Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)

Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)
68.Mataku Ternoda


__ADS_3

..._____...


...◦•●◉✿Happy Reading✿◉●•◦...


Nek Murni juga kakek Susanto begitu khawatir dengan Arini yang tak kunjung datang ke rumah sakit, tak seperti biasanya yang selalu tepat waktu kali ini Arini belum juga terlihat meskipun hari sudah semakin sore.


"Sebenarnya kamu di mana, Nak? " lirih kakek Susanto. Dia terus saja berjalan mondar-mandir di dalam ruangan Nek Murni dan tentunya juga terlihat sangat bingung dan frustasi.


"Mungkin sedang dalam perjalanan, Kek," ucap Murni. Sebisa mungkin untuk bisa membuat kakek Susanto tidak terlalu berlebihan, meski nek Murni sendiri sebenarnya juga sangat khawatir.


"Mungkin benar," kakek Susanto kembali duduk di kursi sebelah nek Murni, sesekali matanya juga masih terus menoleh ke arah pintu masuk, berharap Arini akan cepat datang.


"Sudah, jangan terlalu mengkhawatirkannya. Arini kita sudah besar, Kek. Dia juga sudah pasti bisa menjaga dirinya sendiri," ujar nek Murni lagi.


"Hem.. " kakek Susanto hanya tersenyum kecil menanggapi perkataan istrinya itu.


////////


Arya benar-benar membawa Arini pulang ke apartemennya dia juga menggendong Arini saat keluar dari mobil hingga tempat yang menjadi tujuan Arya.


Tak akan susah untuk Arya membawa Arini, tubuh yang sangat kecil itu begitu ringan untuknya.


Dalam waktu yang tak lama Arya sudah sampai di depan apartemennya, dia hanya sedikit kesusahan saat akan mengambil kartu kecil yang menjadi kunci pintunya yang ada di dalam sakunya.


Pelan namun pasti Arya bisa mengambilnya tanpa harus membangunkan atau menurunkan Arini, dengan cepat Arya pun membuka pintu nya. Setelah terbuka Arya masuk dan kembali menutup nya dan saat pintu itu tertutup pintu otomatis terkunci jika dari luar.


Perlahan-lahan Arya menurunkan Arini di atas kasur super besar miliknya yang ada di apartemen, menarik selimutnya untuk menyelimutinya hingga sebatas dada lalu Arya duduk di sebelahnya.


Wajah gadis itu terlihat sangat tenang saat


tertidur, meskipun kulitnya hanya sawo matang tapi begitu epik di lihat oleh mata apalagi saat tersenyum dan memperlihatkan lesung pipinya itu begitu indah.


Tangan Arya terangkat ingin sekali mengusap sisa air mata yang masih menempel di kedua pipi gadis kecil itu, tangannya sudah sangat dekat dan hampir saja menyentuhnya tapi sebuah ingatan yang datang membuat Arya menggenggam kembali tangannya dan menariknya lagi.


'𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘯𝘵𝘶𝘩 𝘈𝘳𝘪𝘯𝘪, 𝘗𝘢𝘬 𝘛𝘶𝘢𝘯! 𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘯𝘵𝘶𝘩 𝘈𝘳𝘪𝘯𝘪! '


Arya hanya bisa mengusap wajahnya frustasi saat mengingat semua itu. Kenapa.., kenapa hanya gadis kecil ini yang benar-benar bisa mempengaruhi dirinya. Bahkan Arya bisa meredam amarahnya dengan mudah jika gadis ini yang menceramahi nya.


Memang sangat begitu aneh, tapi itulah kenyataannya, Arya sendiri pun tak bisa memungkiri itu bahwa hanya gadis kecil yang sekarang tidur dengan nyenyak di kasurnya itu yang bisa mengubah keras kepalanya seorang Arya.


"Ahhh..., apa yang aku pikirkan! gadis kecil ini bukanlah tipeku, lagian aku juga tidak ingin berurusan dengan hati, aku tak ingin di kendalikan oleh perempuan, tidak akan! " gumamnya.


Arya beranjak, dia melepaskan jas nya menaruh di sofa lalu dia sendiri merubuhkan tubuhnya di atas sofa.

__ADS_1


Mata Arya masih saja penasaran dengan Arini, dia terus mengamatinya dari jauh dan saat itu Arini tersenyum meski dengan jelas dia masih sesenggukan, entah mimpi apa gadis kecil itu sekarang.


"Manis," celetuknya tanpa sadar hingga ujung bibir Arya juga terangkat saat melihat itu.


Begitu cepat Arya tersadar, dia menggeleng membubarkan semua kekaguman yang mulai berbaris rapi di dalam otaknya. Arya kembali beranjak, dia masuk ke kamar mandi karena badannya terasa sangat lengket, dia akan membersihkan diri dulu mumpung Arini masih tertidur.


𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩𝘶 𝘢𝘬𝘩𝘣𝘢𝘳... 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩𝘶 𝘢𝘬𝘩𝘣𝘢𝘳...


Belum juga Arya keluar suara azan menggema keras.


Arini yang sudah terbiasa menjadikan azan sebagai alarm dalam setiap kegiatannya, perlahan mulai membuka matanya saat suara azan itu masuk ke dalam telinganya.


Arini langsung terkejut saat dia melihat dirinya yang tidur di tempat yang sangat asing baginya. Tak seperti biasanya kamar yang sempit dan reot juga kasur yang keras sekarang Arini tidur di kasur yang empuk, luas dan pastinya sangat kuat.


