Kepincut Cinta Dokter

Kepincut Cinta Dokter
Menemukan Naura


__ADS_3

...Selamat Membaca...


“Biadap kau!”


Selongsong peluru yang keluar dari senjata Abhi nyaris mengenai tubuh wanita di depannya. Beruntung Farah berhasil menghindar dari peluru tersebut. Meski sekarang kondisi tubuhnya sedang tidak baik.


Abhi yang murka kembali menarik pelatuk pisstol di genggamannya, mengarahkan ujung senjata itu ke arah Farah. Namun, belum juga peluru itu keluar, ia merasakan sesuatu yang hangat mengalir ke arah pinggangnya, diikuti rasa nyeri yang mulai menyerang. Tak lama setelah itu, darah segar mengalir turun ke arah pinggang. Beruntung noda darah itu tersamarkan oleh jaket navy yang ia kenakan saat ini.


Punggung Abhi terluka, seorang pria yang berada di belakang sana, sengaja menembakan peluru ke arahnya. Pria itu adalah Bagas, teman sekaligus pacar dari Farah.


“Tinggalkan mereka, Bhi! Selamatkan Naura!” Nathan yang melihat pun lekas berlari sekuat tenaga ke arah Bagas, saat melihat pria itu hendak meluncurkan kembali pelurunya.


Nathan memang datang terlambat, karena memilih menelepon polisi terlebih dahulu untuk membantu Abhi. Mengingat daerah Bogor bukanlah tempat kekuasaan mereka. Dia pun tidak mengenal preman-preman di sekitaran sini.


“Urusan kita belum selesai!” seru Abhi saat melewati tubuh Farah. Wanita itu sepertinya cukup syok karena peluru yang Abhi keluarkan hampir mengenainya. Terbukti tangan dan bibirnya kini bergetar hebat, dengan wajah pucat pasi, seperti orang ketakutan.


Sedangkan Nathan terlihat menyeret tubuh pria bernama Bagas, membawanya mendekat ke arah mobil. Dia mengikat tangan Bagas dengan cable ties ukuran besar yang ia ambil dari mobilnya. Menunggu polisi untuk menjemput mereka berdua.


Abhi yang sudah tiba di bangunan rumah, menendang keras pintu kokoh tersebut. Matanya segera berkeliling mencari keberadaan Naura. Tapi ia tidak melihat istrinya di sana, bahkan bekas jejaknya pun tidak ada.


Darah yang keluar dari punggung Abhi semakin banyak. Tapi pria itu seolah tak bisa merasakan sakit lagi. Tubuhnya mati rasa akibat terlalu keras memikirkan istrinya.


Abhi berdecak kasar saat tak lekas menemukan keberadaan Naura. Ia mencoba berjalan ke arah belakang, telinganya samar seseorang tengah berbicara, membuat Abhi curiga kalau istrinya disekap di dalam gudang tersebut. Tanpa ragu lagi Abhi melangkah pelan ke arah gudang.


Saat mendengar suara jeritan Naura, ia mempercepat langkahnya. Tiba di depan pintu, ia segera membuka kasar pintu ruangan tersebut. Wajahnya semakin bingung saat mendapati Olivia ikut berada di dalam ruangan tersebut.

__ADS_1


Mantan pacarnya itu tengah memegang botol berisi cairan asam sulfat, hendak menyiramkan ke wajah Naura. Dengan gerakan cepat Abhi menampik tangan Olivia dengan kakinya. Ia sudah tidak peduli lagi jika yang dia hadapi saat ini adalah seorang wanita.


Kejadian itu begitu cepat, suara jeritan disusul pecahan kaca pun terdengar memenuhi ruangan sempit itu. Air keras itu mengenai bagian sebagian wajah dan leher Olivia.


Wanita itu seolah menerima karmanya, akibat perbuatannya beberapa jam yang lalu. Bahkan, Naura masih merakan panas dan gatal di kaki kanannya saat ini. Terlihat Naura mengembuskan bernafas lega, saat melihat kedatangan Abhi.


“Jadi semua ini ulahmu?!” tanya Abhi dengan nada tinggi. Dia begitu emosi saat melihat wanita jallang itu berada satu ruangan dari Naura.


Olivia tidak mampu menjawab, ia tengah menikmati rasa panas di bagian wajah bagian bawah hingga leher. Salahnya sendiri ia menyuruh anak buahnya pergi karena tidak ingin mengetahui kejahatan yang akan dia lakukan dan sekarang tidak ada yang bisa menolongnya.


