
Happy Reading...
Kehebohan terjadi di puncak. Bis-bis memang sudah berjalan untuk kembali ke kota sementara keluarga utama Gautama masih tertahan di sana karena masalah yang dibuat oleh Melisa.
Melisa masih tinggal di sana. Seolah sebuah persidangan mereka semua duduk di satu lingkar meja di ruang tengah. Begitu juga dengan Arya.
Melisa tetap kekeh supaya Arya mengakui juga bertanggung jawab dengan apa yang di tuduhkan sementara Arya juga tetap kekeh kalau dia tidak pernah melakukan apapun yang di tuduhkan.
Keduanya berada di pemikirannya masing-masing juga keteguhan masing-masing.
Sampai sekarang pun Arya juga belum menemukan bukti sama sekali karena CCTV di sana tengah mati jadi tak ada CCTV yang merekam kejadian semalam dan sekarang tidak bisa di tentukan begitu saja siapa yang benar dan siapa yang salah.
"Oke, saya akan mengakuinya, jika! Jika dia mau melakukan pemeriksaan visum dan ternyata menunjukkan hasil positif kalau kami telah berhubungan. Tetapi kalau hasilnya negatif, maka dia harus masuk ke penjara karena telah memberikan tuduhan palsu juga berusaha untuk mencemarkan nama baik ku," ucap Arya yang sudah tersudut.
"Arya, Apa kamu gila! Lihatlah dia, jiwanya tengah terguncang karena apa yang telah kamu lakukan dan sekarang kamu memintanya untuk melakukan pemeriksaan Visum? Apa kewarasan mu sudah hilang!" Luna Angkat bicara.
Melisa memang menangis, memasang wajah yang seolah teraniaya dan terzolimi dan itulah yang membuat Luna percaya kalau anaknya yang bersalah. Apalagi setelah semua melihat ada bercak darah di tempat tidur Arya juga melihat jalannya Melisa yang kesakitan, Itu sudah membuktikannya.
"Kenapa! Apa Mama akan percaya begitu saja dengan wanita yang seperti dia? Mama sudah tertipu kemarin dan sekarang? Apa Mama tidak takut kalau wanita itu juga menipu Mama!" ucap Arya.
"Menipu bagaimana, Arya! Apa kamu tidak lihat keadaannya sekarang! Dan ini, apakah ini tidak bisa di jadikan bukti kalau kamu yang telah melakukannya!" Luna menunjukkan leher Melisa yang begitu banyak tanda merah di sana. Bukankah itu adalah tanda yang di buat oleh Arya? Pikir Luna.
__ADS_1
"Arya sudah bilang, Ma! Arya tidak melakukannya! Arya tidak pernah menyentuhnya!" Arya tetap kekeh dalam pendiriannya.
Bagaimana mungkin Arya tidak sadar kalau dia melakukannya, bahkan minuman keras dengan kadar alkohol setinggi apapun tidak bisa membuatnya mabuk, lalu? Bagaimana mungkin sekarang dia bisa mabuk hanya karena sedikit minuman saja.
"Buka matamu, Arya! Buka!" Begitu tak ada kepercayaan untuk Arya di dalam diri Luna. Entah apa yang membuat Luna begitu percaya dengan Melisa, dan entah kenapa Luna begitu mudah percaya hanya karena melihat dengan sekejap mata saja.
"Mama tidak mau tau, kamu harus tetap bertanggungjawab. Kejadian ini tidak boleh sampai tersebar luas! Kalau tidak kehormatan kita semua akan hancur!"
"Tidak, Ma! Tidak!"
"Lihatlah, Pa! Lihat betapa keras kepalanya anak kebanggaan mu itu! Sekarang Papa yang harus bertindak, Mama tidak mau lagi, Mama sudah lelah menghadapinya," ucap Luna.
"Arya, bertanggung jawablah dengan apa yang sudah kamu lakukan. Jadilah lelaki sejati yang tidak akan lepas tangan begitu saja setelah melakukan kesalahan."
