Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)

Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)
82.Kak Dokter


__ADS_3

..._____...


...◦•●◉✿Happy Reading✿◉●•◦...


Meski hatinya tengah kacau Arini tetap menepati janjinya dia datang ke rumah sakit sebelum dia akan pergi bekerja. Dengan rok hitam juga seragam biru mudanya Arini masuk ke dalam rumah sakit, tentunya dia akan menjenguk Nilam lagi.


Sebelum masuk dia lebih dulu memetik bunga melati yang ada di taman rumah sakit. Begitu banyak bunga melati itu tak akan terlihat meski Arini memetik dua atau tiga saja.


Tas selempang hitam kecil menjadi temannya, tak ada isi yang berarti di dalam hanya dompet yang berisi identitasnya juga beberapa uang juga HP yang beberapa waktu lalu Arya berikan.


Dengan semangat Arini masuk meski senyumnya tak secerah seperti kemarin lagi. Dia belum bisa melupakan kenyataan pahit yang dia terima kemarin. Entah harus senang atau sedih karena kenyataan itu Arini belum bisa menata hatinya dengan benar.


"Assalamu'alaikum, Tante," tangannya kembali menutup pintu setelah dia berhasil masuk. Hatinya terasa sangat tenang saat melihat Nilam. Dukanya berkurang bahkan terasa hilang.


Arini duduk di tempat biasa, meraih tangan Nilam mengecup punggung tangannya sebelum dia menaruh bunga melati di telapak tangannya.


"Ini bunga untuk Tante," ucapnya.


Bunga itu langsung di genggam begitu saja oleh Nilam, benar-benar seolah ada sebuah ikatan antara mereka berdua yang tak bisa di ungkapkan dengan kata dan tak bisa di pahami melalui mata kedokteran.


"Bagaimana keadaan tante sekarang? tante mulai membaik kan? jangan lama-lama seperti ini, Tan. Kasihan pak Dokter, dia selalu sedih karena tante tak sembuh-sembuh."


"Hemm..., apakah tante juga tak mau lebih kenal dengan Arini? apakah tante tidak mau memeluk Arini. Arini..., hiks... hiks... hiks...," tangis Arini kembali pecah. Dia tak sanggup melanjutkan kata-katanya.


Dia ingin menceritakan semua yang dia alami tapi rasanya susah untuk di katakan. Semua seolah terhenti di tenggorokan dan tak sampai untuk keluar.


Hatinya seperti tercabik-cabik sangat sakit tapi dia tak mampu. Seandainya Nilam sadar sekarang Arini hanya ingin memeluknya dan tidur di pangkuannya seperti selayaknya seorang anak kepada ibunya.


Arini haus akan belain yang selama ini tak pernah dia bisa dapatkan. Dia begitu haus akan kasih sayang dari kedua orang tuanya yang mungkin tak menginginkannya.


"Apa tante tau? hari ini Arini sangat sedih. Arini tidak di harapkan oleh siapapun. Bahkan orang tua Arini juga membuang Arini."


"Tante, apakah Arini boleh memeluk tante? Arini sangat merindukan Ibu.." tangis Arini terdengar semakin pilu, dia semakin rapuh karena ceritanya sendiri.


"Boleh ya, Tan. Arini boleh memeluk tante, ya."


Arini berdiri dia benar-benar memeluk Nilam yang masih tak sadarkan diri. Air mata di tumpahkan lagi di baju yang Nilam pakai. Dia terus tersedu di sana mengeluarkan segala emosi melalui air matanya.


Begitu lama Arini dalam posisi itu rasanya tak ingin melepaskan Nilam sama sekali. Arini begitu nyaman, dia merasa hangat ketika memeluk Nilam.

__ADS_1


Tak Arini sadari, ada sepasang mata yang melihatnya. Dia adalah Hendra suami Nilam, dia baru saja datang dan langsung masuk untuk menjenguk istrinya.


Pemandangan yang begitu berbeda, Arini menangis sembari memeluk Nilam, sementara Nilam? sudut matanya juga ikut meneteskan air mata.


Alam bawah sadar Nilam akan selalu keluar jika Arini datang, emosinya akan kembali lagi bisa terlihat dengan semua yang gadis kecil itu katakan.


Hubungan yang seperti apa mereka berdua?


Hanya pertanyaan itu yang selalu menjadi bayangan di kepala Hendra.


Hendra hanya berhenti dan berdiri di belakang pintu, menyaksikan kedua wanita beda usia itu dengan ikut berkaca-kaca juga. Seolah cerita yang keluar dari mulut Arini juga mempengaruhi emosi Hendra juga.


Bukan hanya Hendra saja yang masuk, tapi Dimas juga masuk saat ini. Dimas juga di buat terkejut dengan apa yang dia lihat.


Dimas ingin menghampiri Arini juga Nilam namun di hentikan oleh Hendra.


"Biarkan seperti itu untuk sementara. Apa kamu tidak melihat Mamamu yang ikut merasa sedih dengan cerita gadis itu? Bahkan dia juga ikut menangis sekarang. Dengan ini Mamamu pasti akan cepat bangun."


Hendra menarik lengan Dimas, menghentikannya di saat langkah yang pertama.


