Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)

Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)
145.Kerjaan untuk Raisa


__ADS_3

Happy Reading...



Kerjaan yang sangat banyak, mulai nyapu, ngepel juga membersihkan kaca semua sudah Raisa kerjakan dan sekarang dia harus membantu pekerjaan di dapur.



Tangannya terus sibuk dengan semua peralatan rumah tangga yang kotor, peralatan yang habis di gunakan oleh Mila untuk memasak tadi.



"Tidak sia-sia saya mengajakmu kesini juga. Kamu benar-benar bisa berguna."



Ucapan Arya begitu sinis kepada Raisa yang tengah mencuci peralatan dapur, begitu banyak yang harus dia cuci dan itu sangat membuat Raisa kelelahan.



Raisa menoleh ingin sekali dia ngomel, mengatakan apapun yang ada di dalam kepalanya kepada Arya tapi dia tak berani setelah hampir saja mulutnya terbuka namun sudah melihat mata Arya yang tajam juga wajah yang sangat menyeramkan. Memang nasibnya tak sebagus Arini.



"Kenapa diam, apa kurang makan? Nih makan sayur biar lancar ngocehnya." Arya semakin sinis padahal di dalam hatinya dia menahan tawa yang sangat sangat keras. Hatinya terus berseru.



"Saya bukan burung Beo, Tuan. Saya manusia." jawab Raisa, dongkol juga lah. Bukan hanya menakutkan tapi ternyata Arya juga sangat nyebelin.



Arya duduk sembari membuka camilan yang ada di toples. Tangannya terus bergerak memasukkan satu-persatu kacang yang selalu di siapkan oleh Mila.



"Jangan kebanyakan makan kacang, Tuan. Nanti jerawatan!" giliran Raisa yang meledek Arya.



Arya menyungging sinis, tak peduli dengan apa yang Raisa katakan. Dia kan kaya, semua bisa di lakukan apalagi hanya untuk mengatasi jerawat, No problem.



"Saya punya kerjaan untukmu, kalau kamu bisa melakukannya aku akan kasih kamu imbalan yang banyak. Bagaimana apa kamu berminat?" Arya bersuara tetapi sama sekali tidak menoleh dan semakin menikmati kacangnya.



Raisa menoleh, menghentikan tangannya yang terus bekerja.



"Saya tidak tertarik, palingan kerjaannya yang menyimpang!" Raisa kembali menggerakkan tangannya lagi setelah berucap untuk menjawab.



Bagaimana Raisa tidak akan berpikir seperti itu, kebiasaannya Arya kan selalu hal-hal yang menyimpang dari jalur yang benar. Semuanya selalu berbelok arah dan membawa kesesatan.



"Saya tau, Tuan tidak akan mungkin meminta tolong pada orang kalau bukan untuk kepentingannya sendiri. Takut saja kan! Siapa tau ujung-ujungnya menjerumuskan." Raisa harus ekstra waspada.

__ADS_1



"Bukan untuk kepentingan saya, bukan untuk keuntungan saya juga. Tetapi...?" Arya menjeda perkataannya.



"Apa?" Raisa kembali menoleh.



"Untuk Arini. Hanya kamu yang dekat dengannya maka dari itu aku meminta tolong padamu."



Mendengar nama Arini di sebut membuat Raisa sangat penasaran tetapi juga sedikit ada rasa was-was, jangan sampai Arya melakukan atau menyuruhnya hal-hal untuk menyakiti Arini.



Raisa mengelap tangannya sembari berjalan menghampiri Arya, duduk di kursi hadapannya lalu memandang wajahnya dengan sangat serius.



"Anda tidak akan melakukan hal buruk lagi kan pada Arini, saya sudah seperti kakak baginya, semua yang Anda lakukan padanya saya sudah mengetahuinya. Jadi jangan macam-macam ya, karena saya yang akan menjadi tebeng untuk Arini dari semua orang-orang yang akan menyakitinya termasuk Anda." ucap Raisa berani.



"Kamu hanya kakak, sementara saya calon suaminya berani apa kamu melawan ku!" Arya kembali lagi ke mode kepedean yang sangat besar.



"Hilih..., kepedean anda terlalu besar, Tuan. Mimpinya saya rasa juga ketinggian, apa nggak takut nyungsep di got?" benar-benar sudah mengikuti jejak Arini nih si Raisa, dia selalu berani dan menantang Arya tanpa takut.




