
Happy Reading
Erik segera melajukan mobilnya menuju klinik setelah mendapatkan telepon dari istrinya, dia terlihat begitu merindukan istrinya padahal baru berpisah 5 jam. Erik segera meraih ponsel dikantongnya setelah sampai di depan klinik berniat ingin menelepon istrinya, selang beberapa menit Ella datang dengan wajah lusuh, tak bertenaga.
" Capek? " tanya Erik yang tengah menatap Ella, Ella tak mau menjawab, melewati Erik lalu segera masuk ke dalam mobil.
" Mau langsung pulang? " tanya Erik lagi saat melihat Ella sudah duduk.
" Iya. Perutku rasanya nggak nyaman, " ucap Ella menjelaskan. Erik yang mendengar itu segera melajukan mobilnya menuju apartemen, tak lama terlihat Ella tertidur didalam mobil. Erik yang mengemudikan mobil sesekali menatap wajah lelah istrinya, bibirnya terangkat saat mengingat kejadian seharian kemaren. Setelah sampai di lobby apartemen, dia tidak tega jika harus membangunkan istrinya, dia lalu menggendong Ella ala bridal style berjalan menuju apartemennya, segera merebahkan tubuh istrinya di ranjang, saat dia akan beranjak pergi kembali ke rumah sakit, dia tidak tega meninggalkan istrinya sendiri saat sedang tidur. Erik menunggu Ella namun tak kunjung bangun, dia merebahkan tubuhnya disamping istrinya memeluk dan menciumi istrinya namun Ella tak bangun juga, hingga Erik lelah dan tertidur disamping Ella.
Ella terbangun, bingung ketika mendapati dirinya sudah berada di kamar suaminya, lalu ia beranjak ke kamar mandi ingin mencuci muka, saat melihat ke bawah ia tiba-tiba tersenyum tipis saat mendapati ada noda darah di celana dalamnya.
" Kasian suamiku, baru juga dua hari bersenang-senang sudah harus cuti, " ucap Ella lirih, seketika dia bingung karena tidak mempunyai stok pembalut disini. Ia segera keluar dari kamar mandi dan membangunkan suaminya.
" Yank. Bangun yank, " panggil Ella sambil menggoyang-goyangkan tubuh Erik. Erik yang kaget langsung terbangun karena guncangan tubuhnya.
" Kenapa, " tanya Erik sambil mendudukkan dirinya.
" Punya pembalut nggak? " Erik yang mendengar pertanyaan Ella mengernyitkan dahinya.
" Buat siapa? Mas kan nggak pernah datang bulan jadi ya punya, " jelas Erik.
" Buat Lala Mas, " ucap Ella.
" Kamu datang bulan yang? " tanya Erik sambil menatap Ella.
" Iya sayang, baru saja mulai dan kamu cuti dulu ya, " jelas Ella. Erik hanya menepuk keningnya sambil merebahkan tubuhnya kembali ke ranjang.
" Yang bener saja yang, baru juga 2 hari, harus cuti seminggu, " keluh Erik.
" Bagus dong, berarti aku normal, karena siklus haidku lancar, " ucap Ella.
" Cepat sana belikan Lala pembalut! " perintah Ella, Erik bingung harus bagaimana karena seumur hidup dia tidak pernah membeli yang namanya pembalut.
" Cepat yang, keburu banjir nanti, " ucap Ella lagi.
__ADS_1
" Yang bagaimana bentuknya, trus merknya apa? " tanya Erik yang tak ingin salah. Ella yang mendengar itu segera menjelaskan pada suaminya.
Erik segera keluar dari apartemen menuju minimarket di seberang apartemennya, sampai disana pelayan yang mengenalinya menyapa Erik mengingat Erik yang sering datang kesitu jadi cukup kenal dengan para penjaga toko disana.
" Hallo pak dokter lama nggak kelihatan, " ucap ramah penjaga toko wanita itu. Erik hanya tersenyum ke arah penjaga tokoitu, menghentikkan langkahnya tepat didepan kasir.
" Apa disini jual pembalut? " tanya Erik, penjaga toko yang mendengar itu telihat sedang menahan senyumnya. Dia beranjak dari tempatnya segera menuntun Erik menuju rak pembalut.
Setelah melihat begitu banyak model pembalut Erik mengingat-ingat apa yang dikatakan istrinya, cukup lama dia berfikir, namun dia masih juga bingung dan berniat menelepon istrinya, setelah mencari-cari dikantong ternyata ponselnya tertinggal di apartemen, mau tidak mau dia harus bertanya pada penjaga toko disampingnya itu.
