
Happy reading, yang mau vote, disimpan dulu saja untuk hari senin, tapi wajib double loh ya...😁😜👍 tapi wajib tekan like.
.
.
.
Erik yang baru tiba di gedung kantornya, segera menuju ruangan, tanpa menyapa para wanita yang berdiri di samping pintu, Sampai di ruangan, dia melihat Yohan yang sudah berdiri di samping jendela. Erik duduk di kursinya, menunggu Yohan mengatakan sesuatu yang penting untuknya.
“Kenapa? Sampai kau berani menyuruhku datang,” tanya Erik pada Yohan.
“Ibu Ella sepertinya benar masih hidup Pak!” Erik menoleh ke arah Yohan meminta penjelasan yang lebih detail.
“Saya dapat informasi jika Axel berusaha melenyapkan Bu Lasmi, karena dia berusaha memberitahu Bapak kejadian yang sebenarnya waktu di rumah sakit malam itu,” jelas Yohan.
“Bu Lasmi?”
“Iya, dia sebenarnya kunci kejadian meninggalnya Bu Ella, tapi Axel berusaha melenyapkannya, dan saya sudah berhasil menemukan keberadaan Bu Lasmi sekarang, tapi kita tidak bisa langsung menemuinya,” jelas Yohan.
“Dia menceritakan kejadian malam itu pada saya, tapi dia tidak tahu di mana Bu Ella sekarang berada,” jelas Yohan.
“Apa yang terjadi malam itu?” tanya Erik yang mulai emosi karena Yohan tidak segera menceritakan masalah yang terjadi pada istrinya.
“Bu Lasmi, mencampurkan cairan ke suntikan ** Ibu Ella malam kejadian, di mana Ibu Ella melahirkan, dia hanya menerima obat racikan yang diberikan Axel padanya, tanpa mengetahui kandungan apa saja yang ada di obat racikan yang diberikan Axel, dia hanya menjalankan perintah Axel karena anaknya disekap oleh mereka, dan setelah obat itu bekerja, Bu Lasmi segera membawa Ibu Ella ke dalam kamar jenazah, mereka mengganti Ibu Ella dengan jenazah orang lain yang sudah disiapkan oleh Axel, dengan maksud untuk mengelabuhi Bapak,” jeda Yohan.
“Dan setelah tadi saya telusuri, ternyata itu jenazah wanita yang mengidap penyakit kanker yang sudah dirias mereka menjadi seperti Ibu, dan mereka sudah lama menyimpannya di loker jenazah.” Erik yang mendengarkan penjelasan Yohan sudah mencengkram kuat tepi meja di depannya.
“Bapak akan lebih marah lagi saat mendengarkan saya kali ini,” jelas Yohan.
“Tenyata Pak Bima bersekongkol dengan mereka, dia tidak terima ketika harta warisan Tuan Besar jatuh ke tangan Kalundra.” Erik menatap tajam ke arah Yohan.
“Papa tidak pernah berkata seperti itu,” sahut Erik.
“Sepertinya, surat kuasanya sudah Tuan berikan ketika Kalundra lahir, sebagai hadiah darinya,” jelas Yohan, Erik yang baru paham langsung beranjak dari duduknya.
“Siapkan pesawat ke Australia sekarang juga, aku harus memperhitungkan semuanya dengan Axel!” jelas Erik.
“Pak..., Bu Ella ada di sini! Mereka bermain sangat rapi, hingga Bapak bisa tertipu, lebih baik kita juga seperti itu,” ucap Yohan pada Erik agar dia menghentikan niatnya untuk pergi menemui Axel.
__ADS_1
“Tapi sayangnya..., Bu Ella tidak bisa mengingat siapa dirinya, mereka sudah memberikan obat pada Ibu, supaya Ibu bisa melupakan semua masa lalunya,” jelas Yohan lagi.
“Aaaaaahhhh....” teriak Erik sambil membuang semua benda yang ada di atas mejanya.
Dia menunduk di sana, menyandarkan kepalanya di atas meja, menutupi air matanya yang mengalir dari pandangan Yohan.
“Saya akan menghubungi, dokter terbaik untuk Ibu Ella, semoga ingatannya bisa pulih,” jelas Yohan yang mengerti kekhawatiran Erik.
“Cepat temui Dokter Fera, bawa dia ke rumahku,” ucap Erik sambil mengusap air matanya.
Setelah mendengarkan penjelasan Yohan panjang lebar, Erik keluar kantor dan melajukan mobilnya ke arah makam yang dia pikir itu adalah istrinya.
