
Happy Reading...
Seperti biasa, meski sudah ada Susi Arini tetap saja pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan untuk suaminya. Sebisa mungkin Arini akan melakukan hal-hal kecil yang akan membuat Arya bangga kepadanya. Bukan itu saja, tapi Arini juga mengharapkan pahala yang akan mengalir karena melayani dan berusaha membahagiakan suaminya.
"Nyonya cantik, mbok biar aku saja yang masak. Nyonya duduk saja," ucap Susi yang langsung mendekati Arini yang sudah sibuk.
Arini tersenyum seraya menoleh.
" Tidak apa-apa, Mbak. Biar saya saja. Lebih baik Mbak kerjakan yang lain saja. Biar Saya yang masak untuk sarapan," jawab Arini begitu ramah.
"Beneran nggak mau di gantiin atau di bantu?" tanya Susi memastikan.
"Tidak usah, Mbak. Biar saya saja yang melakukan ini seperti biasa," jawab Arini ramah.
Begitu senang hati Susi bisa bekerja dengan majikan yang sebaik Arini. Arini tak pernah nyuruh-nyuruh dengan sesuka hatinya, ya asalkan Susi tau diri saja akan apa yang harus dia kerjakan.
Arini juga tidak neko-neko juga tidak rewel orangnya, tidak banyak protes juga kayak majikan-majikan sebelumnya yang selalu banyak ngatur dan banyak protes ini itu kepada Susi
"Ya sudah, Nyonya. Kalau begitu Susi mau giling dulu lalu nyapu dan ngepel," ujarnya juga dengan ramah, menyeimbangi Arini yang begitu ramah kepadanya.
"Giling?" Arini menoleh bingung. Untuk kata-kata yang ini Arini benar-benar tak mengerti. Arini benar menunggu Susi menjelaskan hingga dia menjeda pekerjaannya.
"Itu loh, Nya. Nyuci dengan mesin cuci. Kan di dalamnya akan muter-muter jadi saya sebut giling," Susi meringis mengatakan itu dan akhirnya Arini tau sekarang arti giling. Arini mengangguk lalu kembali dengan pekerjaannya yang sempat terhenti.
Susi benar pergi meninggalkan Arini yang sibuk. Tak lama kepergian Susi Arini kembali menghentikan pekerjaannya, dia terkejut karena tiba-tiba ada tangan yang memeluknya dari belakang dan melingkar di perutnya.
"Masak apa hari ini, Sayang," ternyata Arya yang datang. Seperti biasa Arya akan turun setelah rapi dan siap untuk ke kantor. Dan seperti biasa hanya tinggal dasi saja yang belum terpakai.
"Nasi goreng saja, Mas. Mas tidak keberatan kan makan nasi goreng?" lega Arini karena tau siapa pelaku yang mengejutkannya, dan kini dia sedikit melirik ke belakang ke arah Arya yang menumpu dagunya di pundak Arini.
"Tidak masalah, Sayang. Apapun yang kamu masak aku akan memakannya. Kalau kamu tidak masak berarti kamu yang aku makan," Arya terkekeh dengan kata-katanya sendiri. Senang rasanya bisa menggoda istrinya dan membuatnya merona malu.
__ADS_1
"Apa sih, Mas. Jangan aneh-aneh deh. Arini sedang masak loh ini," Arini protes saat tangan Arya nakal dan mulai naik untuk memberikan pijatan kecil di bagian dua gunung kembar yang tertutup gamis. Arya bisa tenang melakukannya karena tangan juga tidak akan mungkin di lihat orang lain karena hijab Arini yang besar.
"Siapa yang aneh-aneh sih, Sayang. Mas kan hanya mau menyapa ini saja di pagi hari. Semalam nggak jadi nyapa loh karena kamu udah keburu tidur."
"Aww! Mas!" jerit Arini saat tangan Arya semakin nakal dan memilin puncak gunung.
"Hahaha, gemes deh," Arya malah ngakak karena wajah Arini yang terlihat panik. Hampir saja centong nasi mendarat di kening Arya kalau saja dia tidak menghindar.
"Udah dong Mas. Jangan ganggu Arini, nanti nasi gorengnya nggak enak. Kalau keasinan gimana, kalau kurang asin, kurang sedap kurang nikmat gimana?" gerutu Arini.
