
...◦•●◉✿Happy Reading✿◉●•◦...
...________...
Meeting harus gagal karena Arya tidak hadir di sana. Semua kolega merasa sangat kecewa tapi mereka juga tak bisa melakukan apapun lagi kecuali hanya bisa pasrah karena semua yang memegang kendali juga Arya.
Toni hanya bisa pasrah mendengarkan keluhan dari mereka semua Toni pun tak bisa melakukan apapun karena dia juga tidak mengetahui keberadaan Arya sekarang. Arya hilang seperti di telan bumi dan tidak ada jejak sama sekali. Bahkan berkali-kali Toni meminta hacker untuk melacak keberadaannya tetap saja belum berhasil.
"Sebenarnya Anda di mana, Tuan? " Toni hanya bisa frustasi karena menghilangnya Arya dia sudah berusaha tapi tetap gagal dan sekarang tak bisa melakukan apapun kecuali hanya berdoa memohon keselamatan untuk Arya.
𝘛𝘢𝘬... 𝘛𝘢𝘬... 𝘛𝘢𝘬...
Terdengar langkah kaki yang semakin mendekati keberadaan Toni entah siapa tapi belum jelas. "Semoga itu tuan Arya," Toni beranjak dia menyambut seseorang yang datang yang kemungkinan itu adalah Arya karena suara langkah kakinya sama persis dengannya.
"Tuan Arya.. " ucapan Toni melirih saat matanya sudah melihat siapa yang datang ternyata bukan Arya melainkan Wiguna, papanya Arya. "Selamat datang, Tuan," imbuhnya dengan formal.
"Hem," jawaban Wiguna terdengar begitu dingin. Wiguna berhenti tepat di hadapan Toni sekarang, menatapnya dengan tajam melihat Toni yang seperti orang kebingungan. "Di mana Arya? Saya sudah ke ruangannya tapi dia tidak ada. Saya mencoba menghubungi tapi juga tidak bisa. Apa dia sedang pergi? " tanya Wiguna
"Hem..., sebenarnya..," Toni begitu bingung untuk menjawab, benarkah dia akan menjawab dan memberitahukan menghilangnya Arya? Tapi sepertinya memang harus di katakan dengan Wiguna, "Saya tidak tau keberadaan tuan Arya, Tuan. Dari tadi saya mencoba menghubungi tapi juga tidak bisa."
Toni tertunduk ketika mengatakan itu dia hanya takut kalau sampai Wiguna akan marah sama seperti anaknya yang selalu seperti itu karena selalu menganggap dirinya tidak becus.
"Heh! " Wiguna menoleh dengan cepat bagaimana mungkin Arya bisa menghilang begitu saja tanpa ada jejak sama sekali.
"Saya harus pergi, hubungi saya kalau Arya kembali atau ada kabar mengenai keberadaan. Ada hal penting yang harus saya bicarakan kepadanya," ucap Wiguna.
"Baik, Tuan," jawab Toni. Syukur alhamdulillah Wiguna tidak marah padanya mungkin kali ini dia sedang beruntung.
Tak ada jawaban lagi dari Wiguna, dia langsung pergi meninggalkan tempat itu dengan begitu gagahnya. Kedua tangannya dia kantongi di saku celananya, sungguh berwibawa sebagai seorang pemimpin.
𝘛𝘪𝘯𝘨....
Pesan masuk di ponsel Toni dengan cepat dia langsung membukanya. Ada harapan sebelum dia membuka semoga itu adalah chat dari bosnya Tuan Arya.
"𝘑𝘦𝘮𝘱𝘶𝘵 𝘴𝘢𝘺𝘢 𝘥𝘪 𝘬𝘢𝘮𝘱𝘶𝘯𝘨 𝘔𝘦𝘬𝘢𝘳 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨. 𝘈𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘺𝘢 𝘴𝘩𝘢𝘳𝘦 𝘭𝘰𝘬𝘢𝘴𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘶𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘥𝘶𝘢 𝘫𝘢𝘮, "
"Kampung Mekar? Du-dua jam? " pekik Toni, "bukannya jarak wajarnya lima jam? Astaga nih Tuan, ada masalah apa Tuan Arya bisa sampai sana." Toni hanya bisa geleng-geleng kepala.
