
Happy reading
.
.
.
Dua hari berlalu, kini Ella tengah berada di rumahnya untuk melihat Kalun dan Riella yang dia tinggal untuk merawat Erik karena dia juga belum sadarkan diri, saat akan kembali ke rumah sakit Riella dan Kalun tidak ingin di tinggal, mereka ingin ikut bersama Ella. Bahkan setiap Ella bergerak selalu diikuti Kalun, bahkan dia selalu mengenggam baju yang Ella kenakan.
“Kalian di rumah ya, Mama janji kok nanti malam akan bobo dengan Kalun dan Riella.” Ella mengusap pipi kedua anaknya.
“Ma ..., Riella ikut ya, please! Lala kangen Papa,” ucap Riella dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Ella diam, memikirkan permintaan Riella, pasti dia akan kerepotan belum lagi menjaga suaminya.
“Riella janji, Lala nggak akan ngrepotin Mama, Riella akan nurut ucapan Mama,” ucap Riella. Ella yang akan meninggalkan anaknya jadi tidak tega, dia lalu meminta pengasuh anaknya untuk membawakan bekal mereka.
Saat tiba di ruangan Erik kedua anak itu langsung menghampiri brankar Erik. Mereka berada di sisi kanan dan kiri Erik, sambil mengomel yang tidak jelas, Riella menciumi pipi Erik, dia merindukan papanya karena dua hari tidak bertemu dengan Erik, berbeda dengan Kalun yang hanya memeluk lengan Erik.
“Papa ..., ayo bangun Lala kangen sama Papa, kita mainan lagi yuk,” ucap Riella sambil memainkan pipi Erik.
“Ma ..., Papa kapan bangunnya?” tanya Riella yang menoleh ke arah Ella yang tengah duduk di sofa sambil memainkan ponselnya.
“Kita berdoa saja ya, semoga hari ini Papa bisa bangun,” jelas Ella yang berjalan mendekat ke arah Riella. Bukan hanya Riella saja yang merindukannya tapi dia juga merindukan suara Erik.
“Pa ..., bangun dong! Apa Papa tega membiarkan Mama menangis terus setiap hari,” ucap Kalun sambil menatap wajah Erik yang lebih tinggi dari posisinya tidur.
“Ayo turun semua, jangan ganggu Papa, biarkan Papa istirahat mungkin Papa sedang capek,” ucap Ella, sambil sesekali mengusap matanya, karena tidak ingin menangis di depan anaknya.
Kalun dan Riella menurut dan duduk di samping Ella yang sudah kembali duduk di sofa.
“Mama jangan sedih lagi ya, Papa sebentar lagi pasti bangun kok,” ucap Kalun yang sudah merangkul lengan Ella.
“Iya, Mama nggak sedih kok, kalian doain Papa ya, biar Papa lekas bangun,” ucap Ella sambil mengusap rambut kedua anaknya dia lalu memberikan ciuman bibir di kedua rambut anaknya.
“Kalun ke rumah Paman Damar ya, biar mereka yang menjaga kalian, besok Mama janji akan menjemput kalian di sana, di sana banyak temannya, ada Kakak Ghea, Kakak Gheo dan Adik Galang, jadi rame nggak kaya di sini,” ucap Ella yang di angguki oleh kedua anaknya.
Kedua anaknya sudah meninggalkan rumah sakit, mereka dijemput oleh Damar setelah pulang dari kantor, Damar sudah menceritakan semuanya pada Ella, jika Bima sudah di tangkap polisi dan Axel yang sedang koma karena luka tembakkan di tubuhnya, dan polisi akan segera mengurus proses hukuman secepatnya.
Hari sudah malam, Ella mulai menguap karena dari tadi dia hanya menatap Erik yang terbaring di brankar tidurnya. Karena lelah Ella ikut berbaring di samping tubuh Erik, sudah tiga malam ini, dia selalu memeluk tubuh suaminya, tanpa dibalas pelukkan oleh Erik.
__ADS_1
“Bangunlah Mas ... Mereka juga merindukanmu,” ucap Ella sambil menepuk pelan lengan Erik. Dia menyandarkan kepalanya di pundak Erik, menatap langit-langit atas ruangan yang dia tempati. Membayangkan jalan hidupnya selama ini, mungkin benar cobaan sering datang menghampirinya, tapi dia bersyukur meski dia dibuat Axel untuk meninggalkan suaminya, tapi Erik masih setia dan tidak memilih wanita lain untuk menggantikan posisinya.
“Terima kasih,” ucapnya lirih sambil mengecup bibir Erik yang pucat. Ella lalu menarik selimut menyelimuti tubuh mereka berdua. Dia masih memeluk Erik dan bernyanyi untuk Erik.
