
Happy Reading...
Arya begitu grogi di depan penghulu yang sudah dari tadi menunggu kedatangannya. Baru saja dia duduk tapi dia sudah terlihat sangat tak karuan.
Apakah ini rasanya saat orang yang akan menikah? Apakah semua orang yang akan melangsungkan pernikahan perasaannya akan seperti dirinya sekarang? Entahlah.
Seandainya Arini tidak datang di kehidupannya yang awalnya hanya sebagai OB saja mungkin Arya tidak akan merasakan semua ini. Dia juga tidak akan merasakan cinta yang tulus dan cinta sejati.
Bukan hanya bahagia saja Arya bisa mendapatkan Arini tapi dia juga sangat beruntung bisa mendapatkannya dan menjadikan pendamping hidup untuk selamanya. Arini adalah perempuan yang sangat berbeda, dengan berjuta keanehan juga kejutannya.
Hidup Arya juga lebih berwarna sekarang, dia bisa memahami akan arti hidup yang sesungguhnya dan bisa meninggalkan semua kebiasaan buruk dan kini berubah menjadi lebih baik di mata Tuhan juga di mata manusia.
"Apakah anda sudah siap, Tuan Arya?" tanya penghulu.
Hati Arya semakin ketar-ketir tak menentu, jantungnya terus berdetak seiring dengan wajahnya yang mengangguk dan mulutnya yang mulai terbuka, "su-sudah," ucapannya begitu gugup.
Penghulu juga para wali yang terdiri dari Wiguna, Hendra juga kakek Susanto hanya tersenyum melihat Arya. Apalagi Toni yang kini tengah mengabadikan momen itu dengan kamera.
"Jabat tangan saya," pinta penghulu seraya mengulurkan tangan di atas meja.
Sontak Arya langsung menerima uluran tangan itu hingga akhirnya mereka saling berjabat tangan dengan sangat erat.
"Bagaimana Tuan Arya, apakah anda sudah siap?" tanya penghulu lagi dengan sangat menekankan.
"Saya siap," jawabnya.
Penghulu tersenyum sekilas, sebelum dia mengucapkan ikrar suci pernikahan untuk menuntun Arya.
Begitu jelas penghulu mengatakan hingga membuat semua orang terdiam dalam perasaan haru namun juga sangat serius yang amat sangat. Apalagi Arya, dia harus bisa fokus karena setelah itu dia harus mengucapkan ikrar suci pernikahan atas dirinya juga Arini.
Cepat Arya langsung mengatakan ijab qabul saat penghulu menghentakkan tangannya.
"Saya terima nikah dan kawinnya Arini Khumaira binti Hendra Anggara dengan seperangkat alat shalat dan mahar tersebut di bayar, TUNAI!"
"Bagaimana para saksi, Sah!"
"Sahhh!!" Suara kata sah terdengar dari semua tamu, bahkan tidak hanya para saksi atau wali saja yang mengatakan itu.
__ADS_1
"Alhamdulillah," ucap penghulu dan langsung melepaskan tangan Arya. Tangan penghulu terangkat menengadah ke langit-langit seraya mengucapkan doa.
Begitu plong rasanya hati Arya, hanya dengan sekali tarikan nafas saja dia bisa mengucapkan ikrar suci pernikahan dan kini sudah resmi menjadi suami dari Arini Khumaira.
Sempat air mata Arya keluar tadi, mungkin karena dia saking bahagia juga sangat lega.
Rasanya benar-benar tak karuan, semua campur aduk menjadi satu.
Bukan hanya Arya yang sempat meneteskan air mata tapi Arini juga sama. Di dalam kamarnya dia sangat terharu juga senang. Entah perasaan seperti apa sebenarnya tapi dia begitu bahagia hingga akhirnya dia malah mengeluarkan air matanya.
"Dek, selamat ya," ucap Dimas.
"Terimakasih, Kak Dimas," ucap Arini yang baru kali ini dia memanggil nama Dimas dan bukan Dokter lagi.
Tak seperti kemarin yang tidak mau di peluk oleh Dimas kini malah Arini sendiri yang langsung memeluk kakaknya dan membuatnya menangis.
"Jangan menangis, nanti riasan mu luntur dan aku yang akan mendapatkan hukuman dari suamimu," ucap Dimas. Padahal dia sendiri juga menangis tapi malah dia mengatakan itu kepada Arini.
"Selamat ya, Kring. Semoga ini adalah awal dari kebahagiaan mu yang nyata. Semoga pernikahanmu langgeng sampai kakek nenek, dan yang pasti sampai maut yang memisahkan kalian berdua," ucap Raisa tak mau kalah.
