
Happy Reading...
...****************...
Malam penuh rasa canggung juga rasa gugup. itulah malam pertama untuk Dimas juga Raisa setelah mereka resmi menjadi suami istri. Kamar Dimas yang ada dua penghuni kali ini sepi seperti tak berpenghuni.
Keduanya diam tak mengatakan apapun, tapi jantung keduanya terus berseru seiring dengan arah jarum jam yang bertengger di atas dinding yang terus berjalan.
Pikiran mereka terus berkelana di tempat yang sama, entah apa yang mereka berdua pikirkan saat ini. Yang jelas tak ada suara yang keluar dari keduanya.
Keduanya sama-sama sudah merebahkan diri di atas ranjang yang sama, saling terlentang dan menatap langit-langit, entah kenapa dua orang dewasa itu seperti anak kecil yang tengah berselisih paham.
Dimas juga begitu, kemarin sebelum mereka sah getolnya minta ampun ingin menyentuh Raisa tapi sekarang setelah sah, menoleh pun rasanya sangat sungkan.
"Astaga, kenapa aku jadi gugup seperti ini sih. Apa yang harus aku lakukan, apa yang harus aku katakan. Dimas, dia istrimu! dia halal untuk mu!" batin Dimas meneriaki dirinya sendiri.
"Ra..."
"Tu..."
Keduanya menoleh bersamaan, mengeluarkan kata juga barengan. Mata keduanya menjadi saling tatap, netra penuh rasa gugup saling menatap tak berkedip.
"Kamu dulu," ucap Dimas. Dimas mengatakan itu juga karena dia ingin menenangkan hatinya lebih dulu. Dia ingin mendengarkan apa yang ingin Raisa katakan.
"Tuan saja dulu," Raisa juga masih sangat enggan untuk bicara. Astaga, nih dua sejoli sebenarnya mau bicara apa sih?
"Kamu saja dulu, nggak apa-apa," Dimas semakin gugup sekarang ini.
"Tu_tuan saja," jawab Raisa.
Dimas tersenyum sejenak, memandangi Raisa yang masih setia memandanginya. Jantungnya bekerja semakin kuat bisa-bisa dia membutuhkan alat pacu jantung besok pagi kalau jantungnya kelelahan.
"Hem..., Ra_Raisa. Se_Sekarang aku adalah suamimu, bisakah kamu tidak memanggilku dengan sebutan tuan?" pinta Dimas. Dimas berjuang mati-matian untuk bisa mengatakan itu. Menghilangkan rasa gugup yang begitu besar menguasai.
"Ma_maaf. Raisa akan berusaha." jawab Raisa.
Dimas tersenyum. Alhamdulillah, permintaan pertama yang sangat sederhana akan di kabulkan oleh Raisa. Semoga saja itu benar.
Entah keberanian dari mana, hingga akhirnya Dimas mengubah posisi tidur dengan miring ke arah Raisa. Matanya tak mau berpaling sedikitpun dari Raisa yang sekarang sudah sah menjadi istrinya.
__ADS_1
Tentu apa yang Dimas lakukan membuat Raisa gugup bukan main. Dia seketika memalingkan wajahnya dari Dimas.
"A_ada apa, apakah ada yang salah?" Jelas Raisa salah tingkah sekarang.
"Tidak, tidak ada yang salah padamu. Hanya saja, hanya saja kami terlihat begitu cantik sekarang ini." ucap Dimas tanpa sadar. Dia benar-benar sudah terpana dengan istrinya.
"Hah," pipi Raisa sudah memerah sekarang. Sedikit kata yang jujur dari Dimas mampu mengubah Raisa mengubah dirinya menjadi panas dingin juga semakin gugup.
"Apakah aku harus memberikan haknya malam ini juga? apakah secepat ini?" batin Raisa bingung.
Padahal Dimas juga tidak berpikir sejauh itu untuk sekarang. Dengan bisa bersama dalam satu kamar dengan ikatan halal dengan Raisa saja itu sudah sangat membahagiakan untuk Dimas.
Tapi pikiran Raisa juga menerawang jauh. Kenapa Dimas hanya diam dan tak kunjung meminta haknya, apakah dia menyesal telah menikahi dirinya yang sudah tidak perawan lagi.
"Kamu kenapa?" tanya Dimas, menyadari ada gelagat aneh yang terjadi pada Raisa saat ini.
"Ti_tidak," Raisa gelagapan menjawab pertanyaan Dimas saat ini. Mana mungkin dia akan mengatakan kalau dia tengah memikirkan tentang hak yang seharusnya dia berikan kepada Dimas.
