
Happy Reading π jangan lupa vote dan likenyaπ
Di kamar Erik, sepasang manusia itu sedang bermesraan di dalamnya, Ella meletakkan kepalanya di dada Erik, dengan Erik yang memainkan rambut Ella, mencium aroma sampo dirambut Ella.
" Yang, capek? sini mas pijetin kakinya, " tawar Erik yang akan melepaskan pelukkan Ella.
" Nggak, cuma kenceng- kenceng saja kakiku, " ucap Ella.
" Iya itu sama saja namanya kecapekkan, " Erik segera mendudukkan Ella dan menarik kaki Ella, lalu memulai pijatan kecil dikaki Ella.
" Jangan macam- macam yang, " ucap Ella saat melihat Erik yang akan menaikan pijatannya dibagian pangkal paha Ella.
" Sudah sah sayang, jadi nggak dosa kalau megang punya istrinya, " ucap Erik.
" Iya, tapi coba kamu lihat jam didinding, ini baru jam lima sore yang, " peringat Ella sambil menunjuk ke arah jam dengan dagunya.
" Takutnya ada anak masuk kekamar, " lanjut Ella menjelaskan.
huh...(desah Erik )
" Pokoknya besuk kita pulang ke apartemen, dimana - mana perasaan banyak pengganggu, " ucapnya lalu menyudahi pijatannya di kaki Ella, merebahkan tubuhnya disamping Ella dan memeluknya.
" Yang, tapi nanti malam kita coba lagi ya, lagian bentar lagi puasa, jadi hanya bisa waktu malam saja, " ucap Erik meminta Ella.
" Insya Allah, " ucap Ella singkat.
" Kamu nggak pengen bulan madu yang? " tanya Erik pada Ella.
" Sepertinya nggak pengen, lagian aku juga ambil libur cuma lima hari, bulan depan juga harus ke Banjarmasin, apa kamu mau nemani aku ke Banjarmasin yang, sekalian kita bulan madu kesana, " jelas Ella.
" Mas lihat jadwal dulu ya, kalau bisa Mas temani, "ucap Erik yang masih merasa nyaman memeluk Ella.
" Ayo turun kita temui papa, dari tadi kita belum ketemu papa, " ucap Erik mengajak Ella.
" Aku ganti baju dulu, bajumu ini terlalu kebesaran, " ucap Ella yang meminta izin Erik.
" Pakai itu saja, udah sana kamu duluan, atau mau Mas gendhong lagi, " Ella segera berjalan mendahului Erik menggunakan kemeja Erik yang kebesaran dibadannya
" Sini sayang, ayo makan malam," ucap mama Jihan saat melihat Ella turun dari lantai dua.
" Papa dimana ma, " tanya Ella.
" Papa baru mandi, Bima dan Mila juga belum keluar dari tadi, " ucap mama Jihan.
__ADS_1
" Maklumlah mah, kan lama nggak ketemu, " ucap Ella tersenyum kearah mertuanya.
" Kamu sendiri bagaimana? " bisik mama Jihan yang membuat wajah Ella berubah menjadi merah, Erik yang baru datang dari arah kamar atas mencubit pelan hidung Ella.
" Kenapa? kok jadi merah begini? " tanya Erik sambil tertawa. Ella hanya diam menahan malunya karena terjebak perkataannya sendiri.
" Mbok tolong panggilkan Bima dan Bapak, sudah ditunggu makan malam, " perintah mama Jihan pada bu Ijah.
Bima dan anggota keluarganya turun dari arah tangga, mereka langsung duduk ditempat duduk mereka masing-masing tanpa diperintahkan oleh mama Jihan.
" Kenapa nikah nggak nunggu kakak? " tanya Bima saat duduk didepan Erik.
" Kita cuma akad kak, nanti pestanya setelah lebaran, dan yang itu kakak harus datang, " jelas Erik.
" Kalian bagaimana, mau langsung punya anak? " tanya papa Yusuf saat sedang menyantap makanan didepannya.
" Iya dong pa, Erik kan sudah tidak muda lagi, target Erik usia 40 itu paling nggak sudah punya tiga anak, " ucap Erik sambil melirik kearah Ella, Ella yang mendengar ucapan Erik langsung menatap wajah Erik tak percaya.
" Dia kan hampir 38 tahun, kalau 40 tahun punya anak tiga berarti tiap tahun melahirkan dong, " batin Ella, Ella hanya bergidik ngeri mendengar ucapan suaminya itu, sedangkan yang lainnya tersenyum jail kearah Ella.
Setelah menyelesaikan makan malamnya, kedua pengantin baru itu memasuki kamar dilantai dua. Ella langsung masuk ke dalam kamar mandi, mencuci wajah dan menggosok gigi, Erik hanya menatap Ella dari pantulan cermin didepannya.
" Malam ini Mas mau kamu pakai ini, " ucap Erik menyerahkan paperbag berisi lingrie.
