Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)

Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)
88.Belanja


__ADS_3

...______...


...◦•●◉✿Happy Reading✿◉●•◦...


Setelah kepergian Arya yang membawa Arini Dimas datang. Tentunya untuk menjemput Arini. Memang tak ada janji dia untuk menjemput Arini tapi ini adalah keinginannya sendiri, karena Dimas hanya selalu ingin dekat dengan anak itu.


Dimas begitu tak sabar dia turun dari mobil dan ingin masuk ke gedung tinggi itu untuk menjemput Arini langsung ke tempat dia berada, sekalian dia ingin menyapa Arya.


Baru juga kakinya menapak beberapa langkah ada petugas keamanan yang datang menghampirinya. Yang pasti juga akan menghentikan Dimas kan?


"Tuan, tuan ada perlu apa ya? kantor sudah kosong semua sudah pulang," ucap tukang keamanan memberitahu.


Rasanya tak percaya si Dimas, mana mungkin Arini sudah pulang karena dia datang juga lebih awal dari biasanya. Dia tak ingin saja kedahuluan sama Arya tapi ternyata? benarkah Arini sudah pulang?


"Apakah Anda kenal dengan Arini, apakah dia juga sudah pulang? " tanya Dimas. Tentu dia akan menanyakan itu kan. Meski semua tempat sudah terlihat sangat sepi tapi Dimas masih tetap belum percaya begitu saja.


Seandainya Arini sudah pulang dia juga akan ke rumah sakit kan? karena dia sudah bilang kalau mau datang lagi setelah pulang dari kantor.


Keamanan itu mengangguk, jelaslah karena Arini memang sudah pulang belum terlalu lama, mungkin sekitar sepuluh menit sebelum Dimas datang.


"Saya mengenalnya, Tuan. Dan dia juga sudah pulang satu mobil dengan Tuan Arya," ungkapnya.


Arya lagi Arya lagi. Kenapa Dimas selalu kalah cepat dengannya, kenapa juga Arya begitu perhatian dengan Arini yang hanya OB. Tapi Dimas tetap saja merasa khawatir kalau Arini pergi dengan Arya. Dimas sangat tau bagaimana Arya sebenarnya.


"Semoga tuan Arya tidak melakukan apapun pada Arini," gumamnya.


Karena tak mendapatkan apa yang di mau Dimas kembali masuk ke mobilnya untuk pergi ke rumah sakit lagi, dia hanya berharap semoga saja Arini sudah sampai di sana dengan keadaan baik-baik saja.


///////


Di tempat yang sangat ramai, Arini benar-benar seperti seorang babu untuk Arya. Dia memperlakukannya sungguh tak biasa. Tapi emang lumrah sih dengan pekerjaannya.


Tugas yang seharusnya Toni yang mengerjakannya tapi kali ini Arya sendiri yang berangkat. Mereka berdua tengah berkeliling di pusat perbelanjaan.


Seperti emak-emak Arya terus memilih keperluan rumah yang sebenarnya tidak dia butuhkan, entah untuk apa dan untuk siapa Arya belanjakan sebanyak itu. Bahkan lima troli sudah penuh dan sekarang masih nambah satu lagi.


Miliarder mah bebas, mau belanja apapun dan habis berapapun juga tidak akan ada masalah

__ADS_1


Tapi ini seorang laki-laki loh! apartemen Arya juga hanya dia sendiri yang tinggal, tidak mungkin juga akan di bawa ke kantor untuk mengisi kulkas di sana. Itu bukan pekerjaannya.


"Pak Tuan, Arini capek," keluh Arini. Berkali-kali dia mengusap keringatnya yang terus keluar entah sudah berapa kali putaran Arini mengikuti Arya yang terlihat tak ada rasa lelah sedikitpun.


Arya bergeming, dia terus melangkah tak menghiraukan keluhan Arini di belakangnya.


Tangan Arya terus sibuk memasukkan semua barang-barang di troli yang Arini dorong. Sungguh kebalik kali ini. Biasanya wanita yang akan pilih-pilih dan pria yang ngikutin sembari mendorong troli tapi kali ini? Pemandangan yang sangat berbeda.


Banyak pasang mata juga yang memandangi mereka berdua, ada yang menyungging sinis kepada Arya karena mereka mengira Arya begitu sadis dengan istrinya. Ada juga yang bilang sebagai bentuk kekerasan rumah tangga yang paling parah lagi ada yang bilang bentuk perbudakan yang nyata.


Tapi semua itu tak Arya hiraukan, dia seakan menutup telinga rapat-rapat lagian dia tidak akan membayar semua belanjaannya dari uang mereka.


"Bisa saya bantuin?" seorang pria tampan mendekati Arini, dia merasa iba dan kasihan melihat Arini yang di perlakukan seperti itu oleh Arya.


Arini masih diam namun dia sudah menoleh kearah pria tampan yang juga memiliki lesung di pipi saat tersenyum sama seperti dirinya. Manis sekali.


