
Happy Reading...
''Kalung itu sangat berharga untukku, sama seperti kamu yang sangat berharga. Aku akan memberikannya padamu setelah kamu sah menjadi milikku. Bagaimana? apakah kamu tertarik untuk bisa secepatnya sah? dan menjadi ratu dari Arya Gautama?''
Arini terkesiap, dia menoleh dengan cepat dan akhirnya dia lihat orang yang dia bicarakan barusan kini sudah ada tepat di belakangnya, memegangi dua sisi kursi yang Arini duduki dan sedikit membungkuk dan hampir saja mengecup puncak kepalanya.
Tak ada takut-takutnya si Arya padahal dia ada di rumah Arini dan sewaktu-waktu akan ada orang yang datang selain mereka berdua, tetapi itulah Arya yang memang tidak punya rasa takut kepada siapapun.
Cepat Arini berdiri dia menjauh dari Arya yang malah senyam-senyum bahagia karena dia juga melihat Arini yang melihat foto mereka berdua.
''Kamu merindukanku, ya?'' ucapnya begit percaya diri bahkan kata-kata itu begit enteng keluar dari mulutnya.
Tak mengejar Arini tetapi Arya Malah duduk menggantikan posisi Arini di kursi kayu, Arya duduk dengan sangat tenang dan masih terus tersenyum melihat Arini yang berwajah panik.
Wajah Arya terlihat sangat tenang begitu datar namun di penuhi dengan senyum kebahagiaan.
''Pak Tuan! Pak Tuan kenapa kesini?'' Arini terlihat terus panik bahkan dia juga terus celingukan karena takut akan ada kakek atau neneknya yang mungkin tiba-tiba muncul.
Arya malah terkekeh melihat Arini yang panik juga sangat takut. Itu terlihat sangat lucu dan begitu imut di matanya. Jika saja dia bisa lakukan maka dia akan menarik gadisnya itu laku mengecupnya dan membuat pipinya semakin merah karena tersipu.
Tetapi tidak! Arya tidak bisa lakukan itu sekarang. Arya masih membutuhkan keabsahan dari negara melalui kedua buku nikah yang akan membuat mereka halal untuk melakukan apapun dan selamanya.
Arya benar-benar sudah sangat serius sekarang, tak ada lagi keraguan untuk menjadikan Arini pendamping hidup dan menjadikannya wanita satu-satunya yang akan selalu menemani di kehidupannya hingga akhir di Dunia.
"Kenapa Pak Tuan datang?!" tanya Arini lagi.
"Kenapa aku datang? Ya, jelas untuk menjemputmu lah, emang mau apa lagi?" jawab Arya begitu enteng.
__ADS_1
"Untuk apa?" Arini masih tidak mengerti apa maksud dan tujuan Arya. Menjemput? Menjemput untuk kemana? Itulah yang Arini pikirkan.
Arya menghela nafas, sepertinya gadis itu melupakan kalau dia juga harus datang ke kantor untuk bekerja.
"jangan panik seperti itulah, aku datang menjemputmu untuk mengajakmu ke KUA. Kita akan meresmikan hubungan kita di sana sekarang, bagaimana? Kamu setuju kan?" senyum jaim Arya keluarkan dia sangat senang membuat Arini panik dan tegang di pagi hari.
Arini melongo, matanya membulat sempurna dan netranya lurus ke depan tepat di wajah Arya.
"Pak Tuan jangan ngadi-adi deh!" Arini terlihat sangat kesal.
"Katakan, sebenarnya apa tujuan Pak Tuan datang kesini?!" Ucapan Arini mulai meninggi rupanya sekarang dia lebih kalah kalau membuat orang kesal. Arini yang kesal sekarang.
"Aku sudah katakan, aku akan menjemputmu untuk pergi ke KUA. Cepatlah bersiap dan dandan secantik mungkin untuk menjadi pengantinku."
"Pergi saja sendiri!" Arini melangkah pergi, dia tidak mau menanggapi ketidak warasan Arya yang mulai di puncak kegilaan.