Namun, sepertinya keberuntungan masih memihak Olivia, tiga orang pesuruhnya datang setelah suara jeritannya terhenti. Satu pria lekas menolongnya, sedangkan dua lainnya berusaha menghadang Abhi yang hendak membawa Naura pergi.


Abhi tengah berusaha melepas ikatan tali di kaki Naura. Tali itu cukup kuat mengikat tali istrinya hingga membuat kaki bekas merah di pergelangan kaki wanita itu. Tidak ada sepatah katapun yang kedua orang itu keluarkan. Tapi sorot mata Abhi begitu sendu saat melihat kondisi Naura saat ini.


“Aku tidak apa-apa,” lirih Naura, mencoba menenangkan Abhi. Suaminya hanya menggeleng, “Maafkan aku, Sayang!” lirihnya, membalas.


“Bhi, kau terluka!” kata Naura.


“Hanya luka kecil!”


“Kalian tidak bisa pergi begitu saja!” teriak pria yang tadi hampir menikmati tubuh Naura. Pria itu sudah melepas ikatan rambutnya yang sepanjang bahu.


Tidak punya waktu meladeni pria itu, Abhi meraih pisstol di pinggangnya. Lalu mengarahkan ke kaki pria tersebut. Sekali tarik, selongsong peluru itu berhasil mengenai paha si Edi.


Sedangkan Naura yang melihat apa yang dilakukan Abhi, kesulitan menutup kembali bibirnya. Benarkah itu suaminya? Tanya dirinya dalam hati.

__ADS_1


“Mau lagi?” tanya Abhi, dia sudah berdiri bersiap menarik kembali pelatuknya. Namun sayangnya, polisi lebih dulu datang, sebelum ia kembali melepaskan peluru itu.


Naura kini bisa bernafas lega, saat melihat pria berseragam itu membekuk para pelaku yang tadi hampir menodainya. Edi dan Patrik berhasil dibekuk polisi, sedangkan Bogel berhasil melarikan diri.


“Bhi!” panggil Naura dengan suara lirih, wajahnya mendongak menatap sang suami.


“Sudah selesai semua, aku akan menuntut pada mereka, supaya dihukum sesuai apa yang sudah mereka lakukan padamu!” ucap Abhi, tatapannya masih murka ke arah pria-pria yang kini diseret polisi.


Sedangkan Olivia segera dilarikan ke rumah sakit, untuk mendapatkan pertolongan karena terkena air keras.


“Apa aku sudah terbangun dari mimpi buruk ku? Kenapa ini semua seolah nyata!” gumam Naura. Menatap kepergian orang-orang yang tadi berada satu ruangan dengannya.


“Maafkan aku atas mimpi buruk ini,” ucap Abhi yang kembali berjongkok di depan Naura, meminta Naura untuk segera naik ke punggungnya.


“Kita pulang, ya,” kata Naura manja, sambil melingkarkan tangannya di leher Abhi.


Pria itu baru menyadari jika cairan yang sedari tadi merendam kaki Naura bukanlah cairan bisa. Hatinya semakin ngilu saat melihat kaki Naura yang merah seperti kena luka bakar.


Abhi segera membawa Naura keluar dari ruangan sempit tersebut. Saat tiba di luar rumah, ia baru menyadari jika tadi berlari cukup jauh. Dengan tenaga yang masih tersiksa, Abhi berjalan mendekati mobil Nathan.


“Kau lelah, Bhi. Izinkan aku untuk turun!” minta Naura saat merasakan langkah Abhi yang begitu lamban.


Abhi sedikit membungkuk membenarkan gendongan supaya istrinya tidak terjatuh, “Aku masih bisa! Jangan khawatir! Apapun akan aku lakukan untukmu.” Setelahnya Abhi hanya diam, berjalan dengan pelan ke arah mobil yang masih berjarak cukup jauh dengan mereka. Melewati beberapa sorot lampu yang menyinari halaman.


Sampai sinar terang dari lampu mobil menyorot ke arahnya, justru membuat penglihatannya menggelap seketika. Ia tidak bisa melihat apapun di depannya. Abhi hanya bisa berharap jika yang berada di dalam mobil itu, bukanlah orang jahat.

__ADS_1


“You are my hero!” ucap Naura di samping telinga suaminya. Namun, sedetik kemudian tubuh Abhi terjatuh ke tanah berpasir, bersama dengannya yang ikut terjatuh di atas tubuh suaminya.


...-------- BERSAMBUNG --------...


__ADS_2