Kepincut Cinta Dokter

Kepincut Cinta Dokter
Pensiunan Dokter Kandungan


__ADS_3

...Selamat Membaca...


Naura segera beranjak dari tubuh Abhi, saat mereka berdua jatuh ke pasir. Tubuh Abhi masih tengkurap, Naura yang panik, sekuat tenaga berusaha membalikannya.


“Abhi, Sayang. Bangun! Kau harus bangun!” serunya, sambil menggoyangkan tubuh suaminya. Ia lalu menatap ke arah sorot lampu yang semakin mendekat ke arah mereka berdua. Rasa paniknya semakin menjadi. Pandangan matanya sudah tidak sempurna akibat kelelahan, ditambah lagi—lampu-lampu itu menyamarkan nomor polisi yang tertulis di sana. Dia tidak mengetahui siapa yang mengemudikan mobil tersebut. Berharap semoga bukan Bogel yang belum berhasil ditangkap polisi.


“Abhi,” ujarnya lirih, dengan satu tangan menepuk pipi suaminya. Pria itu tidak bereaksi. Dan Naura semakin panik, saat melihat wajah Abhi semakin pucat. “Sayang … jangan tinggalin aku! Ayo bangun.” Naura meraung, tidak peduli jika mobil sudah berada di depannya. Lampu mobil yang tadi menyorotnya sudah padam, ia tidak mau menoleh ke arah mobil tersebut. Fokusnya membangunkan dan melindungi Abhi supaya bisa pergi dari lokasi berbahaya yang kini tengah mencekam kembali.


Tapi, rupanya Naura sudah salah kira. Lampu mobil yang tadi menyoroti mereka berdua adalah mobil Erik. Pria itu segera turun saat melihat putrinya tengah kesusahan membangunkan menantunya.


Erik mendekat ke arah mereka, lalu memeriksa keadaan Abhi dengan meletakan kedua jemarinya di pergelangan tangan. “Kalian mau aku pecat!” teriak Erik menatap jahat ke arah pria-pria yang tadi datang bersamanya.


Jakarta—Bogor memiliki jarak yang lumayan jauh. Mereka membutuhkan waktu hampir 2 jam untuk tiba di lokasi saat ini. Itu pun mereka menempuh jalur tol supaya lebih cepat sampai. Jika tidak, pasti mereka masih dalam perjalanan.


Ketiga pria yang datang bersama Erik kelimpungan saat mendengar luapan amarah bos nya. Mereka lekas mendekat dan membawa tubuh Abhi masuk ke dalam mobilnya.


“Abhi … Abhi, Pa!” adu Naura dengan isak tangisnya yang kian menjadi. Langkahnya sempoyongan mengikuti orang-orang yang membawa tubuh Abhi masuk ke dalam mobil Jeep. Namun, saat ia hendak ikut ke mobil yang membawa Abhi, Erik lekas menahannya.


“Kau tidak apa-apa?” tanya Erik, kemudian membawa Naura ke dalam pelukan, mencoba memberi ketenangan, dari kegusaran yang sedang melanda Naura.


“Aku mau bersama Abhi, Pa!” komunikasi antara keduanya semakin tidak nyambung, satu bertanya apa, satunya menjawab apa. Naura tengah cemas memikirkan kondisi suaminya. Jadi tidak mampu berkonsentrasi.


Erik yang paham memapah tubuh Naura, dan menghantarkan masuk ke mobilnya. “Satu orang bawa mobilku!” teriak Erik, pada tiga anak buahnya yang tadi sempat ia hubungi melalui panggilan telepon.

__ADS_1


Salah satu dari mereka berpindah ke mobil Erik. Pria itu meminta untuk segera membawa Abhi ke rumah sakit terbesar dan terdekat. Erik paham jika menantunya itu terluka karena terkena tembakan, jadi pasti akan memerlukan tindakan operasi.


Mobil pun melaju meninggalkan rumah tak berpenghuni itu. Tak ada yang tersisa di sana, polisi masih mencari keberadaan Bogel yang melarikan diri. Sedangkan Nathan saat ini berada di kantor polisi untuk dimintai keterangan.


“Abhi, Pa!” rancau Naura saat mobil mereka melaju ke arah rumah sakit. Erik yang berada di sampingnya berusaha menenangkan. Tangannya terus membelai rambut panjang Naura yang sudah tak rapi.


