Kepincut Cinta Dokter

Kepincut Cinta Dokter
Janji Hati


__ADS_3

Happy reading jangan lupa untuk tekan like dan votes ya.🙏👍


.


.


.


.


Seminggu berlalu ....


Sore ini Ella terlihat sedang duduk di taman di rumah almarhum ayahnya, dia sedang menunggu kedatangan suaminya yang akan mengajaknya mengunjungi temannya.


Tumben sekali Erik mengajaknya ke rumah temannya, padahal dia palinng tidak suka memamerkan Ella ke tempat umum maupun ke teman-temannya. Ella masih sering melamun, sesekali pandangannya masih kosong karena itu, Erik tidak mengizinkan Ella pulang ke apartemen.


Terlihat mobil hitam memasuki pekarangan rumah almarhum ayah Danu, Erik terlihat keluar dari mobilnya menghampiri Ella, saat melihat istrinya sedang duduk di taman, Ella tersenyum manis ke arah Erik yang berjalan mendekat ke arahnya.


“Sudah mandi?” Ella mengangguk saat suaminya berada di sampingnya. Erik lalu melepaskan jaketnya lalu memakaikan ke tubuh istrinya.


“Kenapa pakai baju seperti ini, di luar sangat dingin nanti kamu bisa sakit,” ucapnya saat melihat lengan Ella yang terekspos.


“Nggak papa di dalam panas, makanya aku pakai baju ini,” jawab Ella dan mengeratkan jaket yang tadi dipakaikan suaminya itu.


“Mas mandi dulu ya, kamu siap-siap saja, setelah Mas selesai kita langsung berangkat ke rumah teman Mas,” ucap Erik sambil membawa Ella masuk ke dalam rumah.


“Lala siapkan air panas dulu ya,” ucapnya hendak mendahului langkah Erik, tapi Erik menahan tangannya membuat Ella menoleh ke arahnya.


“Nggak usah Mas bisa sendiri, kamu istirahat di dalam kamar saja, Mas kan tadi nyuruh kamu siap-siap,” ucap Erik sambil mendorong pintu kamar istrinya.


Ella dan Erik masuk ke dalam kamar. Namun, tiba-tiba Erik memeluk erat istrinya.


“Mas kangen senyummu Yang,” ucapnya sambil memejamkan mata di pundak Ella. Lalu melepaskan pelukkannya dan menatap wajah istrinya itu.


“Kamu tidak merindukan Mas?” Tanya Erik yang beberapa hari ini merasa terabaikan. Ella tersenyum menatap suaminya.


“Bagaimana mau kangen tiap hari saja kita bertemu, aku hanya kangen dengan Ayah,” Erik lalu melepaskan pelukkannya, dan berjalan ke arah kamar mandi.

__ADS_1


“Jangan berdandan ya! Takutnya teman Mas itu naksir kamu,” peringat Erik saat akan masuk ke dalam kamar mandi.


Bagaimana Ella mau berdandan, alat make up saja tertinggal di apartemen, apalagi setelah kematian ayahnya dia bahkan tidak bisa mengurus dirinya dengan baik, badannya terlihat lebih kurus dari seminggu yang lalu, sekeliling matanya menghitam karena kurangnya waktu istirahat. Dan Erik yang harus mengalah menahan hasratnya, sudah 10 hari dia berpuasa, jangankan meminta jatah pada istrinya, menyinggung saja dia tidak mau, dia tidak ingin jika hanya dia yang menikmati, sedangkan istrinya masih merasa bersedih atas kehilangan ayahnya.


Tiga puluh menit berlalu, mereka berdua keluar kamar sudah rapi dengan pakaian yang senada, mereka berjalan menuju lantai bawah, terlihat keluarga Damar sedang duduk di depan tv menonton acara kartun kesukaan anaknya, pandangan Ella tertuju pada Gheo yang sedang bermain lego disana, mungkin jika dulu dia tidak keguguran, anaknya sebentar lagi akan lahir.


“Mar kita keluar ya,” pamit Erik pada kakak iparnya, Damar diam, pandangannya tertuju pada adiknya yang menatap Gheo dengan tatapan kosong, Damar lalu memberikan kode ke arah Erik agar segera membuyarkan lamunan Ella.


“Ayo Yang! Teman Mas sudah menunggu,” Ella mengangguk pelan tanpa menyapa dan berpamitan dengan orang yang ada disana.


Entah kenapa seminggu ini Ella jadi pribadi yang berbeda, itulah alasannya Erik mengajaknya ke rumah temannya, dia ingin berkonsultasi mengenai kesehatan Ella.


“Kita mau kemana Mas?” Tanya Ella saat berada di dalam mobil, Erik mengalihkan pandangannya sebentar ke arah Ella.


