
Happy Reading...
...****************...
Alhamdulillah, suara itu begitu nyaring terdengar dari mulut Arini saat dia masuk ke dalam kamar. Tubuhnya terasa sangat lelah karena seharian mengikuti upacara pernikahan Fara.
Sebenarnya dia tidak ingin ikut semuanya tapi dia merasa tak enak pada Fara. Padahal Fara juga Marta tau, mereka juga terus meminta Arini untuk istirahat tapi kenyataannya Arini tak mengindahkan itu.
Dan kini rasa lelah benar-benar dia dapatkan. Dia ambruk di kasur dengan telentang, bahkan hijabnya juga sepatunya belum dia lepaskan.
"Eh," mata Arini yang terpejam perlahan terbuka dan juga tubuh yang ada di atas kasur juga langsung bangun karena merasakan kakinya ada yang menyentuh.
"Mas, apa yang mas lakukan?" tanyanya saat melihat Arya lah yang tengah menyentuh kakinya dan melepaskan sepatunya.
"Ini, mas bukain sepatunya. Kamu pasti sangat lelah dan juga gerah kan?" ucap Arya dengan tangan yang terus bergerak.
Kalau di tanya ya memang Arini mengalami itu tapi dia tidak mau lah Arya melakukan itu. Terkena tidak sopan. Tapi itu kan bentuk perhatian dari Arya, apakah benar ada unsur tidak sopan jika Arini membiarkan?
"Biar Arini sendiri saja, Mas. Arini bisa kok," Arini hendak melepaskan sendiri dan tangannya sudah hendak menggapai tangan gerakan Arya yang cepat rupanya sudah berhasil melepaskan sepatunya.
"Sudah," Arya tersenyum dan memperlihatkan kedua sepatu yang sudah ada di tangannya.
"Terima kasih, Mas." dan akhirnya hanya ucapan terimakasih yang terlontar dari bibir Arini.
"Sama-sama. Bersih-bersih lah dulu baru istirahat. Atau mungkin mau makan apa gitu?" Arya berbicara sembari berjalan mendekati rak sepatu dan menaruh punya Arini di sana.
"Kenapa mas Arya begitu perhatian seperti ini, dia tidak sedang menginginkan sesuatu kan?" batin Arini curiga.
Seharusnya memang tidak boleh seperti ini kan, tapi tak biasa sih. Ini sudah luar biasa menurut Arini.
__ADS_1
Memang, biasanya juga manis dan sangat perhatian tapi tidak sampai segini nya juga. Bahkan senyuman Arya benar-benar penuh dengan arti yang sangat sulit Arini mengerti.
"Hem, baiklah. Arini akan bersih-bersih," pandangan Arini berpindah ke tempat lain begitu juga dengan dia yang langsung beranjak.
Benar, dia akan lebih baik setelah bersih-bersih lalu setelahnya dia istirahat. Istirahatnya akan sangat enak nantinya dan akan nyaman.
"Hem, mas akan buatin kamu susu sebentar," Arya juga bergegas keluar dari kamar. Nah kan! ini memang biasa dia lakukan, tapi senyumnya itu loh yang membuat Arini bingung.
Kenapa harus tersenyum seperti itu? membuat kepala Arini muncul pertanyaan-pertanyaan yang asing. Ya, nggak asing-asing banget sih.
"Lebih baik aku cepat bersih-bersih daripada memikirkan hal yang tidak aku ketahui," jelas lah Arini. Masak hal yang belum di ketahui kamu pikirkan apa tidak puyeng.
Arini bergegas ke kamar mandi bersih-bersih dengan air hangat akan sangat enak kan, dan menggunakan sabun yang harumnya penuh dengan aroma terapi pasti akan semakin enak
Tak lama Arini bersih-bersih, hanya sekedarnya saja. Ternyata Arini melupakan baju dan kini dia keluar dengan mengenakan handuk kimono yang hanya sebatas lutut saja.
Ah, ini akan sangat menggoda jika Arya mengetahuinya. Tapi tak masalah sih, dia suaminya. Bahkan semuanya juga sudah Arya lihat.
Matanya langsung tertuju pada Arini, seketika Arya bersiul melihat penampilan Arini saat ini. Arya juga langsung berdiri dengan mengedipkan matanya dengan begitu genit.
Melihat reaksi Arini yang melongo membuat Arya semakin semangat menggodanya. Arya melangkah mendekat dengan tatapan seolah ingin memangsa.
"Mas mau ngapain?" tanya Arini panik, dia sudah mulai mundur.
"Mau ngapain? mau mendekati istriku," jawab Arya dengan iseng.
Sembari menggoda dengan mata juga bibirnya Arya juga melepaskan satu persatu kancing yang ada di kemejanya. Hingga tak ada satupun yang tersisa juga langsung melepaskannya.
"Mas, jangan aneh-aneh ya, Arini sangat lelah. Besok saja ya, Please," Arini sangat memohon.
__ADS_1
Padahal Arya juga belum mengatakan apapun tapi Arini sudah seperti itu, menggemaskan sekali bukan.
"Kenapa, Sayang. Sekarang atau besok sama saja kan. Sekarang kita lakukan besok juga bisa kita ulang lagi," suara Arya dia buat serak-serak basah.
Arya terus menggodanya bahkan dia juga terus membasahi bibir dengan lidahnya.
Apakah Arini harus berteriak? ataukah dia harus memberikan hak Arya begitu saja? tapi dia sangat lelah. Apakah Arya tidak memikirkan bagaimana dia yang lelah juga dengan kehamilan yang juga menambahnya lelah.
Arini butuh istirahat kan?
Arini memejamkan mata saat Arya sudah di depannya. Keningnya juga mengkerut karena ingin menjauh tapi sudah tidak bisa.
"Hahaha! ekspresi mu lucu sekali, Sayang. hahaha..!" tawa Arya menggelegar.
Apa maksud dari tawa Arya? apakah dia hanya mengerjai Arini saja.
"Maaf, sayang. Mas tidak bermaksud memintanya tapi kalau di beri juga oke." ucapnya.
"Hah!" Arini melongo dengan mata membulat.
"Jangan menatap mas seperti itu, mas kan jadi malu," Arya berbicara seperti seorang wanita lalu menutup wajahnya dengan begitu genit.
"Ih, Mas nakal ya!" kan Arini langsung kesal.
"Ampun, Yang! ampun!" dan kini Arya meringis karena mendapatkan cubitan maut dari Arini.
"Rasain nih," Arini semakin kuat melakukannya membuat Arya berlonjakan tak karuan.
...****************...
__ADS_1
Bersambung....