Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)

Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)
71.Tak Mungkin Menyukai


__ADS_3

...________...


...◦•●◉✿Happy Reading✿◉●•◦...


Mobil Arya berhenti di depan rumah sakit Gautama. Sebenarnya dia masih ogah keluar dari apartemennya, tapi bukan Arini kalau diam dan menerima begitu saja.


Airin terus merengek bahkan dia tak berhenti menangis karena ingin ke rumah sakit dan Arya mendadak luluh begitu saja. Dia juga ogah semalaman suntuk mendengar anak orang nangis di apartemennya.


"Terima kasih ya, Pak Tuan. Sekarang pak Tuan boleh pulang," wajah Arini berbinar, senyumnya mengembang saat dia mengatakan itu. Tangannya sudah menempel di pintu mobil dia sudah siap untuk membukanya.


Wajah Arya terlihat begitu masam, hembusan nafas panjang pun keluar berulang-ulang dari hidungnya.


"Apa hanya itu saja? tak ada tindakan apa gitu yang ingin kami berikan padaku," Arya mengernyit, dia menatap Arini dengan penuh harap entah tindakan seperti apa yang dia inginkan.


"Arini tidak bisa melakukan apapun, Pak Tuan. Hem..., sebagai tanda terima kasih Arini, besok pagi Arini masakin sarapan deh. Arini akan bawa ke kantor," jawab Arini.


"Aku tidak mau itu," wajah Arya terlihat jutek.


"Terus? " Arini melotot memandangi Arya. Dia bingung sebenarnya apa yang Arya mau darinya Arini benar-benar tak tau jalan pikiran orang dewasa. Ya meskipun dia juga sudah dewasa tapi otaknya masih bocil.


"Huff..., kapan sih kamu bisa menjadi pintar! sesekali kalau aku ngomong itu kamu bisa ngerti dong kan enak, nggak harus panjang lebar jelasinnya," Arya mulai emosi sendiri. Dia mana bisa sabar dengan kebodohan Arini yang benar-benar sudah akut.


"Nggak tau kapan Arini jadi pintar, Pak Tuan. Soalnya Arini sudah terus belajar tapi tetap bodoh," jawabnya dengan begitu polos. "Otak Arini kan memang hanya setengah, atau mungkin tidak sampai segitu, jadi tak akan bisa menyamai pak Tuan."


"Aku bingung sama kamu ya, kamu itu tidak pintar, tapi kamu bisa saja menjawab apa yang aku katakan. Sebenarnya kamu itu memang benar-benar bodoh atau hanya pura-pura bodoh sih! "


"Nggak tau," Arini hanya menggeleng, "sudah ya Pak Tuan, Arini harus menemui nenek. Arini pasti sudah di tunggu. Assalamu'alaikum Pak Tuan... "


Arini membuka pintu mobil, dia buru-buru keluar. Tapi ternyata Arya juga ikut keluar dan membuntuti tanpa sepengetahuan Arini.


Arya terus diam dia melangkah di belakang Arini. Sementara yang di ikuti juga tak sadar sama sekali. Arini baru tau saat mereka berpapasan dengan Dimas.


Dimas berhenti, Arini pun juga berhenti apalagi Arya, Arya berhenti dan kini mengambil posisi berdiri di samping Arini.

__ADS_1


Arini menoleh, dia terkejut melihat Arya yang sudah ada di sebelahnya. Dia kira tadi Arya langsung pulang tapi ternyata? "Loh! Pak Tuan nggak jadi pulang? tadi katanya lelah, kok malah... "


"Kenapa, nggak boleh?! terserah saya mau kemanapun," jawab Arya dengan angkuh.


"Siapa yang bilang tidak boleh. Semua orang boleh kemanapun dia mau. Semua punya hak untuk itu termasuk Pak Tuan," jawab Arini.


Tuh kan, Arya jadi curiga sepertinya Arini benar-benar bodoh atau hanya selalu pura-pura bodoh. Tak mungkin kalau dia bodoh dia selalu pintar menjawab bahkan tanpa berpikir terlebih dahulu.


Dimas masih diam, dia hanya memandangi kedua insan beda usia dan beda kepribadian itu.


"Kalian darimana? " tanya Dimas menyelidiki. Akhirnya Dimas angkat bicara. Dia begitu penasaran sebenarnya mereka berdua dari mana dan ngapain saja, Dimas begitu kepo.


Arini langsung menoleh, meringis begitu manis. Arini akan selalu manis jika di hadapan Dimas tapi tidak jika di hadapan Arya dia selalu manis-manis terpaksa.


Bukan Arini saja yang menoleh Arya pun juga sama. Wajahnya tak semangat bahkan terlihat begitu acuh-acuh sebal.


"Bukan urusanmu," jawab Arya. Keangkuhan benar-benar melekat pada Arya bahkan sudah mendarah daging.