"Ya sudah, sekarang tidurlah," pinta Dimas.
"Hah!" Raisa begitu bingung, benarkah Dimas tidak meminta haknya?
Bukankah laki-laki yang telah menikah pasti dia akan meminta haknya? kenapa tidak dengan Dimas sekarang ini. Apakah dia menyesal?
"Hem, bolehkah aku memelukmu?" tanya Dimas. Melihat tingkah aneh dari Raisa kenapa tidak dia manfaatkan. Meski Dimas tidak mengetahui apa yang Raisa pikir tapi tidak salah kan kalau dia minta izin untuk memeluk Raisa.
"Hah!" Raisa sungguh terkejut tapi belum juga dia menjawab Dimas sudah lebih dulu memeluknya.
"Tidurlah, kalau tidak mungkin aku akan melakukan hal yang lain. Apakah kamu sudah siap menerimanya?" tanya Dimas.
"A_aku?"
"Sudah, tidur atau aku minta hak ku sekarang juga." kini Dimas mengatakan tentang hak, seolah dia tau apa yang Raisa pikirkan.
"A_aku," Raisa tak lagi menyelesaikan kata-katanya, jantungnya sudah tak karuan setelah tangan Dimas sudah manis di atas perutnya.
Cup...
"Selamat malam istriku. Tidurlah, dan jangan lupa bawa aku juga ke dalam mimpimu." kecupan singkat di pipi Raisa mampu membuatnya mematung. Raisa benar-benar seperti tersengat ribuan watt tegangan listrik.
__ADS_1
"Aku tau apa yang kamu pikirkan, Raisa. Seandainya aku mau, aku bisa memintanya saat ini juga. Tapi aku tak mau kamu ketakutan saat aku menyentuhmu nanti. Aku ingin kamu bisa sembuh dari trauma-mu. dan bisa memberikan hak ku tanpa adanya ketakutan dan paksaan," batin Dimas.
Begitu mulai maksud Dimas sebenarnya.
...****************...
Pagi menjelang, Arini langsung bangun setelah mendengar suara azan berkumandang. Kali ini tidak dari ponselnya, melainkan dari orang yang azan yang tak jauh dari rumah Mamanya.
"Alhamdulillah," ucap Arini.
Tak enak, itulah yang Arini rasakan. Lidahnya terasa pahit, liurnya rasanya aneh tak seperti biasanya, juga sebuah rasa yang terus mendorong dari dalam perutnya.
"Ini aku kenapa?" tanyanya sendiri.
"Mas, Mas," Arini membangunkan Arya karena merasa tak enak begitu menyerangnya.
"Hem, ada apa, Sayang." perlahan Arya membuka mata. Dia juga pelan duduk menyusul Arini yang sudah lebih dulu duduk.
"Mas, kayaknya Arini masuk angin deh. ini nggak enak banget. pengen muntah rasanya, ugh..." baru juga selesai bicara Arini sudah langsung berlari masuk ke kamar mandi dengan tergesa-gesa karena mual yang tak bisa dia tahan lagi.
"Sayang!" Cepat Arya mengejar Arini.
Arini terus mengeluarkan semua yang ada di dalam perutnya, ya meski masih berupa cairan bening saja karena perutnya masih kosong.
"Mas, ini nggak enak banget." ucapnya dengan sangat lembut. Tangan terus mengelus punggung Arini dengan pelan.
"Nanti kita ke rumah sakit ya," ucap Arya. Kemarin Arya bingung untuk mengajak Arini ke rumah sakit dengan alasan apa, karena yang pasti Arini tak akan mungkin ikut begitu saja. Tapi sekarang? dia punya alasan.
"Tapi Arini takut, Mas. Bagaimana kalau nanti Arini sakit keras. Bagaimana kalau ada penyakit yang sangat berbahaya. Arini takut," mata Arini sudah berkaca-kaca. Dia sangat takut.
"Tidak, tidak akan ada yang berbahaya. yakin sama Mas ya. Nanti kita periksakan ke rumah sakit apa yang terjadi padamu." begitu lembut Arya berbicara.
"Tapi Arini takut."
"Sudah, jangan berpikir yang macam-macam. Ada Mas yang selalu menemani kamu, oke." begitu lembut Arya berbicara hingga berhasil membuat Arini mengangguk pasrah.
"Iya, tapi janji tidak akan tinggalkan Arini ya, Mas."
"Iya, Mas janji. Sekarang udah enakan? kalau susah kita shalat dulu. Yuk." ajak Arya dan Arini lagi-lagi mengangguk pasrah.
__ADS_1
...****************...
Bersambung....