Kepincut Cinta Dokter

Kepincut Cinta Dokter
Extra Part : Kisah Cinta Naura


__ADS_3

...Selamat Membaca...


“Sudah ada penghulu, dan perwakilan dari KUA menyaksikan ini!” imbuhnya, lalu menatap kedua anaknya bergantian.


Dua wanita yang berdiri di sampingnya itu sudah di-setting sedemikian rupa dari sang pencipta. Mulai dari ujung rambut hingga ujung kaki, semua hampir sama. Ditambah lagi, polesan make up yang dibuat sama persis.


Mereka berdua adalah putrinya yang spesial. Erik pun akan sulit membedakan jika mereka tidak bersuara. Dan rencana ini sebenarnya sudah ia persiapkan sejak Abhi datang ke rumahnya.


Model kebaya modern yang lebar bagian pinggang pun, menyamarkan kehamilan Maura dan itu semakin membuat Abhi kebingungan.


Pria itu memberikan senyuman pada gadis yang berada di sisi kanan Erik. Manis senyumnya sama seperti yang ia lihat di Cianjur. Ia sampai harus menggigit bibir bawahnya demi memikirkan benar apa tidak yang ia lihat saat ini.


Selanjutnya ia menatap ke arah sisi kiri Erik, tatapan keduanya bertemu. Saling mengunci tapi Abhi ragu. Karena tidak merasakan apapun, tapi saat matanya turun ke bawah, melihat ke arah kaki wanita itu, masih tertinggal memar di kakinya. Ia semakin bingung memilih mana calon istrinya.


“Boleh tester dulu, Pa?! Biar yakin,” minta Abhi. “Peluk bentar saja, kan nggak papa.” Seketika suara sorakan memenuhi ruangan.


“Enak saja tester! Gimana kalau yang Lo peluk justru istriku! Aku nggak ikhlas lahir batin!” protes Alby.


Erik menambahkan, “Mau aku batalin acara lamaranya!”


Wajah Abhi langsung berubah tegang. Ia salah ngomong rupanya. Ia menarik nafas dalam, kemudian maju satu langkah lagi. Ini pilihan yang sulit dan ia tidak mau terburu-buru menjawab pertanyaan itu, mengingat hadiahnya begitu istimewa.


“Bismillahirrahmanirrahim, aku pilih yang ini, saja.” Abhi mengulurkan tangannya ke arah gadis yang ada di sisi kanan Erik.


Namun, seketika gadis di sebelah kiri Erik protes. “Kamu kok nggak ngenali aku, sih!” gerutu gadis tersebut yang membuat Abhi ragu dengan pilihannya.

__ADS_1


Abhi kemudian menatap gadis pilihanya, mereka saling tatap. Cukup lama, dan ia semakin yakin. “Nggak. Pilihanku benar! Aku yakin—yang ada di sampingku ini, Nauraku.” Abhi tersenyum, membuat wanita yang berdiri di sampingnya itu terbahak.


“Kamu Naura, kan? Kamu calon istriku?” tanya Abhi memastikan lebih dulu.


Wanita di samping Abhi menatap Erik, sambil menyengir kuda. “Papa yakin?” tanyanya.


“Semua tergantung kamu!” balas Erik acuh. Lalu kembali ke tempat duduknya.


“Emmm … yes, aku Naura. Dan aku siap menikah denganmu, Abhi.”


Abhi bersorak riang. Ia hampir melompat tinggi kalau saja tangan Naura tidak menahan lengannya. Itu luapan bahagianya saat ini.


“Jadi, bagaimana, Pa?” tanya Abhi, menagih janji Erik.


“Apanya?” tanya Erik pura-pura lupa. Ia ingin menggoda Abhi lebih dulu.


Pria itu tengah berbisik di samping telinga sang istri. Mencoba meminta pendapat. Sepertinya Ella marah pada Erik karena tidak memberitahukan rencana ini padanya. Wajah Ella tampak kecewa.


Ella lalu berdiri, mendekat ke arah Abhi dan Naura yang berada di depan. Ia memeluk tubuh putrinya dengan erat seolah belum siap untuk melepas Naura, padahal sudah 31 tahun mereka bersama.


Meski sudah susah payah menahan air mata, tapi tetap saja air mata bahagia itu meluncur membasahi pipi Ella. Ia tidak mampu berkata apapun pada Naura. Ia hanya berdoa dalam hati untuk kebahagian putrinya.


