
Happy Reading....
Lima bis sudah berjajar rapi di depan perusahaan Gautama. Semua karyawan yang akan ikut serta sudah antri dan siap untuk masuk ke dalamnya.
Lebih banyak yang ikut daripada yang tidak, karena hanya beberapa saja yang tidak ikut itu karena terhalang dari izin keluarga.
Melisa begitu antusias, semua barang bawaannya sudah dia bawa, bahkan ada juga hadiahnya yang akan dia berikan untuk Arya.
Satu persatu mulai naik, barang-barang juga sudah masuk ke bagasi. Begitu juga dengan Melisa. Awalnya dia berniat mengendarai mobilnya sendiri tapi dia urungkan karena tak mau lelah nyetir sendiri tanpa ada yang akan menggantinya.
Dari satu orang saja bawaannya juga sangat banyak, mungkin itu adalah hadiah juga pakaian yang akan mereka kenakan di setiap acara.
Semuanya tampak antusias tapi berbeda dengan gadis berhijab pasmina abu-abu dengan gamis berwarna ungu dengan garis abu-abu juga di lingkar bawah juga dengan tas hitam yang menggantung di bahunya, gadis itu sama sekali tidak semangat untuk pergi. Ya, dia adalah Arini.
Arini masih berada di dalam perusahaan, dia baru saja keluar dari toilet. Arini melangkah dengan pelan sebenarnya dia tak ingin pergi karena Arini sama sekali tidak memiliki hadiah untuk Arya.
Sudah terus berusaha untuk mendapatkan hadiah yang pas tapi dia tidak mendapatkannya. Dia juga tidak bisa membeli apapun dengan uang yang dia punya yang hanya tinggal seberapa.
"Aku harus bagaimana, apa yang akan aku berikan untuk pak Tuan?" Arini melangkah dan terus berpikir, apa yang akan dia berikan. Di puncak tidak akan mungkin ada yang menjual sesuatu yang menarik untuk menjadi hadiah.
Belum juga Arini sampai di pintu perusahaan untuk keluar hijab bagian belakangnya di tarik oleh seseorang. Arini kembali mundur tapi dengan terpaksa.
"Eh..., jangan tarik-tarik!" tangannya sontak memegangi hijabnya yang terus tertarik dan hampir terlepas tapi dia tak akan membiarkan itu terjadi Arini menahannya dengan sekuat tenaga.
Teriakan Arini hanya seperti angin lalu untuk pelaku yang membuat Arini seperti itu. Siapa lagi pelakunya kalau bukan pak Tuannya yang selalu sesuka hatinya sendiri.
Arini menoleh matanya melirik dan berhasil melihat siapa pelaku sebenarnya.
Arini sudah dongkol sekarang, kenapa Arya melakukan hal yang seperti ini lagi, apa yang dia inginkan sebenarnya dari dirinya sekarang.
"Pak tuan, lepasin!" teriak Arini yang tetap tak mau menyerah, tangannya terus menarik dan mempertahankan hijabnya.
Hingga di tempat yang tak ada orang barulah Arya melepaskan Arini. Kedua tangannya langsung menyatu di depan dada untuk meminta maaf. Wajahnya juga terlibat begitu memohon.
"Apa!" satu kata keluar dari bibir Arini tapi dengan ketus. Ya jelaslah kali ini Arini sangat kesal.
"Aku mohon, ikut aku ya di mobil. Jangan naik bis dengan yang lain," Arya begitu memohon dengan Arini yang kini sudah memalingkan wajahnya acuh.
"Aku tidak mau kamu ikut sama Bis, kamu harus ikut denganku," kembali dengan paksa Arya mengatakan, suaranya sangat keras, cepat dan begitu menekankan.
Ternyata itulah alasan Arya menarik Arini, dia tidak mau Arini naik Bis, Arya mau kalau Arini berangkat bersama dengannya naik mobil tentunya.
"Di dalam Bis tidak akan enak, kamu pasti akan merasa gerah, sumpek, juga tidak bisa leluasa. Maka dari itu kamu harus ikut denganku di mobil."
"Pokoknya harus, dan tidak boleh menolak," imbuhnya lagi.
Satu kata saja Arini beliau menjawab Arya masih terus nyerocos mulu tiada henti. Sebenarnya bukan hanya itu saja yang menjadi alasan untuk Arya, tapi dia ingin berduaan dengan Arini tentunya.
__ADS_1
Ingin sekali menyentuh tangan Arini tapi Arya yakin dia akan mendapatkan omelan darinya, Arya belum siap lagi.
Lagian waktunya juga sudah sangat mepet, tetapi sebenarnya tidak apa-apa sih tak ada yang melarang Arya juga mau dia sampai jam berapapun tidak akan ada yang berani komentar.
"Ya, ikut aku ya... please..." Arya terus memohon kepada Arini dia sangat ingin.
