Kepincut Cinta Dokter

Kepincut Cinta Dokter
S2 Mall


__ADS_3

Lima bulan berlalu, kini Ella tengah menyiapkan makan siang untuk Erik. Dia masih tetap rajin meski perutnya kini sudah tampak besar seperti orang hamil 9 bulan. Seperti niatnya semalam, dia ingin memberikan kejutan untuk suaminya, dia akan mengantarkan makan siang ke kantor, lalu menjemput kedua anaknya di sekolah.


Ella pergi diantar oleh Pak Roni, saat berada di mobil Ella terus mengusap perutnya yang sejak tadi menerima tendangan dari anaknya. Mereka semua sudah mengetahui jenis kelamin kedua anaknya, tapi mereka menutup rapat mulutnya untuk tidak memberitahukan kepada siapapun, biarlah ini menjadi kejutan saat hari kelahiran nanti.


Ella segera turun dari mobil, berjalan menuju kantor suaminya, dia mendapatkan sapaan dari pegawai kantor yang sudah sering melihatnya datang.


“Bu, Bapak sedang ada rapat di ruangannya, Ibu tunggu dulu saja di sini,” ucap karyawan yang bertemu dengan Ella di lorong ruangan Erik.


“Ow ... begitu ya, aku cuma mau ngantar ini kok!” jelas Ella sambil menunjukkan tupperware yang berisi makan siang untuk Erik. Karyawan itu menganggukan kepalanya, dia paham maksud Ella.


Erik yang tengah berada di ruangan, segera menutup filenya saat melihat Ella masuk ke dalam ruangan.


Rapat apa ini? Berdua saja? Dengan wanita cantik lagi? Batin Ella yang merasakan sesak di dadanya.


“Hai ... Sayang kamu kok nggak ngabari dulu kalau mau datang,” ucap Erik yang sudah mendekat ke arah Ella. Namun, Ella tidak menjawab ucapan Erik. Dia asyik mengawasi wanita di depannya.


“Siapa dia?” tanya Ella sambil menatap mata Erik, mencari tahu siapa wanita yang sedang tertawa bersama dengannya tadi.


“Emmm dia, dia ....”


“Wanitamu?” sahut Ella dengan nada marah.


“Bukan!”


Ella lalu menyerahkan makanan yang tadi dia bawa ke tangan Erik.


Membatalkan niatnya makan siang bersama Erik.


“Aku pulang dulu, sepertinya sudah ada wanita sexy yang akan menemanimu untuk makan,” ucap Ella berjalan meninggalkan ruangan yang Erik tempati. Erik hanya menatap punggung Ella yang semakin menjauh darinya, bibirnya tertarik ke atas melihat kelakuan istrinya yang masih sama seperti dulu.


“Masih saja cemburu!” ucapnya lirih.


Ella berjalan keluar gedung menghampiri mobil di mana pak Roni tengah menunggunya. Air matanya menetes, hatinya terasa perih mengingat suaminya yang tengah tertawa dengan wanita lain, meski suaminya itu tidak sedang berpelukan atau cipika-cipiki tapi tetap saja dia cemburu, karena wanita itu lebih sexy darinya, bahkan kini tubuhnya sudah di kerumuni lemak jahat yang bersarang di mana-mana, dia semakin tidak percaya diri, saat melihat wanita di depan Erik tadi.

__ADS_1


“Kita ke Mall xx ya Pak!” perintah Ella pada Roni.


“Iya Bu ...” jawab singkat Roni sambil menatap wajah Ella dari spion kaca di depannya.


Setelah sampai di pusat pembelanjaan Ella segera turun dari mobil, dia memasuki mall itu sendiri tanpa di dampingi siapapun. Barang demi barang dia masukkan ke dalam keranjang, tidak hanya membeli satu barang setiap produknya, tidak tahu juga, jika masih ada stok barang yang sama di rumah.


Setelah berjalan mengelilingi supermarket dia berpesan pada penjaga untuk mengantar barangnya ke mobil. Dia masih ingin berbelanja lagi. Namun, dia mendudukkan tubuhnya dulu di kursi, karena merasa lelah. Dia membeli ice cream strobery kesukaan Riella, tapi bukan untuk Riella, dia menikmati ice cream itu sendiri di sana.


Dia duduk di kursi kayu depan kedai ice cream, sambil mengingat ucapan Erik.


Jangan kebanyakan makan ice cream takutnya, mereka akan terlalu besar berat badannya.


“Bodoh amat, biarlah lagian pasti nanti juga akan lahiran cessar,” cibir Ella sambil kembali menikmati ice cream di tangannya. Dia melihat jam di tangan, yang masih menunjukkan pukul 4 sore, dia melupakan keberadaan anaknya. Dia justru kembali berkeliling untuk mencari pakaian baru untuknya, karena banyak pakaiannya yang sudah terasa sempit. Bukan hanya satu, tapi Ella juga memenuhi keranjang belanjaan dengan banyak baju dan daster batik yang kata orang sangat nyaman dipakai, apalagi daster payung dengan brand yang sudah tersohor di Indonesia. Ella tidak membeli satu melainkan 10 sekaligus, padahal Erik tidak mau jika melihat Ella mengenakan daster batik, karena terkesan banget emak-emaknya. Tapi yang Ella pikirkan bukan itu, dia ingin meluapkan rasa kesalnya dengan menghabiskan uang dan berbelanja sepuasnya hari ini.


