Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)

Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)
43.Jangan Marahi Arini


__ADS_3

..._____...


...◦•●◉✿Happy Reading✿◉●•◦...


Arini berjalan mendekati perempuan yang terlihat sangat cantik itu, meskipun wajahnya pucat namun tetap tidak menutupi kecantikannya. Selang-selang bantu tertempel di setiap sudut membuat Arini merasa sangat kasihan.


Tubuhnya terlihat begitu kurus, entah penyakit apa yang telah berhasil menggerogoti tubuh perempuan cantik yang usianya mungkin hampir sama dengan Ratna ibunya.


Hati Arini terasa tersayat melihat perempuan yang sama sekali tidak dia kenal, bahkan air mata Arini lolos begitu saja seiring langkahnya yang semakin mendekat ke arah perempuan itu.


"Kenapa aku begitu cengeng?" ucapnya dan cepat menghapus air matanya.


"Nyonya, maaf ya. Saya tidak sengaja masuk ke sini. Arini sedang mencari nenek yang juga sedang sakit," ucapnya.


"Semoga Nyonya tidak marah ya, Arini benar-benar minta maaf. Arini janji tidak akan masuk ke sini lagi," imbuhnya.


Arini tetap mendekat seakan ada seseorang yang mendorong dirinya untuk semakin mendekat, bahkan Arini juga langsung duduk di kursi sebelahnya.


"Sebenarnya Nyonya sakit apa? kenapa Nyonya sampai kecil seperti ini. Lihatlah bahkan tangan kita sama kecilnya, tapi bedanya kalau tangan Nyonya putih tapi kalau punya Arini? warnanya coklat, apa ya? kalau Arini sih taunya ini warnanya coklat tapi kalau orang lain menganggap ini warnanya hitam, entah siapa yang benar. Kalau Nyonya bisa lihat pasti Nyonya akan mengatakan ini warna apa, bukan begitu kan Nyonya," ucapnya.


Arini begitu lepas bercerita dengan perempuan yang tidak sadar itu bahkan dia tidak ragu mengatakan apapun seperti dia sedang curhat dengan ibunya. Arini tak mengerti kenapa dia bisa melakukan itu, suaranya seakan keluar sendiri tanpa dia yang mengontrolnya.


"Bukankah ini aneh kan, Nyonya. Mata Arini masih normal, mata Arini juga tidak minus jadi Arini bisa membedakan warna dengan baik tapi sepertinya tidak untuk orang lain, apakah mata mereka semua yang minus ya? entahlah, Arini tak mengerti dengan jalan pemikiran orang-orang," ucapnya lagi.


"Ishh.., apa yang kamu katakan Arini. Kamu tidak boleh seperti itu, seharusnya kamu juga tidak boleh berisik di sini ini akan menggangunya," ucapnya memarahi diri sendiri.


Arini menggenggam tangan yang sangat lemas itu bahkan seperti tak ada tulang di dalamnya, "maafkan Arini ya, Nyonya. Semoga kalau Nyonya bangun tidak akan memarahi Arini."


Arini terdiam sejenak, dia kembali melihat semua selang yang terpasang pada perempuan itu.

__ADS_1


"Kenapa Nyonya harus di pasang-pasang dengan selang seperti ini, Nyonya pasti begitu kesakitan? apakah alat-alat ini memang harus di pasang seperti ini? aku tidak tega melihatnya, pasti sangat sakit kan?"


Arini kembali menitihkan air mata, dia benar-benar tak tega melihat nya. Dia juga merasa ikut sakit.


"Meskipun Arini tidak mengenal Nyonya, Arini akan berdoa semoga Nyonya cepat sembuh. Supaya selang-selang ini bisa di lepaskan dari Nyonya," ucapnya.


Arini menaruh lagi tangan perempuan itu, kedua tangannya terangkat untuk mendoakan kesembuhannya.


Begitu khusuk Arini berdoa, setelah selesai dia mengusap telapak tangannya di wajah.


"Semoga cepat sembuh ya, Nyonya. Sekali lagi Arini minta maaf karena mengganggu istirahat Nyonya. Arini akan pergi, Assalamu'alaikum... "


Arini beranjak namun sebelum dia pergi dia kembali meraih tangan lemah itu dan mengecupnya, "cepat sembuh ya, Nya. Assalamu'alaikum, " kali ini Arini benar-benar pergi.