Sebenarnya bukan hanya ada Arya saja yang akan ada di mobilnya tapi ada supir juga. Arya tidak akan mungkin lelah-lelah nyetir sendiri sampai puncak.
"Tidak, Arini tidak mau ikut mobil Pak Tuan. Arini takut mabuk. Mobil Pak Tuan baunya nggak enak," ucap Arini memberi alasan.
Arya terperangah, bagaimana mungkin mobilnya bau tidak enak padahal Arya selalu meminta supir untuk mencucinya secara rutin juga tak ketinggalan pengharum di dalamnya, jadi mana mungkin?
"Jangan bohong ya, mobilku harum bukan bau. Hidungmu bermasalah?" Arya mengernyit.
"Ya, hidung Arini bermasalah."
Arini melangkah pergi, dia tak mau ikut dengan Arya tentunya. Lebih baik ikut bis dan banyak teman lagian ada Raisa juga di sana Arini bisa duduk bersebelahan dengannya.
"Arini...! tunggu...!" teriak Arya keras. Arya ikut melangkah menyusul Arini dan gadis itu sama sekali tidak menoleh ke arahnya.
"Tunggu saja kalau sudah menjadi istriku, kamu tidak akan pernah aku biarkan kabur dan menolak semua permintaanku," gumamnya.
Semua sudah masuk ke dalam bis begitu juga dengan Arini. Kini Arini sudah duduk di kursi sebelah kanan nomor tiga dari depan, Arini duduk di dekat jendela sementara sebelahnya ada Raisa.
Keduanya tampak senang, yang ada di dalam bis itu bukan hanya para OB saja melainkan ada para karyawan juga yang lain. Semua di acak jadi semua harus berbaur dengan yang lain meski beda jabatan di perusahaan.
Perlahan bis mulai berjalan dengan pelan, meninggalkan perusahaan besar di mana mereka bekerja.
"Cungkring, kamu sudah sediakan hadiah apa untuk tuan Arya?" Raisa melirik ke arah Arini yang terdiam melihat bangunan-bangunan yang di lalui oleh bis itu.
"Arini tidak punya hadiah apapun?" Arini menggeleng dengan malas, sungguh dia sama sekali tidak punya semangat.
"Tidak punya hadiah!? Lalu untuk apa kamu ikut? Ini bahaya Arini, kamu pasti akan di permalukan sama para netizen mu," ucap Raisa. Yang tidak memiliki hadiah adalah Arini tapi Raisa juga merasa sangat takut. Dia sangat bingung, dia juga ikut berpikir sekarang.
Arini juga tidak tau apa yang akan dia berikan untuk Arya, ini adalah kali pertama dia ikutan dalam acara ulang tahun seperti ini.
"Apa mbak Raisa punya ide?" tanya Arini. Arini tidak mau juga kan datang ke acara ulang tahun bosnya sendiri tanpa membawa apapun sebagai hadiah.
"Nggak punya?" Raisa menggeleng, kali ini otaknya terasa sangat tumpul dan dia tidak memiliki ide sama sekali.
"Huff...," nafas panjang Arini keluarkan dia sangat bingung.
"Kalau begitu Arini tidak akan ikutan deh ke acara ulang tahun pak Tuan, Arini akan di kamar saja sampai acara selesai."
"Loh, kenapa? Padahal kamu kan pengen banget ikutan acara seperti ini. Ini kan pengalaman pertama untukmu kenapa tidak ikut?"
"Daripada Arini nanti malu," jawab Arini dengan sangat pasrah.
"Ya nggak begitu juga dong, aku yakin kamu akan punya sesuatu untuk menjadi hadiah Tuan Arya, kamu tidak boleh menyerah, semangat!" Raisa tersenyum, dia sangat yakin dengan Arini yang sebenarnya banyak ide tapi dia selalu saja pasrah sebelum mencobanya.
Keduanya diam Arini terus melihat keluar dari jendela sembari berpikir sementara Raisa juga diam dan sesekali melirik ke arah Arini.
Baru saja beberapa saat mereka berdua diam, bahu Raisa ada yang menyentuhnya sontak dia menoleh. Pria dengan kaca mata hitam, memakai masker juga memakai switer berwarna cokelat.
Raisa bingung siapa sebenarnya pria itu. Tapi baru saja dia mau bertanya pria itu membuka maskernya dan terlihat jelas kalau dia adalah bosnya.
Arya diam tidak mengatakan apapun, tapi tangannya bergerak meminta Raisa untuk berpindah di belakangnya. Raisa mengangguk pelan, dia menoleh sebentar ke arah Arini yang masih tidak sadar. Ternyata sedari awal Arya memang sudah duduk di bangku belakang mereka berdua.
Apa yang Arya lakukan tentunya tak akan di sadari oleh semua orang, mereka banyak yang tidur dan hanya ada beberapa yang tersadar tapi sibuk mengobrol, mereka juga tidak mengenali Arya dengan penampilan yang seperti itu.