"Apa dia suamimu? " tanyanya pada Arini.


Arini menggeleng, jelaslah dia kan memang bukan suaminya, Arini masih 𝘴𝘪𝘯𝘨𝘭𝘦.


Apakah kamu asistennya? " tanyanya lagi. Dan Arini kembali menggeleng.


"Menjauh lah, jangan ganggu istri orang lain," tangan Arya langsung merangkul pundak Arini juga menekannya supaya Arini mengikuti permainannya. Matanya juga melotot sebentar saat pria itu teralihkan.


"Sebaiknya anda memperlakukan istri anda dengan baik Tuan. Tapi kalau dia memang istri anda," ucapnya dengan tak percaya, lagian mana ada suami yang akan memperlakukan istrinya seperti itu seperti seorang babu.


Mata Arya melotot tajam ke arah pria itu, berani sekali dia mengatakan itu padanya. Tak ada orang yang boleh berkata sinis padanya.


Tangannya sudah mengepal begitu saja di tak bisa menerima semua ucapan itu. Dia terasa sangat buruk sekali di mata dunia.


"Kenapa? apakah kamu tidak percaya kalau dia adalah istriku! apa aku harus membuktikannya di sini, di depan mata Anda! Apakah anda mau melihat bagaimana cara saya berhubungan dengan istri saya! " amarah Arya sudah meledak-ledak karena pria itu.


Orang itu sepertinya masih tak percaya, dia malah tersenyum namun meledek Arya.


"Oke, akan saya buktikan," Arya membalikan tubuh Arini untuk menghadap ke arahnya, tak ingin Arini menolak tangannya mencengkram dengan kuat.


"Sayang, buka hijab mu! Kita lakukan satu ronde di depan pria songong itu. Biar sekalian dia melihat siaran langsung di sini. Biar gempar nih tempat," ucapnya.

__ADS_1


Arya benar-benar sudah tidak waras. Ada apa dengan dirinya, bagaimana mungkin dia semarah itu hanya karena orang lain mendekati Arini.


Arini sudah ketakutan, Bos satu ini sungguh benar-benar gila. Seandainya dia bisa menggerakkan tangannya maka akan Arini tutup itu mulut pakai sepatunya.


"Kenapa, apa aku yang harus membukanya?!" suara Arya terdengar semakin marah karena Arini masih diam saja.


"Dasar tidak waras! " akhirnya pria itu ya kesal sendiri. Dia pergi dari hadapan dua insan yang tidak dia kenal itu.


"Apa kamu baru tau kalau aku memang tidak waras! dasar pria mata ker*njang! beraninya deketin bini orang! " umpat Arya.


Arini masih diam, mendengarkan ocehan dari Arya yang sama sekali tak ada kebenarannya, juga tidak mengaca lebih dulu saat bicara. Sebenarnya siapa yang mata ker*anjang di sini, pria tadi atau Arya?


"Kenapa kamu menatapku seperti itu, oh..., apa kamu tidak terima! kamu menyesal karena tidak jadi di godain pria hidung-hidungan itu tadi! " seloroh Arya.


Arya melepaskan tangannya dari kedua pundak Arini. Dia masih sangat kesal karena kejadian ini.


"Ingat baik-baik! kamu itu kerja sama saya! jangan pernah berhubungan dengan pria lain kecuali dengan saya. Meskipun itu di luar jam kerja. Kamu ngerti! " kecam Arya.


Ini sebenarnya ada apa sih? tingkah Arya sungguh aneh, tiba-tiba marah tidak jelas.


"Jalan! sekarang kamu yang pilih apapun yang kamu mau! " giliran Arya yang mendorong troli, tapi dia langsung meninggalkan Arini begitu saja yang masih terlihat bingung.


"Cepat! " Arya kembali menoleh. Dia sungguh dalam emosi yang tidak baik, "cepat pilih apapun yang kamu mau!" imbuhnya.


"Apa tidak seharusnya Pak Tuan menyudahi belanja ini? " Arini mulai berjalan mengejar Arya.


"Ini sudah banyak pak Tuan. Mau buat apa?" tak habis pikir si Arini. Ini belanja bulanan atau tahunan sih.


"Jangan membantah! " Arya menoleh dengan kesal.


"Berani membantah lagi kamu tidak akan pernah mampu membayar hutang mu meski kamu bekerja padaku seumur hidupmu, cepat! "


Tak ada pilihan lain lagi untuk Arini sekarang selain menurut apa yang Arya katakan.


"𝘕𝘶𝘳𝘶𝘵 𝘢𝘫𝘢 𝘭𝘢𝘩. 𝘔𝘢𝘴𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢𝘯𝘺𝘢, 𝘵𝘰𝘩 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘺𝘢𝘳 𝘱𝘢𝘬 𝘛𝘶𝘢𝘯, " batin Arini.


////

__ADS_1


Bersambung...


________


__ADS_2