Bagaimana mungkin waktu wajarnya lima jam minta dua jam saja harus sudah sampai. "Astaga.. " keluh Toni.
Meski tak yakin akan sampai tepat waktu tapi Toni tetap berangkat dengan buru-buru. Sebenarnya Toni juga merasa bingung bukannya tuan Arya pergi dengan mobilnya sendiri lalu kenapa minta jemput? Apa yang terjadi pada tuan Arya.
///////
__ADS_1
Empat setengah jam Toni menempuh jarak untuk sampai ke kampung Mekar. Kecepatan dari laju mobilnya sudah paling tinggi tapi tetap saja Dia tak bisa menempuh dalam dua jam saja, iya lah! Itu kan hanya akal-akalan Arya saja.
Mobil telah berhenti tepat di depan rumah pak Karna setelah Toni beberapa kali bertanya kepada para warga. Toni turun dengan pasti melangkah maju untuk masuk ke rumah pak Karna.
Tangannya mengetuk pintu meski pintu dalam keadaan terbuka, bibirnya pun juga mengucapkan salam sebagai sapaan yang baik sebagai tamu.
"Assalamu'alaikum.. " meski Toni tak pernah juga menjalankan ibadah sebagaimana semestinya tapi dia sedikit banyak tau lah bagaimana adat bertamu dengan baik dan itu Toni terapkan saat ini.
Laki-laki berusia lanjut dengan baju batik berwarna coklat juga memakai kopyah hitam yang menutupi kepalanya itu datang, dia beranjak dari duduknya untuk menghampiri Toni. "Wa'alaikumsalam.. " jawabnya.
"Maaf, apa ini benar rumahnya pak Karna? " tanya Toni memeriksa kebenarannya.
"Iya betul, anda siapa ya? " tanya balik pak Karna.
"Perkenalkan, saya Toni asisten Tuan Arya. Apakah benar tuan saya berada di sini? "
"Oh nak Arya, dia ada di sini sama istrinya juga. Silakan masuk," ajak pak Karna.
"𝘐𝘴𝘵𝘳𝘪? 𝘒𝘢𝘱𝘢𝘯 𝘯𝘪𝘬𝘢𝘩𝘯𝘺𝘢? " bingung Toni. Toni mengangguk dalam kebingungan, tuannya sama sekali belum menikah bagaimana mungkin dia ada di sana dengan istrinya. Lalu siapa juga yang menjadi istrinya? "𝘈𝘱𝘢 𝘈𝘳𝘪𝘯𝘪? " tebaknya.
Pak Karna menuntun Toni untuk masuk ke dalam rumah memintanya duduk di kursi dan dia akan memanggilkan orang yang di cari di kamar tamu.
"Assalamu'alaikum..., Abah, Ambu..., Nisa pulang..! " Seorang gadis berhijab tiba-tiba masuk tangannya menarik koper. Langkahnya begitu cepat dia sudah tak sabar ingin bertemu dengan kedua orang tuanya.
Gadis itu menjadi canggung saat melihat Toni di sana. Tangannya seketika menutup mulut yang begitu cerewet juga tak henti-hentinya berteriak saat masuk rumah.
Langkahnya di perlambat matanya juga tak berkedip memandangi Toni yang juga sudah memandanginya.
"Wa'alaikumsalam... " jawab Toni. Keduanya saling lempar senyum kecil juga mengangguk sebagai tanda keakraban padahal mereka juga belum saling kenal.
"Permisi," Nisa masuk dengan tubuh yang membungkuk Nisa masuk, dia sangat malu karena perbuatannya yang masih saja seperti anak-anak.
Toni hanya mengangguk kecil sebagai jawaban untuk Nisa, Toni tak mau sok akrab dia juga tidak mengenalnya lagian Toni juga belum tertarik dengan gadis yang seperti apapun.
/////
"Akkk...! kenapa pak Tuan tidur satu ranjang dengan Arini, pergi! " begitu syok si Arini saat dia bangun tidur dan melihat Arya ada di sebelahnya. Bahkan dengan sengaja Arya juga memeluk Arini dengan erat. Sungguh tak punya adat pak Tuan nih.