Arini membuka pintu dia ingin keluar namun dia kembali menoleh sejenak, kenapa rasanya sangat tak rela untuk pergi dari ruangan itu.


Arini menutup pintu dengan sangat pelan dia benar-benar tidak mau sampai pintu itu bersuara karena pasti akan mengganggu orang yang ada di dalamnya.


Pencarian berlanjut, Arini kembali melangkah ke tempat yang dia yakini ada neneknya di sana.


Di saat Arini sudah tak terlihat dari tempat itu ada seorang perawat yang datang membawa air hangat untuk membersihkan tubuh pasien di dalam. Perawat itu adalah orang yang secara khusus di perintahkan oleh dokter untuk menjaga dan merawatnya.


"Assalamu'alaikum, selamat pagi Nyonya Nilam," sapanya.


Disaat perawat mulai menyentuh tangan dia melihat bahwa jari-jemari dari pasien tersebut mulai bergerak sang perawat begitu terkejut dan langsung memencet tombol darurat yang terpasang di sana.


"Nyonya, apa Nyonya Nilam mendengar saya, Nyonya," panggilnya setelah dia berkali-kali memencet tomboi darurat.


Tak lama satu dokter juga satu perawat masuk ke sana dengan buru-buru, dia adalah Dimas, "apa yang terjadi dengan Mama, Sus?! " tanya Dimas dengan sangat khawatir.

__ADS_1


"Nyonya Nilam, tadi jari-jari Nyonya Nilam bergerak, Dok," jawabnya.


"Bergerak! " Dimas begitu terkejut dia sangat tak percaya dengan mukjizat yang terjadi.


Dimas langsung memeriksa keadaan Nilam yang ternyata adalah mamanya sendiri, dia berharap kalau yang di katakan oleh Perawat adalah benar dia ingin sekali melihat Mamanya sembuh dari sakitnya.


Tapi sepertinya Dimas harus kembali kecewa karena dia tak melihat pergerakan itu lagi, bahkan keadaannya kembali seperti biasanya, "apa suster yakin kalau tangan Mama bergerak?" Dimas menoleh dengan penuh selidik dia tak percaya begitu saja karena kali ini dia tak melihat perubahan apapun.


"Saya tidak bohong, Dok. Tadi saya melihatnya sendiri," jawab perawat itu.


"Keluarlah kalian, saya mau di sini berdua dengan Mama," pinta Dimas dan dua perawat langsung keluar atas permintaannya.


Dimas duduk, dia genggam tangan Nilam mengecupnya berulang kali. Dimas sangat merindukan Mamanya itu, dia hampir menyerah dia hampir pasrah dia sudah berniat melepaskan alat bantu Nilam dari semua tubuhnya, dia tak ingin menyiksa sang mama dengan memaksanya untuk tetap hidup. Dimas sendiri yakin kalau jantung Nilam masih terus berdetak semua itu karena semua alat-alat rumah sakit yang terpasang padanya.


"Ma, sudah tujuh belas tahun Mama seperti ini, apakah Mama benar-benar tidak ingin hidup lagi? Ma, di sini masih ada Dimas, Ma. Meskipun adek sudah pergi tapi masih ada Dimas yang sayang sama Mama. Bangunlah, Ma! demi Dimas," Dimas kembali mengecup tangannya dia sangat berharap apa yang dia ucap akan di dengar oleh Nilam.


"Dimas sangat merindukan, Mama," air mata Dimas mulai mengalir, dia selalu saja lemah jika di hadapkan dengan posisi yang seperti sekarang.


"Dimas yakin Mama mendengar apa yang Dimas katakan, Mama akan segera bangun kan, Ma. lihatlah, Dimas sudah besar sekarang, Dimas sudah menjadi dokter seperti yang Mama harapkan, apakah Mama tidak ingin mengucapkan selamat pada Dimas, Ma."


"Biasanya Mama yang selalu memberikan kekuatan untuk Dimas, kenapa sekarang Mama menjadi kelemahan untuk Dimas, Ma. Bangunlah Ma." ucap Dimas yang terus berharap.


Dimas terus berucap di sana, kalau yang di katakan Perawat tadi benar berarti Nilam sudah mulai merespon dia pasti akan cepat sembuh setelah ini. Tapi hanya satu yang membuat Dimas bingung, kenapa tiba-tiba Nilam merespon?


//////


Bersambung...


________

__ADS_1


__ADS_2