
Lanjut ya... jangan lupa like dan votenya👍🙏
.
.
.
Setelah sampai di depan pintu ruang UGD Erik segera membuka ruangan itu dengan kasar, mencari keberadaan istrinya di balik tirai bewarna hijau, untuk ke empat kalinya dia tidak menemukan keberadaan istrinya. Setelah sampai di tirai terakhir Erik dengan penuh rasa khawatir membuka pelan tirai itu. Namun, dirinya kaget karena Ella tidak berbaring di ranjang itu melainkan berdiri dengan membawa kue di tangannya, senyum tanpa suara dia berikan untuk suaminya agar bisa meredakan kepanikan Erik.
“Happy birthday to you, happy birthday to you, happy birthday, happy birthday, happy birthday to you, selamat ulang tahun ayah dari anakku,” ucap Ella sambil membawa kue ulang tahun di hadapan Erik. Terlihat lilin yang menyala menunjukkan angka 4 dan 0.
Erik yang melihat itu hanya tertawa teringat usianya yang sudah tidak lagi muda, tapi dia juga bersyukur ditemani istri yang cantik.
“Terimakasih istriku,” ucap Erik sambil mendekatkan wajahnya untuk mencium bibir Ella, tapi tak lama terdengar suara berisik dari arah belakangnya.
“Selamat ulang tahun Dokter Erik semoga panjang umur dan sehat selalu,” ucap serempak para karyawan yang selalu setia dengannya itu, mereka lalu menyerahkan bingkisan kepada Erik. Ella hanya tersenyum melihat ekspresi suaminya yang kebingungan dengan kejutan kecilnya itu.
“Ini nggak mau ditiup dulu lilinya, pegal aku meganginnya,” sindir Ella saat Erik tak kunjung meniup lilinya. Erik lalu membalikan tubuhnya kembali menghadap istrinya.
“Doa dulu Yang!” Erik lalu memejamkan matanya sebentar, meniup lilin yang ada di depannya.
“Aminn...” goda Ella saat Erik membuka matanya.
“Emangnya kamu tahu apa yang Mas minta?”
“Taulah paling minta agar diberikan kelancaran saat proses melahirkan nanti.” Erik tersenyum ke arah Ella karena memang itulah doanya. Lalu dia menutup tirai ruangan itu agar tidak terlihat oleh karyawan dan perawat yang berdiri dibelakangnya, karena dia tidak ingin mempertontonkan adegan ciumannya kepada para mereka, para karyawan dan perawat yang mengerti hanya bisa menyoraki pimpinan rumah sakit itu.
“Udah ah... dilanjut nanti di rumah, aku masih punya hadiah lagi untukmu,” ucap Ella sambil membuka tirai ruangan itu. Dia menarik tangan Erik untuk dibawa ke aula rumah sakit.
Saat Erik membuka pintu terlihat para sahabat dan keluarga besar tengah menunggu kedatangannya, lagu selamat ulang tahun pun berkumandang, diiringi taburan kertas di atas kepalanya. Erik hanya tersenyum seumur-umur baru kali ini dia menerima hadiah ulang tahun yang mengejutkan. Mereka langsung mengucapkan selamat ulang tahun kepada Erik. Erik yang hanya mengenakan jeans pendeknya merasa malu, karena sama sekali tidak mempersiapkan semuanya. Dia terus bertanya-tanya sambil menatap ke arah istrinya yang sedang ngobrol dengan Viona, padahal Erik melupakan hari ulang tahunnya, tapi justru Ella diam-diam menyiapkan kejutan semeriah ini. Meski tidak mewah tapi cukup berkesan karena dihadiri oleh para sahabat dan keluarga besar, mereka lalu melanjutkan acara makan bersama menikmati jamuan yang sudah diatur semua oleh Ella. Ella juga mengundang Sashi dan Anna, dia juga turut bahagia karena kedua sahabatnya berjanji akan datang ke acara kejutannya itu. Mereka memang jarang bertemu tapi komunikasi via telepon masih tetap berlanjut.
“Aduh... Ibu hamil sepertinya lagi happy banget,” cibir Panji saat melihat Ella sedang tertawa dengan istrinya.
“Iyalah..., mau bagaimana lagi suamiku selalu tau bagaimana cara membahagiakan aku,” jawab Ella melirik ke arah Panji.
“Sudah berapa bulan La?” tanya Anna melerai perbincangan suami dan sahabatnya itu.
“Hampir 8 bulan,” jawab Ella sambil mengusap perutnya yang sudah semakin terlihat membuncit.
__ADS_1
“Berarti selisih 3 bulan sama Anna, kamu 4 lebih kan Yang?” tanya Panji pada Anna. Membuat Ella bingung menatap sahabatnya itu.
“Kamu hamil lagi?”
“Iya..., Panji nggak ngebolehin aku pakai pil kontrasepsi katanya banyak anak banyak rezeki.” Ella hanya menggelengkan kepalanya diusia Anna yang masih terbilang muda dia harus mengurus 2 anaknya dalam kondisi hamil pula.
“Untung dulu aku nggak mau nikah sama kamu Nji. Kalau aku mau. Pasti sudah kualahan mengurusi anak-anakmu!”
“Iya beruntungnya yang jadi jodohku Anna bukan kamu, wekk,” ucap panji.
