
Budayakan untuk menekan tanda jempol 👍
Waktu terus berlalu, tanpa terasa sudah enam bulan lamanya Ella belajar di Universitas Kedokteran, rutinitasnya masih sama. Kuliah, pulang, belajar dan setiap weekend, biasanya hangout dengan katiga sahabatnya.
Perkembangan hubungan Ella dan Erik masih sama, seperti mahasiswa dan dosen seperti pada umumnya. Ada kalanya Erik datang ke rumah Ella, dengan alasan untuk menemui Damar. (modus)
Dan hari ini adalah hari jum'at. Hari di mana para mahasiswa mengatakan hari yang pendek, Ella dan sahabatnya saat ini sedang berada di kantin kampus. Ella tengah menyantap gado-gado kesukaannya, mendengarkan obrolan dari para sahabat yang ada di depannya.
“Enaknya weekend ke mana kita ya?” tanya Anna pada sahabatnya seraya memasukkan nasi goreng ke dalam mulutnya.
“Kita barbequean aja yuk di rumah gue,” tawar Ella, “malas kalau keluar terus, bosen juga,” lanjutnya.
“Boleh juga idemu La,” sahut Panji menyetujui tawaran Ella.
“Kak Damar ada kan, La? kan lumayan bisa curi-curi pandang,” tanya Sashi yang jatuh hati pada ketampanan Damar.
“Ada kok, Kak Damar kalau hari sabtu di rumah, tapi gak tau juga sih kalau dia kencan sama pacarnya,” jelas Ella sambil tersenyum smirk ke arah Sashi.
“Yah, emang Kak Damar sudah punya pacar ya, La?” tanya Sashi yang sedikit kecewa.
“Katanya sih sudah, tapi nggak tau juga sih, karena belum dikenalin ke gue.” Panji dan Anna yang mendengar itu hanya menggelengkan kepala melihat Sashi yang semakin tergila-gila pada kakaknya Ella.
“Udahlah Shi, mending Lo, ngomong aja sebelum diambil orang kak Damar nya,” ucap Panji dengan gelak tawa.
“Idih ... gue cewek ya, gengsi dong ngungkapin perasaan duluan, ditaruh mana ntar harga diri gue!” ucap Sashi yang sudah meninggikan nada bicaranya.
“Iya nanti kalau Kak Damarnya sudah diambil orang baru deh nangis-nangis,” ucap Anna menggoda Sashi.
“Eh Shi, tapi Kak Damar kalau aku perhatiin, dia sering kok perhatiin, Lo, apa yang dimaksud pacarnya itu loe ya?” ucap Ella mengingat ucapan Damar.
“Ih La, jangan bikin gue GR dong, ntar gue malah terlalu berharap,” ucap Sashi yang sebenarnya merasa berbunga-bunga mendengar ucapan Ella. Sahabatnya itu hanya tertawa menanggapi ucapan Sashi.
Setelah Ella dan sahabatnya menghabiskan makanan, mereka pergi meninggalkan kantin yang ada di kampus, mengingat jam materi sudah berakhir, mereka lalu pulang menuju rumah masing-masing, berpisah di tempat parkir kampus.
Sampai di depan rumah, Ella memarkirkan mobil Yaris putihnya ke garasi, mengingat dia tidak akan keluar lagi sore nanti. Ella berniat menemui Danu, memberitahu ayahnya kalau besuk malam para sahabatnya akan datang ke rumah. Danu yang mendengar ucapan Ella, dia memerintahkan kepada ART nya untuk menyiapkan kebutuhan untuk acara besuk malam, setelah itu Ella masuk ke kamar, membersihkan badan dan beristirahat.
***
Waktu berlalu hingga pagi tiba, Ella masih enggan untuk beranjak dari tempat tidurnya, hingga suara ketukan pintu terdengar.
“Non, ditunggu Tuan Besar dan Tuan Damar di meja makan untuk sarapan,” ucap bi Nani.
“Iya Bu, sebentar Ella mau mandi dulu,” ucap Ella lalu berjalan menuju kamar mandi.
Setelah menyelesaikan mandinya, Ella segera bergegas turun menuju lantai bawah, melihat kedua lelaki kesayangannya, yang sudah duduk di meja makan menunggunya.
“Pagi Ayah, pagi Kak Damar yang ganteng,” sapa Ella sambil duduk di kursi samping ayahnya.
