
Naura berdiri setelah hakim ketua mengetuk palu tanda sidang perceraian sudah berakhir. Bibirnya terbuka, membuang nafas yang beberapa detik lalu ia tahan. Kemudian menoleh ke arah kursi samping, mendapati wajah pria menyebalkan yang menjadi pengacara lawannya.
Pria dingin, tapi berbanding terbalik saat berbicara di meja hijau. Beruntung kali ini, hakim ketua mengabulkan permintaan kliennya. Ibu Andriana seorang wanita 45 tahun, ibu dari 3 anak, sekarang resmi bercerai dengan Bapak Sandi Sanjaya 47 tahun penyebabnya adalah pria itu ketahuan selingkuh. Dan ibu Andriana tidak memberinya kesempatan kedua.
Naura kemudian berdiri, mendekat ke arah kursi hakim ketua lalu memberi salam pada mereka yang menggenakan pakaian simare hijau. Tersenyum ramah seraya mengucapkan terima kasih.
Setelah itu, ia berjalan mendekati Abhichandra Damanik perwakilan dari mantan suami kliennya. Naura sedikit menunduk, bibirnya semakin dekat dengan telinga si pria. "Selingkuh itu penyakit yang bisa kambuh. Sekali mencoba bakal keterusan! Lebih baik melepaskan dari pada sakit lebih dalam."
Mata pria 35 tahun itu memicing, ia segera membereskan barang-barangnya. Pergi begitu saja meninggalkan Naura. Tanpa maju terlebih dahulu untuk mengucapkan terima kasih.
Naura yang merasa menang keluar dengan wajah berseri. Kasus perceraian kali ini benar-benar melelahkan untuknya. Apalagi ibu Andriana tidak mau menghadiri persidangan. Sedangkan si pria masih tetap kekeh mempertahankan rumah tangganya. Dengan alasan, kasihan dengan anaknya yang menjadi korban broken home.
Huh, alasan classic! Apa pria itu tidak berpikir, bagaimana perasaan anaknya saat tongkatnya itu masuk ke lubang wanita jal*ang penggoda. Naura menggeleng saat mengingat penjelasan kliennya.
Naura kembali berjalan ke arah tempat parkir mobilnya. Langkahnya penuh percaya diri, kedua kalinya ia berhasil menang melawan Abhi. Dia wajib merayakan harinya ini bersama temannya.
"Bukannya kamu juga menjadi wanita idaman pria beristri. Pelakor teriak pelakor!"
Suara itu otomatis menghentikan langkah Naura, ia sedang mencoba meredakan gemuruh di dada setelah mendengar ucapan Abhi. Berulangkali ia berdebat dengan pria itu. Tapi kali ini sepertinya ia sudah lelah, jika harus berdebat dengannya lagi. Ia memutar tubuhnya, kembali mendekat ke arah Abhi.
"Bapak Abhichandra yang terhormat. Bukannya Anda tahu, jika itu hanya bantahan dari klien Anda!" Naura menatap tajam tepat di mata Abhi. "Kamu bermain kotor dengan klienmu! Dan akhirnya kebenaran lah yang menang. Cobalah untuk bermain jujur, membela mana yang benar! Jangan hanya karena uang, tapi Anda menimbun dosa! Rugi!" Naura mengambil nafas dalam, "dua kali aku berhasil mengalahkanmu! Masih mau melawanku!" Naura kemudian melangkah lagi mendekat ke arah mobil tanpa mendengar teriakan Abhi yang memanggilnya.
Abhi meradang saat mendengar ucapan Naura, tangannya mengepal erat. Tidak terima perlakuan Naura padanya. "NAURA, awas saja! Aku tidak akan membiarkanmu hidup tenang setelah ini!" Senyum killer terbit di bibir Abhi. Mengiringi kepergian mobil Naura yang menjauh dari area parkir kantor Pangadilan Agama.
--
Sedangkan gadis yang saat ini berada di dalam mobil, berdendang kecil mengikuti lagu yang tengah mengalun merdu dari radio mobilnya.
If this is my last night with you
Hold me like I'm more than just a friend
Give me a memory I can use
__ADS_1
Take me by the hand while we do what lovers do
It matters how this ends
Cause what if I never love again?
Entah kenapa Naura membenci lagu itu. Tapi dia tidak segan untuk menyanyikannya, penuh emosi dan juga penuh rasa. Setiap kata yang ia keluarkan seolah mengingatkan kejadian malam itu.
Cukup lama Naura terjebak macet, sampai ia tiba di kantornya, waktu sudah menunjukan jam makan siang. Dia berdecak saat mendapati pria dengan kemeja merah hati sedang menunggunya di sofa lantai satu.