“Badai Tuan, telah berlalu.
Salahkah ku menuntut mesra?
Tiap pagi menjelang kau di sampingku,
Ku aman ada bersamamu.
Selamanya, sampai kita tua, sampai jadi
debu...
Ku di liang yang satu.”
“Ku di sebelahmu,” sahut Erik dengan suara serak, matanya masih terpejam tapi sebenarnya dia sudah bisa mendengar apa yang di ucapkan Ella.
“Mas ..., Mas sudah bangun?” tanya Ella yang kembali duduk di samping Erik. Erik tidak menjawab hanya menampilkan senyum di bibirnya.
“Jangan, hanya kamu yang bisa menyembuhkanku, tidurlah lagi!” perintahnya yang masih menutup matanya.
“Coba buka matamu! Aku ingin lihat kamu baik-baik saja,” perintah Ella yang khawatir dengan kondisi Erik.
“Tenanglah ..., cepat tidurlah di sini, aku akan bergantian menyanyikan lagu untukmu,” perintah Erik sambil menepuk bantal yang kosong di sampingnya.
“Sudah berapa hari kamu nggak tidur demi menjagaku?” lanjutnya setelah Ella tidur di lengannya.
“Aku tidur kok, bahkan aku tertidur dengan nyenyak 2 malam ini,” jelas Ella. Erik mencoba tersenyum ke arah Ella, “Pejamkan matamu!” perintahnya sambil menghadap ke arah Ella.
“Badai Puan, telah berlalu.
Salahkah ku menuntut mesra?
Tiap taufan menyerang kau di sampingku,
Kau aman ada bersamaku.
Selamanya, sampai kita tua, sampai jadi debu ...
__ADS_1
Ku di liang yang satu.” Erik menghentikan nyanyiannya agar Ella menyahut dengan lagunya.
“Ku di sebelahmu,” sahut Ella sambil mengeratkan pelukkannya.
“Aku akan menulis wasiat agar anak kita membuatkan makam kita bersebelahan,” ucap Erik yang sudah membuka matanya.
“Bagaimana Kalun?” tanya Erik yang teringat dengan anaknya.
“Dia baik-baik saja, mungkin masih tertinggal rasa traumanya, semoga segera pulih, seiring berjalannya waktu,” jelas Ella.
“Pikirkan kondisimu, kamu masih mengingatku kan?” tanya Ella menatap Erik.
“Mana mungkin aku bisa lupa dengan wanita secantik dirimu,” jelas Erik sambil menaikkan dagunya Ella menaikkan dagu Ella, “Sekalipun aku lupa ingatan, aku akan jatuh cinta lagi kepadamu nantinya,” ucap Erik setelah mengecup pelan bibir Ella.
“Tidurlah, semua sudah selesai mereka sudah dibawa polisi!” perintah Ella pada Erik, yang tengah menatapnya.
“Syukurlah ...,” ucap Erik lalu terdiam memikirkan nasib anak Bima.
“Bagaimana caraku berbicara pada mereka, saat Zoya menanyakan Bima?” tanya Erik yang tak mendapatkan jawaban dari Ella.
Erik memeluk erat tubuh Ella, bibirnya terangkat ke atas saat mencium aroma wangi di rambutnya.
“Yang ..., tau nggak aku mencintaimu dari waktu mulai tumbuh dewasa hingga sekarang, dan akan seperti ini, sampai kita bertemu di kehidupan berikutnya.” Erik menghentikan ucapannya sebentar, “Allah menguji kita dari berbagai macam masalah, terima kasih sudah mau mendampingiku, kita akan membesarkan anak-anak kita bersama, bahkan mungkin kita akan bisa melihat tumbuh kembang cucu kita bersama,” ucap Erik yang sudah membawa tangan Ella ke depan mulutnya, Erik terus mengecup tangan milik Ella.
“Mas ..., nggak ada luka serius, kan? Kenapa bisa ngomong seromantis itu?” tanya Ella sambil tersenyum menatap Erik.
“Kamu berharap Mas lupa ingatan? Dan kamu bisa mencari pengganti untuk mereka. Iya?” tanya Erik yang sudah menatap wajah Ella.
“Hahaha, Nggak kita akan bersama sampai tua, dan sampai kita menjadi butiran debu, seperti katamu tadi,” ucap Ella yang juga menatap wajah Erik, dia lalu mengusap rambut Erik yang sedikit panjang.
.
.
.
Selesai ...! 🤗
*Yang pengen dengarin lagunya bisa dicari di Youtube.
Sampai Jadi Debu ~ Banda Neira
__ADS_1