***


Di sisi lain Erik tersenyum senang saat mendapatkan laporan transaksi pengeluaran dari kartu kredit miliknya yang dia berikan untuk Ella.


“Hiburlah dirimu Sayang, aku tahu kamu sedang cemburu,” lirihnya sambil menatap layar ponselnya.


Ella terlihat keluar dari Mall itu, tepat saat azan isya’ berkumandang. Dia langsung masuk ke mobil, pak Roni lalu mengemudikan mobilnya pelan saat melihat Ella sudah selesai berbelanja.


“Apa Pak Roni lapar? Kalau iya. Kita bisa singgah dulu di restauran!”


“Nggak Bu, tadi saya sudah makan nasi soto di dekat Mall tadi,” ucap Roni yang masih fokus ke arah jalan.


Ella terus menatap ke arah jalan dari dalam jendela mobilnya, menikmati kemacetan yang setiap saat menyerang ibu kota.


“Pasti anak-anak menungguku,” ucap Ella yang masih fokus menatap ke arah jalan. Perjalanan memang terasa lama, karena terjebak macet yang begitu panjang. Mobil mulai kembali melaju kencang setelah keluar dari kemacetan.


Mata Ella yang mengantuk perlahan mulai terlelap, dia ketiduran saat hampir tiba di rumahnya. Namun, tiba -tiba pak Roni menghentikan mobinya, saat melihat banyak orang berpakaian hitam menghadang mobilnya, Ella langsung membuka mata karena kaget saat pak Roni mengerem mobilnya, dia lalu melihat ke arah depan.


“Apa kejadian dulu akan terulang lagi? Ini tidak mungkin.” Ella berucap sambil menggelengkan kepalanya. Pak Roni melihat ke arah Ella, dia meminta Ella untuk tetap berada di dalam.

__ADS_1


“Apapun yang terjadi dengan saya, Ibu jangan sampai keluar dari mobil!” peringat Roni yang diangguki oleh Ella.


“Tapi Pak ...” ucap Ella yang tidak bisa dia lanjutkan karena Roni sudah menutup keras pintu mobilnya.


Namun, seseorang menghampiri posisi di mana Ella berada, lelaki itu membuka kasar pintu mobil dan menarik kasar tangan Ella supaya mengikutinya.


“Turun!” ucapnya kasar, “Menurutlah jika kamu ingin selamat!” peringatnya sambil menyuruh Ella masuk ke dalam mobil bewarna hitam milik lelaki tersebut. Ella menatap pak Roni yang tidak bisa melawan karena tangannya sudah ditahan oleh dua lelaki di sampingnya. Lelaki bertubuh besar itu mengikat kedua tangan Ella dan menutup mata Ella dengan kain.


Dalam hati Ella terus berdoa supaya diberikan keselamatan oleh Allah. Saat lelaki dan rekannya itu masuk ke dalam mobil, suasana mobil terasa panas karena ada 4 orang mengepung tubuhnya.


“Saya mau dibawa ke mana?” tanya Ella sambil berusaha melepaskan ikatan tali di tangannya.


“Ke tempat di mana bos kami meminta Anda untuk datang! Jangan banyak bertingkah! Atau kamu dan anakmu tidak akan selamat!” peringatnya.


“Kamu dibayar berapa oleh bosmu? Aku akan membayarmu melebihi uang yang diberikan oleh bosmu,” ucap Ella yang masih sempat bernegoisasi.


“Hahaha ....” terdengar jelas suara tawa itu di telinga Ella.


“Tenanglah! Aku tidak akan berkhianat pada bosku, sekali pun kamu ingin membayarku 10 x lipat,” terangnya.


“Apa kamu tidak tahu suamiku? Dia bisa membunuhmu sekarang juga saat melihat kamu menyakitimu!” peringat Ella.


“Suami! Bosku sudah kenal baik dengannya, jadi aku akan memintanya untuk melindungiku Nona.”


“Brengsek!” umpat Ella sambil berontak.


“Diamlah! Sebentar lagi kita akan sampai!” peringat lelaki bertubuh besar yang duduk di samping Ella, dia sudah berteriak keras, memaki Ella, supaya Ella menutup mulutnya.


Mobil berhenti di sebuah bangunan yang terlihat sepi. Lelaki itu menarik tangan Ella supaya dia turun dari mobil.


TBC


~ Tebak siapa dalang atas kejadian penculikkan Ella kali ini?

__ADS_1


Tulis di komentar ya, jangan lupa like dan vote yang buanyaak..!🤗


__ADS_2