Kepincut Cinta Dokter

Kepincut Cinta Dokter
Target Meleset


__ADS_3

...Selamat Membaca...


Tepat saat jarum jam berada di angka sepuluh Waktu Indonesia Barat, sebuah pesawat komersil warna putih biru mendarat sempurna di Bandar Udara Soekarno Hatta.


Mereka yang sedari tadi menunggu telah bersiap untuk menyambut sepasang pengacara istimewa negeri ini. Para awak media mulai menyalakan kameranya saat pilot menjalankan pesawatnya mengikuti arahan marshaller menuju tempat parkir.


Sampai pesawat itu berhenti sempurna, semua melakukan tugasnya masing-masing. Mobil Toyota Fortuner sudah berjalan pelan menuju pesawat tersebut. Begitu pintu utama kabin dibuka oleh pramugara yang bertugas, sopir dan ajudan yang dikirim Erik bersiap menarik Abhichandra Damanik beserta istrinya.


Dengan tatapan jeli, pria berkaus hitam itu mengamati satu persatu penumpang yang turun dari pesawat. Berharap akan segera menemukan Abhi dan Naura, secepatnya. Beberapa menit kemudian setelah tidak menemukan Naura, pria yang ditugaskan untuk menjemput itu berbicara melalui earpiece yang sudah terpasang di telinganya.


“Target meleset. Mereka tidak ada di kabin!” lapornya pada atasan yang saat ini berada satu ruangan dengan Erik.


“Coba cek nomor penerbangan, hanya pesawat itu yang datang dari Thailand!” pria di seberang berbicara, sambil meneliti jadwal penerbangan.


“Copy, saya cek ke dalam dulu! Lima menit lagi saya informasikan!” pria itu kemudian naik berusaha mencari Abhi dan Naura siapa tahu mereka tertidur.


Saat tiba di pintu kabin, pria itu dihadang oleh pramugara yang bertugas. “Apa masih ada penumpang di dalam?” tanyanya langsung.


“Kabin sudah kosong, sisa petugas!” jawab pramugari yang berdiri di belakang pintu pesawat. Suaranya ketus seolah tak suka dengan pertanyaan yang pria itu lemparkan.


“Ok terima kasih!” pria itu kembali melapor pada atasannya mengatakan jika target tidak ada di lokasi.


“Kembalilah!” perintahnya. Pria itu kemudian menuruni tangga, dan kembali ke mobil hitam yang sebenarnya diperuntukan untuk keluarga Abhi.


“Sepertinya kita salah. Mereka tidak naik pesawat itu. Benar pesawat itu dari Bangkok, tapi di Bangkok hanya transit,” adunya, berbicara pada sang sopir.


"Rugi pak Erik!!"


“Rugi gimana? Mereka nggak ngeluarin uang. Biaya ditanggung sponsor!” tawa keluar dari bibir sang sopir. “Nanti lahiran dapat sponsor, terus anak khitanan dapat sponsor, enak pasti ya! Nah, kita boro-boro!” keluh sang ajudan.

__ADS_1


“Sabar! Kalau rezeki nggak kemana. Rezeki itu ujian. Dimewahkan bukan berarti dimuliakan. Dan disempitkan bukan berarti dihinakan! Yang penting kita sabar dan ikhlas,” ujarnya enteng tanpa beban. “kita tidak tahu dengan benar apa yang sudah mereka alami. Bisa jadi ini adalah buah dari kesabaran mereka.”


Sang ajudan itu hanya merespon dengan mencebikkan bibirnya. Membenarkan ucapan sang sopir. Ia kemudian turun dari mobil untuk melapor ke Erik dan para pencari berita yang ada di dalam ruangan.


Informasi yang mereka terima rupanya tidak valid. Erik meminta seluruh anggota keluarganya pulang ke rumah saat mendengar berita yang disampaikan ajudannya. Erik merasa kasihan dengan para bayi yang sudah terlelap di bed nya masing-masing. Ruangan itu hampir mirip pengungsian mewah yang ada di bandara.


“Bubar, bubar, bubar!” suara Erik terdengar kesal, saat menyuruh awak media untuk membubarkan diri. Mereka yang takut, lekas meninggalkan ruangan tersebut. Tanpa mendapatkan informasi apapun.


“Gimana, Mas?” tanya Ella yang baru saja tiba, “mereka datang?”


Kepala Erik menggeleng lemah, “Sepertinya aku salah, Yang!” jawabnya dengan suara parau.


“Ya, sudah pulang yuk! Ngantuk!” keluh Ella. Mendengar suara istrinya, Erik pun mengantar Ella pulang. Dan berniat untuk kembali mencari keberadaan putrinya.


Ruangan yang tadi ramai seketika kosong, semua sudah pulang ke rumah masing-masing dengan perasaan kecewa karena acara smbutan itu gagal terlaksana.


...🌼🌼🌼...


