Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)

Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)
214.Kredit apa?


__ADS_3

Happy Reading...


Sambutan untuk kepulangan Arya juga Arini sudah di siapkan oleh Hendra sekeluarga. Mereka begitu antusias menyambut anak dan menantunya.



Bukan hanya sekedar menyambut saja, tapi mereka juga menyiapkan semua makanan kesukaan untuk keduanya. Tak ketinggalan es krim rasa cokelat yang menjadi makanan paling di sukai oleh Arini.



Semua sudah menunggu di ruang tengah, mereka sudah tidak sabar lagi apalagi baru saja Arya menghubungi mereka kalau Arya juga Arini hampir sampai.



"Assalamualaikum..." seru seseorang dari arah luar rumah.



"Wa'alaikumsalam...!" Hendra, Nilam, kakek Susanto juga nek Murni sudah langsung berbondong-bondong keluar, menyambut Arya Arini yang sudah sampai.



Mereka berempat celingukan saat sampai di depan pintu, tak mereka lihat Arya Arini kecuali Dimas saja yang datang juga Raisa.



Dimas meringis sementara Raisa merengut sebal karena kesal dengan Dimas. Dia baru bekerja dan dengan paksa di ajak ke rumahnya dengan embel-embel Nilam yang memerintahkannya. Entah benar atau hanya bualan Dimas saja.



"Arini di mana?" Nilam masih saja menoleh ke belakang Dimas.



"Ya elah, Ma. Mentang-mentang anak perempuannya kembali anak lakinya di lupain. Sakitnya hati ini, Ma," celoteh Dimas.



"Bukan begitu, Sayang. Mama tidak akan pernah melupakanmu ataupun Arini. Kalian berdua ada mutiara untuk Mama," Nilam tersenyum sembari mengelus pindah Dimas.



"Uhuk, keselek, Ma."



"Hus! Ada-ada saja kau ini," Hendra yang menanggapi gurauan Dimas.



"Tuh mereka," kakek Susanto begitu antusias, menunjukkan mobil Arya yang mulai masuk ke pekarangan rumah.



Semuanya begitu berbinar, melangkah bersamaan untuk menyambut Arini. Tak lama mobil berhenti Arya lebih dulu keluar, membukakan pintu untuk Arini dan langsung menggandengnya.



Semua semakin senang melihat perlakuan Arya yang begitu manis pada Arini. Mereka pikir Arya akan tetap dingin ketika bersama Arini tapi ternyata tidak. Dia terlihat lebih romantis tidak sesuai dugaan.



"Pemandangan yang sangat langka," ujar Dimas mengamati.



Ingin Dimas mengabadikan momen itu, mengambil ponselnya dari saku dan siap mengambil foto mereka berdua. Tapi apa yang Dimas lakukan tak mendapatkan izin dari Arya yang seketika tau lalu memberikan tatapan matanya yang tajam.



"Astaga, adik ipar gue gitu amat sama kakak iparnya," keluh Dimas. Tangannya dia turunkan lagi dan dengan terpaksa kembali mengantongi ponselnya.



"Hahaha... Katanya udah kenal baik sama tuan Arya?" Raisa berjalan menghampiri Dimas menertawakannya yang tak bisa mendapatkan foto Arya juga Arini.


__ADS_1


"Berisik!" kesal Dimas lalu berlalu meninggalkan Raisa yang terus menertawakannya.



"Gagal kok sewot, lucu sekali. Hhhh..."



Nilam langsung memeluk Arini, berkali-kali mengecup pipinya dengan sangat senang.



"Akhirnya kamu pulang ke rumah Mama, Sayang," ucap Nilam. Baru saja sehari semalam tidak bertemu rasanya sudah sangat lama. Mungkin semua itu karena Arini juga Nilam tidak pernah bersama semenjak Arini lahir jadi seberapapun lama atau sebentar Arini pergi akan sangat membuatnya merindukannya.



"Ma, Arini sangat merindukan, Mama," rengek Arini dan terus memeluk Nilam. Ternyata bukan hanya Nilam saja yang merasa kangen tapi Arini juga sama.



"Yuk masuk," ajak Nilam seraya menuntun Arini untuk masuk ke rumahnya.



"Selamat datang, Nak Arya," Hendra yang menyambut Arya, merangkulnya dan menuntunnya masuk.



Hendra juga Arya berjalan di belakang Arini juga Nilam. Sementara kakek Susanto juga nek Murni menunggu di depan pintu.



"Kek," Arini langsung menyalami kakek Susanto, memeluknya dengan sangat erat. Biarpun Arini tau kakek Susanto bukan kakek kandung untuknya tapi dia sudah lebih dari kakeknya sendiri.