"Tidak, Pa! Arya tidak mau bertanggung jawab, karena Arya tidak pernah melakukan apapun padanya," Arya tetap menolak.
"Arya!" Suara Wiguna meninggi.
"Tidak! Arya tidak mau bertanggung jawab!" Arya tetaplah Arya. Meskipun dalam keadaan terdesak pun dia akan tetap kekeuh dengan pendiriannya, dia akan melakukan apapun yang dia yakini kalau dia yakin dia melakukan maka dia akan bertanggung jawab tetapi kali ini tak ada sedikitpun keyakinan itu.
Arya berlalu pergi setelah mengatakan itu. Dia tidak peduli dengan mata-mata tajam yang memandangi kepergiannya.
__ADS_1
"Arya! Kamu harus bertanggung jawab!" teriak Wiguna.
"*Hem... ternyata orang tua Tuan Arya begitu bodoh. Mereka sangat mudah untuk di pengaruhi. Hem... dengan seperti ini tujuanku akan cepat tercapai." batin Melisa seraya menyungging sinis*.
"Biar, Mom yang bicara. Biarkan amarahnya reda dulu dan kita bisa bicarakan lagi dengan kepala dingin. Lebih baik kita kembali ke kota, kita bicarakan semuanya di rumah," ucap Eyang Wati.
"*Meski kamu tidak mendapat buktinya tetapi Eyang percaya kamu tidak melakukannya, Ar. Eyang bisa melihat itu, tetapi entah kenapa kedua orang tuamu tidak bisa melihat itu," Batin Eyang Wati*.
Arya terus melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dia sangat frustasi karena berkali-kali dia menghubungi Arini tetapi tidak di angkat juga.
Arya harus menemui Arini dan menjelaskan semuanya kalau dia tidak bersalah dan meyakinkan kalau semuanya adalah jebakan.
"Arini angkat, angkat," gumamnya setelah berusaha untuk terus menghubungi Arini.
"Arghhh...!" tangan terus memukuli setir karena Arini 𝘵ak kunjung mengangkat telfonnya, Arya menjadi marah sendiri dan begitu uring-uringan.
Hingga malam Arya belum juga sampai di kota. Dia sama sekali tak istirahat saat mengendarai dia tetap melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi karena dia sudah tak sabar ingin bertemu dengan Arini dan menjelaskan semuanya.
"Maafkan aku, Arini. Tetapi aku tidak bersalah, ini hanya jebakan. Aku tidak melakukannya," Di usapnya tetesan bening yang membasahi pipinya. Arya begitu rapuh sekarang dia takut kehilangan Arini.
"Apakah ini balasan dari semua yang sudah aku lakukan? Begitu banyak wanita yang aku mainkan dan setelah aku tidak ingin main-main lagi dan belajar menjadi baik dan sekarang aku yang di permainkan. Apakah ini yang di namakan Karma?"
Semua orang akan menuai apapun yang dia tanam, begitu juga dengan Arya. Begitubanyak dia menanam benih-benih keburukan dan mungkinkah ini buah dari semuanya?
Arya sudah berusaha untuk mengubur benih-benih yang dulu dia tanam supaya tidak bisa tumbuh, memulai menguburnya dengan sedikit demi sedikit ketulusan juga kebaikan tetapi kenapa tetap ada satu benih yang tumbuh dan kini mengobrak-abrik kebaikan yang sudah mulai dia tekuni.
"Maafkan aku, Arini. Maaf," Arya benar-benar tak kuasa menanggung beban yang terasa berat ini.
Setelah dia akan mendapatkan kebahagiaan, dia menyakini bahwa cinta dan ketulusan itu ada tetapi kenapa sekarang Tuhan seakan mengubur lagi dan memupuskan nya.
"Arini, kamu harus percaya kepadaku. Aku tidak pernah mengkhianatimu."
__ADS_1
Bersambung....