
Happy Reading..
Tugas Toni yang begitu banyak membuat dia sedikit kelimpungan, pagi-pagi dia juga sudah mulai menjalankan tugasnya.
Dengan mengendarai mobil fasilitas yang di berikan oleh kantor Toni terus melajukan nya, Toni berniat pergi ke toko perhiasan besar yang juga sekaligus menerima pembuatan dengan desain-desain tertentu.
Sampailah Toni di bangunan yang memiliki tujuh lantai itu. Tempat usaha yang sudah sangat terkenal sampai ke luar kota yang juga selalu bisa memanjakan dan memuaskan para wanita yang menggilai perhiasan.
Langkahnya semakin cepat, menuju tempat para pelayan yang tengah melayani semua pengunjung yang sudah datang dan meramaikan tempat yang selalu buka di pagi hari.
"Selamat pagi,Tuan. Ada yang bisa kami bantu?" tanya salah satu pelayan cantik dengan seragam merah berpadu dengan warna hitam.
"Apakah Tuan Adi sudah datang?" mata Toni memandangi lekat pelayan itu, menunggu jawaban darinya. Semoga saja orang yang dia cari sudah datang.
"Sudah, Tuan. Apakah Anda sudah ada janji?" begitu sopan pelayan itu bertanya pada Toni.
Tak dapat di pungkiri usaha di sana berkembang pesat dan mungkin itu adalah salah satu dari beberapa kuncinya, yaitu pelayanan yang sangat baik.
"Sudah," jawab Toni. Toni adalah orang pintar mana mungkin dia akan datang begitu saja sebelum ada janji bisa-bisa dia hanya akan pulang dengan tangan kosong.
Terlihat pelayan itu mengambil telfon di depannya sepertinya hendak menghubungi Pak Adi, Bos nya.
Setelah beberapa saat menunggu akhirnya Toni melihat pelayan itu tersenyum.
"Mari, Tuan." pelayan itu melangkah lebih dahulu menuntun Toni untuk bisa ke tempat di mana Pak Adi sudah menunggunya.
Toni mengangguk dengan wajah datar, berjalan mengikuti pelayan itu.
Keduanya berhenti di depan pintu lift, dengan tangannya yang cekatan pelayan itu menekan tombol dan selang beberapa saat pintu lift terbuka.
__ADS_1
"Mari," sekali lagi pelayan itu tersenyum begitu ramah. Sedikit mengayunkan tangannya untuk meminta Toni masuk kedalam lift.
"Terimakasih," susuai permintaan Toni masuk ke lift begitu juga dengan pelayan cantik itu yang juga ikutan masuk.
Hanya beberapa menit saja mereka berdua ada di dalam lift, dan tak lama setelah itu lift terbuka karena mereka sudah sampai ke tujuan yang sebenarnya, lantai tujuh.
Toni terus mengikuti tanpa bersuara melangkah sesuai dengan gadis itu melangkah di depannya.
"Silahkan, Tuan. Pak Adi sudah menunggu," Toni mengangguk dia juga masuk tanpa menjawab hanya dengan seperti itu dia rasa sudah cukup.
Dan benar saja, kedatangannya sudah di tunggu oleh Pak Adi yang duduk di kursi kebesarannya.
"Pagi, Pak Adi. Maaf harus menggangu Anda pagi-pagi." Toni begitu sungkan dia juga sangat gugup.
Laki-laki yang bernama Pak Adi melirik ke arah Toni yang sudah tersenyum mengulurkan tangan. Dengan senyum yang ramah juga Pak Adi menyambut uluran tangan dari Toni.
Heran saja kan? Orang besar yang dia tau adalah asisten Arya Gautama datang sendiri ke tempatnya padahal bisa saja dia memanggil dan Pak Adi akan datang.
Toni membuka tasnya, mengambil kotak hitam dan menyerahkannya kepada Pak Adi, "Saya hanya mau tau, apakah itu barang asli atau palsu." Pinta Toni.
"Apa ini, Tuan?" Pak Adi mengernyit seraya tangan mengambil kotak tersebut.
"Kalung."
Pak Adi mengangguk, tangannya juga langsung membuka kotak itu dan mengeluarkan isinya. Pak Adi terlihat mengerutkan kening karena berpikir keras.