Arini beralih memeluk Raisa. Dia sudah seperti kakaknya sendiri, bahkan seperti saudara sebelum dia di pertemukan dengan orang tuanya.
"Terimakasih doanya ya, Mbak. Semoga kalian cepat nyusul juga, amin..." ucap Arini sekaligus mendoakan Dimas juga Raisa.
"Amin!" Seru keduanya tak sadar.
"Bentar bentar, kamu bilang apa tadi?" Dimas menelisik setelah dia sadar kalau ada yang berbeda dari yang Arini katakan barusan.
"Tidak ada," jawab Arini tak mengakui. Kalau dia mengaku pasti akan ada perdebatan saat itu juga.
Dimas mengangguk, mungkin dia hanya salah dengar saja. Dan mungkin Arini memang tidak mengatakan apapun.
Dirasa sudah cukup dalam suasana haru birunya Dimas mengajak Arini keluar, di luar sana pasti sudah ada yang menunggu kedatangannya dengan tak sabar. Siapa lagi kalau bukan suaminya Arini, Arya Gautama.
"Kita keluar sekarang?" tanya Dimas.
__ADS_1
Arini mengangguk, meski dia sangat malu tapi dia tidak mungkin kan mengurung diri di sana terus. Dia juga harus menemui suami tampannya yang sangat arogan, dingin, angkuh, juga sangat keras kepala.
Dimas membuka lengannya menarik tangan Arini supaya merangkulnya. Kali ini Arini tidak menolak, dia nurut saja dengan Dimas. Bukan hanya dengan Dimas sendiri tapi Arini juga merangkul lengan Raisa dan dia berada di tengah-tengah mereka berdua.
Langkah begitu pelan, dengan senyum yang terpancar dari Arini juga dari kedua orang yang ada di dua sisinya.
Hingga sampai di tempat acara senyum itu tak pernah pudar, tapi kali ini Arini terus menundukkan wajahnya dia sangat malu saat semua orang melihatnya.
Aura Arini benar-benar sangat menghipnotis semua tamu undangan, bahkan juga Arya sendiri sudah langsung di buat terpana olehnya.
Arya sama sekali tak berkedip saat melihat Arini, sekarang mau seberapa lama pun dia melihat Arini, berkali-kali dia mengedipkan mata dan mengulangnya lagi dia tidak akan berdosa, Arini sudah halal baginya dan tak akan bisa ada lagi yang melarang.
Hingga sampai di depan Arya, Arini masih menunduk, dia masih sangat malu untuk memperlihatkan wajahnya pada Arya, suaminya.
"Sayang," Nilam mengelus pundak Arini, membuatnya sedikit melirik dan mendapatkan kode untuk dia menyalami Arya untuk yang pertama kalinya.
Arini nurut, dia langsung meraih tangan Arya yang masih terus terdiam dalam pesona Arini. Padahal Arya juga belum melihat jelas wajahnya tapi dia sudah tidak mau memalingkan matanya dari Arini.
Arya tersadar saat tangannya di raih oleh Arini dengan sangat pelan, bahkan Arini juga langsung mengecup punggung tangannya.
Sebelum tangan mereka berdua saling terlepas Arya meraih kepala belakang Arini, menariknya untuk mendekat lalu dia mengecup kening Arini dengan sangat lembut.
Mata Arini terpejam dalam sesaat ketika Arya mengecup keningnya. Merasakan cinta dan kasih sayang yang tulus telah tersalurkan dari kecupan pertama Arya.
"I love you, Arini," ucap Arya begitu lirih dan tak dapat terdengar oleh siapapun kecuali Arini sendiri.
Arini mengangkat wajahnya, menatap wajah suaminya yang terlihat begitu tampan di hiasi dengan senyuman yang sangat manis. Arini juga membalas hal yang sama, tersenyum hingga memperlihatkan lesung pipi yang menjadi kebanggaan Arya.
Arini tak menjawab tapi dia hanya sedikit mengangguk saja. Dia malu untuk mengatakan itu, dia takut akan di dengar oleh orang lain.
"Terimakasih Ya Allah, akhirnya kami benar-benar bisa bersatu dalam sebuah ikatan suci pernikahan. Tuntun lah kami dalam menjalani rumah tangga ini dengan baik hingga menjadi keluarga yang seperti surga," batin Arini.
"Ternyata benar, mencintai karena Allah lebih baik daripada mencintai hanya karena rupa, tahta dan harta. Cinta tak akan salah, di saat hati sudah saling memiliki sekeras apapun mulut berbicara dan menyakiti tapi hati akan menemukan jalannya untuk bisa bersatu," batin Arya.
~~~••~~~~
Bersambung....
__ADS_1