Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)

Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)
273.Pernikahan Toni


__ADS_3

Happy Reading...


_______


Satu persatu semua tamu merapat ke tempat acara. Tempat dimana akan menjadi saksi ikrar suci yang akan Toni ucapkan untuk Nisa.


Bukan hanya tamu yang sudah berdatangan, tapi penghulu juga sudah siap di tempat yang akan mengesahkan hubungan mereka berdua.


Arya tidak duduk bersama Arini kali ini, dia duduk di kursi sebagai saksi. Sementara Arini duduk bertiga dengan Raisa juga Dimas.


Tak mau Dimas terus nempel dengan Raisa Arini berinisiatif duduk di tengah-tengah antara mereka berdua. Semua itu untuk memberikan jarak kepada keduanya yang Dimas terus saja nempel dengan Raisa.


"Kak, tangannya bisa diem nggak?" Tau saja kalau tangan Dimas bergerak di belakang kursi untuk menyentuh Raisa.


Mata Arini benar-benar di pasang sekarang. Dia tidak akan membiarkan kakaknya itu bergerak sesuka hatinya untuk mendekati Raisa dengan berbagai cara apapun juga.


Dimas mendengus kesal, bagaimana mungkin adik satunya ini bisa begitu peka dengan semua pergerakan yang dia lakukan untuk menyentuh Raisa. Padahal dia belum berhasil namun sudah mendapatkan teguran darinya, bagaimana kalau sudah sampai berhasil bisa-bisa habis Dimas mendengar ocehan adiknya yang kini begitu sensitif.


"Pelit banget sih, Dek?" Dimas benar-benar lemas biasanya dia akan bisa melakukan apapun yang dia inginkan, tetapi sekarang? dia tidak akan bisa karena di hadapannya ada adiknya yang begitu cerewet.


"Makanya cepat di halal-lin kak, kalau sudah halal kan bisa diapain juga tidak harus dengan sembunyi-sembunyi kayak maling mau nyuri ayam," ucap Arini sekenanya.


"Astaga, Kakaknya sendiri dikatain pencuri ayam? Kamu kenapa sih Dek! Gitu amat sama kakak. Apa ada dendam di antara kita?" Kesal juga Dimas.


"Tidak baik Kak. Dendam itu akan mendatangkan penyakit hati. Jadi tidak boleh ada dendam di antara kita. Bolehnya hanya ada kasih sayang di antara kita," Arini tersenyum manis.


"Sok manis kamu, Dek."


"Kan Arini memang manis. Manis dan cantik luar dalam." Arini semakin percaya diri juga sekarang.


"Manis apaan, kayak gitu ngaku manis. Pahit kali, Dek. Manis tuh kakak nih. Hii.." Deretan gigi Dimas perlihatkan.


"Kalian itu mau berdebat atau mau menyaksikan pernikahan tuan Toni dan mbak Nisa sih! Ribut amat dari tadi," Akhirnya Raisa bersuara.


Ngadepin satu orang saja udah pusing sekarang harus berada satu tempat dengan dua orang yang sepertinya sama-sama kurang obat.


"Bisa-bisa ikutan nggak waras juga aku," Imbuhnya.


"Nggak waras tapi tetap suka kan, Kak?" Goda Arini.


"Siapa bilang? Aku mana suka dengan orang macam dia."


"Tuh kan, padahal Arini tidak bilang dia itu kak Dimas loh. Ternyata oh ternyata, kak Dimas sudah menetap di hati kak Raisa. Setelah pulang beneran jadi kakak ipar nih," Arini mengedip imut.


"Ogah!"


"Ogah nolak kan, Kak?"


"Apaan sih! Nggak jelas kau ini.


Kayaknya kamu ketularan kakakmu juga deh, Arini."


"Bukan ketularan, Kak. Kami kan memang satu produk. Bedanya tak akan jauh-jauh lah. Iya kan kak Dimas?"


"Iya. Satu pabrik." Dimas cengengesan. Ada-ada saja nih adeknya.


"Silahkan untuk mempelai pria," Ucapan dari MC membuat ketiganya diam. Kini mereka langsung fokus ke arah Toni yang perlahan masuk dengan setelan jas pilihan yang berwarna putih.


"Tuh, Kak. Pengen juga nggak? Kakak pasti lebih ganteng kalau pakai baju kayak gitu. Iya kan kak Raisa?" Arini menoleh bergantian ke arah Dimas lalu ke arah Raisa.


"Iya," Raisa tak sadar, dia keceplosan.


