
..._____...
...◦•●◉✿Happy Reading✿◉●•◦...
Arya di buat bingung dengan Arini yang menjadi pendiam sekarang. Biasanya dia akan ngomel, lari, atau menjauh saat dirinya datang. Dia selalu siap siaga tak mau Arya mendekatinya tapi sekarang? Dia malah diam membisu seperti orang tidak bisa bicara, bahkan dia melamun dan tak menyadari akan kedatangannya yang sekarang sudah ada di sampingnya.
Tangan Arya terangkat, bergerak di depan wajah Arini tapi tetap saja dia tak bergeming.
"Ada apa dengan nih anak? biasanya selalu kabur kalau aku datang, tapi sekarang? apa dia sedang sakit, atau sedang ada masalah?" tanya Arya pada dirinya sendiri.
Bingung Arya mau buat Arini sadar. Dia berpikir pakai cara yang seperti apa yang pasti langsung jitu dan berhasil menyadarkannya.
Kebetulan Arini masih memegangi semprotan untuk kaca, dengan isengnya Arya mengambilnya dia pikir Arini akan sadar namun ternyata tidak juga.
Sungguh luar biasa nih anak, tidak tanggung-tanggung kalau melamun. Kalau begini jika akan ada orang yang berniat jahat padanya pasti akan sangat mudah.
𝘗𝘺𝘶𝘳𝘳𝘳... 𝘗𝘺𝘶𝘳𝘳... 𝘗𝘺𝘶𝘳𝘳...
Dengan sengaja Arya menyemprotkan air itu ke wajah Arini membuatnya kelabakan untuk menutupi wajahnya.
"Akk..., bocor bocor bocor...! " teriak Arini. Arini beranjak wajahnya juga mendongak setelah dia membukanya.
"Mana mungkin bocor, kan tidak hujan?" bingung Arini.
Arini mengedarkan pandangannya siapa tahu ada orang yang iseng kepadanya namun ternyata dia tidak mendapatkan siapapun yang ada di sekitar tempatnya berdiri. Lalu siapa? hanya itulah yang menjadi pertanyaan Arini sekarang.
Tak mungkin kan air tiba-tiba datang sendiri dan menyembur ke wajahnya tanpa ada orang yang melakukan itu kepadanya, sungguh mustahil.
Arini melangkah mencari-cari seseorang yang mungkin telah mengerjainya, hingga sampai di salah satu pertigaan di lantai lima puluh itu.
"Tidak ada o.... , akk...!" Arini kembali berteriak karena wajahnya kembali di sembur dengan air untuk yang kedua kalinya.
Arini membalikkan badannya dengan cepat, berusaha melindungi wajahnya dari air yang mungkin saja itu berbahaya. Sering Arini dengar ada orang yang sengaja menyiramkan air keras ke wajah orang yang di benci, dan Arini sudah membayangkan itu akan terjadi kepadanya.
Hening, tak ada suara apapun setelah itu. Arini mengintip pelan siapa tau orangnya terlihat sekarang. Namun tetap saja nihil, tak ada siapapun.
__ADS_1
"Apakah ruangan ini berhantu?" mata Arini menerawang ke segala penjuru. Bulu kuduknya sudah berjajar rapi. Tengkuknya juga terasa panas dan berat, kakinya apalagi? susah untuk berjalan apalagi untuk berlari.
Arini memutar sempurna tubuhnya tetap saja dia tak melihat siapapun.
"Arini....," suara yang begitu menakutkan membuat Arini semakin merinding.
Suaranya terdengar tepat di belakangnya, Arini ingin menjerit tapi suaranya? suaranya hilang kemana? apakah suaranya sudah lari lebih dulu karena ketakutan, tidak mungkin kan?
"Arini...," suara itu terdengar lagi dan sekarang semakin jelas di telinganya.
Telapak tangan Arini terus mengusap-usap lengan juga tengkuknya sepertinya dia benar-benar ketakutan karena suara itu. Lagian siapa yang tidak akan takut jika ada suara tanpa ada orangnya? pasti ada makhluk lain yang kasat mata kan yang ada di sana.
"Jangan gangguin Arini, ya," Akhirnya suara itu terdengar juga keluar dari mulut Arini. Bahkan suaranya terdengar sangat ketakutan karena terdengar gemetar.
Beberapa hari Arini bekerja di sana dan baru kali ini dia mengalami hal-hal yang aneh. Ada air yang tiba-tiba saja datang sendiri, ada suara tanpa rupa, dan juga terdengar suara langkah namun tak ada orang yang beraktivitas di sana kecuali dirinya sendiri.
