
...Happy Reading...
Makan siang kali ini, Abhi memilih restoran dekat apartemen yang mereka tempati. Bukan restoran mewah, hanya rumah makan Minang sesuai pilihan Abhi, dan Naura menurut, dia bisa memakan apapun asalkan tidak terlalu manis.
Saat Naura masih kecil, mamanya selalu membatasi gula yang ia konsumsi. Naura masih ingat istilah yang diberikan oleh mamanya, Sugar rush. Jika ia terlalu banyak mengkonsumsi gula, tingkahnya menjadi hiperaktif, bibirnya pun tak kalah aktif dari tingkahnya. Jadilah, terbawa sampai sekarang, ia tipe wanita yang tidak menyukai gula.
Tiba di restoran Minang, mereka memasukinya dengan cara terpisah. Naura meninggalkan Abhi, yang masih mengambil dompetnya. Dompet kulit warna hitam itu tertinggal di dalam tas yang diletakkan di bangku belakang. Karena panas, jadi Abhi memintanya untuk masuk lebih dulu.
Sejak keluar dari rumah barunya, Naura hanya diam termenung, begitu pun dengan Abhi, tidak ada yang berusaha memecah keheningan saat mereka di dalam mobil tadi. Audio player juga tidak menyala, tidak seperti saat mereka berangkat, yang begitu bersemangat.
Abhi mendekat ke arah meja yang ditempati Naura, meminta pelayan untuk memberikan daftar menu.
Pelayan itu segera berlalu setelah mencatat pesanan mereka berdua. Abhi yang merasa tidak nyaman, bingung memikirkan cara untuk memecah keheningan. Jadilah, ia memilih diam, sambil mencuri tatap ke arah Naura.
Rasanya hambar, Abhi tidak bisa menikmati makanan yang sebenarnya nikmat, karena memikirkan jarak di antara mereka berdua. Sampai acara makan itu selesai, mereka beranjak dari kursinya masing-masing. Abhi segera membawa Naura pulang ke apartemen.
Tiba di dalam apartemen, Naura menolak saat Abhi memintanya untuk membantu menyusun pakaian ke dalam koper. Jadilah, Abhi menyusun sendirian pakaian yang akan ia bawa. Dia pamit pada Naura untuk kembali ke apartemen seberang. Sedangkan Naura memilih masuk kamar. Mengurung diri di sana.
Ada rasa tidak ikhlas saat Abhi akan pergi, ia memikirkan bagaimana nanti harinya tanpa Abhi? Bagaimana dia mengusir rasa sepinya? Memikirkan itu saja membuat dirinya gila. Berulang kali Naura membuang nafas kasar, tapi rasanya tetap sama risaunya tidak berkurang sedikit pun.
Naura memilih meraih guling dan memeluknya dengan mata yang sudah dipejamkan erat, masa bodoh dengan kepergian Abhi. Karena sekuat apa pun dia menahan suaminya untuk tidak pergi, tetap saja Abhi akan pergi meninggalkannya. Perlahan Naura yang merasa tubuhnya lelah, terbuai dalam alam mimpi.
...****************...
Cukup lama Abhi meninggalkan Naura sendirian di apartemen. Dia sengaja melakukan hal itu supaya tidak melihat wajah Naura yang tampak sedih akan kepergiannya.
__ADS_1
Setelah menyelesaikan salat Isya, Abhi kembali ke apartemen istrinya. Decakan lirih keluar dari bibirnya saat membuka pintu apartemen. Kondisinya sepi, lampu belum ada yang menyala, sedangkan pintu yang menghubungkan balkon pun masih terbuka lebar, membuat angin masuk ke apartemen.
Abhi melangkah masuk ke kamar istrinya, tangannya bergerak menyalakan lampu kamar seketika bibirnya tersenyum tipis saat melihat istrinya tertidur di ranjang, sambil mendekap guling dengan erat. Ia pun berjalan mendekat, berniat membangunkan Naura.
Jemari Abhi yang panjang mulai menelusuri tulang pipi istrinya, mengusapnya lembut sambil mengamati respon yang diberikan Naura. Namun, lagi-lagi istrinya itu masih tenggelam dalam lautan mimpi, dia susah dibangunkan jika sudah seperti ini.
Jadwal penerbangan pesawat memang masih dua jam lagi. Tapi dia juga harus berjaga kalau nanti jalanan macet. “Sayang …” panggilnya sambil mengguncang pelan tubuh istrinya. “Nana … Sayangku, Cintaku, Kesayanganku, Bidadari Surgaku … bangun, Na!” Abhi menekan hidung istrinya, seperti hari kemarin, dan itu berhasil. Naura membuka matanya lebar.