"Cie cie cie.., sudah mulai mengakui nih ya. Selamat ya Kak. Sebentar lagi nyusul Tuan Toni.


"Hah!" Raisa tak mengerti.


"Siap, satu minggu ya, Neng Raisa?"


"Apa?"


"Pokoknya satu minggu."


"Nggak jelas!" Sungut Raisa kesal.


Ketiganya kembali fokus ke arah Toni yang sudah ada di hadapan penghulu. Di depan para saksi juga pak Karna sebagai wali dari Nisa.


"Tenang, Ton. Jangan grogi." Bisik Arya.

__ADS_1


Jas pengantin berwarna putih, kain batik sebagai bawahan, keris yang terdapat beberapa ronce bunga melati yang terselip di punggung juga penutup kepala berwarna batik menjadi style Toni saat ini. Di tambah roncean bunga melati menjadi kalung juga bros keemasan berada di depan penutup kepala.


Pengantin pria itu terlihat sangat tampan tapi rasa gugup terlihat sangat jelas padanya.


"I_iya, Tuan." Toni benar-benar sangat gugup.


Tak dia sangka kalau berhadapan dengan calon ayah mertua juga penghulu akan membuatnya se-gugup itu. Bukan itu saja, tapi di hadapan semua tamu undangan yang hanya beberapa orang saja yang dia kenal membuat darahnya panas dingin.


"Bagaimana, apa sudah bisa di mulai?" Tanya Penghulu dengan formal.


"Su_sudah," Toni tetap saja gugup meski dia sudah berusaha untuk menghilangkannya.


"Ikuti saya ya, Mas Toni."


Uluran tangan dari penghulu langsung di sambut oleh tangan Toni yang sedikit gemetar. Karena pak Karna menyerahkan semua kepada penghulu membuat pak penghulu yang akan menikahkan langsung Toni dan Nisa.


Sementara Nisa? Dia masih di kurung di dalam kamar.


Perlahan penghulu mulai mengatakan, lebih tepatnya menuntun ikrar yang harus Toni ucapkan.


Cepat Toni mengikuti setelah tangan penghulu di hentakan di atas meja.


"Saya terima nikah dan kawinnya, Annisa Pratiwi Binti Karna Sunaidi dengan seperangkat alat shalat dan mahar tersebut di bayar, Tunai!"


"Bagaimana para saksi, sah?"


"Sah!" Sorak semua para saksi.


Begini plong rasa hati Dimas, sekarang dia telah menyandang seorang suami dari Annisa Pratiwi. Tak lagi jomblo lagi dan menikah tanpa berpacaran sama sekali.


Toni percaya, tanpa berpacaran sekaligus dia akan tetap bahagia. Dan dia hanya perlu membuat pernikahannya langgeng dengan kebahagiaan di dalamnya.


"Selamat, Ton," Pelukan hangat menjadi penyemangat untuk Toni dari Arya, bukan penyemangat saja, melainkan pelukan selamat dari seorang kakak untuk adiknya.


"Terima kasih, Tuan." Terharu Toni. Dia bahagia, benar-benar sangat bahagia dengan status barunya saat ini.


Tak lama semua mata tertuju kepada pengantin perempuan yang datang.


Kebaya putih, hijab putih dengan berbagai aksesoris di kepala juga bawahan batik yang senada dengan yang Toni kenakan. Dia adalah ratu dalam sehari saat ini, Annisa Pratiwi, istri Toni Herlambang.


Gugup benar-benar terlihat dari keduanya, membuat semua orang bersorak karena terbawa suasana.


Toni terpaku, matanya tak berkedip melihat pengantinnya yang begitu cantik dengan riasan yang sangat sempurna.


"Hah," Toni tersentak saat Nisa meraih tangannya dan mengecup punggung tangan.


Deg..


Jantungnya langsung tidak normal. Dia sangat gugup, ini adalah pertama kalinya dia bersentuhan langsung dengan seorang perempuan. Meski dia bekerja dengan Arya tapi dia sangat berbeda jauh dengan bosnya itu.


"Cie cie cie!" Sorak dan tepuk tangan begitu memadati tempat itu.


Suasana seketika hening saat Toni menyentuh tengkuk Nisa dan perlahan mendekatkan wajahnya.


Cup...


Kecupan di kening untuk pertama kali dari Toni untuk Nisa. Keduanya memejamkan mata saat kecupan yang penuh dengan cinta dan kasih sayang itu terjadi.


Nisa terdiam menikmati sentuhan pertama dari suaminya, dia juga tak kalah gugupnya. Jantungnya terus berdendang di dalam sana juga darah yang terasa berdesir panas.