"Kata nek Murni kalau masakannya keasinan artinya akan memiliki anak laki-laki, kalau nggak asin berarti perempuan, kalau kurang sedap berarti kurang cinta, kalau kurang nikmat berarti nikmatnya harus di tambah dengan menikmati yang masak," Arya semakin tergelak. sementara Arini malah terbelalak.
"Mas!" centong nasi benar terangkat dan mengarah ke arah Arya.
"Eh, maaf. Saya hanya mau pamit."
Kedatangan Toni membuat keduanya saling menjauh satu sama lain. Arini terlihat malu bukan main sementara Arya terlihat kesal. Lagi-lagi acara bermesraan dengan istrinya terganggu oleh Toni.
Arini ternganga karena amukan Arya kepada Toni lagi ini. Kenapa suaminya begitu marah kepada Toni? sepertinya Toni juga tidak melakukan kesalahan. Tidak salah kan kalau Toni hanya mau pamit pulang saja.
Tuk...
Centong nasi benar-benar mendarat di kepala Arya. Niat Arini untuk menjernihkan atau menyadarkan Arya yang sedang kesal kepada Toni saat ini.
"Jangan galak-galak, Mas. Nanti rontok itu brewoknya," celetuk Arini.
Arya ternganga mendengar penuturan Arini sementara tangannya sudah memegangi kepalanya yang mendapat ciuman dari centong nasi.
Ingin sekali Toni tertawa melihat bagaimana pasangan di depannya ini. Cara mereka menyampaikan kasih sayang begitu lucu menurutnya. Tetapi tetap saja Toni tak bisa melakukannya, Toni tidak mau sampai Arya benar-benar marah nantinya.
"Kalau begitu saya permisi, Tuan. Saya akan bersiap untuk ke kantor," Toni hendak bergegas.
__ADS_1
"Tuan Toni! jangan pulang dulu. Sarapan bareng sama kami. Ini saya masak banyak kok. Mubazir kalau tidak habis."
Arya semakin menganga mendengar tawaran Arini untuk Toni. Bagaimana tidak? Arya tidak akan rela kalau orang lain juga menikmati makanan buatan istrinya.
Mata Arya langsung melotot ke arah Toni, berkedip memberikan kode supaya Toni menolaknya. Toni begitu merinding melihat itu, mata Arya sungguh mengerikan.
Meskipun Toni mau dan sangat lapar saat ini tapi dia harus bisa bekerja sama dengan Arya, kalau tidak bisa-bisa persiapan pernikahannya akan kacau balau nantinya.
"Tidak usah, Bu. Saya tidak terbiasa sarapan sepagi ini," Toni tersenyum ramah, dia ingin menolak keinginan Arini.
"Saya tidak suka penolakan, kamu harus tetap sarapan dengan kami sekarang. Kalau tidak jangan harap saya akan izinkan Mas Arya untuk menyiapkan semua persiapan pernikahan kamu. Mas Arya sudah cerita kepada ku tadi, jadi kamu tidak boleh menolak keinginanku."
Toni begitu bingung, siapa yang harus di pilih. Dia takut Arya akan menggagalkan persiapan pernikahannya, sementara sekarang semua kuncinya ada pada Arini. Kalau dia menolak Arini juga tidak akan membiarkan Arya melakukannya. Itu berarti jika Arya berubah pikiran karena marah dengan Arya Toni bisa memohon kepada Arini.
"Ta_tapi, Bu?"
Sekali Toni melirik ke arah Arya yang terlihat sangat kesal.
"Tidak ada penolakan, sekarang kamu dan Mas Arya duduk di meja makan. Sebentar lagi nasi gorengnya matang."
Arini mendorong pelan Arya untuk keluar dari dapur.
"Sayang," rengek Arya. Arya memberatkan tubuhnya dia tidak mau pergi dari dapur. Lebih tepatnya dia sangat keberatan kalau Toni ikut sarapan dengan mereka.
"Cepat, nanti gosong nasi gorengnya. Buruan," Arini bersikekeh.
"Sayang..."
Arini terus mendorong Arya dan kini Arya hanya pasrah begitu saja. Tak mungkin dia akan menolak keinginan istri tercintanya.
...****************...
__ADS_1
Bersambung....