" Baiklah, sana keluar dulu, " ucap Ella mengusir Erik, Erik yang mendengar itu segera keluar dari kamar mandi, berjalan keranjang lalu menyandarkan tubuhnya dikepala ranjang.
Setelah menunggu Ella lima belas menit pintu kamar mandi terbuka, Erik yang tak sabar langsung menolehkan kepalanya kearah Ella. Dia mengernyitkan dahinya saat melihat Ella menggunakan kimono mandinya. Erik lalu segera mendekati Ella yang masih berdiri didepan pintu kamar mandi, menarik tali handuk yang dipakai Ella, bibirnya terangkat saat mengetahui tubuh Ella terbalut lingrie bewarna merah darah, Ia lalu mengendong Ella keranjang, merabahkan istrinya dengan lembut diatas kasur king size itu.
" Berteriaklah sekeras- kerasnya, karena tak akan ada yang bisa mendengarkan kita," ucap Erik menatap wajah Ella, Ella yang mendengar itu tersenyum menggoda ke arah Erik.
" Bisa dimulai? " tanya Erik.
" Kenapa harus bertanya," ucap Ella.
Erik lalu memberikan ciuman lembut dibibir ranum Ella, mereka menikmati setiap sentuhan yang diberikan pasangannya.
Erik menarik selimut, membungkus dirinya yang sudah menindih Ella dengan selimut.
" Kenapa pakai selimut yang, " tanya Ella bingung.
" Kata orang semakin berkeringat, semakin hot, jadi kita lakukan pertarungan kita didalam selimut, " ucap Erik.
Ella yang mendengar itu hanya menggelengkan kepalanya, lalu memulai lagi menciumi bibir suaminya yang sexy itu.
__ADS_1
" Ternyata benar warna merah itu, menandakan keberanian, istriku jadi semakin berani untuk memulainya," ucap Erik sambil memberikan sentuhan lembut diarea sensitif Ella. Ella yang menikmati itu hanya mendesah pelan.
Tok...tok...tok...
" Tante cantik, kita mau bobo sama tante boleh? " terdengar suara Zoya dari luar kamar, Erik yang mendengar itu langsung menghela nafas panjang.
" Kenapa sesulit ini yang, untuk memilikimu seutuhnya, " ucap Erik yang kecewa.
" Kita masih punya banyak waktu yang, " jelas Ella.
" Pokoknya besuk pagi kita pulang ke apartemen, " ucap Erik sambil memakai bajunya, segera membuka pintu kamar, masuklah kedua gadis kecil penganggu itu beriringan.
" Kenapa kalian kesini, " tanya Erik.
" Kita pengen tidur sama tante cantik om," ucap Zalina lalu merebahkan tubuhnya disamping Ella.
" Disini sempit tidurlah dengan papa mamamu, " tolak Erik.
" Sudahlah yang, biar saja mereka tidur disini, " ucap Ella melotot ke arah Erik, Erik mengacak rambutnya kasar, kecewa juga dengam istrinya karena membiarkan dua bocah itu tidur seranjang dengan mereka.
" Tapi om pengennya dekat tante ya! om nggak mau kalau boboknya dekat kalian, " peringat Erik.
" Baiklah om," ucap kedua gadis itu bersamaan.
" Tante habis ngapain sih, kok pakai baju sexy, memang nggak malu sama kita dan om Erik, cepat ganti baju sana, " ucap Zalina yang protes dengan baju yang Ella pakai.
" Hus... kalian diam, cepat tidur, atau mau om ceritain kisah hantu, " peringat Erik menatap tajam kearah bocah itu.
" Nggak boleh gitu yang, nanti mereka ketakutan, " peringat Ella yang memang tau masalah anak.
" Biar saja, biar mereka pergi dari sini, " bisik Erik ditelinga Ella.
" Iya om kita akan cepat -cepat tidur, " ucap Zalina, lalu memeluk perut Ella dari samping.
" Aku tersiksa yang, " bisik Erik ditelinga Ella, lalu mengalungkan kakinya menindih tubuh Ella.
" Yang sabar ya, untuk hasil maksimal kita memang harus bekerja keras, " ucap Ella menatap wajah Erik sambil mengecup singkat bibir Erik.
Malam semakin larut, tangan kanan Erik masih berlarian kemana- mana, berharap istrinya akan membuka mata, namun sampai dia lelah, istrinya tak kunjung bangun, hingga akhirnya dia menarik selimut tebalnya membungkus kembali badan istri dan dirinya, memeluk erat sang istri dari belakang, seolah tidak mau ditinggal walau hanya kekamar mandi.
" Yang sabar ya Mas Erik, semua akan indah pada waktunya, " batin Ella yang pura- pura tertidur.
Terimakasih atas like, vote, dan comentnya. Semoga kita sehat selalu.ππ
__ADS_1