Bukannya senang tapi Arini malah berteriak dengan sangat kencang, dia juga langsung duduk dan menutup wajahnya.


Akkk...!!


Arini kembali memeriksa semua baju yang dia pakai alhamdulillah semua masih melekat dengan sempurna, tapi dia sangat takut.


Sementara Arya yang sedang mandi langsung buru-buru keluar setelah mendengar Arini yang berteriak. Arya yang masih menggosok rambutnya dengan sampo langsung menyambar handuk, dia lilitkan di pinggangnya lalu berlari keluar.


"Arini! kamu kenapa?! " Arya begitu buru-buru bahkan rambutnya juga masih terdapat sampo yang menutupi rambutnya, "Arini, kamu kenapa? " tanyanya lagi pas Arya sudah berhenti di samping kasur.


Akkk....!!


Arini kembali berteriak melihat bagaimana Arya sekarang, bertelanjang dada, bagian bawah hanya di tutupi handuk putih sebatas lututnya juga rambutnya yang masih putih karena sampo.


"Kenapa lagi? " Arya malah bingung sendiri di buatnya.


"Pak..., pak Tuan, itu.. " satu jari telunjuk Arini menunjuk tubuh Arya yang setengah bugil dan satu tangannya masih setia menutup matanya.


Akkk...!


Kini Arya yang berteriak, dia kembali masuk ke kamar mandi dengan terbirit-birit. Astaga..., Arya yang biasa tel*njang di depan para wanita kencannya sekarang dia malu saat berhadapan dengan gadis yang menurutnya masih bocah.


"Aku tidak lihat apapun, aku tidak lihat apapun," gumam Arini. Ternoda sudah mata Arini, dia yang melihat wajah seorang laki-laki hanya sekedarnya saja sekarang malah melihat dalamnya juga, benar-benar ternoda mata Arini sekarang.


"Astaghfirullah hal 'azim... Astaghfirullah hal 'azim... " hanya itu yang bisa Arini katakan.


Arya yang sudah berada di dalam kamar mandi masih berdiri terdiam di belakang pintu, rasanya dia ingin terpingkal tapi dia juga merasa kesal padanya sendiri.


"Astaga, kenapa aku berteriak juga. Kenapa aku malah seperti seorang gadis yang sedang ketahuan tel*njang pada seorang pria? Eishhh.., kau ini kenapa, Arya.. " gumamnya sendiri.

__ADS_1


"Kamu biasa seperti ini pada wanita-wanita kencan mu, bahkan kamu selalu bugil di depan mereka dan kamu tidak malu sama sekali, tapi kenapa sekarang kamu begitu pemalu," imbuhnya.


Arya menggeleng karena perbuatannya sendiri, ini sangat tidak wajar baginya. Setelah menghembuskan nafas panjang Arya kembali meneruskan aktivitas mandinya dan lebih mempercepat.


Untung juga di dalam kamar mandi itu ada lemari kecil yang ada baju ganti meskipun hanya celana panjang juga kaus rumahan, kalau tidak ada mungkin Arini akan kembali berteriak lagi.


Saat Arya keluar Arini masih berada di atas kasur, dia juga masih menutup wajahnya, sepertinya dia takut sampai insiden tadi terjadi lagi.


Arya menyeringai, sepertinya asyik kalau mengerjai nya. Arya berjalan mendekat senyum devil dia keluarkan saat sudah sampai dan duduk di depan Arini.


"Arini," panggil Arya dia buat dengan suara yang begitu menggoda.


"Apa kamu tidak mau melihat yang lain juga?" imbuhnya.


"Pak Tuan pergi! Pak Tuan jangan dekat-dekat! Kita bukan mahram! dan saya juga tidak tertarik untuk melihat apapun dari pak Tuan! " jawab Arini.


"Beneran, nggak akan nyesel kan?" Arya benar-benar senang menggoda Arini.


"Tidak! Pak Tuan pergi saja dan pakai baju pak Tuan! Arini juga mau shalat! "


"Ya sudah kalau tidak mau lihat, aku akan pergi, kalau mau shalat cepetan, aku lapar! kamu harus masakin sesuatu untukku! " Arya beranjak dia hanya bersembunyi saja dan tidak benar-benar pergi.


Arini bisa bernafas lega saat Arya sudah pergi, perlahan dia mengintip kecil, dan dia tak melihat Arya di sana, "alhamdulillah, pak Tuan sudah pergi," Arini turun dari kasur empuk itu dia terlihat buru-buru karena dia merasa tak memilih hak untuk berlama-lama di sana.


Baru juga beberapa langkah, Arini di kejutan oleh Arya yang tiba-tiba nongol di hadapannya.


"Bahh!! "


"Akkk...., pak Tuan!" teriak Arini dengan keras.


"Hahahaha.... " tawa Arya begitu menggelegar, bahkan sekarang Arya pun juga bisa tertawa di depan Arini.


Wajah angkuh, sombong, juga dingin kemarin tak terlihat sekarang. Jarang-jarang Arya akan tertawa lepas seperti sekarang, jangankan tertawa tersenyum saja dia tak pernah, tapi sekarang?


"Pak Tuan nyebelin! "


"Hahaha...! "


//////


Bersambung...


________

__ADS_1


__ADS_2