Ella kemudian bergeser ke arah Abhi, memeluknya sama erat. Seperti ibu yang menyayangi putranya, “tolong jaga putri saya!” pesannya lirih. “kami membesarkan Naura dengan penuh kasih sayang. Jangan sakiti fisik dan hatinya. Jika dia salah, tegur dia dengan lembut. Kalau kamu tidak bisa mengatasinya, kembalikan pada kami. Jangan pernah menyakiti putriku. Kami memanggilnya Nana, itu nama kesayangan kami untuknya. Jaga Nana baik-baik. Bimbing dia dalam hal kebaikan,” lirih Ella, Naura yang bisa mendengar pun ikut meneteskan air matanya dengan deras.


“Abhi tidak bisa janji, Ma. Tapi, Abhi akan berusaha semampuku untuk membuat Nana bahagia,” balas Abhi. Obrolan mereka terhenti saat Erik menarik tangan Ella untuk duduk, Ella pun marah-marah karena Erik tak melihat situasi dan kondisi yang ada. Pria itu cemburu dengan menantunya.

__ADS_1


“Wah-wah jadi acara lamaran hari ini, ada kejutan besar rupanya!” pembawa acara menimpali. Pianis yang tadi berhenti pun ikut berdiri menyaksikan. Dia sangat penasaran apa yang terjadi selanjutnya. Tapi, setelah mendapat teguran dari Aluna ia segera kembali. Karena sarusnya music sudah melantun lembut.


“Aku setuju! Biar aku segera dapat cicit!” seru Eyang dari Abhi yang sudah berdiri, mendekat ke arah calon pengantin. “Aku punya hadiah untuk kalian berdua!” Eyang mengambil nafas dalam. “Tiket bulan madu ke Ranggunan.”


Semua orang yang mendengar terbahak, saat menedengar penuturan dari Eyangnya Abhi. Wanita itu bermaksud, meminta Abhi dan Naura untuk tinggal sementara di daerah Ranggunan, karena tempat tinggalnya tidak begitu jauh dari sana.


“Pa, izinkan Abhi untuk mengecup kening Nana!” izin Abhi menatap penuh mohon ke arah Erik.


Pria itu berdiri, lalu menarik tangan Naura, menjauhkannya dari Abhi. “Sebelum halal perwakilan dulu. Kalau mau nyium boleh-boleh saja. Cium kening saya!” Erik menunjuk keningnya yang sudah keriput.


“Yaelah, pelit amat! Nggak ingat zaman muda yang nyosor-nyosor sama adik gue!” sambar Damar. Semuanya bergantian menertawakan Erik yang menunjukan wajah marah ke arah Damar.


“Oke sambil menunggu mempelai berganti baju. Kita bisa menikmati jamuan makan yang sudah disiapkan.” Pembawa acara menyarankan saat melihat Abhi dan Naura masuk ke kamar yang berbeda.


Alunan music melantun merdu, Aluna yang notabene seorang penyanyi, kini berani unjuk suara, mengajak suaminya untuk menyanyikan lagu I Wanna Grow Old With You dari Westlife. Meski saat bagian Kalun yang menyanyikan mendapat sorakan dari para tamu karena suaranya yang fals. Tapi Aluna tetap menghargai itu.


“Sirik suara-suara gue juga! Kalau nggak mau dengar silakan tutup telinga!” maki Kalun yang langsung mendapat upah cubitan dari sang istri. Kalun melanjutkan bernyanyi, ia menyanyikan lagu itu untuk Aluna. Bukan untuk calon pengantin.


Tiga puluh menit berlalu, kini Abhi sudah keluar dari kamar. Baju pengantin warna putih diam-diam sudah Erik siapkan. Abhi terlihat semakin tampan, apalagi bulu jambangnya dibabat habis oleh petugas make over memperlihatkan wajahnya yang memesona.


Setelah mendengar isyarat Naura sudah siap. Akad nikah pun digelar, empat kursi sudah disusun berhadapan dengan meja persegi di bagian tengah. Sedangkan ujung kanan dan kiri masing-masing ada satu kursi sebagai tempat saksi.


“Abhi! Apa kamu sudah menyiapkan mas kawinnya?” selidik Erik.


...----------------...

__ADS_1


...Jangan lupa like dan komentar.❤️❤️❤️...


__ADS_2