“Pikirkan kondisimu dulu, baru memikirkan kondisi Abhi. Dia terkena luka tembak bagian punggung. Semoga saja tak mengenai bagian paru-parunya.” Erik menjelaskan secara gamblang, yang membuat tangis Naura semakin jadi. Gadis itu memeluk erat tubuh pria di sampingnya, meluapkan kesedihan yang ia alami saat ini. Dia tidak mau, sesuatu terjadi pada suaminya, apalagi Abhi terluka karena menyelamatkannya.


Butuh waktu lima belas menit untuk tiba di rumah sakit umum kota Bogor. Tim medis dengan sigap membantu Naura dan membawakan brankar untuk Abhi yang berada di mobil satunya.


Dengan langkah tertatih Naura berusaha mengikuti brankar yang membawa tubuh Abhi ke ruangan UGD.


“Luka tembak di punggungnya!” Erik berteriak, menjelaskan singkat pada perawat yang membawa tubuh Abhi. Sedangkan Naura, meski kondisi fisik tidak terlalu parah, ia segera di tangani oleh dokter jaga. Selang oksigen dan jarum infus pun siap terpasang kembali ke tubuhnya.


“Kenapa harus jarum infus lagi? Nana kan, benci, Pa!” rengeknya, tidak ingin terjerat di ruangan yang membuatnya akan semakin terpisah jarak dengan Abhi.


“Aku hanya terluka di kaki, Pa!” Naura kekeh tidak ingin dipasang infus.


Tidak peduli dengan ocehan Naura, Erik lekas keluar untuk melihat kondisi Abhi. Ia berjalan mendekat ke arah ruang IGD. Saat tiba di sana seorang dokter mendekat ke arah Erik, pria itu meminta izin untuk melakukan tindakan operasi, mengambil peluru yang masih tertanam di tubuh Abhi.


Erik yang bertindak sebagai keluarga segera membubuhkan tanda tangan di lembaran kertas tersebut. Meminta dokter untuk secepatnya melakukan tindakan.


Merasa sudah kondusif Erik kembali ke ruang UGD di mana putrinya berada. Perawat sengaja memberinya obat penenang karena Naura memberontak memaksa mereka untuk mengantar ke ruang IGD.

__ADS_1


“Bisa minta tolong siapkan ruang perawatan?” minta Erik.


“Bapak silakan urus administrasinya dulu!” titah seorang perawat padanya.


“Tidak bisakah besok saja? Aku tidak akan kabur.” Erik menatap kesal wanita di depannya.


“Kita hanya menjalankan prosedur, Pak!”


Erik menghela napas kasar saat mendengar ucapan perawat, benar mereka hanya menjalankan aturan yang sudah berlaku, jika ia tidak taat mereka lah yang akan kena imbasnya. Erik kemudian merogoh saku celananya, berusaha menghubungi orang bodyguard yang tadi mengikutinya. Meminta mereka untuk mengurus administrasi.


Setelah urusan administrasi selesai, Erik kembali dipanggil oleh dokter umum yang merawat Naura. Dengan tatapan acuh Erik menatap ke arah wanita di depannya. Wanita itu adalah dokter jaga malam di rumah sakit tersebut.


“Pak, putri bapak memang tidak terluka parah. Kita sudah membersihkan luka-luka putri Bapak. Tapi, kami harus melakukan pemantauan lebih dulu, siapa tahu ada benturan di kepala yang menyebabkan penggumpalan darah. Dan untuk melakukan EEG kita tunggu dokter spesialis dulu, ya!” dokter di depannya menjelaskan dengan lembut.


Erik menatap remeh wanita di depannya. Coba saja ini di Jakarta. Pasti ia tidak perlu menunggu dokter datang, sekali calling pasti dokter di rumah sakit akan dengan senang hati menyambut permintaanya.


“Lakukan sekarang!” ujarnya memerintah.


“Tidak bisa, Pak! Ini sudah larut!” tolak sang perawat. “Dan—


“Kenapa? Katakan langsung!” sambar Erik, dengan tatapan tajam penuh selidik ke arah wanita di depannya.


“Apa ... putri Bapak sedang hamil?”

__ADS_1


Erik menyambar stetoskop yang ada di tangan dokter jaga. Kemudian berjalan mendekat ke arah ranjang Naura. Sebagai pensiunan dokter kandungan, setidaknya ilmu yang ia miliki belum melebur.


...--------BERSAMBUNG--------...


__ADS_2