
Happy Reading...
Keinginan untuk bertemu dengan Arini yang sampai sekarang belum terpenuhi membuat Nilam merasa sangat sedih. Meskipun keadaannya sudah semakin membaik tetapi dia selalu saja melamun.
Nilam terus dengan penyesalannya, kenapa anaknya selalu datang di saat dirinya terbaring tak berdaya sementara sekarang waktu dia sudah sadar sepenuhnya anaknya malah pergi dan tak tau dia kemana.
Masih di dalam ruang rawat yang sudah di pindah dari ruang ICU ke ruang rawat biasa kini Nilam hanya bersama dengan Nisa saja, gadis yang di pekerjaan secara pribadi oleh Dimas yang begitu telaten merawat Nilam bahkan kali ini dia tengah merayu Nilam untuk makan.
Tetapi tak mudah untuk Nisa bisa meluluhkan hati Nilam, dia sangat kesusahan karena Nilam tak mau bicara bahkan juga tak mau membuka mulutnya untuk menerima suapan dari Nisa.
"Nyonya, makanlah meskipun hanya sedikit saja. Kalau Nyonya tidak mau makan bagiamana akan cepat sembuh. Katanya nyonya ingin bertemu dengan Arini kan? Kalau begitu Nyonya harus cepat sembuh," ucap Nisa.
Tangannya masih menggantung di udara dengan membawa sendok yang penuh dengan bubur dan siap untuk dia gunakan untuk menyuapi Nilam.
Nilam hanya menggeleng menanggapinya, dia sama selain tidak mau makan meski hanya sedikit.
Nilam hanya mau bertemu dengan Arini, dia ingin makan dari tangan anak perempuannya yang kini sudah menjelma menjadi gadis yang kuat dalam semua situasi apapun. Menjadi gadis tangguh yang tak mau merepotkan orang lain, juga gadis yang selalu belajar mandiri.
"Tidak, aku hanya mau makan saat bersama Arini. Aku mau makan bareng dengannya. Aku takut dia belum makan di luar sana," ucapannya terdengar sangat pilu, Nilam begitu sedih. Dengan tatapan mata yang kosong bahkan tidak melihat Nisa sama sekali.
Nisa di buat menjadi ekstra sabar untuk sekarang, dia dari tadi terus membujuk tetapi belum juga berhasil untuk membuat Nilam mau makan dari tangannya.
Nisa juga sangat sedih melihat keadaan Nilam, melihat nasib mereka yang harus terpisah jauh dengan waktu yang cukup lama meski Nisa sendiri belum mengetahui kebenaran akan penyebabnya.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum, Ma," kedatangan Dimas membuat Nilam seketika menoleh dengan begitu cepat, Nilam sudah tidak sabar lagi untuk menanyakan bagaimana keadaan Arini sekarang, apakah Dimas sudah menemukannya atau belum.
Senyum keluar dari Nilam saat Dimas menyalaminya dengan begitu hormat, Nilam pun membalas dengan mengelus kepala Dimas.
"Wa'alaikumsalam, Nak. Bagaimana? Kamu sudah menemukan Arini kan?" Nilam sungguh tak bisa menahan perasaannya, dia ingin sekali secepatnya memeluk Arini anak gadisnya itu.
"Hhh.." Dimas terpaku sesaat, dia sangat bingung apa yang harus dia katakan. Dia ingin mengatakan kebenaran kalau dia belum juga mengetahui keberadaan Arini tetapi dia tidak ingin membuat Nilam sedih.
"Dimas, dimana adikmu?" Mata Nilam mengamati arah pintu, senyum juga tak pernah pudar.
"Ma, maafkan Dimas, Dimas belum bisa menemukan Arini, Ma. Maaf," Dimas sangat menyesal, tetapi mau bagaimana lagi karena itulah kenyataannya.
Luruh tangan Nilam dari pundak Dimas, matanya seketika berkaca doa kembali lemas karena harapan untuk bertemu dengan Arini harus kembali di undur lagi karena keberadaan Arini yang tidak di ketahui.
"Mama hanya mau Arini, Dim. Mama hanya mau dia," ucapnya air matanya kembali tumpah tak bisa tertahan lagi.
"Maafkan Dimas ya, Ma. Dimas terlambat menyadarinya, Dimas tidak tau kalau Arini adalah Adek," direngkuhnya tubuh kecil Nilam, di peluk dengan sangat erat.