“Sudah waktunya aku pergi!” Abhi menyingkap rambut Naura yang terasa lembab terkena keringat, raut kesedihan Naura terlihat jelas di mata Abhi.
“Hanya satu minggu, jika Allah mengizinkan kita akan bertemu lagi!” lanjutnya sambil tersenyum tipis yang mampu menenangkan Naura.
Naura langsung mendudukan tubuhnya. Ia membalas senyuman Abhi sambil menarik hidung Abhi. Dia tengah menutupi kesedihan yang ia rasakan.
“Kamu di rumah, ya.” Abhi memperhatikan wajah Naura yang tampak sendu.
“Boleh. Tapi aku enggak mau ada drama di bandara, ya!” Abhi memperingati dengan kekehan kecil.
Naura menarik nafas dalam-dalam, “drama apa? Seorang suami yang pergi meninggalkan istrinya? Kamu pasti akan kembali, kan! Aku bersiap dulu, ya!” Naura beranjak dari ranjang, meninggalkan keanehan sikapnya yang membuat Abhi terus bertanya-tanya.
Menunggu selama kurang lebih tiga puluh menit Naura sudah siap dengan dandanannya. Ia memakai celana jeans warna hitam, dengan blouse tanpa motif serta tas kecil warna hitam sudah mengalung manis di pundaknya, setelah siap dia segera keluar kamar, tidak ingin mertuanya menunggunya terlalu lama.
Naura memberikan senyuman ramah pada mama mertuanya, lalu beralih ke arah Ara, menggoda sebentar gadis kecil yang sudah memakai jaket bulu, seolah tengah mencari penghiburan.
Saat perjalanan menuju bandara Soekarno Hatta, Naura membisu, sambil menatap ke arah jalan memikirkan apa yang sebenarnya tidak perlu dipikirkan. Naura duduk di samping mertuanya, karena Ara tidak mau duduk di bangku belakang, gadis kecil itu meminta duduk di kursi depan, di samping Abhi. Widya yang paham dengan suasana saat ini memilih diam tidak ingin mau ikut campur.
__ADS_1
Tiba di bandara, Abhi lekas mengeluarkan barang-barangnya dari dalam bagasi mobil. Beruntung malam ini dia menggunakan mobil istrinya, jadilah bagasi mobil tersebut lebih luas.
“Kamu mau ikut masuk, Yang?” tanya Abhi mendekat ke arah istrinya.
“Iya, dong.” Naura menjawab sambil memainkan pipi Ara. Menghindari kontak mata dengan Abhi, dia tidak mau Abhi melihat dia lemah, hanya karena ditinggal beberapa hari.
“Ayo!” satu tangan Abhi menggandeng tangan istrinya, menautkan jemarinya ke jari Naura.
Tiba di depan layar 60 inchi, saat Abhi membaca tanda cek in maskapai nya telah dibuka, ia berniat menyelesaikannya lebih dulu. “Aku check in dulu, ya! Kamu dan mama tunggu di sini, biar Ara sama aku!” minta Abhi, membenarkan anak rambut Naura yang menghambur karena terpaan angin malam.
“Masih balik lagi, kan?” tanya Naura, matanya terus mengamati orang yang berlalu lalang melewatinya.
“Iya, kan mama masih di sini. Kamu tunggu di situ!” Abhi tersenyum, menunjuk bangku kosong warna hitam. Lalu menggendong Ara, mengikuti porter bandara yang kini membawa koper-kopernya masuk.
Naura mengamati punggung Abhi dengan lekat sampai suara Widya berusaha mengalihkan perhatiannya.
“Jangan khawatir, Na! Abhi akan baik-baik saja. Dia hanya pergi sebentar. Habis ini kalian juga akan pergi berdua kan?” Widya mencoba menghibur.
Naura mengangguk. “Nana tidak apa-apa, Ma." senyumnya masam, ke arah sepatu sneaker yang ia kenakan, "Maaf ya, Ma ... Nana nggak bisa mengantar sampai ke Siantar ada kerjaan yang tidak bisa Nana tinggalkan di sini," sambungnya.
“Tidak apa-apa, Na. Mama mengerti kok." Setelah itu, hanya terdengar suara bising dari roda koper dari orang yang berlalu lalang di depannya.
“Mama titip Abhi ya, Na. Kadang dia masih suka keras kepala.” Widya tertawa kecil, kemudian mengusap punggung Naura.
“Abhi yang seharusnya jagain Nana, Ma! Dia tubuhnya besar, jadi bisa melindungi Nana.”
__ADS_1
Widya terkekeh, lalu memeluk Naura dari samping. "percaya sama mama, Abhi anak baik. Kalau dia salah, biar mama yang akan menegurnya! Kalian baik-baik di Jakarta. Apapun yang terjadi, pokoknya kalian harus bersama."
...-------- BERSAMBUNG --------...