“Sashi belum datang ya La?”
“Belum tadi katanya masih terjebak macet di jalan,” jawab Ella singkat sambil melirik suaminya yang tengah mengobrol dengan teman-temannya itu.
“Bentar ya aku mau menyapa mertuaku dulu, nanti aku balik lagi kesini, Nji jagain Anna!” pamit Ella pada dua sahabatnya, lalu berjalan menghampiri Jihan dan Yusuf yang sedang menikmati jamuan makan siangnya.
“Assalamu’alaikum Ma,” sapa Ella sambil mencium kedua pipi mertuanya itu.
“Wa’alaikumsalam, gimana cucu mama sehat?” tanya Jihan sambil mengusap perut Ella.
“Alhamdulillah sehat Ma, aktiv terus di dalam, apalagi kalau diajak ngobrol Mas Erik, nggak mau diam,” ucap Ella menceritakan kondisi janinnya.
“Terimakasih ya..., sudah memberikan kejutan ini,” bisik Erik di telinga istrinya.
“Bukan apa-apa, nggak usah berlebihan begitu,” jawab Ella sambil menusap lengan suaminya.
“Kado buat Mas mana?” tanya Erik menagih kado dari Ella.
“Ada nanti di rumah.”
“Di ranjang kita? Usia Mas 40 tahun berarti 40 ronde.” Ella yang mendengar itu langsung meninju perut suaminya.
“Jangan gila deh Mas, masih banyak tamu,”
“Mas nggak akan melakukan di sini, kita akan melakukannya di rumah, aku beri keringanan nggak 40 ronde, 4 ronde saja deh nggak papa,” bisik Erik di samping telinga Ella.
“Gila loe ya ... Istri lagi hamil juga,” sahut Damar yang baru datang dari arah belakang. Ella yang malu langsung menundukkan kepalanya, ya meski hanya Damar dan Sashi yang mendengar tapi kan dia benar-benar merasa malu. Sedangkan Erik justru menanggapi ucapan kakak iparnya itu. Karena merasa kesal Ella membawa Sashi untuk menemui kedua sahabatnya yang tadi dia tinggalkan.
Mereka bertiga melepas rindunya setelah sekian lama tidak bertemu dan bercerita bersama.
__ADS_1
“Shi... Kapan kamu punya baby lagi, istriku sudah mau nambah loh?”
“Aku dua anak saja cukup, lagian Ghea dan Gheo sudah cukup merepotkan,” ucap Sashi menjelaskan ulah anaknya.
“Nggak nyangka, kita masih bisa berkumpul seperti ini, meski sudah di sibukkan dengan pekerjaan kita masing-masing,” ucap Ella.
“Perasaan Cuma loe deh yang kerja, lainnya juga cuma jadi IRT,” cibir Panji sambil melirik ke arah Anna.
“Iya coba dulu kamu tidak menghamiliku, mungkin aku sudah sukses jadi wanita karier,” jawab Anna.
“Kami juga sudah sukses Yang, sukses mendapatkan hatiku.” Ella dan Sashi ikut tersenyum mendengar kebahagiaan sahabatnya itu.
Selang berapa lama Erik dan Damar ikut menghampiri tempat duduk mereka, ikut menikmati kebersamaan yang hangat itu.
Hingga tak terasa waktu sudah hampir magrib Erik mengajak Ella untuk pulang ke apartemennya. Ella yang baru masuk langsung merebahkan tubuhnya di sofa depan tv. Apartemen sudah sepi karena para pekerja tidak diperbolehkan Erik untuk menginap di sana.
“Capek Yang?” tanya Erik yang juga baru duduk di samping Ella.
“Nggak cuma senang saja, bisa merayakan ulang tahun Mas tahun ini,” ucap Ella sambil menarik nafas lalu membuangnya pelan-pelan. Erik sudah melatihnya mengatur pernafasan untuk persiapan persalinan nanti, jadi ketika Ella ingat, dia langsung mempratekkanya. Erik yang melihat itu langsung mengangkat kaki Ella diletakkannya di pahanya sambil memijit kaki Ella yang mulai berisi . Sesekali menggelitik kaki Ella, membuat Ella menarik kakinya karena merasa geli.
“Yang.” Ella menatap Erik ketika Erik memanggil namanya.
“Hmmm.”
“Ke kamar yuk," ajak Erik.
“Nanti, masih sore,” jawab Ella.
“Ini sudah jam 7 Yang, kalau mau masuk jam 9 nanti bakalan sampai pagi kita mainnya,” ucap Erik. Ella yang mendengar itu langsung berdiri dan meninggalkan suaminya di sofa. Erik yang mengira istrinya itu menurut segera mengikutinya dari belakang.
“Loh..., kok masuk ke kamar mandi Yang?”
“Gerah. Mandi dulu habis itu tidur,” teriak Ella dari dalam kamar mandi.
“Nggak jadi ngasih kadonya?”
“Nggak besok saja aku lelah,” teriak Ella lagi membuat Erik membuang nafas kasarnya karena merasa kecewa tidak jadi menerima kado dari istrinya.
“Untung Mas bisa sabar!” ucapnya lirih sambil menatap pintu kamar mandi.
__ADS_1
Terimakasih untuk semua dukungannya jangan lupa untuk selalu like dan vote ya..👍🙏