"Mama hanya mau Arini," Racaunya.
"Iya, Ma. Dimas pasti menemukan Adek secepatnya," jawab Dimas.
Dengan beberapa kantong kresek dan dengan berbagai macam makanan matang juga mentah Arya berjalan dengan buru-buru untuk bisa secepatnya sampai di apartemennya.
__ADS_1
Arya sangat takut kalau Arini sampai pingsan gara-gara kelaparan, apa kata Dunia coba? Seorang Arya mengurung gadis di rumahnya dan membuatnya pingsan hanya karena tidak di kasih makan, sungguh tidak enak di dengar kan?
Arya juga sangat bahagia, setelah Arini makan dia juga ingin mengajaknya ke suatu tempat, Arya yakin Arini akan sangat suka nantinya tapi entahlah karena gadis itu sangat susah untuk di tebak.
"Maafkan aku, Arini. Maafkan aku," gumamnya dan terus melangkahkan kakinya dengan cepat.
Dengan card yang dia bawa Arya berhasil membuka pintu, dia cepat bergegas.
"Arini... Arini...!" Serunya memanggil.
Tak ada jawaban satu patah kata pun dari Arini dan itu membuat Arya panik. Arya menaruh semua yang dia bawa lalu berjalan terus untuk memeriksa keberadaan Arini sekarang jangan sampai anak itu pingsan.
Dari satu tempat ke tempat lain sudah Arya datangi, dan terakhir adalah kamar miliknya yang semalam menjadi kamar Arini juga karena Arya yang bersedia berbagi, tetapi bukan berarti Arya tidur dalam satu tempat karena Arini di kasur sementara Arya di sofa.
"Arini..." panggilnya lagi yang sudah kesekian kalinya.
"Ari... , ternyata dia tidur," ucapannya lirih setelah tau kalau Arini tertidur pulas di atas kasurnya.
Arya berjalan mendekat, duduk di samping Arini yang tidak. Ingin sekali Arya mengelus pipinya tetapi tiba-tiba keberaniannya hilang seketika. Arya tidak mau Arini merasa tidak nyaman di tempat itu dan akan memaksa untuk pergi.
"Kamu pasti lapar, Kan? Maafkan aku. Kamu boleh menghukum ku, kamu boleh ngomel sesuka hatimu yang terpenting kamu tetap di sini bersamaku. Kamu tidak boleh pergi lagi dariku."
"Aku janji, secepatnya akan aku selesaikan masalahku, dan aku akan melamar mu kepada orang tuamu."
Hanya satu harapan Arya sekarang, dia bisa secepatnya menyelesaikan masalahnya dan secepatnya untuk menghalalkan Arini dan menjadikan ratu hatinya yang sah.
"Arini..., Arini, bangun yuk. Aku sudah bawakan kamu makanan untuk kamu makan. Kamu pasti sudah sangat lapar. Arini..." Tak berani menyentuh kulit Arini kini Arya terus menyentuh lengan yang tertutup selimut milik Arini.
"Emm..., Arini tidak mau bangun. Pak Tuan belum kasih Arini makan. Arini sangat lapar, jadi dengan tidur bisa menghilangkan rasa lapar Arini kan?" ucap Arini yang enggan untuk membuka mata.
"Arini, tuk makan," Arya terus menahan tawa melihat seperti apa pergerakan gadis itu. Sungguh menggemaskan.
Arya beranjak karena Arini tak bangun juga, Arya keluar dan setelah beberapa saat dia kembali masuk dengan membawa kresek berisi makanan.
Arya mengambilnya, mendekatkan makanan itu ke hidung Arini. Arini memang tidak tergila-gila dengan uang tapi bisa jadi kan kalau dengan makanan.
Benar saja, hidung Arini langsung beraksi, dia mengendus dan bangun mengikuti makanan yang Arya bawa tetapi Arini belum membuka matanya.
"Aakkk.." Mulut Arini menganga dengan iseng Arya langsung memasukannya.
"Hahaha..." Tawa Arya terpingkal saat Arini juga tiba-tiba membuka mata dengan mulut yang sudah menggigit makanan yang terbuat dari Ayam itu.
"Pak Tuan...!"
"Hahaha..."
__ADS_1
Bersambung....