
...____...
...◦•●◉✿Happy Reading✿◉●•◦...
"Minuman yang murah, enak menyehatkan saja sangat banyak, Pak Tuan, kenapa harus meminum minuman yang haram juga mahal. Mungkin sekarang dengan meminum minuman itu pak Tuan akan kuat, terlihat segar bugar, tapi apakah Pak Tuan bisa jamin sepuluh sampai dua puluh tahun lagi pak Tuan akan kuat seperti sekarang, tidak kan? "
"Itu minuman memang menguatkan tapi itu hanya sesaat, pak Tuan juga akan menjadi ketergantungan dengan minuman itu. Minuman yang pak Tuan pikir akan membuat pak Tuan sehat itu sebenarnya malah menggerogoti tubuh pak Tuan dari dalam. Dan dalam waktu beberapa tahun setelah ini Arini yakin pak Tuan tidak akan sekuat ini jika terus mengonsumsi minuman itu,"
Arya hanya diam mendengarkan, entah benar-benar mendengar dan memikirkannya tidak ada yang tau, atau mungkin hanya seperti angin lalu yang hanya lewat begitu saja juga tidak ada yang tau.
Arya mengernyit, kenapa rasanya dia berhadapan dengan orang yang berbeda, gadis di hadapannya sekarang bukanlah gadis yang lemah yang kemarin selalu dia tindas. Sebenarnya siapa gadis di hadapannya, tak mungkin dia hanya orang biasa, apalagi Arini begitu tenang saat berhadapan dengannya.
Atmosfir seketika berubah saat Arini mengatakan semuanya di depan Arya dengan begitu tenang, Arya pun tak menyangka kalau Arini bisa setenang ini. Kadang dia selalu tenang dan terlihat seperti gadis yang pintar, namun kadang dia seperti gadis lemah juga bodoh yang sangat mudah untuk di tindas.
"Sudah selesai bicaranya?! " tanya Arya.
Arini menggeleng, sepertinya belum selesai dia menceramahi bosnya yang sudah salah jalan itu, yang sudah terlalu jauh dari kewajaran.
"Pak, sebenarnya pak Tuan akan berdosa jika meminumnya, itu minuman haram sangat di larang oleh Allah. Allah sangat membenci orang yang tak mau taat pada-Nya."
"Jangan sampai Allah marah gara-gara semua keburukan yang selalu Pak Tuan lakukan, mungkin sekarang Pak Tuan memiliki segalanya, bisa membeli minuman haram itu setiap hari, tapi bagaimana jika Allah mengambil semua yang Pak Tuan miliki ini. Pak Tuan pasti akan sangat menyesal. "
"Daripada uang hanya di hambur-hamburkan untuk hal yang negatif, lebih baik Pak Tuan gunakan untuk berbuat hal yang positif. Di luaran sana banyak orang yang kesusahan, sekedar untuk makan saja mereka tidak bisa, berikanlah santunan pada mereka, itu akan lebih berguna untuk Pak Tuan, harta Pak Tuan juga tidak akan habis."
"Memang jika di lihat dari mata manusia harta kita akan berkurang, tapi tidak di mata Tuhan. Tuhan akan melipat gandakan harta yang di gunakan untuk bersedekah."
Astaga, baru kali ini ada orang yang benar-benar berani menceramahi Arya Gautama, dan anehnya juga Arya diam tanpa protes dan malah mendengarkan. Dunia Arya perlahan-lahan akan mulai berubah sepertinya.
"Apa kamu tidak haus berbicara panjang lebar begitu?" Arya saja yang mendengarkan sebenarnya sudah haus, tenggorokannya juga terasa sangat kering apalagi dengan Arini.
Arini menggeleng, sekarang wajahnya sudah lebih tenang dia juga tidak gemetar seperti tadi lagi. Ya meskipun masih ada rasa was-was karena Arya masih mengurungnya.
__ADS_1
"Kenapa kamu berani sekali menceramahi ku, aku ini bos mu loh! kenapa kamu tidak ada takut-takutnya padaku? " tanya Arya.
"Dalam urusan kebaikan tidak ada yang namanya bawahan juga atasan, Pak Tuan. Siapapun yang berada dalam jalan yang salah sebagai muslim harus bisa mengingatkannya. Saya cuma bisa mengatakan apa yang saya ketahui. Percaya atau tidak itu bukan lagi urusan Arini. Jika sudah seperti itu tapi pak Tuan tetap tidak mau berubah, biarkan Allah yang menentukan jalannya." jawab Arini.
"Memang apa yang bisa Allah lakukan, saya ini sangat cerdas, semua yang aku punya ini juga karena kerja keras ku sendiri," ucap Arya yang masih ada kesombongan di dalamnya.
