Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)

Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)
44.Jangan Lupakan Hutangmu


__ADS_3

...____...


...◦•●◉✿Happy Reading✿◉●•◦...


Arya sudah berganti dengan baju yang lain sekarang, dia juga sudah terlihat sangat segar juga wangi, tak seperti sebelumnya saat dia bangun tidur yang penampilannya tidak karuan.


Kali ini Arya sudah sangat bingung mencari Arini, dia sudah berkeliling rumah sakit tapi belum juga dia menemukannya. "Sebenarnya di mana Arini? " Arya masih terus melangkah, matanya terus celingukan mencari-cari gadis yang beberapa hari ini membuat darah tingginya kumat, bahkan membuat amarahnya seakan ingin meledak karena semua tingkah konyolnya.


"Apa mungkin dia datang ke ruangan neneknya? ya! pasti dia ke sana," langkah Arya semakin di percepat saat dia mempunyai keyakinan kalau Arini akan datang ke ruangan Neneknya.


Arya sudah tidak sabar ingin secepatnya menemukan gadis yang beberapa hari ini telah mengalihkan konsentrasinya dalam semua kebiasaannya, entah dari pekerjaannya maupun dari aktivitas buruknya.


Sejak Arini datang ke perusahaannya Arya selalu saja ingin mengerjai Arini memberikan pelajaran padanya dari semua tingkah konyol yang selalu Arini lakukan padanya, namun sampai sekarang semua yang dia rencanakan selalu saja gagal tak sesuai rencana.


Semakin dekat dengan ruangan di mana Nenek Arini berada Arya semakin yakin namun dia mengernyit saat dia hanya melihat Susanto yang duduk di depan ruangan itu seorang diri, "dimana Arini? apa mungkin dia berada di dalam?" gumamnya.


Arya semakin dekat, menghampiri Susanto yang duduk dengan menundukkan wajahnya menatap lantai dengan kedua tangan mengepal menjadi satu dan menjadi tiang untuk wajahnya.


Sepertinya Susanto begitu pusing memikirkan masalah yang menimpa istrinya atau mungkin ada hal lain juga yang dia pikirkan, sampai-sampai dia terlihat sangat kacau sekarang.


"Kamu di mana Arini? kenapa kamu tidak datang dari kemarin, sebenarnya kamu pergi ke mana?" ucap Susanto begitu lirih, ternyata dia juga sangat mengkhawatirkan Arini yang dari kemarin tak kunjung datang.


Suara Susanto yang sangat lirih tetap bisa di dengar jelas oleh Arya yang sudah berdiri di hadapannya. Arya tak ada rasa apapun, tak ada rasa menyesal apalagi punya keinginan untuk minta maaf, egonya masih terlalu besar untuk bisa mengucapkan maaf apalagi pada orang-orang di kalangan menengah kebawah, nggak level saja kan?.


"Permisi," sapa Arya dengan suara khasnya.


Satu tangannya berada di dalam saku celananya sementara yang satu dia biarkan menggantung bebas di luar.


Susanto cepat mengangkat wajahnya, memandangi siapa yang berdiri tegak dihadapannya. Susanto mengernyit dia tak mengenali siapa pria tampan yang ada di hadapannya ini.


"Maaf, anda siapa ya?" Susanto beranjak dia berdiri di hadapan Arya dengan penuh tanda tanya.


"Perkenalkan, saya Arya Gautama. Saya datang untuk mencari cucu Anda, Arini. Di mana dia sekarang, apa dia ada di dalam?" tanya Arya.


Susanto terdiam memandangi Arya, ternyata orang inilah yang bernama Arya Gautama, pewaris tunggal dari Gautama grup, keluarga terkaya di dunia dengan berbagai usaha di berbagai bidang.


Meskipun berita tentang Arya sudah Susanto dengar namun dia belum pernah melihat dan berhadapan langsung dengan orangnya dan sekarang dia benar-benar bisa melihat seperti apa Arya sebenarnya.


Pria yang sangat tampan dan penuh dengan karisma, namun kesombongannya tetap tak bisa di sembunyikan di balik wajah tampannya itu, kesombongan juga keangkuhan tetap terlihat jelas di mata Susanto.


"Apakah Arini ada di dalam? tolong panggilkan dia sekarang saya ingin bertemu dengannya," ucapnya dan berhasil mengejutkan Susanto dari lamunannya yang sejenak.