“Pagi Sayang, ceria banget pagi ini?” tanya ayah Danu.
__ADS_1
“Iya dong, Ella puas tidurnya, jadi fit deh badannya,” ucap Ella sambil memakan roti coklatnya, “Yah, nanti malam jadi ya acaranya,” lanjutnya.
“Memangnya nanti malam mau kemana La?” tanya Damar yang penasaran.
“Itu Kak Sashi, Anna dan Panji mau datang ke sini,” jelas Ella sambil menoleh ke arah Damar.
“Kakak nggak keluar kan, malam ini? lumayan bisa bantu-bantu ngipas,” canda Ella.
“Kakak siang ini mau ke acara temen Kakak, tapi gak sampai malam kok acaranya,” jawabnya.
“Sekalian dong Kak bawa pacarnya, kenalin ke Ayah sama Lala,” ucap Ella yang menggoda kakaknya.
“Gampang itu, eh La btw Sashi udah punya pacar belum?” tanya Damar.
“Hmmm, kenapa memangnya? Kakak naksir ya sama Sashi,” canda Ella karena penasaran, tanpa menjawab pertanyaan Damar, Damar yang mendengar pertanyaan Ella hanya tersipu malu.
“Sudah lama sih sebenarnya, tapi Kakak takut kalau nanti sashi nolak Kakak, Kakak sudah tua, secara kita kan beda 10 tahun,” ucap Damar mencurahkan isi hatinya.
“Usia gak akan mempengaruhi hubungan kalian, yang penting saling percaya dan saling mencintai itu sudah cukup, kalau memang sudah yakin mendingan langsung lamar aja, gak usah pacar-pacaran nanti malah nambah dosa,” nasihat Danu pada Damar.
“Tapi dia belum punya pacar kan La?” tanya ulang Damar.
“Belum kok Kak, saran Ella sih mendingan nurut aja nasihat Ayah, langsung lamar hehehe ...,” canda Ella menyetujui ucapan Danu.
“Oke deh, Kakak usahain nanti pulang cepat, biar bisa ketemu Sashi,” ucap Damar mengedipkan matanya ke arah Ella, lalu beranjak pergi meninggalkan meja makan. Ella dan Danu hanya tersenyum melihat kelakuan Damar yang baru mereka ketahui ternyata sedang kasmaran.
***
“Kok Sashi belum datang ya La, coba hubungi!” tanya Anna sambil membawa tusukkan makanan di tangannya.
“Sebentar lagi mungkin Ann, santai aja nanti juga datang,” jawab Ella sambil menyalakan panggangan di depannya.
“Sudah siap belum, sini biar Kakak bantu,” tawar Damar yang baru datang dari arah dalam rumah dengan rambut yang masih sedikit basah, karena baru menyelesaikan mandinya.
Pantas saja Sashi tergila-gila dengan Kak Damar, ganteng kelewatannya sih. Batin Anna
“Belum Kak, ntar Kakak sama Panji bagian bakar membakar ya! Biar kita para wanita yang mengolesi bumbunya,” perintah Ella.
“Ok Tuan putri,” sahut Panji yang mendengar perintah Ella.
Setelah beberapa menit berkutat dengan pangangan, terlihat bibi mengantar minuman, di ikuti seorang gadis cantik, dengan rambut diikat satu yang memperlihatkan lehernya yang jenjang.
“Nah, itu dia Sashi!” ucap Panji saat melihat gadis Sashi.
Damar yang mendengar ucapan Panji, langsung menoleh ke arah pintu dan tersenyum kepada Sashi sahabat adiknya itu.
“Hay, kok baru datang?” sapa Damar.
“Iya Kak kena macet di jalan, biasa malam minggu jalanan ramai,” jawab Sashi yang berjalan menuju Damar.
__ADS_1
“Sini biar Sashi bantuin kipas Kak,” sambungnya yang sudah berada di samping Damar.
“Nggak usah kamu duduk saja ntar capek,” ucap Damar sambil mengipas-ngipas tusukkan sosis di depannya.
“Oke baiklah.” Sashi lalu berjalan menuju tempat Ella dan Anna, duduk bertiga di atas rumput yang sudah diberi alas tikar.