"Mau saya suruh masuk ke ruangan Mbak Nana?" tanya seorang wanita yang paham arti tatapan Naura.
"Ya, boleh." Naura menjawab singkat, lalu melanjutkan langkahnya menuju lantai dua di mana ruangannya berada.
Bangunan mewah dua lantai, tempat yang menjadi kantor Naura saat ini, dengan ornamen yang dibuat simple, menggambarkan karakter pemiliknya, yang tidak suka hal-hal keramaian, ia lebih menyukai ketenangan.
Naura segera mendaratkan bokongnya di kursi. Menunggu pria yang kini masih berada di luar. Beberapa saat kemudian bibirnya bergerak, menjawab suara karyawan yang mengetuk pintu ruangan. Setelah itu, ia bisa melihat bayangan Hanif yang berjalan masuk mendekati meja kerjanya.
"Aku datang bukan sebagai klien," jawab Hanif.
Naura mulai menyibukan diri, mengambil file, membaca berkas yang sebenarnya tidak perlu ia baca. Semua hanya alibi supaya Hanif segera pergi dari ruangannya. Tapi gagal, ketampanan pria itu mulai berteriak mengusik ketenangan hatinya saat ini.
"Aku tahu kamu sibuk. Jadi aku membawakan makan siang untukmu!" Hanif meletakan paperbag ke atas meja. Lalu mendaratkan pantatnya di kursi depan Naura.
"Makanan kesukaanmu. Belum berubah, kan?" Kembali Hanif bersuara, mencoba menarik perhatian Naura.
"Nana ..." panggilnya ketika Naura mengabaikannya.
Naura melirik ke arah Hanif, lagi dan lagi pria itu masih seperti dulu. Tapi ia enggan untuk menanggapi gemuruh hatinya saat ini. "Selalu ya! Jangan terlalu berharap, aku sudah melupakannya!"
Hanif tersenyum tipis, "aku tidak bermaksud—tapi, rupanya kamu justru teringat." Senyum Hanif semakin lebar, saat mendapati wajah kesal Naura. "Semakin membuatku teringat masa itu!"
"Cukup Hanif!" Naura berdiri dari posisinya. "Pergilah, aku banyak pekerjaan!" Naura menunjuk pintu keluar, meminta Hanif untuk meninggalkan tempatnya.
__ADS_1
"Sikapmu membuatku semakin ingin mendekatimu! Ya, aku dulu salah mengambil keputusan. Maaf!"
"Semua tidak akan sama, Hanif! Meski kamu orang yang sama, tapi tidak dengan hatiku! Semua sudah tertutup, jadi jangan lagi membuka hal yang membuatku semakin mengingat masa itu!" Naura kembali duduk tanpa sedikitpun melihat ke arah Hanif.
"Ck, Na ..." Hebusan nafas kasar keluar dari bibir Hanif, matanya terus menelisik wajah Naura, dia yakin Naura akan kembali padanya. "Maafkan aku—aku terlambat—
"Jangan terus meminta maaf, aku bahkan tidak tahu, kamu mengucapkan kata maaf untuk apa?" potong Naura.
"Jangan lagi datang, jika itu untuk mengambil hatiku lagi! Karena itu tidak akan terjadi Hanif! Tentang kita semua sudah berakhir, aku sudah menutup lama rasa itu! Just a friend!"
"Sekali lagi, please!" Hanif meminta dengan suara memohon. Tapi tetap Naura menggeleng cepat.
"Aku tidak bisa, hubungan kita tidak akan berkembang. Tetap sebagai pengacara dan kliennya. Kamu boleh datang jika berhubungan dengan kasus kemarin. Selebihnya tolong menjauhlah! Kamu sendiri tahu kalau aku ini—tidak suka dipaksa," ucap Naura panjang lebar.
Dia cukup lelah untuk menghadapi Hanif. Dia ingin tenang tanpa memikirkan pria tersebut. Baginya masa lalu tidak perlu dibahas lagi, biarkan dia menyimpannya sebagai pelajaran hidup.
"Jawab pertanyaan aku dulu!"
Kini Naura memberanikan diri menatap Hanif, "satu saja! Setelah itu pergilah!"
"Jujur, tolong jawab jujur! Apa aku, alasan yang membuatmu masih melajang?"
...Bersambung .......
...----------------...
...Jangan lupa like...
...Jangan lupa untuk komentar...
...Jangan lupa tips 😅✌️...
...Terima kasih....
__ADS_1