“Kita ke rumah teman Mas namanya Rendi, dia dokter juga,” jelasnya singkat.


“Ada acara apa?” tanya Ella yang penasaran.


“Nggak ada acara kok, hanya pertemuan biasa saja,” Ella mengangguk mengerti.


“Hmm...”


“Maaf ya sudah menyusahkanmu,” ucap Ella tiba-tiba, membuat Erik meraih satu tangan Ella dan menciumi tangan Ella, tapi pandangannya tetep fokus ke depan.


“Mas nggak merasa disusahkan kok, ini salah satu janji Mas, berada disampingmu saat kamu sedih,” jelas Erik.


Setelah mobil berhenti di sebuah bangunan rumah mewah, Erik segera mengajak Ella turun, terlihat seorang laki-laki berambut sebahu tengah menyambutnya.


“Hay. Selamat datang Nona Ella,” sapanya saat Ella dan Erik sudah berada didepannya.


“Kenalkan nama saya Rendi, saya dokter psikiater di rumah sakit milik suami Anda,” Ella yang mendengar itu kaget tidak percaya, karena ternyata Erik membawanya ke dokter kejiwaan, apa dia segila itu, hingga Erik membawanya kesana. Ella meraih tangan Erik, dibawanya Erik di belakang mobil.


“Kenapa kesini?” tanya Ella.


“Mas ingin kamu cepat keluar dari kesedihanmu Yang, Mas nggak bisa melihatmu bersedih terus, ini demi kebaikanmu Yang,” jelasnya yang membuat Ella terdiam sejenak, dia lalu memeluk suaminya menangis kencang di dada Erik.


“Apa aku sudah gila Mas?” Tanya Ella dalam isakkannya.

__ADS_1


“Nggak seperti itu Yang, Mas hanya mau kamu keluar dari kesedihanmu,” jelasnya pada Ella, sambil mengusap punggung Ella yang masih bergetar.


“Aku benar tidak gilakan Mas? Maafkan aku yang mengabaikanmu,” ucapnya lagi memastikan.


“Sudahlah! Tenangkan dirimu ayo kita masuk ke dalam, Rendi itu dokter psikiater terbaik disini, semoga kamu bisa cepat keluar dari rasa penyesalan dan kesedihanmu, bisa beraktivitas kembali, menyiapkan baju kerja Mas, sarapan dan ...” ucapnya terhenti karena Ella sudah menutup mulut Erik dengan bibirnya. Erik yang melihat itu merespon ciuman Ella dengan cepat, tanpa peduli dengan temannya yang sudah menunggu. Ella melepaskan ciumannya setelah merasa puas, membuat Erik merasa hampa, dia sangat merindukan ciuman ini, hampir 2 minggu bibirnya tidak bersentuhan dengan tubuh Ella.


Erik lalu tersenyum manis ke arah Ella.


“Terimakasih, ayo kita masuk! Kita akan menjadi tontonan orang jika kita melanjutkannya disini!” ajaknya sambil meraih pinggang Ella dan berjalan menghampiri temannya.


“Selamat malam dokter Rendi, maafkan atas sikap saya tadi,” ucap Ella sopan.


“Tidak apa-apa, apa Nona sudah siap?” Tanya Rendi sambil menatap ke arah Ella.


“Alihkan pandanganmu!” terdengar suara Erik yang langsung mengalihkan perhatian Rendi. Lalu dia tersenyum jahil ke arah Erik.


“Masih seperti dulu,” cibirnya pada kawannya itu.


“Ayo Nona kita masuk ke ruanganku, jangan pedulikan suamimu itu,” ucapnya sambil meraih tangan Ella. Erik yang melihat itu langsung menghempaskan tangan Rendi.


“Jangan lancang ya, beraninya menyentuh tangan istriku, atau kamu mau gajimu tak akan masuk ke rekeningmu,” ancam Erik pada Rendi yang merasa sedikit panas.


“Hahaha ... Maafkan aku Pak Direktur Erik,” ucap Rendi yang dari dulu paling suka menggoda Erik, karena paham dengan sifat Erik yang selalu possesif dengan wanitanya.


Mereka lalu masuk ke dalam ruangan 5 X 7 meter itu, terlihat wanita cantik yang sedang menunggu kedatangan mereka disana.


“Kenapa dia disini?” tanya Erik saat melihat siapa wanita yang sedang duduk di depan meja kerja Rendi tersebut.


.


.


.


.


Terimakasih sudah membaca, semoga suka cerita kisah lika-liku Erik dan Ella. Saya berharap readers mau memberikan dukungan like dan votes untuk saya .🙏👍

__ADS_1


__ADS_2