Sampai di sana, dia hanya menatap gundukan tanah di depannya, lalu berjongkok menatap gundukan tanah yang sudah ditumbuhi rumput.
“Maafkan aku, aku pikir kamu adalah wanita yang aku cintai, maafkan karena kamu sudah mendengarkan celotehanku setiap hari, aku bahagia mendengar istriku masih berada di sini, dan maafkanlah mereka yang sudah memanfaatkanmu,” jelas Erik yang sudah beranjak dari duduknya.
“Pak!” panggilnya pada penjaga makam.
“Tolong cabut batu nisan ini, ternyata istriku masih ada di alam yang sama denganku,” perintah Erik pada penjaga makam yang sudah berdiri tidak jauh darinya. Penjaga makam yang mendengar ucapan Erik hanya bisa tersenyum tipis menertawakan sikap Erik.
“Pak..., jangan begitu sejengkel-jengkelnya Bapak dengan istri, nggak boleh juga langsung mencabut nama makamnya,” jelas penjaga makam.
“Itu buat Dp saat nanti Bapak mengurus makamku,” ucap Erik sambil tertawa ke arah penjaga makam, lalu meninggalkan lelaki tua seumuran dengan Yusuf.
“Yang ada Bapak yang akan melihatku terbaring di sini lebih dulu, hahaha, terima kasih Pak,” teriak penjaga makam. Dia lalu benar-benar memanggil temannya untuk mencabut batu nisan beruliskan Rehuella, sesuai yang diperintahkan Erik.
Erik menjalankan pelan mobilnya, menatap cake di kursi samping kemudi, memikirkan apa yang terjadi dengan istrinya selama ini.
“Ternyata begitu kelakuanmu! Aku janji tidak akan membiarkanmu hidup lebih nyaman lagi!” teriak Erik saat berada di dalam mobil.
“Tega kamu Bim, memisahkanku dari istriku, nggak pedulikan bagaimana perasaan anakku,” ucapnya lagi, sambil melajukan mobilnya dengan kencang.
Sampai di rumah Erik langsung menghampiri Kalun dan Riella yang berada di taman, mereka sedang makan sambil disuap pengasuhnya.
“Kaluuunnn... Ini katanya kamu suka cheeze cake?” ucap Erik sambil memperlihatkan paperbag di tangannya.
“Tadi kalun sudah makan Pa..., disuap Mbak tadi,” sahut Kalun.
“Ada yang mau ikut Papa jalan-jalan?” Kalun dan Riella langsung berlari ke arah Erik.
__ADS_1
“Ayo Pa...” sahut Riella yang sudah tidak sabar pergi bersama Erik.
“Mandi dulu dong! Sana mandi sama suster,” perintah Erik.
“Kalun mau mandi sama Papa saja,” ucap Kalun yang tidak ingin di mandikan dengan susternya.
“Ayo!” sahut Erik lalu menggendong kalun di belakang punggungnya.
“Lala juga Pa... Kalau sama suster suka nggak bersih mandinya,” ucap Riella yang beralasan.
“Emmm... Gimana ya..., boleh nggak jika adik mandi sama kita,” tawar Erik pada lelaki yang ada di balik punggungnya.
“Kali ini saja!” sahut lelaki kecil yang sangat mirip dengan Erik.
Erik segera memandikan kedua anaknya, cukup lama mereka berada di kamar mandi, hingga Erik juga sudah menyelesaikan mandinya.
“Riella minta rambutnya diikat sama suster ya, bilang yang cantik sus ngikatnya!” perintah Erik setelah selesai mengenakan baju Riella. Gadis itu langsung keluar dari kamar Erik mencari keberadaan susternya.
Sedangkan Kalun masih mencoba merapikan rambutnya, supaya terlihat seperti Erik.
“Pa..., besok belikan Kalun kacamata ya, biar kita bisa samaan,” ucap kalun sambil menatap Erik dari pantulan kaca.
“Bagaimana jika Papa yang melepas kacamatanya saja, ini sungguh membuat kadar ketampanan Papa menurun!” ucap Erik melirik ke arah pantulan kaca. Kalun mengangguk, menyetujui ucapan Papanya.
“Kita mau ke mana Pa,” tanya kalun.
“Ke toko roti, kamu bisa ambil sepuasnya kue di sana,” jelas Erik pada lelaki di sampingnya.
Setelah siap Erik segera melajukan mobilnya ke toko roti milik Bella, dia ingin melihat reaksi Bella ketika melihat kedua anaknya. Mungkin Bella tidak akan mengingat mereka tapi setidaknya ada ikatan batin antara dia dan kedua anaknya.
.
.
.
.
TBC
__ADS_1