yang baru belajar semua tentang doa, dan di bimbing langsung oleh miss mereka, Astaga.....


"Nggak kok, aku nggak protes," hanya itu yang menjadi jawaban Arya. Kedua tangannya siap untuk berdoa, mulutnya celamitan entah apa yang dia lantunkan, karena Arini juga belum yakin kalau Arya sudah hafal.


"Anak pintar," Arini kembali tersenyum, puas rasanya.

__ADS_1



Bersambung...


__ADS_2