"Tapi, Pa? " Dimas ingin tau, apa yang membuat Arini begitu sedih, hatinya juga ikut tersayat saat ini melihat gadis kecil itu menangis.


Terlihat Arini mulai melepaskan pelukannya dari tubuh Nilam, Arini meringis canggung karena telah membasahi baju yang di pakai oleh Nilam. Tangannya juga bergerak cepat menghapus air mata yang ada di pipinya.


"Maaf ya, Tante. Gara-gara Arini tante jadi basahkan bajunya," ucapnya. Arini mengambil tisu dia gunakan untuk mengelap air yang tak akan mungkin bisa kering tapi dia tetap lakukan.


"Loh, kok tante nangis sih! Cerita Arini bikin mewek ya. Maaf ya, Tante. Tidak seharusnya Arini menangis. Tante jadi ikutan sedih kan?" Arini juga menghapus air mata milik Nilam dengan begitu lembut.


"Arini...," Suara dari Dimas berhasil mengejutkan Arini, dia terperanjat lalu memutar tubuhnya dengan cepat.


"Kamu kenapa, kamu baik-baik saja?" Arini diam tak menjawab ada aura kebingungan di wajah Arini.


Arini menatap Dimas juga Hendra bergantian dia merasa tak enak.


"Pak dokter, Arini pamit dulu ya. Arini harus bekerja," ucapnya. Arini mulai melangkah, dia semakin canggung.


"Biar saya antar, " Dimas cepat mengejar Arini, dia tak mau membiarkan Arini sendiri di saat dia sedang sedih seperti sekarang. Meskipun dia sendiri tak tau apa penyebabnya seenggaknya Arini akan punya teman jika mau bicara dan tidak merasa sendiri.


"Tidak usah, Pak Dokter! Arini bisa naik angkot saja kok," tolak Arini. Dia akan lebih tidak enak lagi jika Dimas benar-benar mengantarkannya.

__ADS_1


"Sudah, ayo saya antar," Dimas malah berjalan mendahului Arini, dia tak mau kalah sampai Arini kabur lebih dulu.


"Tidak usah, Pak Dokter! Arini bisa sendiri," Arini sedikit berlari untuk mengejar langkah Dimas tapi tetap saja Arini tak bisa.


Arini begitu kesusahan untuk mengejar Dimas, kakinya terlalu kecil langkahnya juga lebih pendek daripada milik Dimas. Arini hanya bisa pasrah, menghembuskan nafas berat untuk menerima tawaran Dimas.


Tak lama mobil sudah ada di depan mata, Dimas membukakan pintu di bagian penumpang di sebelah pengemudi untuk Arini. Arini semakin tak enak hati perlakuan Dimas selalu manis padanya membuat Arini merasa tersanjung, namun dia merasa tidak pantas mendapatkan itu.


"Masuk," satu kata yang lolos dari mulut Dimas, dan berhasil menghapus keraguan dari Arini.


Arini hanya mengangguk kecil menarik dua sudut bibirnya lalu benar naik. Pintu pun tertutup oleh tangan Dimas.


Dimas juga langsung masuk, menyalakan mesin lalu menjalankannya dengan pelan. Sebenarnya ada was-was di hati Dimas, jika Arya tau entah apa yang akan dia katakan, tapi biarlah, Dimas lebih baik menerima omelan Arya daripada membiarkan Arini sendiri dengan hati yang tengah bersedih.


Dalam mobil Arini hanya diam, pandangan terus fokus melihat rumah-rumah yang di lalui lewat kaca samping.


"Arini, apa kamu baik-baik saja? " tanya Dimas memecah keheningan.


Arini menoleh, dia menggeleng tak mau mengakuinya, "tidak," hanya satu kata yang keluar dari Arini dan itu tidak berhasil membuat Dimas percaya, ada sesuatu yang Arini sembunyikan.


"𝘔𝘢𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘢𝘱𝘢 𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘢𝘭𝘢𝘮𝘪 𝘈𝘳𝘪𝘯𝘪. 𝘒𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘦𝘯𝘥𝘢𝘮 𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪? " 𝘣𝘢𝘵𝘪𝘯 𝘋𝘪𝘮𝘢𝘴.


"Kalau ada masalah cerita padaku, anggap saja aku adalah teman, atau kakak untukmu," ucap Dimas lagi.


Arini hanya tersenyum kecil dia tak ingin membuka kebenaran yang dia terima, dia takut tak akan bisa menahan air matanya lagi. Karena saat ini hatinya masih sangat rapuh, dia belum bisa kuat seperti biasanya.


"Pak Dokter tenang saja, Arini tidak akan pernah ada masalah," ucapnya. Dia meringis berusaha membuat Dimas percaya kalau dia memang baik-baik saja.


"Kenapa masih manggil aku pak Dokter? Bukannya.. "


"Hehehe..., maaf Arini lupa." ucap Arini memotong. Sudah menjadi kebiasaan Arini selalu memotong perkataan orang lain.


"Coba panggil aku dengan panggilan lain? " pinta Dimas.


Arini diam berfikir, kira-kira panggilan apa yang pantas untuk Dimas, "iya, Kak dokter."


///////


Bersambung....

__ADS_1


__________


__ADS_2