Setelah Raisa berpindah di belakang Arya duduk di sebelah Arini dengan diam, jelaslah! Arya tidak mau sampai Arini sadar akan kedatangannya, Arya juga memakai lagi maskernya tadi.
"Mbak, Arini harus bagaimana? Arini tidak punya apapun untuk di jadikan hadiah untuk pak Tuan. Arini tidak bisa berpikir apapun sekarang."
Arya diam, Arini kembali diam. Lama terus diam Arini ngantuk berat, hingga akhirnya dia tidur dan kepalanya bersandar di bahu Arya.
"Huff..., aku tidak butuh hadiah apapun darimu, Arini. Kamu menerimaku saja itu sudah menjadi kado terindah untukku. Aku ingin kamu menjadi hadiahku di tahun ini," gumam Arya lirih.
Perlahan mata Arini terbuka dan bis juga masih terus berjalan. Kesadaran yang belum kembali sepenuhnya dia gunakan untuk melihat seseorang yang ada di sebelahnya yang rela memberikan bahunya untuk dia bersandar.
__ADS_1
Karena itu tidur Arini menjadi sangat nyenyak bahkan dia sama sekali tidak bergerak atau terbentur dengan bangku di depannya atau kaca di sebelahnya, mungkin orang yang di sampingnya yang telah menjaganya.
"Maaf ya, Mbak Raisa. Arini pasti sangat berat ya?" ucapnya.
"Itu sudah kewajiban ku untuk menjaga ibu calon anak-anakku. Aku tidak akan membiarkan sesuatu yang buruk terjadi padamu. Aku akan selalu menjadi pelindungmu."
Arini tersentak dia menjauh dari Arya yang tetap biasa-biasa saja bahkan tidak mau membuka masker juga kaca mata hitamnya.
Tentu itu aja membuat Arini bingung, sepertinya dia tidak mengenal orang itu. Tapi mendengar suaranya?
"Pa-pak Tuan," Arini terpaku tatap melihat penampilan Arya yang sungguh berbeda dari biasanya. Kalo ini lebih sederhana tidak melulu dengan jas formalnya tapi hanya sepatu ikat, celana hitam juga switer berwarna cokelat.
Arini sangat takut kalau ada yang menyadari kalau pria di hadapannya itu adalah Arya tapi sepertinya tidak! Semua tidak menyadarinya.
"Kenapa pak Tuan kesini? Kalau ada orang yang tau bagaimana?" suara Arini begitu pelan, dia terus menoleh.
"Kenapa ku bertanya seperti itu, apa kamu pikir aku akan biarkan kamu merasa nggak enak di sini sementara aku enak-enak di dalam mobil sendiri? Tidak ya. Lagian hitung-hitung kita sedang berpacaran kan?"
Arya meringis meski tidak terlihat, Arya begitu bahagia apalagi melihat wajah Arini yang terlihat begitu gelisah, panik juga tidak tenang. Terlihat sekali kalau Arini sangat khawatir, apalagi di dalam bis itu juga ada Melisa.
"Seharusnya pak Tuan jangan kesini. Ini sangat berbahaya bagaimana kalau mereka semua menyadarinya?"
"Tidak akan asal kamu diam dan jangan cerewet. Kalau kamu berteriak aku yakin semua orang akan tau," jawab Arya yang terlihat begitu santai.
"Dasar kepala keras!" sungut Arini.
"Keras kepala, Arini." ucap Arya membenarkan.
"Sama aja." Lagi-lagi Arini hanya menjawab dengan begitu judes.
"Iya iya sama. Sekarang kamu diam dan nikmati pacaran kita yang sederhana ini. Ya meski hanya naik bis tapi terasa sangat romantis juga ya."
Arya begitu pasrah, dia sudah mulai mengalah dengan apa yang Arini katakan baginya dia akan sangat senang saat melihat Arini senang dan dia akan mengalah.
"Arini, aku tidak mau tau ya. Kamu harus tetap memberiku hadiah." Arya mulai kumat lagi sepertinya setelah tadi mengalah.
"Kalau kamu tidak ada hadiah maka kamu yang harus menjadi hadiah untukku, kamu harus memberikan apapun yang aku mau kalau perlu kamu harus secepatnya menikah denganku," beneran kumat kan.
"Udah deh pak Tuan! jangan sembarangan kalau ngomong. Arini janji akan kasih hadiah untuk pak Tuan."
"Janji ya, kalau kamu tidak bisa memberiku hadiah maka...?" Arya menyeringai penuh maksud ya meski Arini Tuan melihatnya.
"Maka apa?" tanya Arini penasaran.
"Maka aku akan mendapatkan ciuman pertamamu. Bagaimana, setuju kan?"
"Mimpi!" Arini memalingkan wajahnya acuh, dia tidak mau menanggapi Arya lagi yang semakin menjadi-jadi.
__ADS_1
Bersambung......
_________