“Sawatdee krab, Abhi,” ucap Naura lirih.


“Kobkun krab, Honey. Jangan ngomong gitu ah, nanti mereka curiga kalau kita baru saja pulang dari Thailand.” Abhi mencoba mengingatkan, supaya mereka tidak ketahuan jika habis bepergian.


Naura hanya tersenyum, sambil berjalan di samping suaminya, keluar dari terminal bandara.


“Kamu tunggu di sini dulu, Sayang! Aku nyari taksi, ya! Duduk sini jangan ke mana-mana” titahnya, memposisikan kopernya dengan baik, supaya Naura bisa duduk di atasnya. Abhi harus mencari taxi lantaran mereka berdua tidak membawa ponsel.


“Jangan lama-lama, ya!” pesan Naura, saat Abhi menjauh meninggalkannya, dari kejauhan ia bisa melihat bagaimana suaminya saat ini. Namun, tak lama kemudian, terlihat wartawan berbondong-bondong mendekati Naura. Berbagai pertanyaan-pertanyaan aneh terdengar di telinganya dan itu membuatnya kebingungan.


“Saya tidak tahu apa yang kalian tanyakan.” Naura menjawab singkat, saat mereka membicarakan tentang Abhi. “Pertanyaan kalian membuat aku bingung untuk menjawab yang mana, yang harus aku dulukan.”

__ADS_1


“Apa Anda tahu pak Erik bahkan kebingungan mencari mbak Naura dan pak Abhi apa setelah ini mbak akan ke sana?” tanya seorang wartawan wanita.


“Ya, setelah ini saya akan menemui papa saya! Tolong minggir suami saya mau lewat!” ucap Naura saat melihat bayangan tubuh Abhi. Wartawan yang mendengar pun lekas menoleh ke arah pandang Naura. Mereka beralih mendekatkan mikrofon pada Abhi yang berdiri tak jauh Naura.


Cukup lama Abhi menanggapi mereka. Tapi Naura tak keberatan, ia duduk di atas koper sambil mengusap perutnya yang sedang menunjukan pergerakan, sepertinya jagoannya itu minta makan, karena dari semalam, ia belum mengisi perutnya dengan apapun.


Abhi kemudian mengakhiri wawancaranya. Berita itupun dengan cepat menyebar ke media online, ada yang memuat Abhi sudah kembali, ada yang mengabarkan penjahat sudah melepaskan Abhi dan membiarkannya pulang ke tanah air. Keduanya merasa tidak nyaman saat wartawan itu selalu mengikutinya. Dan akhirnya, Abhi memutuskan untuk pulang lebih dulu ke rumah Erik demi kenyamanan istri dan calon anaknya.


Saat tiba di rumah Erik, tatapan tak ramah dari pria tua itu menyambut kedatangan mereka berdua.


“Apa yang kalian dapatkan di sana?” tanya Erik menatap nyalang ke arah putrinya. “Pergi tanpa pamit, tanpa bawa ponsel!” makinya semakin lama semakin banyak kata-kata makian yang keluar dari bibir Erik. Dan itu membuat Naura lekas menjauh dari sang papa.


“Iya, maaf. Nana janji nggak ngulangi lagi!” ujar Naura. “Tapi ini gara-gara Abhi tuh!” Naura menunjuk ke arah suaminya.


“Kok aku!” protesnya.


“Iya katamu kan biar mama nggak ikut?” Naura menjulurkan lidahnya. “Jadi kita nggak ada yang ganggu!” sambungnya. Abhi meringis ketika tatapan Erik makin garang ke arahnya. Beruntung ada mama mertuanya yang datang dan menyapanya saat ini.


“Oleh-olehnya mana, Na!”


“Ini di perut.” Naura menjawab sambil memeluk Ella, kemudian menuntunnya masuk. “Mama tahu nggak, dokter Lusy bilang seratus persen cowok!” Naura memberitahu, karena sejak mengunjungi dokter Lusy, Naura belum menemui sang mama.


Ella yang paham, membawa Naura untuk duduk di ruang keluarga. Ia ingin mengeluhkan apa yang sudah terjadi selama Naura pergi beberapa hari ini.


“Suamimu benar-benar jadi artis!” Ella membuang napas kasar. “kalian berdua benar-benar masuk ke list DPO.”


“Masak sih, Ma?” Naura masih tidak percaya dengan cerita Ella.


“Lain kali kalau mau bepergian pamit dulu! biar kita nggak khawatir, papamu hampir menulis surat cinta ke kantor polisi, karena ulah kalian. Dan semalam rencana kita gagal," adu Ella bercerita tanpa tanda koma.

__ADS_1


Ella kemudian menceritakan kejadian semalam yang mereka alami, dan itu membuat Naura tak bisa berhenti untuk tertawa. Menertawakan orang-orang yang kecewa karena tidak bisa menemukan dirinya.


...----------------...


__ADS_2