Susanto menggeleng, Arini tidak ada di dalam, bahkan Susanto saja tidak tau di mana Arini berada sekarang dan entah bagaimana keadaannya tapi di manapun Arini berada Susanto hanya berharap anak itu dalam keadaan baik-baik saja.


"Arini tidak ada di dalam, apakah Arini juga tidak datang bekerja?" tanya balik Susanto, dan Arya menggeleng.


Susanto semakin khawatir sekarang, dia pikir Arini tidak datang dari kemarin karena pergi bekerja tapi ternyata dia juga tidak bekerja.


"Astaghfirullah hal 'azim.., kamu di mana Arini," Susanto bingung sekarang dia semakin khawatir dengan cucunya itu. Di mana dia berada sekarang dan bagaimana keadaannya.

__ADS_1


"Benarkah Arini tidak datang ke sini?" Arya masih tak percaya, jika Arini tidak datang ke sana lalu dia pergi ke mana.


Arya mengacak rambutnya kasar, matanya kembali melayang-layang jauh mencari keberadaan Arini siapa tau gadis kecil itu tengah berjalan dan akan tertangkap oleh matanya, "dimana gadis keras kepala itu," Arya terlihat sangat frustasi sekarang.


"Berapa nomor Arini?" tanyanya dan kembali menoleh ke arah Susanto.


"Arini tidak memiliki ponsel," jawab Susanto.


Arya semakin bingung sekarang, tak ada cara untuk bisa menemukan Arini. Arya juga kesal sendiri sekarang, bagaimana mungkin di jaman seperti sekarang masih ada yang tidak memiliki ponsel.


Arya tetap mengambil ponselnya dia menghubungi Toni sang asisten.


"Ton, apa Arini sudah datang?" tanya Arya.


"𝘈𝘳𝘪𝘯𝘪 𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨, 𝘛𝘶𝘢𝘯, " jawab Toni dari seberang.


Benar-benar ngebul sekarang kepala Arya, dia bingung campur emosi. Dia takut jika Eyangnya datang dan menanyakan keberadaan Arini pasti nanti dia lagi yang akan kena marah karena dirasa tak becus menjaga Arini.


"Di mana sih kamu Arini," ucapnya.


"Tuan, apakah Arini membuat masalah?" tanya Susanto.


Arya cepat menoleh ke arah Susanto yang terlihat sangat serius, "benar, cucu Anda itu telah membuat masalah. Saya mengalami kerugian besar karena perbuatannya," jawab Arya dengan sangat asal.


Yang jelas itu akan membuat Susanto semakin sedih juga takut, namun dia juga tidak percaya tidak mungkin kan Arini melakukan kesalahan yang besar tapi kalau tidak mana mungkin tuan Arya sendiri yang datang untuk menemuinya.


"Apa yang Arini lakukan, Tuan," tanya Susanto.


Susanto lemas seketika mendengar penjelasan dari Arya, dia memang tidak berbohong semua itu adalah benar tapi seharusnya dia juga mengatakan kenapa Arini melakukan itu kan?


"Tuan, tolong maafkan Arini. Saya yakin dia tidak sengaja melakukan itu, pasti..., pasti ada alasan di balik semua itu," Susanto menyatukan kedua telapak tangannya dia sangat berharap kalau Arya akan memaafkan Arini.


"𝘋𝘢𝘴𝘢𝘳 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨-𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘰𝘥𝘰𝘩, 𝘮𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘭𝘪 𝘥𝘪 𝘣𝘰𝘥𝘰𝘩𝘪. " batin Arya girang.


Di tempat yang tak jauh Arini sudah semakin dekat dengan keberadaan Arya juga Susanto. Arini masih celingukan dia masih mencari keberadaan Neneknya.


Wajah Arini bersinar saat dia melihat Susanto yang tak jauh darinya. Namun ada satu yang membuat Arini ternganga, "kenapa pak Tuan ada di sana juga? Jangan-jangan pak Tuan...?" Arini berlari dia ingin cepat sampai di tempat mereka berada.


"Kakek...! apa yang kakek lakukan, kenapa kakek seperti itu pada orang ini," Arini sangat terkejut saat melihat Susanto meminta maaf pada Arya.


"Arini, akhirnya kamu datang juga, Nak," Susanto begitu senang akhirnya Arini datang dan dengan keadaan baik-baik saja.


"Kek, kenapa Kakek melakukan ini padanya, kenapa kakek harus minta maaf padanya?" tanya Arini.


