Kepincut Cinta Dokter

Kepincut Cinta Dokter
S2 Toko Roti


__ADS_3

Sebelumnya minta maaf ya..., kerena tidak bisa update seperti biasa, fisik saya ternyata nggak kuat buat ngetik 3 part/ hari, ditambah bocil yang masih suka riweh. Tapi saya usahakan minimal 1 part/ hari. Happy reading, setiap komentar saya like, maaf tidak bisa membalas satu persatu🙏. Tetap dukung Erik dan Ella ya, tekan like pokoknya😁🤔


.


.


.


.


.


Saat mereka tiba di lokasi, Erik melihat Damar baru saja keluar dari toko roti milik Bella. Dia lalu mengurungkan niatnya, dia membalikkan badan berusaha menghindar dari pandangan Damar. Karena pasti, dia akan diintrogasi Damar perihal Bella. Namun, semuanya sia-sia karena Riella sudah terlanjur memanggil nama paman kesayangannya itu.


“Paman ngapain di sini?” tanya Riella dengan nada manja, tapi Damar menatap tajam ke arah Erik mencoba mencari jawaban dari mantan adik iparnya.


“Sudah ketemu?” tanya Erik yang pura-pura tidak paham dengan tatapan Damar.


“Kalian masuk dulu, nanti Papa nyusul,” ucap Erik pada kedua anaknya. Kalun dan Riella segera masuk ke dalam toko roti Bella.


“Mama...,” teriak Riella sambil melihat Bella yang tengah menyusun cake ke dalam etalase. Bella terdiam saat mendapatkan pelukkan dari gadis kecil di depannya. Sedangkan kalun hanya menyipitkan matanya, menelisik wajah Bella yang sama persis dengan foto yang terpampang di dinding kamarnya.


“Mama ayo kita pulang, Riella kangen sama Mama,” ucap Riella dengan nada memohon, matanya sudah berkaca-kaca karena melihat Mamanya yang tidak pernah dia jumpai.


Bella masih terdiam, sambil menatap dua anak kecil di depannya, cukup lama dia mengamati wajah Riella yang sangat mirip dengannya.


“Hay..., di mana Mama kalian?” ucap Bella sambil tersenyum tipis ke arah mereka berdua.


“Mama lupa sama Kalun dan adik, kita tidak pernah melupakan wajah Mama, karena Papa memasang foto Mama di kamar kita,” jelas Kalun sambil meraih pergelangan tangan Bella.


“Mama sangat cantik, seperti Riella.” Bella langsung memegang pipinya sendiri, saat mendengar pujian dari gadis yang baru beberapa menit bertemu dengannya.


“Siapa nama kalian?” tanya Bella yang sudah berjongkok.


“Mama lupa dengan kita?”


“Ini Kalun, Ma...”


“Dan ini Riella anak Mama,” ucap Riella sambil menunjuk dirinya sendiri.


“Bagaimana Mama bisa lupa! jika punya anak seperti kalian, kalian boleh kok panggil Tante, Mama. Ayo duduk di sini, biar Tante ambilkan cake spesial yang ada di toko roti ini.” Kalun dan Riella hanya saling bertukar pandangan saat mendengar ucapan Bella, dia lalu duduk di kursi yang sudah ditunjuk Bella.


“Boleh nggak Riella peluk Mama, Riella kangen sama Mama,” pinta Riella yang melihat Bella hendak meninggalkan meja mereka. Bella segera berjongkok, sambil memeluk Riella, berbeda dengan Kalun yang hanya bisa menatap kedua wanita di depannya.

__ADS_1


“Di mana orang tua kalian?” tanya Bella.


“Papa baru ngobrol sama Paman Damar diluar sana, jadi kita masuk duluan,” jawab Riella yang masih mengalungkan tangannya di leher Bella.


Erik yang baru saja masuk, merasa senang saat melihat kejadian di depannya.


Papa janji akan segera membawa Mama pulang ke rumah Sayang. Batin Erik sambil menatap ke arah mereka. Dia lalu berjalan mendekati meja Bella dan kedua anaknya.


“Papa...! Ayo kita ajak Mama pulang Pa...!” Riella yang melihat Erik mendekat, langsung berteriak, suaranya mampu memenuhi ruangan toko roti, beruntung hanya beberapa orang yang berada di sana. Bella langsung menoleh ke arah Erik.


Pria tua ini kenapa berada di sini. Batin Bella yang menatap wajah Erik.


“Kalau begitu, Tante permisi dulu ya...!” pamit Bella.


“Bisa ngobrol sebentar,” ucap Erik saat melihat Bella melewati dirinya.


“Maaf saya masih banyak pekerjaan,” tolak Bella, lalu melanjutkan jalannya ke arah dapur toko rotinya.


“Boleh kenalan? Aku Erik,” ucap Erik singkat sambil mengulurkan tangannya.


“Anak gadisku satu minggu lagi ulangtahun, bolehkah aku meminta bantuanmu untuk membuatkan kue untuknya?” lanjut Erik yang menarik kembali tangan kananya karena Bella tidak menerima tangan Erik. Bella menatap Riella sambil tersenyum tipis.