Plok plok plok.....


Sitsuit... Ciee ciee ciee.....


Sorakan kembali terdengar, menghentikan keduanya dalam sentuhan yang mengalirkan cinta. Keduanya saling membuka mata, menatap ke arah wajah pasangan dan tersenyum begitu manis.


Berbeda dengan yang lain yang terlihat bahagia dan terus bersorak-sorai, Arini malah berkaca-kaca. Hingga akhirnya.


Hiks hiks hiks.....


Arini menangis, dia tersedu dengan air mata yang keluar begitu banyak.


"Dek, kamu kenapa? Ada yang sakit? Atau kamu lapar atau kamu?"


"Aku juga pengen di cium suamiku seperti itu," ucapnya di sela-sela tangis.


"Ya Allah, Dek. Kakak kira kenapa. Nanti setelah ini kamu bebas minta di cium oleh suamimu. Kamu juga boleh minta apapun padanya. Tapi jangan nangis begitu dong, malu di lihat orang banyak."

__ADS_1


"Nggak mau, aku maunya sekarang. Aku pengen di cium suamiku dan duduk di sana seperti mereka berdua. Aku pengen. Kak, bilangin sama mas Arya. Aku pengen kayak gitu, sekarang," Arini merengek.


Tangannya terus menarik lengan Dimas dengan kasar.


"Kamu kenapa sih, Dek. Permintaanmu aneh banget?" Dimas mengernyit.


"Kak, bilangin," Arini terus merengek manja.


"Arini, nanti saja lah. Ini banyak orang. Tuan Arya juga pasti sangat malu kan?" Raisa memberikan pengertian.


Raisa juga Dimas saling berkedip, mereka bingung.


"Tidak mau, Arini maunya sekarang," Wajah Arini semakin berkedut.


"Iya, tapi mereka belum selesai. Tunggu mereka selesai dulu ya," Raisa terus berusaha.


Bagaimana mungkin mereka akan mengusir pengantin yang sedang tanda tangan dan mengucapkan sumpah juga penghulu yang masih di sana.


"Aku pengen, hiks hiks hiks..." Tangis Arini semakin pecah.


Arya yang mendengar ketiganya berdebat langsung menoleh, dia begitu terkejut mendapati istrinya yang tengah menangis. Cepat Arya datang.


"Sayang, kamu kenapa?" Arya berjongkok di hadapan Arini, menghapus air matanya yang terus mengalir.


"Kau apakan istriku?" Sasaran utama adalah Dimas. Dia yang akan menjadi tersangka utama sekarang.


"Ya elah, saya tidak ngapa-ngapain. Tanya saja sama istri Tuan sendiri."


"Sayang, ada apa? Atau kamu mau apa?" Tanyanya lembut.


Hiks hiks hiks...


"Tapi Mas nggak boleh marah ya? Mas juga harus melakukannya ya?" Jawabnya.


Arya memicing, istrinya pasti menginginkan hal yang aneh-aneh lagi nih. Tidak mungkin tidak kalau sudah seperti ini.


"Kamu mau apa, Sayang."


"Arini, Arini...? Arini pengen duduk di sana. Arini juga pengen Mas Arya mencium Arini sama seperti Toni."


"Hah!" Mata Arya terbelalak. Kan beneran aneh yang dia inginkan.


"Tapi, Sayang?"


"Mas pasti nggak mau kan? Hiks hiks hiks..." Tangisnya semakin pecah. Tak sedikit yang memperhatikan mereka dengan segudang tanya.


"Mas kan memang tidak sayang sama Arini."


Hadehh, kalau sudah seperti ini Arya tidak bisa apa-apa selain mengabulkan apa permintaannya.


"Iya iya, setelah mereka selesai kita ke sana."


"Beneran!" Matanya langsung berbinar.


Arya mengangguk, meskipun dia ragu dan malu dia akan lakukan untuk membahagiakan Arini.


"Terimakasih, Mas."


Cup..


Mata Dimas, Raisa juga Arya sendiri membulat saat Arini tiba-tiba mengecup bibir Arya sekilas.


"Astaghfirullah hal 'azim!!" Dimas tepok jidat melihat kelakuan adiknya.


"Hehehe, pengen ya kak?" Celetuknya.


"Parah banget kamu, Dek. Nggak kira-kira. Kamu anggap apa kami ini."


"Pohon."


Begitu gemas Arya dengan Arini saat ini hingga akhirnya dia mencubit pipinya gemas.


"Lucu sekali," Gumamnya.


"""""""""


Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2