Kepergian Arini tidak di sambut baik oleh Arya, kini dia membuntutinya bahkan hingga Arini masuk ke kamarnya juga Arya mengikutinya.
"Kecil sekali kamarmu, dan apa ini? Ranjangnya sempit sekali. Ini pasti tidak akan kuat untuk tempat malam pertama kita nantinya," celetuk Arya.
Arini membalik cepat. Astaga... benar-benar sangat menjengkelkan nih Pak Tuannya yang dengan tak tau malunya ikut masuk ke kamar perempuan.
Dengan begitu tenangnya Arya malah duduk di dipan beralaskan kasur lipat yang begitu tipis yang setiap malamnya menjadi tempat untuk Arini istirahat.
"Seharusnya kamu ikut denganku, tempatku juga sangat rumahku juga sangat membutuhkanmu untuk menjadi pengurusnya. Kamu akan menjadi tuan rumah yang sangat di nantikan di sana," ucapnya.
__ADS_1
Arini semakin kelimpungan, dia takut kalau sampai ada orang yang datang. Mereka pasti akan mengira kalau dia juga Arya melakukan sesuatu yang tidak baik di kamar.
Arini takut saja kalau sampai ada segerombolan orang datang dan memergoki mereka berdua yang tengah berdua-duaan. Bagaimana kalau mereka ketahuan dan harus di nikahkan saat itu juga? Urusan akan panjang kan meski Arini menyukai pak Tuan itu.
"Pak Tuan, keluarlah. Jangan masuk ke sini. Bagaimana kalau ada orang yang datang." Arini sungguh ketakutan, apalagi dia pernah mengalami bagaimana rasanya mendapatkan tuduhan palsu yang mengatakan dia melakukan hal yang tidak senonoh.
"Kenapa, apa kamu takut? Tenang, kalau kota ketahuan paling hanya di nikahkan. Dan itu adalah hak yang paling aku nantikan," ucap Arya menanggapi dengan tenang apa yang menjadi ketakutan Arini.
"Atau kalau tidak aku yang merekayasa saja ya, aku tinggal suruh orang untuk datang dan membuat kita harus menikah sekarang juga, bagaimana? Aku pintar kan?" Arya semakin ngelantur bercandanya.
Arini memang menyukai Arya, bahkan sangat mencintainya dan berharap bisa menjadi pendampingnya tetapi tidak juga dengan cara yang seperti itu. Arini ingin menikah dengan cara yang terhormat, tetapi tidak juga sekarang, Arini masih butuh waktu.
"Arini, aku hanya sudah tidak sabar untuk bisa bersanding denganmu, aku hanya tidak mau kalau sampai kamu pergi. Aku ingin memilikimu sepenuhnya dengan ikatan suci. Aku tidak hanya ingin memiliki hatimu saja, tetapi semua yang kamu punya. Aku ingin memilikimu dan aku ingin menjadi milikmu seutuhnya."
Kini Arya menadi serius. Sepertinya Arya begitu takut kalau sampai dia kehilangan Arini, dia takut kalau sampai perasaan Arini berubah dan mereka akan berpisah.
"Tetapi Arini masih butuh waktu, Pak Tuan," Arini menunduk.
"Kenapa, apa kamu masih belum percaya padaku? Apa kamu takut aku akan mempermainkan mu? Tidak Arini, aku sungguh-sungguh kepadamu. Aku hanya ingin kamu saja bukan orang lain."
"Akan Arini pikirkan."
Ketakutan, keraguan masih melekat di hati Arini. Tentunya juga restu yang Arini inginkan. Arini mau menikah dengan Arya jika dia mendapatkan restu dari pihak keluarganya juga pihak keluarga Arya sendiri.
Cukup sekali Arini mencintai, cukup sekali Arini menikah dan cukup sekali dia bersanding dengan satu pria saja. Itulah prinsip-prinsip yang selalu Arini tanam. Arini hanya tidak mau gagal di masa mendatang.
__ADS_1
Bersambung...