Dimas hanya bisa menghela nafas, dia tak bisa melawan Arya jika sudah seperti itu dia terlalu takut bisa-bisa dia kehilangan pekerjaannya.


"Wa'alaikumsalam.. " jawab Dimas.


Bukannya menjawab Arya malah melotot tajam, dia kesal dengan Arini. "Heyy..., apa aku tidak di anggap! Aku juga manusia yang masih bernafas loh! heyyy...! " teriak Arya.


Arini tak menanggapi dia tetap melaju bahkan dia juga tak menoleh sama sekali.


"Ishh..., bocah itu. Awas saja besok," Arya di buat geregetan lagi oleh Arini. Bisa-bisanya anak itu selalu mempermainkannya.


Arya bingung sendiri dengan jalan pikirannya, dia selalu di bikin kesal atau jengkel oleh Arini tapi dia sama sekali tak bisa benar-benar marah dengannya bahkan jika Arini tak terlihat sehari saja dia juga terus mengomel karena mencarinya, benar-benar membingungkan.


"Tuan Arya, Anda ajak kemana Arini? Anda tidak melakukan sesuatu kan padanya?" tiba-tiba Dimas bertanya, dia sudah tak tahan lagi memendam rasa penasaran yang ada.


Hatinya terus menyeruak selalu panas juga tak rela jika Arini dekat dengan Arya. Yang jelas Dimas hanya tak mau sampai Arya menghancurkan gadis polos seperti Arini, apalagi kalau sampai tak tanggung jawab setelah melakukannya.

__ADS_1


Wajah Arya menoleh cepat, matanya juga membulat dia tak suka ada orang yang ikut campur dengan urusannya, dia tak suka ada orang yang terus kepo dengan kehidupannya. Dia mau melakukan apapun juga bukan hak dari orang itu juga kan, itulah yang menjadi pikiran Arya.


"Bukan urusanmu," jawab Arya menekankan. Wajahnya bahkan terlihat sadis kepada Dimas dia benar-benar tak menyukai Dimas yang terlalu ikut campur.


"Tapi, Tuan! Arini masih sangat polos dia juga gadis baik-baik, saya mohon jangan mencoba untuk menghancurkannya, Tuan. Dia bukan seperti wanita-wanita yang selalu berkencan dengan Anda, Tuan," Dimas begitu semangat untuk memperingatkan Arya dia tak akan rela jika Arini di samakan seperti wanita yang selalu bersama dengan Arya.


"Bukan urusanmu juga," Arya tetap tak mengindahkan apa yang Dimas katakan. Dia juga tau kalau Arini tidak sama seperti wanita pada umumnya, dan Arya ingin lebih mengerahuinya.


Arya melenggang pergi dari hadapan Dimas, moodnya akan benar-benar berubah jika dia terus berada di hadapannya.


Sementara Dimas masih tak mau menyerah dia tetap ingin membuat Arya menjauhi Arini.


"Tuan, tolong jangan pernah berfikir untuk menghancurkan masa depan Arini, Tuan," Dimas berjalan mengejar Arya, berusaha keras untuk menyamakan langkah kaki jenjang Arya yang sudah lebih dulu berjalan.


Arya benar-benar jengah dengan apa yang Dimas lakukan, dia tak suka di campuri semua masalahnya, semua yang dia lakukan, dan semua yang menjadi keinginannya.


Arya berhenti mendadak, memutar tubuhnya untuk menghadap ke arah Dimas. Matanya membulat, wajahnya sudah sangat menyeramkan.


"Ohh..., atau jangan-jangan kamu menyukai Arini, iya?! jangan harap kamu bisa mendapatkannya. Dia adalah mainan ku, dan akan selalu seperti itu. Sebaiknya kamu menjauh darinya," Arya begitu menegaskan, dia semakin marah jika ada laki-laki yang terlalu memperhatikan Arini meskipun itu Dimas sahabatnya sendiri.


Dimas gelagapan, dia bingung mau menjawab apa dia belum tau dia menyukai Arini atau itu perasaan apa yang ada di dalam dadanya, semuanya juga belum jelas.


"Jauhi dia," jari telunjuk Arya berdiri tepat di wajah Dimas, wajahnya mencondong juga tatapan matanya begitu tajam.


Hati Dimas sangat marah, tapi dia tak bisa mengeluarkannya. Dia tak punya keberanian untuk itu.


Arya menurunkan tangannya, dan cepat berlalu meninggalkan Dimas di sana.


"Apakah tuan Arya menyukai Arini? tapi tidak mungkin. Hati tuan Arya sudah mati akan cinta. Tak mungkin dia akan tertarik pada wanita untuk di ajak serius, tuan Arya pasti hanya ingin memainkan Arini saja."


/////


Bersambung....

__ADS_1


__________


__ADS_2