"Memang semua ini karena pak Tuan sendiri yang menghasilkannya, tapi apa yang pak Tuan dapatkan ini semua atas izin-Nya. Pak Tuan juga memang sangat kuat juga cerdas, tapi jika Allah menghancurkan semua ini apa pak Tuan bisa mencegahnya, tidak bisa kan? "
Arya di buat terdiam dengan semua kata-kata Arini. Ternyata kecerdasannya tak akan bisa menyaingi jika harus berdebat dengan Arini. Arya kalah mutlak darinya.
Arya salah menilai gadis buruk rupa di hadapannya ini, gadis ini tak sesederhana yang dia pikirkan dia begitu berbeda. Gadis yang terlihat sangat bodoh tapi menyimpan ilmu yang begitu besar di dalam kepalanya. Gadis yang terlihat lemah tapi begitu kuat dalam mengahadapi semua ujian besar dalam hidupnya.
Gadis yang terlihat sangat buruk di luarnya tapi cantik di dalam hatinya. Sangat jarang bukan?
"Meskipun kamu sudah mengatakan panjang lebar semua itu kamu harus tetap mendapatkan hukuman. Dan hukuman mu juga harus kamu lakukan sekarang juga," ucap Arya.
"Hu-hukuman? " Arini tergagap dan Arya hanya mengangguk, "hukuman apa yang harus Arini lakukan? "
"Apa! du-dua jam! " pekik Arini.
"Ya terserah sih, kalau kamu tidak mau maka kamu tak akan bisa keluar dari sini. Kita bisa menghabiskan waktu berdua saja di sini," ancam Arya.
"Ta-tapi itu tidak boleh, pak Tuan. Arini tidak bisa menyentuh Pak Tuan,"
"Itu urusanmu. Meskipun sampai besok kalau kamu belum melakukannya aku tak akan membuka pintunya. Semakin kamu nurut maka kamu bisa keluar dari sini." Arya terlihat sangat santai.
"𝘉𝘦𝘯𝘢𝘳𝘬𝘢𝘩 𝘢𝘬𝘶 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘮𝘪𝘫𝘢𝘵 𝘯𝘺𝘢? 𝘛𝘢-𝘵𝘢𝘱𝘪.. "
"Sudah, jangan banyak mikir. Cepat lakukan," Arya menyandarkan punggungnya di sofa dia memejamkan mata menunggu Arini akan datang untuk memijat nya.
"Bagaimana ini? " gumam Arini.
__ADS_1
"Cepat Arini, aku tidak pernah main-main dengan ucapan ku," ucapnya dengan mata yang setia tertutup.
Arini melangkah dengan pelan, dia sangat ragu tapi dia tak punya pilihan lain. Kalau tidak di lakukan sekarang dia akan terus berada di sana dengan Arya entah sampai kapan.
Arini memutari sofa berdiri di belakang Arya, tangannya kembali gemetar saat mulai dia angkat untuk menyentuh bahu Arya.
"𝘛𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘱𝘢-𝘢𝘱𝘢 𝘈𝘳𝘪𝘯𝘪. 𝘒𝘢𝘮𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘯𝘵𝘶𝘩𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘢𝘥𝘢 𝘣𝘢𝘫𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘱𝘦𝘯𝘨𝘩𝘢𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘯𝘺𝘢. " batin Arini.
Tangan Arini benar-benar memijat Arya dengan ragu bahkan hanya menggunakan dua jari saja di masing-masing tangan.
"Yang bener kalau mijat, gunakan semua jarimu, bukan hanya dua begitu kayak mau nyubit saja," protes Arya.
"Yang yang penting sudah Arini pijat kan?" Arini tak menerima protesan dari Arya.
Arya mengangkat tangannya, ingin menyentuh tangan Arini untuk meminta menggunakan semua jari-jarinya, tapi belum juga bisa menyentuhnya Arini sudah menarik tangannya.
"Jangan aneh-aneh ya, Pak Tuan!"
"Kamu yang aneh, cepat lakukan hukuman mu dengan baik, jangan sampai aku kembali marah dan melakukan yang lebih lagi padamu ya," Ancam Arya lagi, "atau perlu aku buka bajuku saja biar lebih terasa," Arya sudah siap untuk melepaskan jasnya.
"Tidak tidak! baik, Arini akan lakukan dengan baik. Tapi Pak Tuan jangan aneh-aneh loh ya."
"Hem... " jawab Arya singkat, "nah, begitu kan enak."
"𝘈𝘴𝘵𝘢𝘨𝘩𝘧𝘪𝘳𝘶𝘭𝘭𝘢𝘩 𝘩𝘢𝘭 '𝘢𝘻𝘪𝘮... 𝘈𝘴𝘵𝘢𝘨𝘩𝘧𝘪𝘳𝘶𝘭𝘭𝘢𝘩 𝘩𝘢𝘭 '𝘢𝘻𝘪𝘮... " Seru Arini dalam hati.
///////
Bersambung..
__________
__ADS_1