Arini yang ketakutan malah membuat Arya semakin getol mengganggunya, tapi semakin lama kasihan juga karena Arini terlihat seperti orang yang bodoh, eh..., dia kan emang bodoh menurutnya.
"Doorrr...! " Kedua tangan Arya menyentuh kedua bahu Arini bertahan di sana beberapa saat.
"Akkk... " teriak Arini keras. Tangan sudah langsung bergerak ingin bertindak untuk memukul karena dia tau tak mungkin ada hantu bisa bicara.
Baru saja Arya ingin tertawa terbahak-bahak karena begitu bahagia sekarang dia urungkan karena rasa sakit yang dia terima.
Arya langsung mendapatkan ganjarannya, siapa suruh isengin orang dan sekarang kena batunya kan? terkena pukulan dari tangan yang bertulang tapi tak ada dagingnya. Pasti benar-benar sakit karena tak ada empuk-empuknya.
"Kamu..., kamu..., terlalu Arini. Kenapa kamu memukulku! dasar OB kurang asem," ucap Arya yang masih meringis.
"Pak tuan ya, Arini kira benar-benar hantu jadi Arini pukul saja kan. Salah Pak tuan sendiri isengin Arini, kena getahnya juga kan? " tak ada rasa bersalah yang terlihat di wajah Arini, gadis itu bahkan terlihat biasa-biasa saja.
"Kenapa jadi nyalahin saya. Saya ini bos di sini! jangankan OB siapapun harus patuh pada saya. Kalian semua harus tunduk kepada orang yang punya tempat ini kalau tidak... "
"Kalau tidak apa, Pak Tuan?" suara Arini terdengar menantang.
"Kalau tidak maka tidak akan mendapatkan gaji. Kalian bakal kerja rod setiap hari full! " jawab Arya menjelaskan.
__ADS_1
"Kayak penjajahan saja nih, Pak Tuan. Jangan begitu dong pak Tuan. Jadi pemimpin itu harus baik, harus suka bersedekah, suka ngasih bonus, tidak boleh marah-marah juga tidak boleh memaksakan kehendaknya. Baru pak Tuan akan mendapatkan pahala dengan kedudukan pak Tuan. Dan Allah juga akan mencatat beribu-ribu kebaikan untuk pak Tuan. Apalagi mereka mendoakan yang baik-baik pada pak Tuan, kan untungnya jadi double," ucap Arini menjelaskan.
Lagi-lagi Arya harus merasakan dinasehati oleh OB-nya sendiri sungguh terasa sangat memalukan.
Bocah satu ini kenapa tak ada takut-takutnya sama sekali dengannya. Dia bisa saja menjawab apapun yang Arya katakan dan Arya pasti akan kalah kalau Arini sudah mulai bicara.
Ternyata wanita itu sangatlah cerewet, Arya mengatakan atau bertanya hanya beberapa kata saja tapi gadis ini selalu menjawabnya panjang kali lebar sudah seperti kereta.
"Seharusnya kamu itu cocok jadi ustadzah, bukan jadi OB!" ketus Arya.
Kesal itu pastilah, siapa juga yang tidak akan kesal jika selalu saja mendapatkan nasehat dari Arini, kayak Arya saja yang bodoh kan?
"Ya memang itu cita-cita Arini, Pak Tuan. Tapi mana ada ustazah yang tidak pandai seperti Arini. Nanti semua santrinya pada kabur lagi kayak pak Tuan," cerocosnya.
Benar-benar bikin ngebul nih anak satu.
"Kenapa tadi kamu diam saja, melamun kayak mayat begitu! "
Arya sebenarnya mau tanya atau ngajak orang berantem sih? Nggak ada halus-halusnya sama sekali.
"Kamu itu di sini saya gaji untuk bekerja, bukan untuk melamun. Kalau ada masalah tinggal di rumah, jangan di bawa-bawa ke kantor, bikin orang emosi saja."
"Emangnya bisa ya, Pak Tuan? kalau ada masalah tinggal di rumah. Bayangan saja akan selalu ikut sama yang punya. Bagaimana bisa masalah di tinggal? bercandanya Pak Tuan sungguh garing. Sama sekali tak membuat Arini tertawa."
"Heyy..., aku bukan pelawak! siapa juga yang mau kamu tertawa."
"Jangan marah-marah dong, pak Tuan. Nanti cepat ubanan loh rambutnya."
"Bodo," jawab Arya. Tak ingin lagi lah menanggapi Arini. Dia akan tua lebih cepat nantinya.
"Hahaha..., pak Tuan gimana sih! Arini kan memang bodoh! "
Benar-benar kembali ngebul untuk yang kesekian kalinya kepala Arya.
///////
__ADS_1
Bersambung...
_______