Setelah Damar dan Panji selesai membakar, mereka duduk bersama di tikar yang sudah di gelar. Menikmati makanan yang mereka bakar tadi, aneka sate dan saos pedas sudah siap mereka santap, sambil menikmati malam yang penuh bintang.
“Eh Kak Damar, sambil main gitar enak nich sepertinya?” ucap Panji menawarkan Damar.
“Iya ya, kenapa gak kepikiran, bentar Kakak ambil gitar di kamar,” ucap Damar lalu beranjak pergi.
Tidak butuh waktu lama Damar sudah kembali berkumpul dengan mereka menikmati malam yang cerah di temani bintang-bintang, diiringi petikkan gitar dari Damar, mereka larut dalam kebersamaan dan canda- tawa. Tidak lama kemudian Damar menghentikan petikan gitarnya, membuat yang berada di sana mengalihkan perhatian ke arah Damar.
“Sashi, ada yang pengen Kakak bicarakan ke kamu,” ucap Damar yang menatap Sashi dengan wajah serius.
“Iya kenapa Kak,” ucap Sashi yang masih enggan menatap Damar. Damar lebih mendekatkan diri ke arah Sashi, membuat mereka yang berada di sana juga ikut memperhatikan pasangan di depannya.
“Shi, Kakak sudah menunggu saat ini untuk waktu yang lama,” ucap Damar, “Untuk mengatakan ini, aku butuh banyak waktu mempertimbangkan segala hal yang mungkin terjadi.” Damar merogoh kantong celananya, lalu mengeluarkan kotak kecil berwarna merah.
“Maukah kamu jadi istriku? jadi mama dari anak-anakku dan menua bersamaku, sampai ajal memisahkan kita?” ucap Damar sambil menatap manik mata Sashi.
Sashi yang mendengar itu hanya tercengang tidak percaya. Dia syok, merasa bahagia juga ternyata orang yang dicintainya juga memendam rasa untuknya.
“Kak bisa Kakak tampar aku!” perintah Sashi yang tidak percaya.
“Hah?” Damar bingung dengan ucapan Sashi.
“Apa aku sedang bermimpi?” ucap Sashi lagi.
“Tidak Sashi ini nyata,” sahut Ella yg ikut gemas dengan respon Sashi.
“Maaf Shi, mungkin ini terlalu cepat untuk mengatakan, tapi maaf sebenarnya Kakak sudah merasakan ini sejak lama. Hanya saja, Kakak takut jika nanti kamu menolak kakak,” ucap Damar, “Namun, Kakak fikir malam ini adalah waktu yang tepat sebelum Kakak benar-benar terlambat,” sambung Damar.
Sashi masih sedikit syok dengan ungkapan hati Damar yang begitu mengejutkan dirinya itu.
“Ayo terima saja Shi,” ucap Panji ikut menimpali.
“Kak Damar, terima kasih atas tawarannya tapi maaf-” Sashi menghentikan ucapannya menatap wajah tampan Damar.
“Maaf untuk apa Shi, jangan bil-” sahut Damar yang sudah terpotong karena Sashi sudah mengangkat telunjuknya mengisyaratkannya untuk diam.
“Maaf aku tidak bisa menolak untuk jadi istri Kakak, jadi mama dari anakmu Kak, karena aku juga mencintaimu, bahkan mungkin aku lebih dulu mencintaimu,” ucap Sashi dengan malu-malu, tapi tetap dengan nada bahagia. Sedangkan Damar hanya tersenyum bahagia karena sekarang Sashi sudah tahu isi hatinya.
“Baiklah Kakak pasangkan ya cincinya?” Sashi hanya mengangguk tanda setuju setelah itu dia berkata, “Terima kasih pada Damar.” Danu yang tadinya hanya melihat dari kejauhan, seketika berjalan mendekat ke arah putranya.
“Kalau begitu biar nanti kita atur waktu untuk menemui keluargamu ya, Nak,” ucap Danu.
“Baik Yah,” jawab Sashi sambil memeluk Danu, lalu Ella dan Anna juga ikut memeluk Sashi dan mengucapkan selamat pada Sashi.
__ADS_1
Setelah melepaskan pelukan dari sahabatnya, Damar menyambut ingin memeluk Sashi, namun terdengar suara teriakkan dari Ella.
“Kak Damar belum sah ingat harus jaga Sashi, jangan sakiti Sashi!” ucap Ella dengan candanya.