"A..." Raisa terbelalak setelah kulit kacang berhasil masuk. Dia kesal matanya melotot sembari tangan mengambil kulit kacang di dalam mulutnya.



"Silakan kembali ngoceh," sinis Arya tak melihat bagaimana wajah Raisa sekarang.



"Dasar bucin, dasar menyebalkan, dasar tuan angkuh!" amarah Raisa meledak.



"Diam atau tidak. Bicara lagi bukan hanya kulit kacang yang masuk tapi toplesnya juga akan meluncur."



Raisa langsung kicep, benar-benar keterlaluan Arya saat ini tak habis-habisnya selalu mengerjainya.



"Pekerjaannya tidak berat, juga tidak akan merugikan mu maupun Arini. Saya hanya mau kamu mengambil beberapa jelai rambut Arini karena saya tidak bisa melakukannya."



"Kalau Arini menceritakan semua masalahnya denganmu pasti dia juga pernah bilang kalau Arini tengah mencari orang tua kandungnya. Saya hanya ingin memastikan kalau perkiraan ku benar. Bagaimana? Apa kamu mau mengerjakannya? Bukankah dengan itu kamu telah membantu Arini menemukan orang tuanya?" Arya terus berbicara dan hanya sesekali melirik Raisa.

__ADS_1



Raisa diam mendengarkan, dia bilang kalau Arini mengatakan semua padanya tapi Arya percaya begitu saja. Padahal kalau apa yang Arya lakukan Arini tidak mengatakannya tapi kalau untuk Arini yang ingin bertemu dengan orang tuanya, dia selalu mengatakannya. Raisa hanya berbohong saja pada Arya.



"Tuan tidak bohong kan?" Raisa masih tak percaya.



"Apakah aku seperti pembohongan!" Arya terlihat sangat serius dengan apa yang dia katakan.



Arya ingin sekali bisa mengetahui kebenaran Arini, dia sangat penasaran dengan Arini juga Nilam maka dari itu dia ingin melakukan tes DNA menggunakan rambut mereka.



"Baik, akan saya kerjakan. Tetapi sebelum itu saya mau Tuan menjawab dengan jujur pertanyaan saya," ucap Raisa menegaskan.



"Saya tidak butuh pertanyaan mu," jawab


Arya menolak.



"Ya sudah kalau begitu, saya tidak akan melakukannya." Raisa hendak beranjak dia ingin pergi dari hadapan Arya tapi akhirnya Arya setuju untuk menjawab.



"Ya, saya akan menjawab. Apa pertanyaan mu?" Arya masih terus mengatakan dengan acuh, dia sama sekali tak fokus dengan Raisa dia hanya fokus dengan kacang yang dia makan.



"Apakah Tuan benar-benar menyukai Arini? Tuan mendekatinya bukan hanya untuk mempermainkannya kan? Tuan tidak akan mengambil apa yang tidak seharusnya Tuan ambil sebelum kalian benar-benar sah kan? Tuan juga tidak akan meninggalkannya setelah Tuan mendapatkannya kan?"



"Ya, ya seandainya suatu saat Allah menjodohkan kalian, Tuan tidak akan meninggalkan Arini setelah Tuan berhasil menyentuh Arini Kan?" Raisa sangat penasaran dengan semua itu.



Benarkah Arya menyukai Arini, mencintainya sepenuh hati atau hanya karena menginginkan sesuatu yang bersifat duniawi.



"Semua itu tidak perlu aku jawab. Jika kamu yakin padaku lakukan saja yang saya minta, tetapi kalau kamu tidak yakin saya yang akan mengambilnya sendiri." Arya beranjak, dia berjalan menjauh untuk pergi.



"Saya akan lakukan," Jawab Raisa.



Sama sekali tak menoleh si Arya meski mendengar jawaban Raisa, dia hanya tersenyum tanpa di ketahui oleh Raisa yang berdiri memandangi kepergiannya.



"Benarkah Tuan Arya akan melakukan itu? Maksudnya, apakah Tuan Arya benar-benar peduli dengan Arini dan akan membantu Arini menemukan orang tuanya?" Raisa sangat bingung tetapi ada sebuah keyakinan yang muncul dalam hatinya.

__ADS_1



Bersambung....


__ADS_2