" Yang paling bagus yang mana mbak? " penjaga toko itu lalu menyebutkan merk xx
" Mau pakai wing atau nggak pak dokter? " tanya penjaga toko itu.
" Bedanya apa dan fungsinya untuk apa? " Erik tidak menjawab tapi justru menambah pertanyaan pada penjaga toko itu. Wanita itu segera menjelaskan pada Erik secara detail.
" Mbak biasanya pakai yang mana? " tanya Erik setelah mendengar penjelasab penjaga toko, membuat penjaga toko itu malu.
" Kalau saya cocoknya pakai ini pak, " ucapnya sambil menunjukkan merk pembalut, lalu Erik segera mengambil pembalut yang ditunjuk penjaga toko itu, memenuhi keranjang belanjaannya, dan segera berjalan menuju kasir.
" Biar nggak mondar- mandir mbak, jadi sekalian belanjanya, " jelas Erik, penjaga kasir itu hanya menahan tawanya.
" Buat pacarnya ya dok? " tanyanya lagi.
" Apa wajahku semuda itu? jelas buat istri saya mbak, " ucap Erik yang membuat penjaga kasir itu kaget.
" Hah, dokter sudah menikah? kapan? kok nggak ngundang kita, " tanya penjaga toko yang mengantarkan Erik memilih pembalut tadi.
" Kepo banget sih mbak, gini-gini saya sudah ada yang punya, jangan lirik-lirik takutnya nanti dilabrak sama istri saya, " ucap Erik menggoda penjaga kasir.
" Yah, hilang dong harapan saya memiliki suami dokter tampan, " batin penjaga toko itu.
" Berapa semuanya mbak? " tanya Erik yang melihat penjaga kasir itu melamun.
" Eh, Rp. 348.000 dok, " ucapnya.
__ADS_1
" Beli pembalut segini banyaknya, emang mau satu menit ganti, " ucap penjaga kasir.
Setelah selesai membayar Erik segera meninggalkan minimarket tersebut, tanpa menatap orang-orang yang tengah menatap kantong plastik yang dia bawa. Setelah sampai didepan pintu apartemen dia segera masuk menghampiri istrinya yang tengah duduk disofa depan tv.
" Ini apa yang, " tanya Ella.
" Pembalut. " Ucap Erik yang membuat Ella mengernyitkan keningnya.
" Astaga, kenapa sebanyak ini, emangnya mau dipakai buat mandi? " ucap Ella ketika membuka kantong plastik yang Erik berikan.
" Daripada mondar-mandir jadi Mas beli banyak sekalian, " jelas Erik yang membuat Ella menghela nafas panjang.
" Masalahnya, emang siapa yang mau pakai pembalut sebanyak ini, 1 siklus haidku hanya butuh 2 saja yang, " jelas Ella.
" Ya udah, disimpan saja nanti dikasihkan ke orang yang membutuhkan, " ucap Erik yang tak mau ambil pusing.
" Mas mau ke rumah sakit dulu ya? tadi masih ada pekerjaan soalnya, " pamit Erik.
" Nanti Mas pulang jam berapa? " tanya Ella saat mengantarkan Erik didepan pintu.
" Sepertinya malam, jangan nungguin Mas, tidurlah kalau nanti sudah mengantuk, " pesan Erik pada Ella, Ella mengangguk lalu mencium punggung tangan suaminya.
Erik segera meninggalkan apartemen setelah mencium kening istrinya dan melajukan mobilnya ke rumah sakit, sedangkan Ella yang di apartemen bingung mau melakukan apa, setelah berpikir lama akhirnya dia memutuskan untuk menyiapkan makan malam dan membuat cemilan kesukaan Erik.
Hingga malam tiba Ella merasa kesepian, melihat ponselnya namun tidak ada pesan dari suaminya, sampai jam menunjukkan pukul 8 malam pintu apartemen baru terbuka, Ella hanya memanyunkan bibirnya saat melihat Erik mendekat ke arahnya.
" Kenapa? kok cemberut? " tanya Erik yang sudah memeluk Ella. " Apa perutmu sakit, " tanya Erik lagi setelah mengingat istrinya sedang datang bulan, Ella hanya menggeleng sebagai jawaban.
" Kenapa lama sekali? aku kesepian yang, " keluh Ella.
" Ya sudah, besuk ikut saja ke rumah sakit, " ucap Erik sambil menciumi leher Ella.
" Mash...ingat ya, cuti dulu," peringat Ella saat melihat tangan Erik yang sudah turun ke bawah, Erik yang mendengar itu hanya menghela nafas panjang sebagai tanda pasrah.
Terima kasih sudah membaca jangan lupa vote, like dan coment๐๐๐
__ADS_1