"Bagaimana kabar mu, Nak?" dielusnya pipi Arini setelah Arini melepaskan pelukannya.




Dibalas dengan cara yang sama oleh nek Murni. Bukan hanya rasa bahagia telah melihat Arini bahagia tapi juga rasa haru yang akhirnya memunculkan air mata dari pelupuk mata tua nek Murni.



"Selamat ya, Nak," ucapnya.



"Terimakasih, Nek,"



~~~~••~~~~~



Begitu terkesan Arya berada di rumah Hendra. Rumah yang begitu hangat dan penuh dengan kebahagiaan. Padahal Arya juga sangat yakin kalau kebahagiaan itu datang seiring kembalinya Arini di tengah-tengah mereka.



Kedatangan Arini bukan sebagai cahaya untuknya saja, tapi juga untuk keluarganya sendiri. Keluarga yang hampir hancur sekarang kembali hangat lagi dan semakin besar kebahagiaannya.



Di meja makan saat ini telah jelas kalau semuanya sangat bahagia tak ada satupun yang berwajah masam.



Arya maupun Arini benar-benar di perlakuan spesial oleh Nilam. Biasanya para asisten yang akan mengambilkan makanan juga melayaninya, tapi kali ini Nilam sendiri yang melakukannya.



"Ma, biar Arini saja yang melakukannya," ucap Arini yang merasa tak enak. Masak Nilam terus sibuk sementara dia sendiri duduk manis dan menerima semua perlakuan itu.


__ADS_1


"Biar Mama yang melakukannya, Sayang. Tidak apa-apa, kamu duduk saja dan nikmati makanan mu," jawab Nilam yang merasa sangat senang bisa melakukan itu untuk anak dan menantunya.



"Ma, Dimas nggak di ambilin juga?" protes Dimas. Kini wajahnya terlihat masam.



"Oh, kamu mau juga? Makanya cepat nikah, biar Mama perlakuan kamu spesial sama seperti adek mu," gurau Nilam.



Arini tersenyum geli, tapi dia sembunyikan dengan telapak tangannya.



"Kenapa? Seneng banget ya ngetawain kakak," Dimas tak terima saat melihat Arini yang menertawakannya.



"Nggak, Kak. Arini tidak menertawakan kakak. Tapi menurut Mama ada benarnya juga sih. Cepatlah kakak nikah, biar wajahnya lebih segeran dikit. Acem banget dari kemarin," Arini ikutan meledek juga sekarang.



"Kakak lihat aja tuh Pak tuan, wajahnya sekarang seger kan? Kemarin acem banget. Tidak sedap di lihat juga kayak kurang micin," ocehnya.



"Pak Tuan?" semua saling lempar pandang karena Arini masih memanggil suaminya dengan sebutan pak Tuan.



Mata Arya membulat, kayaknya istrinya mulai kumat lagi deh. Bahkan dia hanya diam sedari tadi dan kini ikutan kena semprot juga.



"Pak Tuan kenapa? Keselek?" tanyanya begitu polos. Tak tau bagaimana hati suaminya sekarang, "nih minum," tangannya juga sontak menyodorkan gelas kepada Arya.



"Bagaimana tidak segeran udah dapat vitamin limited edition," jawab Dimas sekenanya.



"Maksudnya?" Arini mengernyit.



"Iya, vitamin langka. Gimana, Dek! udah mulai di kredit belum?" tanya Dimas yang membuat Arini semakin bingung.



"Arini tidak beli apapun, kenapa harus di kredit? Kakak kalau ngomong tidak pernah jelas. Selalu belak-belok," protes Arini.



"Hadeh, udah nikah juga masih saja nggak ngerti. Tanya aja tuh sama suamimu, pasti dia ngerti udah di kredit apa belum," Dimas melirik sejenak ke arah Arya tapi laki-laki itu tak bereaksi apapun. Dia hanya akan bereaksi kalau istrinya yang mulai berbicara kalau yang lain mah masa bodoh.



"Pak Tuan beli apa? Tumben pakai di kredit. Biasanya kan kontan," tanya Arini menatap Arya.



"Aku tidak beli apapun Arini."



"Tapi kata kak Dimas, pak Tuan kredit. Kredit apa?"



Semua tersenyum melihat Arini sementara Arya hanya bisa tersenyum getir karena istrinya yang tak tau apa yang di maksud oleh Dimas. Benar-benar Dimas yang harus dapat hukuman karena telah membuat istrinya pusing.



Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2