"Apa sih Arini. Aku masih ngantuk, aku lelah punggungku juga masih sakit karena menggendong mu," suara Arya masih terdengar serak-serak khas orang bangun tidur bahkan dia juga belum mau membuka matanya sekaligus menyingkirkan tangannya yang ada di perut Arini.
"Ini apa lagi, lepasin Arini, pak Tuan! Ini tidak pantas! " Arini terus berontak dia semakin tambah kesal dengan kelakuan Arya yang semakin menjadi-jadi.
"Diam, dan jadilah gadis yang penurut! Kalau tidak aku akan membuatmu tak bisa berjalan sekarang," ancam Arya.
__ADS_1
"Pak Tuan mau mematahkan kaki Arini?" tanyanya. Sangat jarang mereka berdua akan bisa nyambung. Satunya mengatakan A dan jawabannya pasti B. Benar-benar tak ada benang yang tersambung dengan benar.
Mata Arya terbuka sekarang, kenapa selalu saja berbeda jawabannya dari apa yang dia katakan. Tapi sebenarnya Arini juga tidak salah sih, orang tidak bisa berjalan kan karena kakinya yang bermasalah, bisa jadi Arya ingin mematahkan kaki Arini kan supaya tidak bisa kabur.
"Apa orang yang tidak bisa jalan itu hanya karena ada masalah di kakinya? " tanya Arya mulai kesal namun masih dia coba untuk menahannya. Arini hanya mengangguk sebagai jawabannya.
"Apa kamu akan bisa jalan kalau yang bermasalah tepat di antara kedua kakimu!" terlalu berbelit-belit Arya ingin mengatakan tapi dia tak ingin mengatakan lebih jelas lagi.
"Di antara kedua kaki? " Arini mengernyit bingung.
"Apa aku perlu menyentuhnya supaya kamu paham! Atau aku langsung aja praktek supaya kamu benar-benar tidak bisa jalan," ancamnya lagi.
Tangan yang anteng di perut Arini mulai bergerak membuat Arini sadar apa yang Arya inginkan sekarang. Jelas Arini akan berontak kan? "Pak Tuan jangan sembarangan!" tangan Arini juga sigap untuk melindungi apa yang dia punya dia juga berusaha untuk menjauh dari orang yang tidak waras seperti Arya.
"Jangan bergerak, aku hanya mau menunjukannya padamu di mana tempatnya." Arya sudah berpindah menjadi duduk sekarang menahan Arini supaya tidak pergi.
"Tidak mau! " tolak Arini.
Arini yang semakin ketakutan membuat Arya merasa puas dia sungguh senang membuat Arini ketakutan seperti sekarang ini. Bukannya menunjukkan di mana tempatnya kini kedua tangan Arya beralih ke tempat lain dan menggelitik-i pinggang Arini dan membuatnya tertawa terpingkal.
"Hahaha..., pak Tuan lepas, hahaha...! " tawa Arini dengan sangat keras.
"Tidak akan," Arya terus semangat membuat kasur itu menjadi berantakan.
Tangan Arini menyambar guling di sebelahnya dia jadikan senjata untuk melawan Arya. Dengan gerak cepat Arini memukul Arya dengan guling hingga terjadilah tarik menarik pada keduanya untuk memperebutkan sebuah guling.
"Akkk...! " guling berhasil di tarik oleh Arya di buang sembarangan sebelum keduanya jatuh di kasur dengan Arini berada dibawah Arya.
Mata Arini tertutup karena begitu terkejut dengan gerakan yang begitu cepat. Tubuhnya terkunci tak bisa bergerak karena Arya.
"𝘊𝘢𝘯𝘵𝘪𝘬," satu kata yang keluar dari hati Arya yang tak bisa dia ungkapkan dengan nyata. Tak mau kehilangan kesempatan Arya ingin mengecup bibir ranum Arini yang terlihat sangat menggoda.
Tiga senti... Dua senti... Satu senti...
𝘛𝘰𝘬... 𝘛𝘰𝘬... 𝘛𝘰𝘬...
"Nak Arya, asisten nak Arya sudah datang...! "
"Sial," umpat Arya. Dia langsung melepaskan Arini dengan sejuta kekesalan.
Sementara Arini hanya cengo berdiam diri dengan tubuh kaku memandang Arya yang kesal.
/////
__ADS_1
Bersambung....
________