"Jangan bingung seperti itu Arini. Kakekmu melakukan itu karena semua kesalahanmu, dan ya, jangan lupakan hutang-hutangmu Arini, setiap kamu marah atau tidak menurut padaku maka hutang-hutangmu akan semakin banyak. Jadi sekarang menurut lah padaku dan ikut dengan ku pergi," ajak Arya.


"Tidak, aku mau di sini dengan kakek,"


Arya mendekati Arini dia membisikkan sesuatu padanya, "jangan membantah Arini, atau aku akan mencabut biaya pengobatan nenekmu, apa itu yang kamu inginkan," Arya menyeringai, dengan ini Arini pasti akan menurut padanya.

__ADS_1


"Ta-tapi.. "


"Terserah kamu, kalau itu yang kamu inginkan ya silahkan saja tetap di sini," Arya mulai melangkah pergi.


Arini bingung apa yang harus dia lakukan, dia masih sangat takut jika harus berhadapan dengan Arya tapi dia juga tidak ingin sampai biaya pengobatan neneknya di cabut, dia akan bingung mencari uang sendiri.


"Pergilah, Nak. Selesaikan masalahmu, nenek biar kakek yang menjaganya," ucap Susanto.


"Tapi, Kek? "


"Pergilah, dan cepat kembali, kamu harus tetap bertanggung jawab dengan apa yang sudah kamu perbuat," ucap Susanto.


Arini bingung, emangnya perbuatan apa yang dia lakukan? "Baik, Kek. Arini akan pergi,"


"Tunggu! baik, Arini menurut pada pak Tuan," Arini mulai berjalan dia mengejar Arya yang sudah lebih dulu melangkah.


Arya bersorak-sorai dalam hatinya akhirnya dia bisa membawa Arini pergi dari sana, "cepatlah."


Arini terus membuntuti Arya dia bingung akan di ajak ke mana dia kali ini, dia harus tetap waspada kan, jangan sampai Arya berbuat sesuatu lagi padanya.


Arini mengernyit saat Arya masuk ke ruangan di mana Arini di rawat tadi, Arini hanya bisa mengikutinya tanpa bertanya.


"Naik," pinta Arya menyuruh Arini naik ke ranjang yang tadi.


"Untuk apa,?"


"Kamu pikir untuk apa aku menyuruh mu naik, apa kamu pikir aku akan meniduri mu? Kau masih sakit Arini, kamu harus tetap berada di sini sampai kamu benar-benar sembuh, kamu tidak boleh keluar sebelum dokter sendiri yang memintamu untuk keluar, apa kamu mengerti sekarang,"


"Tapi Arini sudah sembuh, pak Tuan,"


"Nurut atau aku akan mencium mu, cepat tidur!" titahnya.


Arini langsung ketakutan saat ini, dia cepat merebahkan tubuhnya dan dengan cepat pula Arya menyelimutinya.


"Tidur, jangan protes dan jangan membantah," ucap Arya.


Arini menarik selimutnya tinggi bahkan hanya tinggal matanya saja yang masih terlihat, namun apa yang di lakukan Arini membuat Arya kembali kesal dan menarik selimutnya sedikit ke bawah.


"Kamu akan kesusahan bernafas kalau seperti itu,"


"𝘒𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘱𝘢𝘬 𝘛𝘶𝘢𝘯 𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘣𝘢𝘸𝘦𝘭 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘪𝘯𝘪? "


"jangan merutukiku cepat tidur, dasar kepala batu," Arya sangat kesal dengan Arini kini dia memilih duduk di sofa dan terus memandangi setiap pergerakan Arini, "pejamkan matamu,"


"Iya iya.. " jawab Arini. "𝘠𝘢 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩, 𝘩𝘢𝘮𝘱𝘪𝘳 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘫𝘢𝘯𝘵𝘶𝘯𝘨 𝘬𝘶 𝘮𝘢𝘶 𝘤𝘰𝘱𝘰𝘵, 𝘈𝘳𝘪𝘯𝘪 𝘬𝘪𝘳𝘢 𝘱𝘢𝘬 𝘛𝘶𝘢𝘯 𝘮𝘢𝘶 𝘯𝘨𝘢𝘱𝘢-𝘯𝘨𝘢𝘱𝘢𝘪𝘯 𝘈𝘳𝘪𝘯𝘪. "


/////


Bersambung

__ADS_1


_________


__ADS_2