"Sepertinya kenal dengan kalung ini. Ya, kalung ini saya sendiri yang membuatnya ada seseorang yang memintanya dengan khusus. Tetapi siapa ya? Saya benar-benar tidak ingat," Pak Adi masih terus berusaha untuk mengingat-ingat siapa yang merupakan meminta di buatkan kalung yang seperti itu.
__ADS_1
"Bagaimana dengan harganya?" Toni begitu antusias dia sampai mencondongkan wajahnya untuk lebih dekat.
"Ini sangat mahal, Tuan. Karena ini adalah permana yang sangat langka. Semua bahannya juga dari barang yang sangat bagus dan sangat susah di cari," Pak Adi terus menjelaskan. Dia ingat dengan semua onderdil yang dia pergunakan untuk membuatnya tetapi dia tidak ingat siapa yang memintanya.
"Tolong bantu saya, Pak Adi. Tolong ingat-ingat siapa yang memintanya. Ini sangat berpengaruh dengan kehidupan seseorang," Toni bersikeras.
"Saya akan berusaha, Tuan. Setelah saya mengingatnya saya akan memberitahu Anda," jawab pak Adi.
Meskipun belum mengetahui siapa pembuatnya tetapi pekerjaan Toni sedikit terselesaikan dengan dia yang mengetahui itu barang asli atau palsu, dan ternyata barang asli yang bernilai jual hampir 2M.
Pagi Arya yang sangat cerah terasa sangat membuatnya bahagia, dia begitu antusias untuk pergi ke kantor dia sangat yakin akan bertemu dengan gadis kecil yang menjadi pujaan untuk hatinya yang sudah sangat lama kosong dan tak pernah ada cinta.
Dengan pakaian yang sudah rapi juga tas kerja di tangannya Arya keluar dari apartemennya. Dia mengambil inisiatif berangkat pagi dan akan menjemput Arini ke rumahnya. Mana mungkin dia akan sabar bertemu di kantor? Lebih baik menjemputnya di rumah dan berangkat bersama, bukankah itu akan semakin membahagiakan.
''Aku datang Arini, semoga saja kamu belum pergi karena ini juga masih sangat pagi tidak mungkin kan kau berangkat pagi begini?'' ucapnya mengada-ada.
Kakinya terus melangkah dengan cepat menjemput mobilnya terlebih dahulu baru dia akan datang menjemput gadisnya.
Arya teru tersenyum dia begitu bahagia membayangkan akan wajah Arini yang semakin hari terlihat sakin cantik di matanya.
Arya begitu buru-buru setelah dia sampai di tempat mobilnya dia langsung masuk dan cepat menyalakan mesinnya. Mobil pun langsung tancap dan pergi meninggalkan tempat.
Bukannya semangat pagi kali ini Arini terlihat sangat malas, waktu yang biasanya dia sudah rapi bahkan kadang sudah berangkat kini dia masih duduk di ruang tengah dengan melihat layar ponsel yang terdapat foto dia yang di cium oleh Arya.
Arini masih sangat bingung dengan benda kotak yang pipih itu, bahkan sampai sekarang dia belum juga bisa mengganti dengan foto yang lain.
''Pak Tuan, benarkah jalan kita akan mudah? benarkah tak akan ada yang menjadi penghalang untuk kita bersatu? dan... apakah benar Pak Tuan tidak melakukan apapun dengan kak Melisa? aku masih belum yakin seratus persen, dulu Pak Tuan juga hampir melakukan itu dengan Kak Melisa apa kali ini kalian tidak benar-benar melakukannya?''
Orang bodoh pun akan bisa menilai dengan melihat apa yang telah terjadi. Dua kali Arini memergoki mereka bermesraan apakah itu tidak akan berlangsung dengan hal yang lebih?
''Pak Tuan juga kenapa tidak mengembalikan kalung Arini sih! apa untungnya coba? itu kan cuma kalung yang tidak ada nilainya,'' Arini terlihat merengut sebal dia sangat menginginkan kalungnya tetapi Arya tidak mau memberikannya entah apa maksudnya.
''Kalung itu sangat berharga untukku, sama seperti kamu yang sangat berharga. Aku akan memberikannya padamu setelah kamu sah menjadi milikku. Bagaimana? apakah kamu tertarik untuk bisa secepatnya sah? dan menjadi ratu dari Arya Gautama?''
__ADS_1
Bersambung...