“Demi anakmu!” ucap Bella. “Tokoh kartun apa yang dia sukai?” tanya Bella.


“Bisakah kau bertanya sendiri dengannya? Mungkin itu akan lebih baik,” jawab Erik sambil menoleh ke arah anaknya.


“Aku akan membuatkan kue yang special untuknya,” ucap Bella, sambil menoleh sebentar ke arah Erik.


“Oke kalau bisa datanglah nanti ke acara ulang tahunnya, pasti dia akan sangat senang,” ucap Erik.


“Maaf sepertinya aku akan sibuk,” tolak Bella.


“Apa lelaki itu juga anakmu?” Erik mengangguk.


“Siapa namanya? Dia sangat mirip denganmu, tapi semoga dia tidak biadap seperti dirimu,” ucap Bella yang membuat Erik menoleh ke arahnya, dia menatap Bella dengan tatapan mesum, membuat Bella salah tingkah, Bella menggaruk rambutnya yang tidak gatal.


“Kalundra...,” jeda Erik, “Istriku sering memanggilnya Kalun,” lanjutnya yang masih asyik memperhatikan Bella.


“KALUN!” ucap Bella sambil menatap ke arah Erik.


“Ya...! Dia seperti diriku,” jelas Erik.


“Maaf aku harus pergi,” pamit Bella karena merasa sedikit pusing saat mendengar nama Kalun.

__ADS_1


“Mulai sekarang aku yang akan menjagamu,” lirih Erik sambil menatap langkah kaki Bella. Dia lalu mendekat ke arah anaknya, mengajak pulang Riella dan Kalun.


“Riella dan Kalun malam ini, ke rumah Paman Damar dulu ya..., kalian bermalam di sana,” ucap Erik yang membuat mereka teriak kegirangan.


***


Sampai di rumah Damar, Erik menitipkan kedua anaknya pada Sahsi, lalu segera berjalan menuju ruang kerja Damar, terlihat Damar yang sudah menunggunya di sana, menunggu Erik menjelaskan apa yang terjadi dengan Ella. Erik yang melihat kekhawatiran Damar mulai menceritakan kejadian sebenarnya yang di alami istrinya. Damar yang geram dengan ulah Axel, mulai memarahi Erik.


“Tahu begini, aku tidak akan menyerahkan Lala padamu! Kamu sama saja. Tidak bisa menjaga Lala dengan baik!” maki Damar.


“Awas saja jika kamu tidak bisa membunuhnya, aku yang akan memisahkanmu dari Lala!” peringat Damar pada Erik.


“Aku pastikan jika dia akan mati di tanganku.” Damar hanya tersenyum tipis ke arah Erik.


“Apa ingatannya akan pulih?” tanya Damar.


“Aku tidak yakin Mar, jika dia mengonsumsi obat lebih dari 3 tahun mungkin dia tidak akan pernah bisa mengingatku untuk selamanya,” jelas Erik, sambil melirik jam yang ada di tangannya.


“Aku titipkan dulu mereka padamu, mulai sekarang aku yang akan menjaganya,” ucap Erik lalu berjalan meninggalkan ruang kerja Damar. Dia ingin kembali ke toko roti milik Bella yang tidak jauh dari rumah Damar.


Saat di perjalanan, dia memutar lagu kenangannya dengan Ella, hidupnya kini lebih bersemangat lagi saat mengetahui jika istrinya masih hidup.


Saat tiba di toko roti milik Bella, dia melihat ke arah Bella yang baru saja menutup pintu toko roti, tangan kanannya menempelkan benda pipih di telinga, bibirnya seperti tengah berbicara dengan seseorang. Cukup lama Erik memperhatikan tingkah Bella, hingga Bella melajukan mobilnya untuk pulang ke rumah. Erik yang mengikuti mobil Bella, mendadak mengerem mobilnya karena mobil Bella yang berhenti di tengah jalan. Dia mencoba mengklakson mobil di depannya, tapi tidak di tanggapi oleh Bella. Erik lalu turun dari mobilnya, menghampiri mobil Bella yang tengah berhenti di pinggir jalan.


“Yang..., ada apa?” tanya Erik dari luar, dia sudah.menggedor jendela kaca mobil Bella, tapi Bella tidak menjawabnya.


Erik mencoba membuka pintu mobil Bella, karena melihat Bella tengah kesakitan di dalam mobil.


“Please...! Buka jangan seperti ini!” teriak Erik yang tidak mampu membuka pintu kaca mobil Bella. Beruntungnya Bella masih sadarkan diri, dia berusaha membuka pintunya, dan meminta tolong pada Erik.


“Obat..., to-tolong! Ambil-khan!” perintah Bella.


“Di mana obatnya?”


“Di ru-mah!”


Erik langsung mengangkat tubuh Bella dari kursi kemudinya. Dia membawa Bella untuk ke rumah sakit terdekat. Karena dia khawatir dengan kondisi Bella, yang tidak normal seperti manusia biasa.


“Apa yang terjadi denganmu,” lirih Erik sambil fokus menatap ke arah jalan.


.


.

__ADS_1


.


TBC


__ADS_2